Saturday, 9 December 2017

The Lies of Locke Lamora


Judul : The Lies of Locke Lamora (Gentleman Bastard #1)
Penulis : Scott Lynch
Tebal : 722 halaman
Penerbit : Del Rey

The Thorn of Camorr is said to be an unbeatable swordsman, a master thief, a ghost that walks through walls. Half the city believes him to be a legendary champion of the poor. The other half believe him to be a foolish myth. Nobody has it quite right.

Slightly built, unlucky in love, and barely competent with a sword, Locke Lamora is, much to his annoyance, the fabled Thorn. He certainly didn't invite the rumors that swirl around his exploits, which are actually confidence games of the most intricate sort. And while Locke does indeed steal from the rich (who else, pray tell, would be worth stealing from?), the poor never see a penny of it. All of Locke's gains are strictly for himself and his tight-knit band of thieves, the Gentlemen Bastards.

Locke and company are con artists in an age where con artistry, as we understand it, is a new and unknown style of crime. The less attention anyone pays to them, the better! But a deadly mystery has begun to haunt the ancient city of Camorr, and a clandestine war is threatening to tear the city's underworld, the only home the Gentlemen Bastards have ever known, to bloody shreds. Caught up in a murderous game, Locke and his friends will find both their loyalty and their ingenuity tested to the breaking point as they struggle to stay alive...


Review:
Dalam genre fantasi epik, seri Gentleman Bastard selalu disandingkan dengan seri A Song of Ice and Fire. Pertama kali saya membaca blurb buku ini, saya tanpa pikir panjang langsung membelinya. Kenapa? Karena tokoh utamanya adalah seorang thief. Buat saya, buku yang ada thief-nya merupakan autobuy. Saya tidak peduli bagaimana isinya, pokoknya saya beli dulu.

Buku ini bukan jenis fantasi yang penuh makhluk aneh, sihir, naga, dan kerajaan. Buku ini nuansanya lebih seperti buku Great Expectations karya Charles Dickens. Tentang kelas bawah di kota yang diperintah oleh kaum bangsawan. Tentang anak yatim piatu yang dijual dan dilatih untuk mencuri dan melakukan penipuan skala besar. Sangat fresh dan berbeda sekali dengan novel fantasi yang biasanya.

Tokoh utamanya bernama Locke Lamora. Dia ini pintar dan lincah. Sejak kecil, ia hidup dengan mencuri. Ia dibeli oleh orang yang melatih pencuri-pencuri yatim piatu. Namun, kenakalan dan sifat nekadnya membuat orang itu kesal dan menjualnya ke pendeta buta yang suka menerima anak-anak terbuang.

Sang pendeta, Father Chains ternyata bukan pendeta biasa. Dia adalah seorang penipu yang menggunakan kepercayaan sebagai cara untuk mendapatkan belas kasihan orang. Dia tidak buta. Dan semua anak yang berada di bawah bimbingannya diajarkan untuk mencuri, menyamar, dan menguasai seni berbohong. 

Buku ini menggunakan alur bolak-balik. Masa kecil Locke dan masa sekarang saat dia sudah dewasa. Locke yang dewasa adalah pemimpin geng yang dididik oleh Father Chains. Mereka sangat kaya karena berhasil menipu bangsawan-bangsawan dengan menciptakan skenario investasi yang bullshit. Keren sekali penipuan yang dilakukan geng Locke ini. Mereka adalah penipu yang dianggap sebagai orang suci karena merupakan pelayan kepercayaan di tempat ibadah. Orang-orang tidak tahu kalau di ruang bawah tanah tempat ibadah itu terdapat benda-benda yang mendukung aksi penipuan.

Tapi tentu saja ada kejahatan yang mengintai di belakang mereka. Seseorang datang dari negeri seberang bersama penyihir gelap. Locke diancam oleh orang itu untuk melakukan sebuah misi. Dari situlah, segalanya berubah kacau.

Buku setebal 722 halaman ini sangat padat. Saya lumayan lama membacanya karena alurnya yang bolak-balik agak mengganggu proses membaca. Saya suka masa kecil Locke. Saya suka sudut pandang Jean Tannen, sahabat Locke. Saya juga suka dinamika di antara geng Locke. Misteri dan tokoh-tokoh sampingannya juga membuat penasaran. 

Sayangnya, saya tampaknya jauh lebih suka tipe cerita yang banyak elemen magisnya. Bukan berarti buku ini jelek. Saya mengerti kenapa banyak orang suka sama ceritanya. Saya bahkan suka dengan tokoh-tokohnya. Banyak aksi menegangkan dan kejutan terutama di bagian-bagian akhir. Tapi itulah kenapa saya tidak terlalu suka dengan buku ini. Terlalu banyak aksi dan kurang tragedi. Memang ada yang mati, tapi tidak terlalu menggigit walau saya juga sempat sedih sebentar. Nuansa buku ini terlalu ringan dan menyenangkan buat saya. Kurang gelap. Banyak adegan dramatis yang terkesan seperti lelucon buat saya. Mungkin karena Locke adalah tipe orang yang praktis dan tidak suka bersungut-sungut terlalu lama. Selain itu, hampir tidak ada tokoh perempuan di buku ini. 

Yah, ada kemungkinan buku selanjutnya lebih kejam lagi. Saya punya perasaan dunia yang diciptakan Scott Lynch ini jauh lebih rumit dan gelap daripada ini. 

3/5

No comments:

Post a Comment