Sunday, 11 December 2016

Ti Amo, Tia Amoria


Judul : Ti Amo, Tia Amoria
Penulis : Karla M. Nashar
Tebal : 344 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tia Amoria, si mata cokelat ekspresif, dengan mudah membuat lelaki tergelincir dalam kecantikan alami yang dimilikinya. Sayangnya, Tia telah mematri rapat hatinya karena ia memiliki alasan terbaik di dunia ini untuk bersikap demikian. Tapi semua itu berubah ketika dia bertemu dengan Marco Dantè yang eksentrik.

Marco Dantè, si tampan yang eksentrik, selama dua tahun terakhir berhasil hidup steril tanpa kehadiran wanita. Seperti halnya Tia, Marco memilih untuk menutup pintu hatinya karena ia pun memiliki alasan terbaik di dunia ini untuk bersikap seperti itu. Tapi semua itu berubah ketika dia bertemu dengan Tia Amoria yang memesona.

Butuh energi luar biasa bagi Tia untuk mempertahankan apa yang selama ini dipercayainya setelah Marco memasuki kehidupannya. Tia pun harus mempertanyakan kembali semua keputusan yang telah dibuatnya beberapa tahun lalu.

Terlebih ketika Marco berbisik di telinganya...

“Ti amo, Tia Amoria — I love you, Tia Amoria.”


Review:
Sebenarnya kalau cuma baca sinopsis di belakang buku, saya nggak bakal tertarik membacanya. Tapi karena tahun ini adalah tahun paling stres buat saya, jadinya saya cenderung milih cerita yang ringan.

Yang tentu saja salah sasaran. Cerita di buku ini tidak seringan itu. Saya menutup buku dengan air mata dan perasaan bittersweet. Sangat tidak disangka. Bagus banget.

Sejak kakaknya meninggal, Tia Amoria berjanji pada dirinya sendiri untuk mengurus anak perempuan kakaknya dan menjaga hatinya dari para pria. Dia tidak mau berakhir patah hati seperti kakaknya yang ditinggal hamil oleh pria hidung belang. Lagipula kini ia punya Alila sebagai tanggung jawabnya.

Marko baru ditinggal oleh tunangannya. Padahal mereka sudah berpacaran sangat lama. Syok dan patah hati, Marko menutup diri karena merasa bersalah. Dia merasa tunangannya kabur karena kesalahannya. Dia kurang perhatian, dia terlalu banyak bekerja, dia terlalu protektif, dsb.

Lalu mereka berdua bertemu. Seperti biasa, Karla M. Nashar selalu menggambarkan situasi pertemuan pertama dalam adegan konyol. Marko kebetulan baru menarik ritsleting celana terlalu cepat hingga melukai bagian tubuh pribadinya. Tia datang tepat saat dia sedang melihat ke dalam celana dan memeriksa lukanya. Eaaa... Adegan-adegan selanjutnya juga banyak yang lucu dan konyol sehingga saya terkecoh. Karena semakin ke belakang, ceritanya ternyata tidak lagi lucu. Malah jadi sedih dan dalam banget gitu. 

Marko dan Tia akhirnya jatuh cinta. Tapi tepat saat itulah, tunangan Marko, Arleena kembali setelah ditinggal pria yang membuatnya kabur dari Marko. Pokoknya cewek gila nggak tahu malu ini meminta Marko menikahinya karena dia hamil. What the fuck! Sudah mutusin hubungan, lari sama cowok nggak jelas, hamil, dan malah minta dinikahi. Memangnya Marko tempat sampah? Terus dia berencana bunuh diri dan mohon-mohon sama Tia buat merelakan Marko. Sumpah, saya berharap Tia membiarkan saja. Sayangnya, Tia teringat pada sosok kakaknya yang ditinggal oleh pria yang dicintainya. Masih untung Alila masih punya Tia yang bisa menjadi ibunya. Tapi anak Arleena tidak punya siapa-siapa lagi karena kedua orangtua Arleena saja bahkan tidak lagi mau mengakui anaknya karena kabur dengan cowok nggak jelas. 

Damn! Cerita model begini adalah tipe drama romance favorit saya. Pokoknya perjalanan cinta tokohnya nggak gampang. Bahkan ada jeda bertahun-tahun sampai akhirnya keduanya bersatu. Belum lagi ada Alila yang sweet banget. Biasalah, anak kecil polos yang berharap bisa punya Papa. Bikin saya nggak tega. Terus, karena hubungan Marko dan Tia ini nggak mulus, setiap adegan mereka jadi terkesan lebih dalam dan romantis. Kayak cerita cinta zaman perang gitu. Terpisah dalam dilema. Tsah!!! Dan epilognya itu... Pingsan sudah. Bagus parah! Salah satu epilog paling bagus yang pernah saya baca. Bittersweet banget.

Tapi novel ini juga tidak sempurna. Kebetulan ini buku keempat Karla M. Nashar yang saya baca. Sepertinya penulis punya kecenderungan menulis hubungan cinta yang telalu cepat terbentuk. Progress-nya agak terlalu cepat dan tiba-tiba. Kurang natural shift-nya. Tapi penulis cukup pintar dalam membangun konflik dan menuliskan narasi yang bikin mewek. Cuma saya tetap menyayangkan bagian kebetulan soal Matt, cowok yang menghamili si Arleena dan kakak Tia. Kok bisa kebetulan banget dua-duanya orang yang sama? 

Tapi sudahlah. Novel ini tetap bagus pokoknya.

4/5

No comments:

Post a comment