Saturday, 31 December 2016

The Time Traveller's Wife


Judul : The Time Traveler's Wife
Penulis : Audrey Niffenegger
Tebal : 528 halaman
Penerbit : MacAdam/Cage

The Time Traveler's Wife is the story of Clare, a beautiful art student, and Henry, an adventuresome librarian, who have known each other since Clare was six and Henry was thirty-six, and were married when Clare was twenty-three and Henry thirty-one. Impossible but true, because Henry is one of the first people diagnosed with Chrono-Displacement Disorder: periodically his genetic clock resets and he finds himself misplaced in time, pulled to moments of emotional gravity in his life, past and future. His disappearances are spontaneous, his experiences unpredictable, alternately harrowing and amusing. 

The Time Traveler's Wife depicts the effects of time travel on Henry and Clare's marriage and their passionate love for each other as the story unfolds from both points of view. Clare and Henry attempt to live normal lives, pursuing familiar goals--steady jobs, good friends, children of their own. All of this is threatened by something they can neither prevent nor control, making their story intensely moving and entirely unforgettable.


Review:
Ini cerita romance tipe saya banget. Menunggu, kesepian, sedih, cinta sejati, dan penuh tragedi. Saya sangat yakin sampai kapanpun saya akan selalu ingat kisah cinta hebat antara Clare dan Henry ini.

Jadi apa sih isi buku ini? Dari judulnya sebenarnya sudah jelas ya. Tokoh utamanya adalah Henry si time traveler dan Clare istrinya. Cerita dibuka dengan adegan di perpustakaan tempat Henry bekerja. Clare sedang melakukan riset untuk sekolah desainnya dan butuh mencari buku. Dan di sanalah Henry. Clare langsung terkejut dan bersikap ramah, sampai-sampai Henry takut sendiri pada orang asing di hadapannya itu. Tapi bagi Clare, dia sudah mengenal Henry bertahun-tahun. 

Clare berkenalan dengan Henry saat ia berusia 6 tahun. Suatu hari seorang pria asing, telanjang, dan berusia sekitar 30 tahun muncul di halaman rumahnya yang luas. Pria itu bahkan mengetahui namanya. Pertemuan itu sangat berkesan bagi Clare dan sejak saat itu, Henry akan datang berkali-kali dalam hidupnya. Henry menjadi figur ayah, teman rahasia, dan pacar Clare. Menurut saya, bagian ini yang paling manis. Lucu banget. Apalagi pas Clare kecil cemburu kalau Henry sudah punya istri. Dia tidak tahu saja kalau istri Henry di masa depan adalah dia sendiri. 

Buku ini sangat tebal. Alurnya melompat-lompat. Tapi pada akhirnya semuanya menyatu menjadi kisah cinta paling menyakitkan yang pernah saya baca. Ada beberapa bagian yang kadang bikin saya bosan. Tapi semuanya realistis. Hidup kan tidak selalu penuh kejadian yang dramatis. Apalagi ini adalah cerita yang berlangsung bertahun-tahun. Mulai dari Clare kecil, remaja, bertemu Henry, menikah, punya anak, dan menjadi tua. Semua lika-liku hidup mereka berdua ini membuat saya jadi dekat dan mengenal mereka. Saya bahagia saat mereka akhirnya bertemu dan menikah. Saya ikut sedih saat mereka menghadapi masalah dalam pernikahan, sulit mempunyai anak, dan saat Clare marah karena terus merasa ditinggalkan. Saya mengerti sulitnya mempunyai suami yang terus-menerus pergi secara tiba-tiba dan tanpa bisa dicegah. Bahkan Clare tidak pernah tahu kapan Henry kembali. Kadang hanya beberapa jam, kadang bisa berhari-hari.

Saya suka banget buku ini. Endingnya, ampun. Saya nangis tersedu-sedu beneran. Sakit banget. Apalagi pas baca surat Henry. Sungguh menyedihkan. Buat Henry yang hidupnya mengambang tak pasti, terombang-ambing waktu, Clare adalah tali penopangnya, segalanya, arti hidupnya. Dia bukan suami yang bisa diandalkan karena kepergiannya yang begitu sering. Clare sendiri bisa memilih siapapun yang diinginkannya. Dia cantik, kaya, dan pandai bergaul. Dia tidak perlu menunggu Henry terus-menerus. Tapi hidup Clare dari kecil hanya terfokus pada Henry seorang. Dia tidak pernah menoleh pada pria lain. Dan karena itulah dia menjadi judul dari buku ini. Kesabarannya menunggu sangat luar biasa. Saya rasa tidak bakal ada wanita yang bersedia menunggu dalam kesendirian seperti itu. Dan itulah cinta sejati. Benar-benar cinta yang melawan waktu.

Salah satu buku favorit lagi. Saya dibombardir dengan buku bagus di akhir tahun ini. Gilaaa... 

Oh, ya. Buku ini sudah difilmkan dengan aktor Eric Bana dan Rachel McAdams. Ih, dua-duanya cakep dan cantik. Cocok banget. Cuma sayangnya, film tidak bisa menampilkan seluruh esensi buku ini. Ada banyak bagian yang dihilangkan. Jadinya, kurang pol. Bukunya jauh lebih bagus.

5/5

No comments:

Post a comment