Saturday, 19 December 2015

The Martian


Judul : The Martian
Penulis : Andy Weir
Tebal : 369 halaman
Penerbit : Del Rey

I’m stranded on Mars.

I have no way to communicate with Earth.

I’m in a Habitat designed to last 31 days.

If the Oxygenator breaks down, I’ll suffocate. If the Water Reclaimer breaks down, I’ll die of thirst. If the Hab breaches, I’ll just kind of explode. If none of those things happen, I’ll eventually run out of food and starve to death.

So yeah. I’m screwed.


Review:
Mark Watney terjebak di Mars. Sendirian. Dia hanya punya persediaan makanan yang terbatas dan mesin Habitat yang berisi segala hal penyambung hidupnya. Masalahnya, dia tidak bisa berkomunikasi dengan orang-orang di bumi untuk memberitahu mereka kalau ia masih hidup. Dan kalaupun mereka tahu, tidak mungkin ada yang setuju mengeluarkan biaya besar untuk menyelamatkan satu orang saja. Pilihan lainnya adalah menunggu empat tahun lagi saat misi Mars lain dilakukan. Yang berarti dia harus menemukan cara untuk bisa bertahan hidup selama itu dengan makanan yang sangat terbatas.

Tema luar angkasa bukanlah hal yang menarik minat saya. Kebetulan saya punya ketakutan tidak masuk akal terhadap dunia di luar bumi ini. Terlalu menyeramkan jika dibayangkan kalau saya hanya benda kecil tak penting dan pasti mati jika berada di alam semesta tak berujung itu. Tapi buku ini mau dibuat filmnya, jadi saya harus baca dong sebelum nonton.

Beruntung sekali kalau ternyata setting ceritanya hanya di Mars. Kesannya seperti di bumi dengan segala tetek-bengek untuk bertahan hidup yang berbeda. Belum lagi tokoh utamanya yang super kocak, sarkastis, dan selalu positif. Kisah bertahan hidup ini jadi tidak bikin depresi dan malah terkesan lucu. Saya bahkan sangat terpesona dengan sains yang dibahas dengan detail di buku ini. Tidak rumit kok. Sangat mudah dipahami malah. Saya jadi tahu banyak tentang Mars dan perjalanan luar angkasa. 

Kelebihan buku ini adalah narasi Mark Watney. Saya harus mengacungkan jempol buat tokoh ini karena bisa tetap menikmati hidup di tengah keadaan yang jelas pasti bikin putus asa itu. Saya sih bisa gila dan mati kutu kalau ditinggal begitu. Dan saya tidak kreatif sama sekali. Mark Watney ini kebetulan seorang botanis dan tukang mesin. Dia bisa mengotak-atik mesin Habitat dan melakukan modifikasi serta maintenance. Ia bahkan bisa menanam kentang di tanah segersang Mars. Kalau saya? Mesin tidak ngerti. Ilmu botani sih masih ngerti, tapi saya kan tidak kreatif. Kemungkinan besar tidak kepikiran buat nanam kentang. Yang jelas saya sih pasti pasrah saja menunggu mati. Tapi sekali lagi, saya tidak mungkin memilih profesi astronot karena saking takutnya sama luar angkasa. #jadiapagunanyamembahasitu

Buku ini punya tema yang bagus. Selain membicarakan tentang perjuangan tanpa pernah menyerah, ada juga bagian soal kemanusiaan. Saya suka bagian saat semua orang di bumi kocar-kacir kebingungan dan cemas saat tahu kalau Watney masih hidup. Mereka terus mencari cara menyelamatkan Watney dan bahkan lembur tanpa dibayar demi menemukan caranya. Saya bahkan terharu membaca kru teman-teman Watney yang masih dalam perjalanan pulang dari Mars berdiskusi dan membahas cara bagaimana bisa kembali menjemput Watney. Boleh dibilang buku ini membuat saya percaya lagi akan kebaikan manusia. Bahwa sebenarnya setiap orang mempunyai kapasitas peduli dan menyayangi sesama sebesar itu. Terus-terang, semakin saya bertambah dewasa, saya menjadi orang yang semakin sinis memandang dunia sekitar. Saya sering merasa curiga dan berpikir buruk tentang seseorang. Buku ini mengajarkan saya untuk tetap positif dan mau menolong orang lain tanpa berpikir macam-macam. 

Bacaan yang menyenangkan dan cukup seru. Saya suka sekali dengan selera humor di buku ini. Kekurangannya cuma satu. Tokoh-tokohnya banyak yang cuma lewat doang dan terlupakan. Tapi mungkin itu style cerita ini. Lebih banyak aksi dan elemen sainsnya dibandingkan masalah psikologi manusia.

Sebagai tambahan, saya sudah nonton filmnya. Bagus sih karena ada Sebastian Stan saya bisa melihat jelas efek-efek serta mesin yang hanya ada di imajinasi saya sewaktu membaca. Keren. Cuma, sains-nya tidak semantap bukunya. Perhitungan dan penjelasan detail ide Mark Watney di buku ini adalah salah satu yang membuat saya tidak bisa berhenti membalik halaman sampai akhir. Dan itu tidak muncul banyak di film. 

4/5

No comments:

Post a Comment