Wednesday, 23 December 2015

Finnikin of the Rock


Judul : Finnikin of the Rock (Lumatere Chronicles #1)
Penulis : Melina Marchetta
Tebal : 401 halaman
Penerbit : Candlewick Press

At the age of nine, Finnikin's world is shattered by the five days of the unspeakable: the royal family of Lumatere is brutally murdered, an imposter seizes the throne, and a curse binds all who remain inside the kingdom's walls. Those who escape are left to roam as exiles. 

Ten years later, Finnikin and his mentor, Sir Topher, are summoned to meet Evanjalin, a young novice with a startling claim: Balthazar, the heir to the throne of Lumatere and Finnikin's childhood friend, is alive, and she can lead Finnikin to him. Even as he suspects this arrogant young woman, Finnikin also begins to believe that Lumatere might one day be raised.

Review:
Saya mengenal Melina Marchetta dari karyanya yang berjudul Looking for Alibrandi. Dulu sewaktu saya membacanya, saya belum suka dengan genreremaja growing up. Tapi saya ingat kalau saya sangat menyukai bahasa penulisannya yang indah dan menohok. Sewaktu salah satu teman saya di Australia merekomendasikan kisah fantasi ini, saya langsung penasaran. Apakah fantasi adalah genre yang bisa dikuasai penulis?

Setelah membacanya, saya pun terkagum-kagum sendiri. Wow. Kisah fantasi unik ini akan bisa terus diingat sampai kapanpun oleh saya. Tokoh-tokohnya yang sangat kuat, berkarakter, dan mudah disukai jelas bukan tokoh sembarangan. 

Cerita dimulai dengan kisah masa lalu Finnikin bersama dua sahabatnya di Kerajaan Lumatere. Semuanya baik-baik saja sampai pembunuh bayaran datang secara diam-diam membunuh raja, ratu, serta kedua putri tertua. Balthazar sang putra mahkota dikabarkan menghilang. Putri Isaboe, si bungsu juga ditemukan dalam bentuk mayat yang tercabik-cabik di dalam hutan. Finnikin menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat sang pengkhianat dinobatkan menjadi raja dan banyak orang terpaksa mengungsi keluar dari kerajaan. Dan terakhir... sebelum dihukum mati, sang penyihir Lumatere dari kaum orang hutan merapalkan kutukan berupa kabut kelam yang menyelimuti kerajaan itu selamanya. 

Sepuluh tahun kemudian Finnikin dan mentornya, Sir Topher berkeliling ke seluruh wilayah untuk mencari sisa-sisa penduduk Lumatere yang terbuang. Mereka mencari cara untuk memberi tempat tinggal yang layak bagi orang-orang itu: mulai dari bernegosiasi dengan pejabat setempat hingga mendirikan tempat-tempat perlindungan. 

Sampai seorang perempuan bernama Evanjalin muncul. Ia mengaku bisa berjalan dalam mimpi orang-orang. Ia bilang kalau Balthazar sang putra mahkota masih hidup dan akan memimpin mereka semua pulang kembali ke Lumatere.

Perempuan asing, penuh rahasia, dan misterius. Jangan harap Finnikin mau memercayai gadis itu. Tapi ada api dan harapan menyala-nyala di setiap tatapan Evanjalin yang menyihir Finnikin, membuatnya berani memikirkan kemungkinan bebasnya Lumatere dari sang raja jahat. Dan anehnya, sejak Evanjalin muncul, Finnikin bisa bertemu dengan ayahnya yang ternyata dipenjara di tempat asing. Satu per satu figur penting kerajaan disatukan. Mulai dari pendeta tinggi sampai anggota pengawal pribadi raja yang dulu. Bagaimana mungkin Evanjalin tahu keberadaan mereka semua? Siapa gadis itu sebenarnya?

Secara keseluruhan, buku ini mengingatkan saya pada seri Graceling karya Kristin Cashore. Nuansanya gelap dan banyak rahasia yang tersembunyi. Tidak ada aksi menegangkan di tiap halamannya. Tapi ini adalah fantasi yang lebih mengutamakan tokoh-tokoh di dalamnya. Sebuah kisah para manusia yang sedang mencari jalan pulang dengan setting fantasi yang detail. Semua karakternya begitu nyata dan masuk akal. Kepahitan, tragedi, dan masa lalu membuat mereka menjadi tangguh dengan cara masing-masing. Dan saya tidak tahu karakter mana yang paling saya sukai karena semuanya punya sisi kerennya masing-masing. Walaupun ada beberapa bagian tidak penting di novel ini yang sebaiknya dihilangkan, tapi itu sama sekali tidak merusak inti ceritanya.

Sepanjang saya membaca buku ini, saya ikut bertanya-tanya seperti Finnikin siapa Evanjalin sebenarnya. Semua petunjuk sudah bertebaran sedikit-sedikit di sana-sini. Tapi penulis mampu membuat saya terpaku dengan adegan yang sedang berlangsung sehingga tidak sempat menganalisis lebih jauh. Begitu identitas Evanjalin terbuka, saya sampai membolak-balik halaman sebelumnya saking tidak menyangka. Kenapa saya bisa sebuta itu? Jelas banget padahal. Jago banget penulisnya bisa bikin saya terkecoh.

Nah, saya harus mengomentari dua tokoh utamanya. Finnikin dan Evanjalin. Dua orang ini interesting banget. Perdebatan di antara keduanya sangat menghibur. Apalagi Evanjalin sangat blak-blakan dan tidak pernah menyensor omongannya. Finnikin sampai dibuat bengong. Haha... Adegan romance-nya tidak banyak, tapi sangat berkesan saking kerennya. Dialognya itu, lho. Mengena banget. Saat Evanjalin cemburu, saat Finnikin berusaha menyatakan perasaan lewat pesan-pesan terselubung... Unik banget. Sangat tidak biasa.

Dan tentu saja saya harus mengomentari tragedi Kerajaan Lumatere yang mengikis setiap jiwa penduduknya. Detail dan horor banget buat saya. Kejam nian. Semua itu semakin membuat saya merasa simpatik dengan para survivor-nya. Ada yang jiwanya rusak, ada yang hidup dalam penyesalan, ada yang berusaha menyegel hatinya supaya tidak merasakan, dan masih banyak lagi. Menurut saya, yang paling kasihan adalah Lady Beatrice. Disiksa hanya karena statusnya sebagai kekasih Kepala Pengawal Raja, diperkosa berkali-kali, namun masih bisa tetap bertahan demi melindungi tetangga-tetangganya. Lalu penjelasan para ayah yang menangis karena mereka lebih memilih membunuh putri-putri mereka daripada menyaksikan para prajurit merampas dan memerkosa putri-putri mereka itu... Sinting!!!! Pokoknya ini bukan fantasi indah yang penuh aksi heroik. Humornya juga kasar dan agak mesum ala prajurit. Kesimpulannya, buku ini berisi kisah realita yang mungkin terjadi pada kerajaan yang diperintah oleh raja gila. 

Saya penasaran dengan kisah Froi si pencuri kurang ajar yang diselamatkan Evanjalin. Mungkin saya akan membacanya kalau sudah bisa move on dari kegilaan novel ini. 

5/5

No comments:

Post a Comment