Sunday, 23 August 2015

Ignite Me


Judul : Ignite Me (Shatter Me #3)
Penulis : Tahereh Mafi
Tebal : 416 halaman
Penerbit : Harper Collins

With Omega Point destroyed, Juliette doesn't know if the rebels, her friends, or even Adam are alive. But that won't keep her from trying to take down The Reestablishment once and for all. Now she must rely on Warner, the handsome commander of Sector 45. The one person she never thought she could trust. The same person who saved her life. He promises to help Juliette master her powers and save their dying world . . . but that's not all he wants with her.

Review:
Ini buku yang sangat aneh. Saya sudah lama selesai membacanya, tapi saya bingung bikin reviewnya. Sebenarnya kalau dari segi cerita saya tidak suka. Tapi ada banyak hal lain yang membuat saya betah membaca buku ini dari awal hingga akhir.

Warning: spoiler!

Hal paling menonjol dari buku ini adalah hilangnya gaya penulisan yang suka dikoreksi. Tidak ada lagi coret-coret. Juliette terkesan jauh lebih mantap dengan apa yang dipikirkannya. Dan Tahereh Mafi benar-benar berubah dari penulis yang bahasanya tidak masuk akal menjadi penulis yang puitis sekali. Saya suka narasi dan deskripsi yang ditulisnya. 

Yang membuat saya hampir memberi empat bintang adalah tokoh-tokoh yang diciptakan penulis. Saya rasa mereka semua memorable dan mungkin nantinya di masa depan saya bakal cuma ingat tokohnya saja dan bukan ceritanya. Saya suka sekali dengan Kenji Kishimoto. Saya mau banget punya sahabat selucu dan seloyal dia. Interaksinya dengan Juliette bikin saya iri karena saya jadi pengen banget punya kakak laki-laki yang bisa menghibur dan melindungi. Yah, karena saya anak paling besar, jadi lupakan saja. Haha... Kenji juga sangat rasional dan bisa memberi solusi yang baik. Dia juga mau mencoba memahami dan tidak menghakimi secara berlebihan. Terutama kepada Warner yang memang dari awal sikapnya tidak terlalu menyenangkan.

Tokoh kedua yang saya sukai adalah Warner. Sebenarnya kalau mau jujur, saya lebih suka dia di buku kedua dibanding di buku ini. Setidaknya di buku kedua saya bisa melihat dia sebagai orang yang penuh konflik dan rasa benci terhadap dirinya sendiri. Di buku ini dia masih terlihat seperti orang yang kesepian dan tersingkir, tapi dia juga jadi sosok yang sempurna. Saya lebih suka kalau dia memang seorang prajurit yang siap membunuh siapa saja demi tugas. Tapi semua hal buruk yang dilakukannya di buku satu ada penjelasannya. Juliette hanya salah paham. Itulah yang agak menurunkan rasa suka saya ke dia. Kok dia jadi baik ya? Eh, tapi saya suka cara dia memperlakukan Juliette. Dia percaya kalau Juliette bukan gadis lemah yang perlu dilindungi terus-menerus. Dia mendukung keputusan Juliette, percaya akan kemampuan Juliette, dan bahkan mau mengajari Juliette bela diri tanpa tanggung-tanggung. Inilah yang bikin saya jadi fangirling. Kalau sebelumnya saya suka Warner karena sifatnya yang complicated, di sini saya suka dia karena sikapnya yang menganggap Juliette sebagai sosok yang equal dengan dia. Cuma kemampuan bergaulnya perlu diasah sedikit ya. Dia hanya bersikap baik pada Juliette saja dan tidak dengan yang lain. Bikin canggung gitu. Dan saya agak geli membayangkan dia sebagai orang yang peduli dengan fashion. Tapi pokoknya si Warner ini sosok yang sangat menarik untuk dibicarakan, seorang karakter yang sangat three dimensional

Tokoh ketiga adalah Juliette. Saya sih tidak begitu suka dengan tokohnya, tapi saya juga tidak membencinya. Biasa saja. Cuma pengembangan karakternya terlihat jelas. Dia yang lemah di buku pertama menjadi seorang petarung di buku ini. 

Sekarang setelah saya bahas bagian bagusnya, saya akan bahas bagian jeleknya. Yang pertama adalah tokoh Adam. Dia dirusak sedemikian rupa oleh penulis hingga saya kesal sendiri. Karakter Adam di buku ini sangat tidak sesuai dengan karakternya yang lumayan di buku pertama. Saya selalu menganggap dia sebagai orang yang tenang dan penyayang. Tapi di sini? Penulis terlihat ingin membuat Warner sebagai cowok yang lebih keren dibanding Adam, jadi si Adam dibikin pemarah dan pencemburu. Annoying. Saya mengerti kalau dia sakit hati karena Juliette memilih Warner secara terang-terangan. Tapi tidak perlu lebay begitu. Sangat drama. Bahkan saya yang suka drama saja sampai mengernyit nggak nyaman setiap kali Adam meledak marah ke Juliette di depan semua orang. Privasi dong. Malu-maluin banget. Pokoknya Adam jadi beda banget. Mungkin tujuannya supaya pembaca tidak kesal kalau akhirnya Juliette memilih Warner. Memang sudah seharusnya karena Adam nyebelin. Duh!

Kesalahan paling fatal dari buku ini adalah adegan klimaksnya. Ya, ampun! Si penulis malas sekali ya bikin adegan itu. Sepertinya dia ingin cepat-cepat menyelesaikan bukunya. Begitu kisah cintanya sudah selesai dibahas, ceritanya langsung melempem. Masa pemberontakannya berakhir hanya dalam beberapa halaman saja. Juliette seorang diri beraksi menyelesaikan semua misi utamanya. Saya sangat tidak suka konsep one man hero. Saya percaya kalau kemenangan didapat dari kerja sama banyak pihak. Ini sih... Juliette masuk ke gedung, menggunakan kekuatannya yang super letal, dar-der-dor musuh kalah, lalu penjahat utama mati dengan mudahnya. Apaan itu? 

Dan yang terakhir adalah endingnya. Setelah pemberontakan selesai, negara harus dibangun kembali kan? Tidak ada adegan itu. Yang ada cuma adegan Juliette bertemu dengan Warner di akhir perang dan Juliette merasa lega karena cowok itu selamat. Please... #rolling eyes Pokoknya Juliette mengumumkan kemenangan dan mengklaim dirinya sebagai pemimpin baru negara itu. Masuk akal? Jelas tidak. Memangnya anak ingusan kayak dia bisa apa? Kenapa tidak ada yang tidak setuju dengan gagasan itu? Apakah karena kekuatannya yang super mengerikan dan hampir kayak dewa? Kalau Warner yang jadi pemimpin barunya, saya mungkin masih bisa terima. Tapi saya tidak pernah merasa Juliette punya kualitas sebagai pemimpin sepanjang saya membaca buku ini. Sangat tidak meyakinkan. Mungkin buku ini berakhir dalam adegan nggak jelas karena nantinya di masa depan negara mereka juga akan menjadi negara nggak jelas yang dipimpin oleh manusia nggak kompeten seperti Juliette. Meh.

Oh, sampai terakhir pun saya tidak mendapatkan penjelasan tentang asal-usul kekuatan super Juliette. Seingat saya, di buku pertama ada adegan di mana Juliette melewati daerah yang terkena bahan kimia radioaktif. Saya menganggap zat kimia itu ada hubungannya dengan mutasi genetik dalam diri orang-orang yang punya kekuatan super. Tapi nihil. Tidak ada konsep apapun di balik kekuatan-kekuatan itu.

Kalau bukan karena Kenji dan Warner, saya bakal kasih buku ini satu bintang. Setidaknya saya masih suka dengan romance-nya yang cukup unik dan tidak terduga. Saya kira Warner tokoh cowok kedua, lho. 

Akhirnya! Saya berhasil menyelesaikan satu seri!

Seri Shatter Me:
3. Ignite Me

3/5

No comments:

Post a Comment