Showing posts with label Meg Cabot. Show all posts
Showing posts with label Meg Cabot. Show all posts

Thursday, 21 December 2023

Remembrance


 Judul : Remembrance (The Mediator #7)
Penulis : Meg Cabot
Tebal : 388 halaman
Penerbitan : William Morrow

You can take the boy out of the darkness. But you can’t take the darkness out of the boy.

All Susannah Simon wants is to make a good impression at her first job since graduating from college (and since becoming engaged to Dr. Jesse de Silva). But when she’s hired as a guidance counselor at her alma mater, she stumbles across a decade-old murder, and soon ancient history isn’t all that’s coming back to haunt her. Old ghosts as well as new ones are coming out of the woodwork, some to test her, some to vex her, and it isn’t only because she’s a mediator, gifted with second sight. 

What happens when old ghosts come back to haunt you?

If you’re a mediator, you might have to kick a little ass.

From a sophomore haunted by the murderous specter of a child to ghosts of a very different kind—including Paul Slater, Suze’s ex, who shows up to make a bargain Suze is certain must have come from the Devil himself—Suze isn’t sure she’ll make it through the semester, let alone to her wedding night. Suze is used to striking first and asking questions later. But what happens when ghosts from her past—including one she found nearly impossible to resist—strike first?

Friday, 29 November 2019

The Bride Wore Size 12


Judul : The Bride Wore Size 12 (Heather Wells #5)
Penulis : Meg Cabot
Tebal : 384 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Pernikahannya dengan detektif swasta, Cooper Cartwright, tinggal beberapa minggu lagi, dan Heather sangat stres. Dengan kematian mahasiswa baru yang cantik, Jasmine Albright, Heather yakin masalah tak akan bertambah buruk lagi. Sampai ketika semua mahasiswa menjadi tersangka dan ibunya yang telah lama pergi, muncul kembali.

Heather tak punya waktu untuk menangani air mata buaya ibunya. Ada rencana pernikahan yang harus diurus dan misteri pembunuhan yang harus diselesaikan. Karena bukan lonceng yang terdengar di pernikahannya melainkan desing peluru, Heather pun bertekad si penjahat harus mendapatkan hukuman setimpal jika itu hal terakhir yang bisa dilakukannya... dan kali ini, itu mungkin saja.

Size 12 and Ready To Rock


Judul : Size 12 and Ready To Rock (Heather Wells #4)
Penulis : Meg Cabot
Tebal : 352 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Hanya karena musim panas dan gedung tinggal sepi dari kehadiran para mahasiswa, tidak berarti Asisten Direktur Gedung Tinggal Heather Wells bisa bersantai-santai. Fischer Hall lebih sibuk dari biasanya, dipenuhi remaja-remaja cewek yang histeris menghadiri Tania Trace Teen Rock Camp untuk pertama kali. Acara yang dipandu sendiri oleh bintang pop sensasional Tania Trace—yang kebetulan baru saja menikah dan hamil muda dengan mantan pacar Heather, Jordan Cartwright yang jadi pujaan.

Tapi masalah yang sebenarnya baru dimulai ketika produser reality show ini tewas di hari pertama. Padahal jelas, Tania-lah sasaran sebenarnya.

Grant Cartwright, pemilik Carwright Records menginginkan menantu sekaligus tambang emasnya tetap hidup. Disewalah Cooper Cartwright, anak sulung, si pemberontak dalam keluarga, dan detektif swasta— sekaligus tunangan terbaru Heather. Mestinya Heather membiarkan semuanya menjadi urusan Cooper. Namun dengan gedung yang dipenuhi jeritan calon bintang remaja, ia tak tahan untuk terlibat. Setelah Tania mengungkapkan rahasia yang mengejutkan, acara ini menjadi lebih berbahaya daripada yang pernah dibayangkan.

Monday, 23 October 2017

Royal Wedding


Judul : Royal Wedding (The Princess Diaries #11)
Penulis : Meg Cabot
Tebal : 408 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Bagi Putri Mia, lima tahun sejak lulus kuliah adalah masa paling sibuk: tinggal di New York City, mengelola pusat komunitas remaja, menghadiri tugas-tugas kerajaan, dan jatuh cinta. Omongomong, pacar Mia, Michael, akhirnya berhasil mengosongkan jadwal mereka untuk berlibur ke pulau di Karibia, dan di sana dia melamar Mia! Mia tidak perlu menulis panjang-lebar di diarinya untuk menjawab, Ya!

Namun, ada skandal besar yang harus dihadapi: neneknya telah membocorkan rencana perkawinan “palsu” kepada pers, yang dapat menyebabkan Michael kabur. Lebih gawat lagi, ada rencana politik yang hendak mendongkel ayahnya dari takhta kerajaan, karena suatu rahasia yang dapat mengguncang Genovia.

Dapatkah Mia membuktikan kepada semua orang—terutama dirinya sendiri—bahwa dia bukan hanya telah siap menikah, tapi juga siap mewarisi takhta?
 

Friday, 9 May 2014

Ransom My Heart


Judul : Ransom My Heart
Penulis : Meg Cabot
Tebal : 536 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Finnula Crais memang pemburu dan pemanah paling ulung di Shropshire. Namun ia tak menyangka akan diminta berburu mangsa berbeda oleh kakaknya. Seorang pria. Demi mendapatkan uang secepatnya untuk maskawin sang kakak, Finn harus menculik seorang pria agar bisa dimintai tebusan. Dan tak ada mangsa yang lebih menjanjikan daripada kesatria dengan kantong penuh uang, bukan? Dengan keahliannya, seberapa sulitnya berburu pria?

Sementara itu, rencana Lord Hugo Fitzstephen untuk menikmati kehidupan tenang sepulangnya dari medan perang hancur ketika ia malah mendapati dirinya dijadikan tawanan. Tetapi, disandera di wilayah kekuasaannya sendiri ternyata tak seburuk dugaan Hugo, terutama jika penawannya secantik Finnula. Di luar dugaan, Lord Hugo malah jatuh cinta pada sang penawan dan akhirnya membuat rencana baru: meyakinkan Finnula untuk tak pernah melepaskannya. Namun itu tak mudah, terutama setelah Finnula mengetahui siapa Hugo sebenarnya...

Monday, 16 December 2013

Big Boned


Judul : Big Boned (Heather Wells Mysteries #3)
Penulis : Meg Cabot
Tebal : 320 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Hidup cukup menyenangkan bagi mantan bintang pop berbadan besar yang kini bekerja sebagai asisten Direktur Asrama dan terkadang menjadi detektif amatir, Heather Wells. Ayahnya yang mantan narapidana dan menumpang hidup akhirnya pindah. Dia masih naksir berat pada induk semangnya yang seksi, Cooper Cartwright, tapi hubungannya dengan pacar sementaranya yaitu Tad Tocco, sang profesor matematika yang juga vegetarian, lebih dari memuaskan. Dan bagian terbaiknya, tidak ada yang tewas akhir-akhir ini di Asrama Maut, nama julukan yang diberikan pada asrama tempat Heather bekerja. Tapi tentu saja tidak selamanya keadaan selalu tenang dan damai. Dan ketika mayat korban pembunuhan terakhir yang muncul di wilayah kerjanya adalah sang bos yang tidak terlalu disukai, Heather menemukan dirinya memegang daftar tersangka utama—termasuk cowok pemimpin demo yang juga pacar asisten Heather yang selalu tegang dan pendeta muda kampus yang tampan yang dituduh menggoda beberapa mahasiswi anggota paduan suara.

Dengan ketenaran memanggilnya kembali ke dunia hiburan (sebagai bintang baru acara anak-anak!) sungguh bukan waktu tepat untuk kembali terlibat dalam penyelidikan pembunuhan. Ditambah Tad juga mengisyaratkan dirinya akan menanyakan Pertanyaan Besar, yang Heather sendiri tidak tahu harus menjawab apa....

Monday, 12 December 2011

Size 14 Is Not Fat Either


Judul : Size 14 Is Not Fat Either (Heater Wells #2)
Penulis : Meg Cabot
Tebal : 400 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
My rating : 4/5

Seperti karangan Meg Cabot lainnya, tokoh utama ceweknya pecicilan, konyol, sarkastik, dan agak gila. Yah, itu style si pengarang sih. Tapi menurut saya, agak aneh kalau cewek berusia 30 tahun sifatnya kayak gitu. Kesannya masih remaja dan belum dewasa.

Tapi ya sudahlah. Mungkin maksudnya memang pengen bikin tokohnya kekanak-kanakan. 

Cerita dimulai dengan ditemukannya sebuah kepala orang yang direbus di kompor dapur kafeteria asrama. Hebat! Kepala rebus seorang homecoming queen. Kesannya menakutkan kan? Tapi nggak. Lebih terkesan lucu karena narasi Heather, si tokoh utama memang agak gila. 

Yah, cerita berputar sekitar penyelidikan berbahaya yang dilakukan Heather. Tapi diseling dengan kehidupan pribadi Heather dan interaksinya dengan orang-orang unik yang dikenalnya. Nah, saya suka sama kehidupan sehari-harinya Heather. Mulai dari kesukaannya akan makanan berlemak padahal dia sudah gemuk, kesibukan pekerjaannya sebagai seorang asistem gedung tinggal/asrama, crush-nya sama pemilik apartemen tempat dia tinggal yang adalah kakak mantan tunangannya, ibunya yang kabur dengan uangnya ke Argentina bersama pacarnya, dan bosnya yang gay.

Seri Heather Wells ini mengambil tema yang mirip Nancy Drew. Ada pembunuhan dan si tokoh utama menyelidiki siapa pelakunya. Karena Heather Wells ini agak nekad dan gila, biasanya penyelidikannya berakhir dengan agak cacat. 

Tapi memang tokoh-tokohnya cacat semua. Ada ayah Heather Wells yang mantan narapidana tapi suka yoga, ada mantan tunangan Heather yang merongrong melulu kerjaannya, ada pegawai kafeteria yang suka nggak jelas ngomong "Mana bintang-bintang kecilku?", ada mahasiswa yang tinggal di asramanya dan naksir si Heather (padahal usianya baru 20 tahun), ada pengedar narkoba yang tinggal di depan apartemen Heather, dan seterusnya.

Ceritanya tidak bisa dijabarkan satu per satu. Pokoknya saya terhibur banget baca ini. Lucu!

Dreamer is craving Western food nowadays, sigh*...


:)

Sunday, 13 November 2011

Twilight


Judul : Twilight (The Mediator #6)
Pengarang : Meg Cabot
Tebal : 288 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Resensi :
Suze sudah terbiasa menghadapi para hantu. Suze kan memang seorang mediator, dan berkomunikasi dengan para orang mati sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Jadi jelas dia tidak pernah menyangka akan jatuh cinta pada hantu: Jesse, hantu abad kesembilan belas yang tampan.

Saat Suze menyadari dia memiliki kekuatan untuk menentukan siapa yang akan menjadi hantu duluan, Suze mulai panik. Karena itu berarti dia bisa mengubah jalannya sejarah… dan mencegah pembunuhan atas diri Jesse, mencegahnya menjadi hantu gentayangan—dan mencegahnya bertemu Suze 150 tahun kemudian.

Jalan manakah yang akan dipilih Jesse: hidup tanpa Suze atau mati demi cintanya pada Suze?


SATISFYING ENDING!!! FIVE STARS TO THE MAX!!!

Oke, itu berlebihan. Tapi kalau melihat posisi buku ini yang langsung masuk favorite shelf saya peringkat ke-6, itu jelas sekali menunjukkan betapa bagusnya buku ini buat saya.

Satisfying, bukan perfect. Karena menurut saya tidak ada buku yang sempurna. Bahkan buku keenam atau seri terakhir mediator ini banyak keanehannya. Bahkan boleh dibilang poorly wrapped-up hanya supaya bisa happy ending. Tapi Meg Cabot tahu selera pembacanya. Dia menciptakan ending yang sangat, sangat, sangat memuaskan.

Nah, keanehan buku ini terletak pada status Suze sebagai pengelana. Ternyata dia bisa berkelana ke dimensi keempat alias dimensi waktu. Ya, ampun. Dia bisa balik ke masa lalu, bo!!

Jadi, Jesse dan Suze pacaran di buku ini. Saya suka sekali melihat betapa gentleman si Jesse ini. Dia kan kolot, berasal dari dunia kuno. Aduh, sweet banget deh. Si Jesse nggak mau tinggal sekamar sama Suze lagi karena mereka belum menikah. Dia bahkan nggak berani "gerepe-gerepe" Suze sembarangan sampai Suze kesal sendiri soalnya dia kepingin. LOL

Ceritanya ada Paul yang juga pengelana seperti Suze. Dia suka Suze dan nggak suka kalau Suze jadian sama Jesse. Si Paul ini mau kembali ke masa lalu buat menyelamatkan nyawa Jesse. Dan itu berarti Suze dan Jesse bakal nggak pernah saling mengenal. Bahkan mungkin Suze nggak bakal ingat pernah kenal pada seorang Jesse kalau sejarah diubah.

Suze ketakutan. Dia nggak sanggup kehilangan Jesse. Kan dia pernah diramal kalau dia hanya bakal jatuh cinta sekali dan cinta itu akan berlangsung sampai akhir zaman. Dia terlalu sayang sama Jesse. Padahal kalau dipikir-pikir Suze egois karena melarang Jesse untuk hidup, menikmati masa mudanya. 

Yah, tapi Jesse juga nggak mau itu terjadi. Dia memilih untuk mati demi mengenal Suze.

Saya jujur saja walau memalukan. Saya banjir air mata baca buku ini. Dilemanya banyak amat. 

Nah, si Suze balik ke masa lalu buat mencegah Paul menyelamatkan Jesse. Tapi begitu dia ketemu sama sosok Jesse yang hidup, dia nggak sanggup lagi. Dia nggak bisa membiarkan Jesse terbunuh karena itu tidak benar. Jadi, dia rela melepaskan Jesse. Dia rela melupakan Jesse.

Saya menyesal pernah baca spoiler buku ini karena waktu itu saya sedang mempertimbangkan mau beli buku ini atau nggak. Saya sempat tahu kalau Suze bakal jadian sama Jesse karena ada kesalahan waktu Suze mau balik ke masa depannya. Jadi, saya nggak kaget sih waktu baca endingnya. Tapi terus-terang endingnya cukup mengejutkan kok.

Kembali ke cerita. Paul yang egois ingin memiliki Suze langsung mengalah begitu melihat Jesse menyelamatkan Suze dari kebakaran yang terjadi di lumbung. Jadi, ceritanya si Jesse diperingatkan Suze kalau dia bakal dibunuh. Jadi si Jesse bersiap-siap membunuh Diego, calon pembunuhnya itu. Tapi dalam prosesnya terjadi kebakaran. Si Suze terperangkap dan Jesse rela menyelamatkannya sekalipun sebenarnya Jesse kan baru kenal Suze di situ. Paul sampai terpana sendiri. Dia nggak nyangka Jesse sebaik itu. Bahkan dia juga nggak nyangka kalau Suze merelakan Jesse tetap hidup dan rela Jesse tidak mengenalnya hanya supaya Jesse bisa menikmati kehidupannya. Dia baru tahu kalau ada orang yang bisa mencintai secara tidak egois.

Pokoknya kasihan banget deh. 

Ini spoiler ya. Jangan baca kalau nggak mau dapat spoiler. Jadi waktu si Jesse menyelamatkan Suze dari kebakaran itu, si Suze langsung membayangkan masa depan dan kembalilah dia. Dia sudah dinasehati kalau nggak boleh menyentuh apapun yang tidak mau dibawanya ke masa depan. Tapi kan dia lagi nyentuh si Jesse. Yah, Jesse kebawa ke masa depan deh. Tapi karena Jesse bukan pengelana, tubuhnya tidak cocok untuk perjalanan seperti itu sehingga dia koma. Suze terus menangis karena dia gagal. Dia gagal bikin Jesse tetap hidup. 

Tapi hantu Jesse datang. Dia kaget lihat badannya yang asli ada di depannya. Hantu Jesse nyentuh badannya sendiri dan menghilang karena dua roh dalam satu dimensi waktu itu tidak mungkin ada. Tapi itu berarti kedua roh sedang bersatu, memutuskan apakah harus hidup atau meninggal.

Dan, sementara aku berdiri di sana, menunduk memandanginya, kelopak matanya terbuka...

... dan aku terjatuh, seperti yang selalu terjadi setiap kali dia menatapku, ke dalam kolam gelap yang adalah mata Jesse... mata yang bukan hanya menatapku, tapi juga mengenaliku. Mengenali jiwaku. (DAMN, I cried again. Si Suze sudah putus asa dan bahkan dia pikir Jesse bakal lupa sama dia. Bahkan dia kira si Jesse meninggal dan ternyata... Jesse mengenali jiwanya. OMG!!)

Dia mengangkat tangannya yang tidak kupegang, menyingkirkan masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya, dan mengucapkan satu kata saja.

Tapi kata itu membuat hatiku bernyanyi-nyanyi riang.

"Querida." (panggilan sayang Jesse buat Suze selain Susannah. Jesse nggak mau manggil Suze dengan "Suze" doang karena menurutnya "Suze" itu terdengar mesum, hahaha...) 

Mantap lah. 

Yang pasti buku ini memenuhi selera saya dalam hal tokoh terutama. Susanna Simon nggak cengeng dan dia berani berjuang buat keyakinannya. Dia bahkan rela susah-susah menyelamatkan Jesse. Jadi kalau memang seandainya sifatnya jelek dan annoying, semuanya sudah terbayar dengan tindakannya demi Jesse. Redemption. Jesse kan keren banget ceritanya. Dia itu tipe gentleman abad 19. Ditambah lagi cowok zaman dulu lebih 'cowok" dengan kemampuan berkuda, menembak, berperang, dan sebagainya. Kan kalau Suze biasa saja, nggak pantas dong dapetin Jesse. Saya kan suka kalau kedua tokoh utama seimbang, meant to be with each other. Bahwa tidak ada yang pantas buat Jesse selain Suze dan sebaliknya.

Yang bikin nangis lagi adalah bagian hantu ayah Suze yang mengucapkan selamat tinggal. Hantu ayah Suze gentayangan karena dia masih punya urusan yang belum selesai, yaitu bikin Suze bahagia. Nggak dikasih tahu sih sebenarnya, cuma saya bisa menebak itulah alasan ayah Suze masih gentayangan. Perpisahan yang sangat bittersweet.

Sudah cukup deh. Sekarang saja saya sudah berkaca-kaca lagi. Ada apa sih dengan masalah dilema dan happy ending ini? Kenapa saya selalu nangis kalau baca soal itu?

Review lengkap seri Mediator Meg Cabot yang sebelumnya :
1 & 2 :  Shadowland & Ninth Key
3 : Reunion
4 : Darkest Hour
5 : Haunted 

Dreamer is sad because the Mediator series was already over...


:)

Saturday, 12 November 2011

Haunted


Judul : Haunted (The Mediator #5)
Pengarang : Meg Cabot
Tebal : 248 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Resensi :
Suze sudah terbiasa berurusan dengan masalah, tapi kali ini dia benar-benar dalam masalah besar: Jesse si hantu tampan sudah merebut hatinya, tapi Paul Slater, cowok ganteng yang masih hidup dan bernapas, kelihatannya mengejar-ngejar Suze. Dan Paul adalah seorang mediator, sama seperti Suze, yang tahu bagaimana caranya mengirim Jesse ke alam lain. Untuk selamanya.

Paul bilang dia tidak akan melakukan apa pun terhadap Jesse selama Suze bersedia berkencan dengannya. Karena takut dia akan kehilangan Jesse selamanya, Suze setuju. Tapi bahkan kalaupun Suze bisa memancing Jesse mengakui perasaannya pada cewek mediator itu, masa depan seperti apa yang bisa diharapkan dari berpacaran dengan cowok yang sudah mati?

Kira-kira siapa yang akan jadi pilihan Suze? Paul, si mediator ganteng yang misterius, atau Jesse, si hantu yang Suze cintai semenjak pertama kali bertemu?

Hmm... saya punya kebiasaan untuk menunda membaca lanjutan dalam buku berseri supaya bisa diawet-awet. Nggak mau cepat tamat. 

Tapi saya nggak tahan. Saya gatal penasaran sama lanjutan seri Mediator ini.

Buku kelima sekarang. Mulai agak aneh sih sebenarnya. Di sini dijelaskan kalau Suze adalah pengelana bukan mediator. Maksudnya, pengelana itu bisa menjelajah dunia roh. Bisa pergi kapan saja ke dunia roh atau eksorsis hanya dengan membayangkannya saja. 

Nggak jelas. Apalagi masalah hantu di buku ini benar-benar parah. Nggak penting sampai penyelesaiannya itu terasa sangat asal-asalan.

Tapi romance Jesse dan Suze bagus banget di sini. 

Setelah peristiwa dicium di akhir buku keempat, Jesse dan Suze bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Tapi Suze terus kelabakan dalam hati karena Jesse sepertinya tidak peduli sama dia. Malah Jesse itu pindah rumah, nggak mau tinggal sama Suze lagi. Dia pergi tanpa pamit pula. Yah, Suze kecewa dong.

Tapi ternyata Jesse itu cuma nggak sanggup berada di dekat Suze. Dia tahu kalau Suze sayang sama dia dan dia nggak mau itu. Dia mau Suze suka sama orang hidup yang bisa dilihat. Toh, mau dibawa ke mana hubungan dengan hantu?

Hanya saja Suze nggak peduli. Dia akhirnya mengejar Jesse, menyatakan perasaannya. Jadi Jesse nggak sanggup ninggalin Suze lagi karena Suze meminta dia untuk tinggal.

Adegan di akhir buku ini bikin saya nangis. Oke, saya memang cengeng dalam membaca buku karena saya sangat ahli menghanyutkan diri ke dalam cerita. Saya bahkan bisa membayangkan dengan jelas perasaan tokoh dan situasi sekitarnya. 

Adegan terakhir bertempat di kuburan baru Jesse yang dibuat oleh Suze dan Pastor Dominic (kepala sekolah Suze yang juga adalah mediator). Sebenarnya si Suze bukan lagi nyari Jesse tapi dia kebetulan nemuin Jesse di sana lagi mandangin kuburannya sendiri. Si Suze ini memang aneh. Dia kalau lagi stres suka cari kuburan. =.=

DI SINI TERBARING HECTOR 'JESSE' DE SILVA, 1830-1850, KAKAK, ANAK, DAN TEMAN YANG TERKASIH.

Jesse mendongak waktu aku datang dan berdiri di sampingnya. Tanpa bersuara, dia mengulurkan tangannya di atas nisan. Aku menyelipkan jari-jariku ke sela jari-jarinya.
"Aku minta maaf," katanya, sorot matanya sehitam biasanya, "untuk segalanya."

Aku mengangkat bahu, mataku tetap tertuju pada tanah yang mengeliling batu nisan itu-segelap matanya. "Aku mengerti, kurasa." Walaupun sebenarnya aku tidak mengerti. "Maksudku, bukan salahmu bila... well, kau tidak merasa seperti yang aku rasakan terhadapmu." (Suze mengira Jesse pergi ninggalin dia karena nggak mau ngomong sendiri kalau dia nggak bisa membalas perasaan Suze. Suze kira Jesse pengecut.)

Entah apa yang membuatku mengatakannya. Begitu kata-kata itu keluar dari mulutku, aku berharap kubur di bawahku terbuka dan menelanku juga.

Jadi bayangkan saja kekagetanku waktu Jesse menyergah, dengan suara yang nyaris tidak kukenali sebagai suaranya, karena sarat oleh emosi terpendam, "Jadi kau mengira begitu? Bahwa aku ingin pergi?"

"Bukankah begitu?" Kupandangi dia, benar-benar terperangah. Aku berusaha keras tetap menjaga jarak dengan persoalan ini, mengingat harga diriku yang sudah terinjak-injak. Meski begitu, jantungku, yang berani sumpah kurasa sudah mengerut dan hancur berantakan satu atau dua hari yang lalu, mendadak kembali berdenyut, walaupun aku sudah secara tegas melarangnya.

"Bagaimana mungkin aku tetap tinggal di sana?" tanya Jesse ingin tahu. "Setelah apa yang terjadi di antara kita, Susannah, bagaimana mungkin aku tetap tinggal?"

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia bicarakan. "Apa yang terjadi di antara kita?Apa maksudmu?"

"Ciuman itu." Jesse melepas tanganku, begitu tiba-tiba hingga aku tersandung.

Tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli karena aku mulai berpikir sesuatu yang indah sedang terjadi. Sesuatu yang agung. Aku semakin yakin akan hal itu waktu kulihat Jesse mengangkat tangandan menyurukkanjari-jarinya ke rambutnya, dan aku melihatnya gemetar. Jari-jarinya, maksudku. Mengapa jari-jarinya gemetar seperti itu? (Saya nangis karena seorang cowok seperti Jesse bisa gemetar sedih hanya karena cintanya sama Suze)

"Bagaimana aku bisa tinggal?" tanya Jesse ingin tahu. "Pastor Dominic benar. Kau harus bersama seseorang yang bisa dilihat oleh keluarga dan teman-temanmu. Kau harus bersama seseorang yang bisa menua bersamamu. Kau harus bersama seseorang yang masih hidup."

Oke, saya mengakui kalau saya ridiculous. Seriusanlah. Nangis cuma karena itu. Tapi beneran, saya bisa merasakan dilema kedua tokoh itu. Saya kan punya kelemahan terhadap cerita-cerita dilema seperti itu.

Empat bintang saja!!!

Dreamer must start doing her assignment,


:)

Friday, 11 November 2011

Darkest Hour


Judul : Darkest Hour (The Mediator #4)
Pengarang : Meg Cabot
Tebal : 288 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 
Resensi :
Ketika dibangunkan di tengah malam buta oleh hantu Maria de Silva dari abad ke-sembilan belas, Suze tahu itu bukan kunjungan biasa---apalagi karena ada pisau ditempelkan ke lehernya. Semasa hidupnya dulu, Maria adalah tunangan Jesse---yang tewas dibunuh 150 tahun silam. Jesse yang dicintai Suze. Jesse si hantu tampan.

Maria mengancam Suze: pembangunan dek di halaman belakang rumah keluarga Suze harus dihentikan. Suze tahu benar apa---atau lebih tepatnya siapa---yang tidak ingin ditemukan oleh Maria. Tapi apakah bila ia memecahkan misteri pembunuhan Jesse, Suze akan kehilangan lelaki itu selamanya? Apakah Suze sudah siap menerima risiko kehilangan hantu cowok yang telah merebut hatinya?


Saya baca ini di pesawat waktu balik ke Singapur. Seri keempat dari Mediator karya Meg Cabot ini benar-benar mulai menarik. Kenapa? Karena Suze sudah mulai mengakui kalau dia jatuh cinta sama Jesse. Apalagi di buku ketiga kemarin dia diselamatkan Jesse terus si Jesse menyentuh pipinya sebentar. Dan dia langsung meleleh.

Di buku ini terbuka semua masa lalu Jesse. Memang si Suze sudah tahu dari awal soal pembunuhan Jesse di masa lalu. Dia tahu dari buku sejarah dan dia sudah sempat memancing-mancing Jesse untuk cerita sama dia soal kejadian itu. Tapi dasar Jesse. Dia nggak mau cerita, selalu saja mengalihkan pembicaraan kalau Suze mulai nanya.

Jadi, begini. Ternyata si Jesse itu dibunuh sama calon istrinya yang bernama Maria de Silva, sepupunya. Biasalah, zaman dulu kan sesama sepupu boleh nikah. Nah, Maria itu ternyata suka sama cowok lain bernama Diego. Karena itulah, Diego membunuh Jesse demi mendapatkan Maria. Memang ada-ada saja.

Di buku ini, ayah tiri Suze mau bikin hot tube di kebun belakang rumah yang adalah bekas losmen tempat tinggal Jesse 150 tahun lalu. Tiba-tiba Suze didatangi si Maria. Maria minta Suze mencegah penggalian di kebun belakang itu karena ada mayat Jesse di situ.

Rumit deh ceritanya. Yang jelas di sini dijelaskan lebih lanjut soal eksorsisme yang adalah pengantaran paksa hantu ke dunia lain. Si Jesse sempat dieksorsis sama mediator lain. Dan karena Suze nggak mau kehilangan Jesse, dia rela pergi ke dunia eksorsis demi menyelamatkan Jesse.

Sedih banget. Si Jesse mengira Suze yang eksorsis dia.

Akhirnya...

"Terutama," sambungku tegas, tanpa mendongak memandangnya, "dari bicara. Itulah yang paling kubutuhkan saat ini. Libur bicara."
 

"Baiklah," ucap Jesse. Dia mengangkat tangan dan merengkuh wajahku dengan kedua tangannya. "Kita tidak perlu bicara."
 

Dan saat itulah dia menciumku.
 

Di bibir.

Awww!!! Oke, saya suka bagian itu. To the point banget soalnya. Hahahaha... Suze dicium juga sama si Jesse, lama amat nunggunya.

Empat bintang.

Dreamer got stomachache, zzzz...



:)

Wednesday, 9 November 2011

Reunion


Judul : Reunion (The Mediator #3)
Pengarang : Meg Cabot
Tebal : 264 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
 
Resensi :
Kecelakaan terjadi. Dan selalu disebabkan oleh hantu, kalau kau adalah Susannah Simon.

Malaikat-Malaikat RLS dendam kesumat, dan hanya Suze yang bisa menghentikan mereka---karena hanya dia yang bisa melihat mereka. Empat remaja tewas dalam kecelakaan tragis, dan mereka menyalahkan teman sekelas Suze, Michael... dan tidak mau berhenti sampai Michael bergabung dengan mereka di dunia orang mati.

Di tengah perjuangan mati-matian menggagalkan setiap usaha mereka mencabut nyawa Michael, Suze mendapati ternyata bahwa amarah para Malaikat itu beralasan. Karena kematian mereka ternyata sama sekali bukan kecelakaan. Dan pembunuh mereka tak segan-segan mengulangi perbuatan jahatnya.

Nah, ini buku ketiga dari seri mediator Meg Cabot. Seri pertama dan keduanya yang berjudul Shadowland and Ninth Key saya baca versi Inggrisnya karena kebetulan saya nggak nemu yang Indonesianya.

Buku ketiga ini masih mirip-mirip sama buku pertama dan kedua. Sederhana dan mudah ditebak. Saya bahkan sudah tahu penjahatnya dari awal. Tapi karena buku ini bacaan remaja yang ringan, saya tidak bisa komentar lebih jauh dari itu. Untuk genre fantasy young adult, ini buku oke banget. 
  
Di buku ini, Suze mulai menyadari kalau dia itu jatuh cinta sama Jesse si hantu. Tapi dia masih menyangkal dan berusaha mengabaikan perasaannya karena itu nggak normal. Saya ngerti kenapa Suze bisa suka sama Jesse. Masalahnya, dia kan mediator yang mengarahkan hantu gentayangan ke dunia kehidupan selanjutnya. Itu kan aneh. Dia merasa nggak terlalu cocok dengan anak sebayanya. Sementara Jesse, si hantu 150 tahun kuno ini sangat pengertian. Dia melindungi Suze dan selalu ada kalau Suze lagi butuh pertolongan.

Saya suka Suze karena dia strong dan mandiri. Saya suka Jesse karena dia itu lucu banget. Dia suka malu-malu di depan Suze. Apalagi kalau dia lagi nanya soal hal-hal modern yang nggak ada di zaman dia hidup. 

Saya kasih buku ini tiga bintang karena ceritanya mudah ditebak alurnya. Selain itu agak membosankan sih bagian hantu-hantunya. Tapi kelebihan novel ini adalah penceritaan kehidupan sehari-hari Suze yang normal. Dimulai dari adik tirinya yang jenius, kakak sulung tirinya yang cuek, dan terutama pertengkarannya dengan kakak tirinya yang seusia dengannya. Rasanya sangat real seperti keluarga asli. Lucu juga sih bagaimana si Suze bikin julukan buat saudara tirinya : Sleepy buat si cuek yang memang suka tidur, Dopey buat si kakak satunya yang memang bodoh, dan Doc buat si adik tiri. Bahkan untuk sudut pandang orang pertama bagi genre seperti ini, tokoh-tokoh sahabat si Suze yang sebenarnya nggak terlalu berhubungan dengan cerita tidak terasa seperti pajangan. 

Dreamer is waiting for Christmas...


:)

Thursday, 3 November 2011

The Mediator : Shadowland and Ninth Key


Title : Shadowland - Ninth Key (The Mediator #1 - #2)
Writer : Meg Cabot
 Number of pages : 516
Publisher : HarperTeen
Synopsis :
Ghosts ruin everything, especially your love life.
Suze is a mediator—a liaison between the living and the dead. In other words, she sees dead people. And they won't leave her alone until she helps them resolve their unfinished business on earth. But after a cross-country move to sunny California, Suze is looking forward to a fresh start and a life free of spectral interventions.
Too bad Suze can't escape the undead that easily. She might not mind Jesse, the sexy ghost who haunts her bedroom, but there are plenty of other poltergeists out there with less friendly intentions. Some of them are out for revenge . . . of the murderous kind. And Suze might be the only one who can stop them.

This book contains two parts of the mediator series, Shadowland and Ninth Key. The series have six installments.

Ok, this is Meg Cabot. I know I will find the sarcasm and the unique style of her writing in this book. And I did find it. Wah, how I miss the time I read her Princess Diaries series.

Light, funny, entertaining as always...

If you like the light adventure-thriller, this book is definitely good for you. Well, I could guess all twisted mysteries inside and I didn't feel so surprised when all the cards were opened. But like I said, this book is a light adventure-thriller-mystery-whatever.

But...
 

Susannah rocks!! She become one of my favorite heroine with her kick-ghost-butt styles. She was tough, stubborn, and also mean sometimes. But I like her. 

Other characters only get small portion in the book. But there are not much to tell about them. Mostly, the book tells about Susannah and the annoying ghosts. But, I don't mind since I really like Suze, haha...
 

Anyway, Jesse is likeable although he seldom appears in the story. He was described as hot ghost who was quite oldies since he came from nineteenth century. But he was so polite and so Spanish (I always have a thing with Spanish language and Latino guys, don't know why). And the way he always called Susannah by "querida" (means darling) with smooth, silky, and deep voice... I know why Suze could not help to fall in love with him although it's not normal to fall in love with ghosts since they are already dead. 

Three stars!

Dreamer does not want to go back to Singapore, seriously...


:)

Saturday, 25 June 2011

Nicola And The Viscount


Judul : Nicola And The Viscount
Penulis : Meg Cabot
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jangan tanya kenapa gue akhir-akhir ini baca buku tipis nggak jelas begini. Gue emang lagi stres sama tugas kuliah dan butuh light read buat menghibur diri. Padahal gue tadinya sedang baca To Kill A Mockingbird, hanya saja untuk sementara buku itu kusingkirkan dulu.

Resensi :
Nicola Sparks yakin dirinya menjadi sumber rasa iri wanita-wanita muda lain. Bagaimana tidak, ia bertunangan dengan Lord Sebastian Bartholomew, pria yang sangat tampan, kaya, dan baik. Ditambah, dirinya bakal mendapat gelar viscountess setelah menjadi istri Lord Sebastian.

Hidup Nicola sempurna, hingga Nathaniel Sheridan mulai menanam benih-benih keraguan di benaknya. Awalnya, Nicola yakin Nathaniel hanya ingin merusak kebahagiannya. Namun, lama-lama ia mulai mempertanyakan perasaan cinta sang viscount padanya. Dan mulai mempertanyakan perasaannya sendiri pada Nathaniel.


Oke, seriusan deh. Si Meg Cabot udah kehabisan ide atau apa. Kok ceritanya agak mirip-mirip dengan si Victoria And The Rogue? Terus kenapa gue bisa beli buku model gini?

Emang gue lagi nggak jelas.

Ceritanya standar, nggak ada yang spesial. Pas buka halaman pertama gue merasa buku ini bakal lebih membosankan daripada yang sebelumnya. Mungkin karena heroine-nya lebih serius kali ya. Tapi ternyata dari segi cerita sih, yang ini lebih bagus dari Victoria And The Rogue. Walaupun tetap sama. Romance-nya nggak kerasa dan nggak jelas kenapa tiba-tiba si cewek dan si cowok jatuh cinta.

Tipe cerita yang masuk mata keluar dari otak.

Tiga bintang untuk tipe light reading begini. Lumayan buat ngeringanin beban kepala. Cuma bukunya nggak ada gregetnya deh. Entah gue lagi nggak mood ato nggak jelas.

Beneran. Gue lagi serba nggak jelas gini. 

Dreamer is in dilemma. Should I feel happy since tomorrow my family come to Singapore or should I be worried since Monday I gonna present my stupid poster? FREAKING OUT... KYAAAAAA...


:)  

Monday, 20 June 2011

Victoria And The Rogue


Judul : Victoria And The Rogue
Penulis : Meg Cabot 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Resensi :
Lady Victoria Arbuthnot, yang dibesarkan di luar masyarakat kalangan atas London, terbiasa mandiri dan memiliki pendapat sendiri. Ia yakin dirinya selalu tahu yang terbaik. Karenanya, meski baru enam belas tahun, Vicky yakin bahwa Hugo Rothschild, Earl of Malfrey Kesembilan, yang tampan dan memikat akan menjadi suami yang tepat.

Tapi Kapten Jacob Carstairs tidak setuju. Vicky kesal karena Jacob ngotot Hugo bukan pria yang tepat untuknya. Namun, Vicky langsung menyesali sikapnya kepada Jacob setelah mencurigai bahwa Hugo tidaklah seperti yang disangkanya. Vicky tak hanya salah menilai Hugo. Dia juga salah menilai Jacob dan alasan Jacob mencampuri percintaannya dengan sang earl. Akankah Vicky dipaksa mengakui bahwa--untuk pertama kali dalam hidupnya--dia salah?


Pertama kali gue baca Meg Cabot, itu karena gue nonton film Princess Diaries yang katanya dari novel. Pas gue baca, gue jadi cukup suka sama pengarang ini. Alasannya adalah karena gaya bahasa yang dia pakai cukup tidak biasa. Lucu, sarkastis, dan cacat. Dan terutama Meg Cabot sangat kreatif. Dia bisa mengarang dalam model email, diari, dan lain-lain. Temanya juga berbeda-beda. Dia mengarang buat remaja, dewasa, fantasi, dan ini teen historical romance.

Buku ini gue kasih tiga bintang karena cukup lumayan. Yah, bukunya tipis jadi nggak ada isinya sih. Seperti biasa tokoh cewek utamanya punya sifat konyol khas Meg Cabot. Tipe tokoh utama cewek Meg Cabot itu selalu heboh, keras kepala, sedikit tomboy, idealis, dan juga lucu. Victoria di buku ini juga nggak jauh beda.

Sebenernya gue agak nggak suka tipe buku ini. Gue bisa kasih tiga bintang karena ceritanya dan penyampaiannya bagus. Tapi gue nggak gitu suka aja. Biasanya gue baca historical romance yang dewasa, serius, dan seksi. Ini sih nggak ada seksi-seksinya, yang ada cuma masalah remaja biasa yang dikemas secara historical. Dan memang gue nggak gitu suka teenlit

Yah, tapi gue adalah pembaca universal. Gue membaca segala macam genre (kecuali horror). Gue tetep merekomendasikan buku ini buat para remaja. Gue rasa sih mereka bakal jadi suka historical romance dan beralih ke pengarang seperti Lisa Kleypas, Julia Quinn, Johanna Lindsey, dkk. Tapi plis, deh. 17 tahun ke atas itu. Yang sayangnya dijual secara bebas di toko Gramedia. LOL... Seakan gue baca buku seperti itu pas gue udah 17 taun aja. Nggak zaman kali.

Dreamer needs a break, please...


:)