Friday, 9 May 2014

Ransom My Heart


Judul : Ransom My Heart
Penulis : Meg Cabot
Tebal : 536 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Finnula Crais memang pemburu dan pemanah paling ulung di Shropshire. Namun ia tak menyangka akan diminta berburu mangsa berbeda oleh kakaknya. Seorang pria. Demi mendapatkan uang secepatnya untuk maskawin sang kakak, Finn harus menculik seorang pria agar bisa dimintai tebusan. Dan tak ada mangsa yang lebih menjanjikan daripada kesatria dengan kantong penuh uang, bukan? Dengan keahliannya, seberapa sulitnya berburu pria?

Sementara itu, rencana Lord Hugo Fitzstephen untuk menikmati kehidupan tenang sepulangnya dari medan perang hancur ketika ia malah mendapati dirinya dijadikan tawanan. Tetapi, disandera di wilayah kekuasaannya sendiri ternyata tak seburuk dugaan Hugo, terutama jika penawannya secantik Finnula. Di luar dugaan, Lord Hugo malah jatuh cinta pada sang penawan dan akhirnya membuat rencana baru: meyakinkan Finnula untuk tak pernah melepaskannya. Namun itu tak mudah, terutama setelah Finnula mengetahui siapa Hugo sebenarnya...

Review:
Saya sudah membaca kisah Mia Thermopolis semuanya. Jadi, saya tidak mungkin melewati buku ini. Memang walaupun ini ditulis atas nama Princess Mia, tetap saja pengarangnya si Meg Cabot. Dan sayangnya, Meg Cabot kurang cocok jadi penulis historical romance. 

Kedua tokoh utama di buku ini sebenarnya punya sifat yang oke, tidak nyebelin. Finnula sangat kuat dan liar seperti pemburu. Dia berjalan-jalan di desanya dengan bebas mengenakan celana tanpa peduli apa pendapat orang. Ia kerap kali menciptakan masalah sekalipun tujuannya untuk membantu tetangga-tetangganya yang miskin. Di sisi lain, Lord Hugo tipikal hero novel yang digambarkan bertubuh tinggi besar dan sangat maskulin. Yang mengganggu adalah deskripsi akan kecantikan dan ketampanan kedua tokoh ini dibahas berulang-ulang setiap beberapa halaman hingga saya bosan. Saya jadi merasa hanya fisik saja yang ditonjolkan dalam hubungan kedua orang ini. Mereka jatuh cinta cepat sekali, dalam satu hari saja. Bukan cinta sih, lust tepatnya. Pokoknya di hari ketiga si Finn sudah rela menyerahkan keperawanannya pada si Lord Hugo. Segalanya terjadi terlalu cepat, tanpa ada percakapan dan interaksi berarti di antara kedua tokoh utama. Lord Hugo kerap kali menyebutkan betapa cantik dan indah rambut merah Finn, membuatnya ingin memiliki gadis itu. Finnula sendiri terus-menerus merasa hatinya berdesir setiap kali melihat sosok Hugo. =.= 

Ceritanya sebenarnya menarik karena ternyata Finnula seorang janda, janda ayah Hugo sendiri. Lalu ada penjahat di latar belakang yang cukup bikin kesal. Saya bahkan menyukai kakak-kakak Finn yang sifatnya berbeda-beda. Malah lebih asyik membaca perdebatan kakak-beradik itu dibandingkan menyimak romance-nya. Lalu saya tidak mengerti kenapa harus ada anak haram Hugo, hasil hubungan masa lalu pria itu dengan pelayan rumah. Supaya menunjukkan betapa hebat petualangan cinta si Hugo? Atau untuk mengimbangi status janda Finn? 

Ah, sudahlah. Ceritanya oke, cuma romance-nya kurang asyik.


3/5

No comments:

Post a Comment