Thursday, 10 September 2015

The Blood of Olympus


Judul : The Blood of Olympus (The Heroes of Olympus #5)
Penulis : Rick Riordan
Tebal : 502 halaman
Penerbit : Disney-Hyperion

Though the Greek and Roman crewmembers of the Argo II have made progress in their many quests, they still seem no closer to defeating the earth mother, Gaea. Her giants have risen—all of them—and they're stronger than ever. They must be stopped before the Feast of Spes, when Gaea plans to have two demigods sacrificed in Athens. She needs their blood—the blood of Olympus—in order to wake.

The demigods are having more frequent visions of a terrible battle at Camp Half-Blood. The Roman legion from Camp Jupiter, led by Octavian, is almost within striking distance. Though it is tempting to take the Athena Parthenos to Athens to use as a secret weapon, the friends know that the huge statue belongs back on Long Island, where it "might" be able to stop a war between the two camps.

The Athena Parthenos will go west; the Argo II will go east. The gods, still suffering from multiple personality disorder, are useless. How can a handful of young demigods hope to persevere against Gaea's army of powerful giants? As dangerous as it is to head to Athens, they have no other option. They have sacrificed too much already. And if Gaea wakes, it is game over.


Review:
Menurut saya, buku terbagus dari seri ini tetap saja buku keempat. Buku terakhir ini kurang menegangkan dan kurang banyak kejutan. Tapi bukan berarti buku ini tidak seru. Rick Riordan tidak pernah setengah-setengah kalau menulis cerita.

Narator cerita hanya ada lima: Jason, Leo, Piper, Reyna, dan Nico. Saya agak kaget sih kalau Reyna dan Nico berperan besar dalam cerita. Padahal mereka berdua bukan bagian dari tujuh demigod dalam ramalan Oracle. Tapi buat saya yang suka sama Nico, saya sih senang-senang saja. 

Tujuh demigod harus melewati beberapa tugas sebelum bisa menghadapi Gaea. Saya paling suka pertemuan Jason, Leo, dan Piper dengan dewa penyembuhan, Asclepius. Entah kenapa adegan kecil itu berkesan banget. Si Asclepius cuma lihat sebentar dan langsung tahu masalah kesehatan masing-masing. Saya akhirnya tahu kenapa Jason kerjaannya cuma pingsan karena tertabrak sesuatu. Ternyata dia rabun jauh dan dia pun dikasih kacamata sama si dewa. Tapi... hal yang bikin sedih adalah si Asclepius tahu takdir Leo dan tidak bicara apa-apa. Saya tadinya masih berharap kalau Leo bukan salah satu dari tujuh demigod yang mati. Sayangnya, adegan itu memastikan semuanya.

“Correct." Kekrops sounded bitter, like he regretted his decision. "My people were the original Athenians--the gemini."
"Like your zodiac sign?" Percy asked. "I'm a Leo."
"No, stupid," Leo said. "I'm a Leo. You're a Percy.” 

Sementara itu, tugas Nico, Reyna, dan Coach Hedge adalah membawa patung raksasa Athena Parthenos ke Camp Half-Blood sebelum perang antara dua kamp terjadi. Nico kelelahan dan keberadaannya hampir menghilang setiap kali ia melakukan shadow travel. Di sini saya bisa mengenal lebih jauh sifat kuat Reyna yang luar biasa. Reyna memang pendiam, tapi sikapnya dalam mendukung dan memahami Nico patut diacungi jempol. Dia tidak gegabah dan selalu bisa mengambil keputusan. Wah, benar-benar seorang warrior. Keren. Dan kalau mau jujur, saya jauh lebih suka bagian Reyna dan Nico dibandingkan petualangan tujuh demigod yang lain. Ada banyak bonding di antara Nico dan Reyna. Nico yang dingin dan takut didekati akhirnya mau membuka diri dan bergantung pada Reyna. Di samping itu, Reyna sendiri untuk pertama kalinya bisa mengakui rahasia masa lalunya pada seseorang yang dipercayainya. 

Saya tidak bisa bicara banyak tentang perang klimaks antara Gaea dan pasukannya dengan tujuh demigod. Saya juga tidak bisa menceritakan secara detail perang antara kedua camp. Bagian itu akan lebih seru jika dibaca sendiri. Tapi sayangnya, saya tetap merasa ada yang kurang dengan bagian perangnya. Terlalu singkat dan kurang intens dibandingkan buku kelima seri Percy Jackson. Saya cuma cukup terkejut saat Piper mengucapkan satu kata pamungkasnya. Sederhana banget, tapi beneran ampuh. Keren.

“Oh, come on!’ Percy complained. ‘I get a little nosebleed and I wake up the entire earth? That’s not fair!”  (memang konyol banget bagian ini, tapi tepat sekali hahaha...)

Bagian yang saya sukai selain bonding antara Reyna dan Nico adalah pembicaraan Nico dan ayahnya, Hades. Pembicaraan mereka tidak panjang, tapi terkesan sedih dan dalam banget. Saya bisa mengenal sosok dewa kematian dan Nico yang ternyata punya kesamaan. Mereka punya kegelapan dalam diri mereka dan tidak pernah merasa bahagia. Salah satu adegan menyentuh dan berkesan di buku ini. 

Dan terakhir saya mau menyebutkan tentang Leo, karakter favorit saya di seri ini selain Percy, Nico, dan Annabeth. Mungkin ini bias, ya. Saya selalu suka tokoh yang tersingkir. Leo ini kan dikatakan sebagai roda ketujuh, seakan dia tidak penting. Dia juga tidak punya pasangan seperti yang lainnya. Tapi sifat geek-nya dan humornya yang konyol pas banget buat saya. Ending buat tokoh ini bahagia, namun ada sisi bittersweet yang bikin saya sedih. Sendirian di awal dan beraksi sendirian di bagian akhir karena memang begitulah ramalannya. Pokoknya saya sempat nangis di bab akhir saat dia bicara dengan Festus seakan cuma tinggal mereka berdua saja di dunia ini. Aneh kan? Padahal dia bahagia lho. Tapi tetap saja saya sedih. 

“What if we promoted, like, Adidas shoes?’ Percy wondered. ‘Would that make Nike mad enough to show up?" 
Leo smiled nervously. Maybe he and Percy did share something else – a stupid sense of humour. "Yeah, I bet that would totally be against her sponsorship deal. THOSE ARE NOT THE OFFICIAL SHOES OF THE OLYMPICS! YOU WILL DIE NOW!” 

Mungkin cerita di buku ini tidak semenegangkan dan seseru buku keempat ataupun ketiga. Tapi ada bagian-bagian yang bikin saya tersentuh. Sepanjang saya membaca, saya merasa takut kalau buku ini berakhir. Saya suka semua tokohnya. Saya takut berpisah dengan mereka. Dan betul. Begitu saya menutup lembaran akhir, saya terdiam. Saya ingin lebih. Saya ingin bertemu dengan tujuh demigod itu lagi. Bahkan saya sudah kangen pada Percy, Annabeth, Leo, Jason, Piper, Hazel, dan Frank hanya satu detik setelah saya menamatkan buku ini. Wow. Betapa hebatnya Rick Riordan yang bisa menciptakan cerita dan tokoh-tokoh yang tak terlupakan. Salut. 

“For a long time,’ Nico said, ‘I had a crush on you. I just wanted you to know.’ Percy looked at Nico. Then at Annabeth, as if to check that he’d heard correctly. Then back at Nico. 
‘You –’ 
‘Yeah,’ Nico said. ‘You’re a great person. But I’m over that. I’m happy for you guys.’ 
‘You … so you mean –’ 
‘Right.’ 
Annabeth’s grey eyes started to sparkle. She gave Nico a sideways smile. 
‘Wait,’ Percy said. ‘So you mean –’ 
‘Right,’ Nico said again. ‘But it’s cool. We’re cool. I mean, I see now … you’re cute, but you’re not my type.’ 
‘I’m not your type … Wait. So –’ 
‘See you around, Percy,’ Nico said.”  (hahaha...)

Inilah siksaan membaca buku bagus. Saya tidak bisa lupa dan terus terbayang-bayang. Dan kalau kalian belum membaca seri ini, bacalah sekarang juga!!!! 

Seri The Heroes of Olympus:
5. The Blood of Olympus

5/5

No comments:

Post a Comment