Saturday, 19 April 2014

The Book Thief


Judul : The Book Thief
Penulis : Markus Zusak
Tebal : 560 halaman
Penerbit : Black Swan

HERE IS A SMALL FACT - YOU ARE GOING TO DIE. 

1939. Nazi Germany. The country is holding its breath. Death has never been busier.

Liesel, a nine-year-old girl, is living with a foster family on Himmel Street. Her parents have been taken away to a concentration camp. Liesel steals books. This is her story and the story of the inhabitants of her street when the bombs begin to fall.

SOME IMPORTANT INFORMATION - THIS NOVEL IS NARRATED BY DEATH.

It's a small story, about: a girl, an accordionist, some fanatical Germans, a Jewish fist fighter, and quite a lot of thievery.

ANOTHER THING YOU SHOULD KNOW - DEATH WILL VISIT THE BOOK THIEF THREE TIMES.

Review: 
Ini adalah salah satu buku yang mengejutkan. Saya tidak memasang ekspektasi apa-apa dan ternyata saya suka sekali dengan ceritanya. 

Diceritakan dari sudut pandang kematian (Death), setting cerita berada di masa Hitler membantai orang-orang Yahudi. Saya selalu membaca cerita dari sisi orang Yahudi dan baru kali ini saya membaca dari sisi orang Jerman. Ternyata tidak semua orang menyetujui rasisme Hitler. Mereka hanya tidak berdaya untuk menolong tetangga dan teman-teman Yahudi yang sudah mereka kenal lama.

“A SMALL PIECE OF TRUTH
I do not carry a sickle or scythe.
I only wear a hooded black robe when it's cold.
And I don't have those skull-like facial features you seem to enjoy pinning on me from a distance. You want to know what I truly look like? I'll help you out. Find yourself a mirror while I continue.” 

Liesel menjadi anak yatim piatu setelah orang tuanya dihukum oleh Hitler karena membela kaum Yahudi. Ia diselamatkan dan dibawa ke rumah orang tua barunya, keluarga Huberman. Hans Huberman, sang ayah, adalah seorang pemain akordion yang baik hati. Istrinya memiliki mulut yang kasar namun sama-sama berhati emas. Liesel yang awalnya merasa terasing di rumah itu, sedikit demi sedikit mulai menyayangi orang tua barunya. 

Liesel tidak bisa membaca dan itu membuatnya menjadi bahan olok-olok teman sekelasnya. Satu-satunya sahabatnya adalah Rudy Steiner, anak laki-laki tetangganya yang tergila-gila pada atlet Olimpiade lari Jesse Owen. 

“How about a kiss, Saumensch?"

He stood waist-deep in the water for a few moments longer before climbing out and handing her the book. His pants clung to him, and he did not stop walking. In truth, I think he was afraid. Rudy Steiner was scared of the book thief's kiss. He must have longed for it so much. He must have loved her so incredibly hard. So hard that he would never ask for her lips again and would go to his grave without them.” 

Liesel belajar membaca dari ayahnya setiap malam. Ia pun jadi gila membaca, dimulai dari buku yang dicurinya saat pemakaman adik laki-lakinya. Sejak saat itu, ia mulai suka mencuri buku yang ditemukannya secara tak sengaja. Itulah alasan ia diberi julukan The Book Thief (pencuri buku).

Suatu kali rumah Huberman kedatangan tamu bernama Max, seorang Yahudi yang ingin bersembunyi. Dulu ayah Max pernah menolong Hans di saat perang dan karena itulah Hans berhutang budi pada keluarga Max. Walaupun hukum melarang, Hans tetap menyembunyikan Max. 

Liesel berteman dengan Max diam-diam. Ia tidak pernah memberitahu siapapun di luar kalau ia punya teman rahasia di rumahnya. Sangat berbahaya jika ada yang tahu soal Max. Bahkan Rudy saja tidak tahu. Namun tidak selamanya Max aman karena perang semakin menjadi-jadi. Banyak anak laki-laki direkrut untuk perang dan uang semakin sulit dicari. Semua orang kelaparan dan hidup terasa sulit. Rudy dan Liesel terpaksa mencuri makanan demi memuaskan rasa lapar mereka.

“A human doesn't have a heart like mine. The human heart is a line, whereas my own is a circle, and I have the endless ability to be in the right place at the right time. The consequence of this is that I'm always finding humans at their best and worst. I see their ugly and their beauty, and I wonder how the same thing can be both. Still, they have one thing I envy. Humans, if nothing else, have the good sense to die.” 

Dari awal, Death sudah memperingatkan. Ini bukanlah kisah yang berakhir bahagia. Pada akhirnya, kematian selalu menjadi akhir dari hidup seseorang. Saya menyukai nuansa sederhana dan hangat yang ditimbulkan oleh kisah sehari-hari Liesel, hubungan persahabatannya dengan Rudy, dan kasih sayang orang tua angkat Liesel. Terkadang saya juga merasa sedih dengan keadaan susah di zaman itu. Saya ingin menangis saat Max meminta Liesel menjelaskan cuaca di luar karena ia tidak pernah melihat dunia luar lagi setelah begitu lama bersembunyi dalam kegelapan. Saya tersentuh dengan perasaan kasihan dan ingin membantu Hans Huberman terhadap para budak Yahudi walaupun ia tetap tidak berdaya mengubah semuanya. Ada ironi juga kemanusiaan dalam kisah sederhana yang ditulis Markus Zusak ini. 

"Even death has a heart.” 

Walaupun sudah diperingatkan oleh Death, saya tetap terkejut dengan ending dari kisah ini. Speechless. Dan pada akhirnya saya hanya bisa bilang kalau buku ini bagus sekali dan saya suka dengan semua karakter juga narasi-narasi si Death. 

“I wanted to tell the book thief many things, about beauty and brutality. But what could I tell her about those things that she didn't already know? I wanted to explain that I am constantly overestimating and underestimating the human race-that rarely do I ever simply estimate it. I wanted to ask her how the same thing could be so ugly and so glorious, and its words and stories so damning and brilliant... I AM HAUNTED BY HUMANS.” 

Buku ini sudah difilmkan dan saya juga sudah nonton filmnya. Bagus dan hampir tidak menambahkan apa-apa dari adegan yang sudah ada di buku. Berikut trailer-nya.



5/5

2 comments:

  1. udah lama punya buku ini tapi belom sempat baca xD thanks reviewnya! ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saatnya diambil bukunya dan mulai dibaca hehehe...

      Delete