Sunday, 6 April 2014

Graceling


Judul : Graceling (Graceling Realm #1)
Penulis : Kristin Cashore
Tebal : 496 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Sejak berusia 8 tahun, Katsa sudah bisa membunuh dengan tangan kosong. Ia termasuk Graceling, kelompok langka dengan kemampuan—Bakat—luar biasa. Dan Bakat Katsa adalah membunuh. Bakat yang membuatnya menjadi algojo sang raja.

Lalu ia bertemu Pangeran Po, yang memiliki Bakat bertempur.

Ia tidak mengira akan berteman dengan Po.

Ia tidak mengira ada fakta baru tentang Bakat membunuhnya—juga rahasia mengerikan yang tersembunyi jauh... rahasia yang dapat menghancurkan tujuh kerajaan hanya dengan kata-kata.

Review:
Terus-terang saya membeli buku ini hanya karena sinopsisnya yang unik. Saya penasaran bakat membunuh itu seperti apa. Tapi ekspektasi saya sih tidak tinggi soalnya pada saat itu saya tidak tahu kalau novel ini lumayan terkenal.

Ternyata novel ini menarik sekali. Entah karena saya suka dengan fantasi medieval atau karena saya sedang ingin membaca petualangan unik seperti ini, yang jelas saya suka dengan ceritanya. Sejak halaman pertama saat Katsa diutus menculik tahanan rahasia, saya tidak bisa berhenti membaca. Ceritanya seru dan unik. Bakat Katsa sendiri sudah membuat saya betah sekali membaca buku ini. 

Graceling adalah istilah khusus untuk para manusia yang memiliki bakat semacam super power. Ciri khasnya mereka memiliki mata yang berbeda warna. Untuk Katsa, satu matanya berwarna hijau dan satunya lagi biru. Sejak kecil, ia dibesarkan di istana sebagai orang kepercayaan raja. Segala macam misi membunuh, memata-matai, dan menghukum pelanggar peraturan, diserahkan pada Katsa. Semua orang takut padanya karena setiap pertempuran selalu dimenangkan gadis itu. Itu sebabnya Katsa terbiasa sendirian.

Pertemuannya dengan Pangeran Po yang juga memiliki bakat sedikit mengubah sifat Katsa. Nama pangerannya memang jelek. Po? Ugh. Seperti nama boneka saja.  Mereka berteman dan saling bertarung karena hanya Po saja yang bisa menandingi kemampuan Katsa. 

Di tengah kehidupan rutin mereka, masih ada misteri yang tidak diketahui mengenai siapa yang menculik paman Po. Seseorang di tujuh kerajaan menyimpan rahasia besar yang akan menghancurkan perdamaian. Untuk menyelidiki hal tersebut, Katsa pun pergi bersama Po. 

Novel ini sangat menonjolkan karakter Katsa yang kuat dan bahkan lebih kuat dari Po. Memang secara karakterisasi, buku ini masih kurang karena alurnya cepat dan tidak terlalu bertele-tele. Teman-teman Katsa di kerajaan pun hanya mendapat bagian di awal-awal saja. Yah, fokusnya memang cuma untuk Po dan Katsa. 

Oh, ya. Bakat Katsa yang sebenarnya keren amat! Mau dong. Saya suka sekali bagian petualangannya dengan Putri Bitterblue (namanya juga jelek nih), mengingatkan saya pada novel Wolf Brother karya Michelle Paver yang penuh dengan alam dan rimba tak dikenal. Bagian ini mungkin membosankan karena lebih menjelaskan tentang area pegunungan salju yang sulit dilewati. Tapi justru saya suka banget bagian ini. Peduli amat sama Po yang terluka. 

Endingnya cukup memuaskan walaupun saya tidak mengerti kenapa Katsa keukeuh tidak ingin menikah dan punya anak. Saya tahu kalau dia selalu merasa dikucilkan sejak kecil dan dia merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik. Tapi terus? Masa dia mau terus kumpul kebo sama si Po? Aneh amat. Walaupun begitu, saya masih bisa menerima alasannya sih. Orang kan punya hak untuk memilih, toh. 

Sisi romance-nya tidak terlalu kuat karena instan dan hampir tidak ada prosesnya. Tapi memang saya ingin lebih banyak fantasinya. Jadi, porsinya pas. Belum lagi endingnya agak bittersweet uy. Mantap! Terus penjahatnya punya kekuatan yang agak menyeramkan, bikin tegang gitu. Sayang, cara ngalahinnya agak kurang dramatis. Haha...

Secara keseluruhan, novel ini asyik banget. Tapi ceritanya sudah beres sepertinya. Saya tidak tahu apa yang mau diceritakan di buku kedua dan ketiga.

5/5

No comments:

Post a Comment