Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Friday, 3 April 2015

Enter The Magical Realm: Underrated Fantasy Novels


Masih dengan topik yang sama, yaitu fantasi, saya mau membagikan beberapa rekomendasi buku fantasi yang harus dibaca. Saya tidak akan membicarakan buku-buku yang sudah terkenal, seperti Harry Potter, The Lord of The Rings, The Mortal Instruments, Percy Jackson, Twilight, dan The Hunger Games. Saya yakin sudah banyak yang mereview dan membahas seri-seri itu dan mungkin bahkan hampir semua penggemar fantasi sudah membacanya.

Jadi, yang saya bahas di sini adalah novel yang underrated, kurang dikenal, tapi bagus. Saya akan membaginya ke dalam dua bagian: novel luar dan novel lokal.

NOVEL LUAR
Biasanya, novel yang terkenal di luar negeri akan digemari juga di Indonesia setelah diterjemahkan. Tapi tidak semua novel seperti itu. Bagaimanapun selera baca tiap negara pasti berbeda-beda.

1. Seri Iron Fey oleh Julie Kagawa
Julie Kagawa adalah salah satu penulis fantasi favorit saya. Bukunya memiliki porsi yang sangat pas untuk unsur setting fantasinya, sisi petualangannya, latar belakang karakter-karakternya, dan tentu saja romance. Gaya penulisannya dan deskripsinya luar biasa. Tapi yang paling menonjol adalah momen-momen heartbreaking yang ditulisnya. Kebetulan Julie Kagawa pernah berkata, "Readers, your tears feed my muse." (Terjemahannya apa ya? Errr... Mungkin begini: Pembaca, air mata kalian memberikan inspirasi kreatif untuk saya)


The Iron King, The Iron Daughter, The Iron Queen, The Iron Knight

Saya akan menjelaskan secara singkat sinopsis buku pertamanya, yaitu The Iron King. Buku ini menceritakan tentang Meghan Chase, anak remaja biasa-biasa saja yang gampang dilupakan orang lain. Ia punya sahabat bernama Robin Goodfellow. Suatu hari, adik Meghan diculik dan digantikan oleh changeling. Menurut Robin yang ternyata adalah Puck dari buku Midsummer Night Dream-nya Shakespeare, adik Meghan dibawa ke Nevernever, sebuah dunia peri di dimensi lain. Demi menyelamatkan adiknya, Meghan dan Puck pergi ke Nevernever lewat portal rahasia. 

Nevernever adalah negeri para peri yang dibagi ke dalam Seelie Court/Summer Fey dan Unseelie Court/Winter Fey. Ternyata Meghan adalah anak dari Raja Oberon dari Seelie Court. Selain mempelajari asal-usulnya, Meghan juga bertemu dengan teman lain: Grimalkin The Devil Cat dan Pangeran Ash dari Kerajaan Musim Dingin. Nantinya mereka akan bertualang ke kerajaan baru bernama Kerajaan Besi (Iron) yang ternyata mendalangi penculikan adik Meghan.

Buku ini kreatif, unik, dan sangat magical. Dan ada Puck pula yang selera humornya tidak pernah gagal bikin saya ketawa. Kebetulan buku ini sudah diterjemahkan oleh Penerbit Kubika. Sayangnya, penerbit itu tutup dan tidak lagi melanjutkan terjemahan buku-buku selanjutnya. 

Kalian bisa membaca review saya soal seri ini di sini:
1. The Iron King  

2. Seri Blood of Eden oleh Julie Kagawa
Yah, karena saya suka sama penulis ini, saya pasti merekomendasikan karyanya yang lain dong. Blood of Eden tidak kalah keren dengan seri Iron Fey. Tapi kalau seri Iron Fey itu magical, seperti mimpi, dan terasa seperti dunia dongeng, Blood of Eden sangat berbeda. Kelam, kejam, gore, berdarah-darah, dan gelap. 

The Immortal Rules, The Eternity Cure, The Forever Song

Seri ini mengambil genre distopia dan paranormal. Ceritanya tentang wabah virus Red Lung Fever yang memusnahkan hampir seluruh manusia. Karena makanannya hampir punah, para vampir muncul ke permukaan demi menyelamatkan bangsa mereka. Awalnya, satu orang vampir mengajukan proposal untuk menjadikan beberapa teman vampirnya sebagai bahan penelitian. Kebetulan vampir imun terhadap virus itu dan kemungkinan darahnya bisa menjadi bahan obat penyembuh. Sayangnya, bukan obat yang ditemukan, sebuah spesies lain bernama Rabid (sejenis zombi) muncul. Dunia semakin kacau dan para vampir mulai membangun kota-kota terisolasi untuk melindungi manusia-manusia yang menjadi makanan mereka. 

Tokoh utamanya adalah Allison, gadis miskin yang tinggal di pinggiran kota dan hidup bersembunyi dari para vampir. Ia menolak menjadi hewan ternak yang diambil darahnya setiap beberapa minggu sekali. Pilihannya itu memberikan konsekuensi: dia harus mencari makanannya sendiri di tempat yang hampir tidak ada makanan. Suatu hari saat ia sedang mencari makanan di antara puing-puing, sekawanan Rabid menyerangnya. Sebelum ia mati, seorang vampir datang memberinya pilihan: mati atau diubah menjadi vampir supaya tetap hidup. Allison memilih diubah menjadi makhluk yang dibencinya. 

Buku ini lebih membicarakan soal survival. Penggemar romance harus kecewa kalau menginginkan banyak adegan swooning di sini. Nuansa gelap dan kelam sangat kental di seri ini, membuat sosok vampir terkesan berbahaya dan tidak indah seperti dalam seri Twilight. Dan terutama buku keduanya... Hatiku hancur~~~~

Jadi, adakah penerbit yang tertarik menerjemahkan seri ini?

Review Blood of Eden:

3. Seri Mediator oleh Meg Cabot
Aha! Siapa yang tidak kenal Meg Cabot dengan seri Princess Diaries-nya? Ternyata dia penulis novel fantasi juga, loh. Seri Mediator ini sudah diterjemahkan oleh Gramedia beberapa tahun yang lalu dan ternyata bagus. Saya tidak menyangka sama sekali. 


Shadowland, Ninth Key, Reunion, Darkest Hours, Haunted, Twilight


Versi Terjemahan

Buku ini sangat ringan dan menyenangkan. Ceritanya tentang Suze Simon yang bisa melihat hantu. Ada misteri serta pembunuhan yang bakal dipecahkan oleh Suze sepanjang enam buku ini. Dan tentu saja ada Jesse si hantu tampan berdarah Latino yang selalu bantuin Suze. Ih, seri ini sangat recommended. Si Suze sebagai narator juga suka lucu gitu, khas Meg Cabot.

Review seri ini:
3. Reunion
5. Haunted 
6. Twilight 

NOVEL LOKAL
Pada dasarnya, semua novel fantasi lokal itu underrated. Orang Indonesia sendiri lebih suka membaca buku fantasi luar. Sayang sekali sih. Padahal beberapa novel fantasi lokal yang sudah saya baca ternyata beneran bagus.

1. Seri Ther Melian oleh Shienny M.S.
Saya tidak pernah berencana membaca buku ini. Tapi cover-nya itu loh. Sangat fantasi dan bikin mupeng. Dan ternyata saya tak salah pilih bahan bacaan.


Revelation, Chronicle, Discord, Genesis

Buku ini bersetting di dunia bernama Ther Melian di mana manusia hidup bersama ras Elvar (sejenis Elf) dan beberapa ras lain. Kesan buku ini seperti bermain MMORPG. Karakternya juga punya profesi khas game. Ada assasin, knight, bard, archer, acolyte, thief, dll. 

Tokoh utamanya bernama Vrey, seorang thief yang hidup bersama kelompok geng Kucing Liar. Mereka mencuri, mengumpulkan barang antik, dan menjualnya pada para kolektor. Tapi Vrey punya keinginan untuk membuat jubah Nymph yang sangat sakti. Dia berpetualang bersama Aelwen untuk mencari jubah itu. Sementara di sisi lain, ada Valadin yang ingin mengubah keadaan bangsanya. Ia ingin mengembalikan dunia kembali ke dalam kekuasaan Elvar dan bukan dirusak oleh manusia. Untuk itu, ia harus menemukan tujuh Aether demi mendapatkan kekuatan tak terkalahkan. 

Percayalah, buku ini sangat keren. Terutama buat orang-orang yang suka tipe MMORPG seperti saya.

Review:
3. Discord
4. Genesis

2. Lapis Lazuli oleh Fenny Wong
Kebetulan penulis ini satu almamater dengan saya. Beberapa karyanya yang tidak diterbitkan pernah saya baca dan saya suka. Salah satu kelebihan Fenny itu adalah menuliskan cerita yang nuansa melankolisnya kental. Romantis dan terkadang tragis. Tipe saya banget, walaupun saya tidak pernah suka dengan tokoh utama yang dibuatnya. Terlalu lemah biasanya.


Kisahnya bersetting di dunia yang terbagi ke dalam dua kerajaan: Luraxia dan Gondvana. Belasan tahun sebelumnya, Gondvana dikalahkan oleh Luraxia. Tapi Gondvana tidak tinggal diam. Putra mahkotanya, Pangeran Aran berjuang keras demi satu tujuan. Balas dendam. Ia bahkan menculik putri kerajaan Luraxia bernama Lethia. Yang tidak disangka-sangka, Pangeran Aran benar-benar jatuh cinta pada putri itu. Tapi perang tetap berlanjut, melukai kedua belah pihak. Aran dan Lethia pun terpaksa belajar bahwa hubungan mereka sangat mustahil di saat mereka harus mengorbankan banyak hal dalam perang itu.

Buku ini adalah tipe fantasi kesukaan saya. Ada kerajaan, nuansa medieval, perang, dan pengkhianatan. Awalnya, kisah ini dipublikasikan di blog. Agak berbeda dengan versi bukunya sih. Tapi saya tetap suka. Terutama endingnya. Sayangnya, buku ini kebanyakan typo-nya.

Reviewnya bisa dilihat di sini.

3. Fleur oleh Fenny Wong
Lagi-lagi penulis yang sama. Tapi memang ceritanya bagus.


Kisahnya berjalan tumpang tindih antara dongeng dan kisah nyata. Dongengnya bercerita tentang peri bunga yang lemah bernama Belidis. Ia tidak seperti peri bunga lain yang bisa dengan mudah membuat bunga-bunga mekar. Ia membutuhkan bantuan Fermio, sang Dewa Bumi untuk melakukan tugasnya itu. Keduanya saling jatuh cinta, sekalipun perlahan-lahan Belidis menghisap jiwa Fermio dan membunuhnya perlahan-lahan. Di sisi lain, ada Helras si Dewa Matahari. Dia ingin memiliki Belidis sehingga ia berusaha membunuh Fermio. Ia bersumpah kalau dalam kehidupan apapun, Helras akan selalu memiliki Belidis. Tapi Fermio juga bersumpah kalau dalam kehidupan apapun, Belidis hanya akan mencintai dirinya seorang.

Dongeng tragis itu diceritakan kembali ke dalam setting zaman Victoria, dengan pesta dansa dan segalanya. Di kehidupan itu, Belidis adalah seorang Florence Ackerley. Ia mencintai kakak angkatnya, George yang merupakan wujud dari Fermio. Helras sendiri muncul dalam sosok putra orang terkaya di kota itu, bernama Alford Cromwell. 

Bagi orang yang suka dongeng, buku ini benar-benar bisa menyihir kalian. Bahasanya yang sangat dongeng dan penyampaian Fenny yang rapi membuat kita tenggelam ke dalam ceritanya. 

Dan saya baru sadar ternyata saya belum pernah bikin review buku ini. Saya membacanya sewaktu masih dalam bentuk naskah yang belum diterbitkan sih. Tapi nanti sajalah saya bikin reviewnya, hehe...

Oke, sekian untuk artikelnya. Sekarang waktunya untuk GIVEAWAY!!! 

Lagi???!!!!

GIVEAWAY GRANDPRIZE

Hadiah giveaway kali ini adalah hadiah gabungan dari seluruh anggota grup Science Fiction dan Fantasy. Berikut hadiah-hadiahnya.

1. Voucher buku senilai Rp. 250.000,- yang harus dibelikan buku-buku fantasi
2. Novel terjemahan Game of Thrones karya George R.R. Martin
3. Seri Scary Tales nomor 1-3 karya James Preller & Iacopo Bruno
4. Paranormalcy karya Kiersten White dan Wings karya Aprilynne Pike

Aturan mainnya:
1.   Tebak judul buku dari petunjuk yang diberikan masing masing blog.
2.   Ambil huruf pertama dari judul buku tersebut.

3.   Judul buku yang digunakan adalah versi aslinya, bukan terjemahan. (Misalkan Inheritance yang meski diterjemahkan GM menjadi Warisan, tapi yang kita gunakan tetaplah huruf I nya)
4.   Khusus untuk judul buku yang ternyata berawalan The, harap abaikan huruf T di depan, sehingga yang digunakan adalah kata setelah "The". (Misalkan The Alchemist, maka yang digunakan dalam menyusun kata adalah huruf A bukan T)5.   Setelah menemukan 16 huruf dari masing masing blog, susunlah huruf huruf tersebut menjadi banyak kata.  Ingat, hanya kata bukan kalimat. (seperti permainan scrabble)
6.   Jumlah minimal huruf yang digunakan dalam menyusun kata tersebut adalah 4 huruf.
7.   Setiap huruf yang merupakan jawaban tidak dapat digunakan berulang dalam satu kata. Kecuali kalau memang ada huruf yang sama dalam 16 judul tersebut.
8.   Jawaban dimasukkan ke dalam google docs yang bisa diakses lewat masing-masing blog peserta SF/F. Tetapi hanya diperbolehkan mengisi sekali, jangan lakukan berulang ulang di blog yang berbeda. Sebaiknya tunggu sampai seluruh anggota SF/F memposting clue-nya.
9.   Setiap kata yang berhasil disusun, bernilai satu poin. peserta yang paling banyak menyusun kata ( kata tersebut harus dalam bahasa Indonesia dan tercantum di kbbi), dialah yang menjadi pemenangnya.
10. Peserta yang bisa membuat kata yang berhubungan dengan dunia fantasi (contoh : dewa, dewi, peri dsb) mendapatkan bonus satu poin.

Clue dari saya
Ini adalah sebuah dongeng di mana seorang putri terjebak di dalam menara dan seorang pencuri tampan bernama Flynn Rider menyelamatkannya. Huruf yang diambil adalah huruf pertama dari judul asli dongengnya yang ditulis oleh pengarangnya.

Selamat menebak! Temukan clue lainnya di sini:
3 April: Notes of The Dreamer || Ira Book Lover || Lego, Ergo Cogito, Ergo Sum



Wednesday, 1 April 2015

Enter The Magical Realm-Fairy Tale


Hari ini tepat tanggal 1 April. Sesuai jadwal, saya akan membahas salah satu subgenre dari Science Fiction & Fantasy sekaligus memasang Giveaway.


Subgenre Fairy Tale dalam bahasa Indonesia biasanya disebut dongeng. Kalau menurut Wikipedia, Fairy Tale adalah cerita fantasi yang menggunakan dasar plot dan karakter cerita rakyat. Contoh karakter cerita rakyat misalnya: peri, goblin, raksasa, penyihir, dsb. Ciri khas Fairy Tale yang paling terkenal adalah kalimat yang diawali dengan kata "Once Upon A Time". Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan "Pada suatu saat".


Far far away-Di negeri yang jauh sekali
A long time ago-Dahulu kala
Once upon a time-Pada suatu saat
Happily ever after-Hidup bahagia selamanya

Kata-kata di atas adalah ciri-ciri Fairy Tale yang paling umum. Saking umumnya, Fairy Tale juga digambarkan sebagai suatu ending cerita yang sangat sempurna karena semua tokohnya bahagia dan karakter jahatnya berhasil dikalahkan. Poof!

Tapi Fairy Tale bukan melulu soal dongeng putri-putrian macam Cinderella dan Putri Tidur. Fairy Tale bisa saja berakhir tragis dan kelam, seperti dongeng-dongeng Grimm Brothers. 

Supaya lebih jelas, saya membagi Fairy Tale ke beberapa jenis. 

1. Legenda
Legenda membicarakan asal usul sesuatu. Entah itu tempat, benda, manusia, atau apapun. Legenda adalah sebuah cerita rakyat yang biasanya disampaikan dari mulut ke mulut. Contoh yang terkenal misalnya: legenda Don Juan, Loch Ness Monster, Robin Hood, dst.

Eh, Indonesia juga punya legenda loh. Siapa yang tidak tahu Sangkuriang? Legenda Sangkuriang itu menceritakan asal usul Gunung Tangkuban Perahu yang ada di Lembang. Menurut saya, Sangkuriang itu salah satu legenda yang bikin saya geli-geli sendiri. Masa anak jatuh cinta sama ibu kandungnya sendiri? Iuhh...

Contoh lain legenda di Indonesia adalah Timun Mas, Malin Kundang, Lutung Kasarung, dan masih banyak lagi.

2. Mitos
Ini nih dongeng yang bikin kita suka paranoid nggak jelas. Biasanya mitos menceritakan dewa-dewi dan makhluk-makhluk gaib. Dulunya mitos digunakan untuk menjelaskan fenomena alam yang tidak bisa dimengerti. 

"Kenapa bisa ada petir, Ma?" 
"Soalnya Dewa Zeus lagi marah."
"Kenapa Dewa Zeus marah?"
"Soalnya Percy Jackson mencuri tongkat petirnya."

Tentu saja mitos paling terkenal adalah mitos Yunani dengan dewa-dewinya yang super banyak dan suka kawin antarsaudara kandung. Ada juga mitos dewa-dewi Mesir yang menjaga piramida dan para Firaun. 

Kalau di Indonesia, ada Nyi Roro Kidul. Ratu pantai selatan itu suka menculik orang-orang secara acak. Katanya sih orang yang diculik itu pasti memakai baju merah atau hijau. Saya ingat waktu saya pergi ke Pangandaran. Saya masih kecil waktu itu. Terus si Mama memperingatkan supaya saya nggak pake baju merah atau hijau kalau main ke pantai. Ya, gara-gara kepercayaan pada si Nyi Roro Kidul itu. Jadinya, saya beneran ketakutan. Takut diambil beneran sama si ratu pantai selatan. Eaaaa...

Masih banyak mitos yang beredar di Indonesia. Misalnya, makan tidak boleh sambil jalan-jalan karena bisa jadi kuda (logikanya di mana????) atau kalau lagi datang bulan nggak boleh masuk pura karena bisa kerasukan (kalau yang ini, saya tetap takut sih).

3. Sage/Saga
Sage berhubungan dengan sejarah. Ceritanya tentang kepahlawanan atau aksi heroik dan kesaktian seseorang di masa lalu. Salah satu yang paling terkenal adalah cerita orang-orang Viking. Ramayana dan Mahabharata juga masuk ke dalam kategori ini, menurut saya.

Sage di Indonesia itu contohnya seperti Ciung Wanara, Joko Tingkir, dan si gendeng Wiro Sableng 212. Haha... 

4. Fabel
Inilah cerita kesukaan anak-anak. Siapa sih yang tidak suka membaca tokoh-tokoh binatang yang bisa berbicara? Contohnya sangat banyak. Katak yang Ingin Menjadi Kerbau, si Tikus dan si Singa, Kelinci dan Siput Lomba Lari, dll. 

5. Dongeng Modern
Nah, jenis terakhir ini saya buat sendiri sebenarnya. Saya ingin memisahkan dongeng-dongeng terkenal zaman dahulu dengan dongeng yang ditulis oleh pengarang terkenal. 

Contoh pertama adalah kumpulan dongeng Grimm Brothers. Ciri khas dongeng Grimm Brothers ini sangat kejam, aneh, kelam, dan tidak bahagia. Tokoh utamanya kebanyakan berakhir mati secara tragis. 

Hans Christian Andersen juga termasuk dalam penulis dongeng. Pasti kalian pernah mendengar Gadis Korek Api, Si Itik Buruk Rupa, dan Thumbelina kan? Itulah beberapa karya terkenal beliau.

Alice in Wonderland karya Lewis Caroll? Gulliver's Travels karya Jonathan Swift? Keduanya juga dongeng.

Selain dongeng terkenal di atas, masih banyak dongeng modern lainnya. 


               






Buku-buku Katie DiCamillo: The Tale of Despereaux, The Miraculous Journey of Edward Tulane, Flora & Ulysses, The Magician's Elephant, The Tiger Rising, Because of Winn-Dixie

                                                                                                            Charlotte's Web oleh E.B. White


The Tale of Peter Rabbit oleh Beatrix Potter

Hampir semua film kartun Disney termasuk dalam golongan Fairy Tale: Cinderella, The Little Mermaid, Sleeping Beauty, Aladdin, Beauty And The Beast, Snow White, Peter Pan, Mickey Mouse, Donald Duck, The Lion King, Pocahontas, dst. 


Tangled mengambil dasar dongeng Rapunzel.
Bolt (hanya karena saya suka hamsternya)


You don't know this overrated fairy tale? Shame on you.

Buku-buku yang menggunakan elemen fairy tale
Beberapa dongeng terkenal digunakan oleh penulis masa kini untuk membuat cerita lain. 


The Lunar Chronicles oleh Marissa Meyer menggunakan Cinderella, 
Little Red Riding Hood, dan Rapunzel dalam setting yang jauh lebih modern.


Percy Jackson series oleh Rick Riordan berdasarkan mitologi Yunani.

Saya rasa artikelnya sudah kepanjangan. Semoga saja saya sudah berhasil menjelaskan subgenre Fairy Tale ini. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Giveaway!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Saya akan menghadiahkan dua buku fantasi terjemahan untuk dua orang pemenang. 


A Game of Thrones oleh George R.R. Martin
Across The Universe oleh Beth Revis

Syarat utama untuk mengikuti Giveaway ini adalah dengan mengisi Google Form di bawah ini. Semuanya harus diisi ya, termasuk menjawab lima pertanyaan yang berhubungan dengan Fairy Tale. Semoga beruntung!




Subgenre dan Giveaway lainnya:
1.   Dystopia oleh Lina
2.   Superhero oleh Steven
3.   Dark Fantasy oleh Raafi
4.   Urban Fantasy oleh Dion
5.   Science Fiction oleh Threez
6.   Myth oleh Alvina
7.   Magical Realism oleh Cindy
8.   Post Apocalyptic oleh Ira
9.   Steampunk oleh Ren
10. Romance Fantasy oleh Wardah
11. Dieselpunk oleh Sasti
12. Supernatural oleh Andrea
13. High Fantasy oleh Yovano
14. Time Travel oleh Arkian
15. Paranormal Romance oleh Priska


Tuesday, 31 March 2015

Opini Bareng: Alur Cerita


Opini bareng BBI bulan Maret ini bertema alur cerita atau plot. Saya biasa menganggapnya sebagai jalan cerita dari awal sampai akhir. Apakah rata atau datar-datar saja? Penuh lika-liku, menanjak, jatuh ke jurang, atau berlubang-lubang seperti jalanan di Indonesia? #oops

Secara teori, ada tiga macam plot:

1. Alur Maju
Alur cerita yang maju biasanya mudah dicerna. Adegan dimulai dengan perkenalan tokoh, lalu diikuti pembangunan konflik, klimaks, anti-klimaks, dan penyelesaian/ending. Saya tidak perlu berpikir keras untuk menebak-nebak kapan kejadiannya terjadi. Linear saja. Lurus terus sampai garis finish.

2. Alur Campuran (Maju Mundur)
Tentu saja saya paling suka alur cerita seperti ini. Biasanya cerita terasa lebih kompleks dan pasti lebih "ngena" kalau sudah bicara soal kenangan. Apalagi kalau membicarakan seorang tokoh yang sudah meninggal sejak di awal cerita. Saya selalu terbawa sedih kalau si tokoh utama membicarakan tokoh yang sudah meninggal tersebut, lengkap dengan kebiasaan lama dan kebaikan tokoh tersebut.

Buat saya, alur campuran tetap ada batasnya. Pada dasarnya saya tetap lebih suka alur maju dengan flashback sebagai pelengkap. Biasanya saya lebih suka kalau timeline mundurnya hanya satu saja. Misalnya, tahun kejadiannya 2015 dan flashback mundurnya dimulai tahun 1920. Alur mundurnya cukup 1920 saja, boleh maju terus sampai akhirnya sampai ke tahun 2015. Tapi saya kurang suka jenis cerita yang menggunakan timeline kebanyakan. Sebentar tahun 2015, lalu 1920, lalu 1973, lalu 1936, lalu kembali ke 2015, lalu ke 1920 lagi, lalu ke 1966, dsb. Apalagi kalau tokohnya beda-beda tiap bagiannya. Bukannya saya benci mikir cerita yang rumit, tapi ini masalah ke pengenalan tokoh lebih dalam. Saya baru saja simpati sama tokoh A, cerita tokoh A itu berhenti dan berubah ke tokoh B di waktu yang berbeda. Akhirnya saya merasa bukunya tidak memberikan emosi apa-apa. Contoh cerita seperti ini adalah: Extremely Loud and Incredibly Close oleh Jonathan Safran Foer. Ceritanya bagus, tapi penyampaiannya saya kurang suka.

3. Alur Mundur
Saya belum pernah sih baca cerita yang alurnya 100% mundur. Nggak kebayang bagaimana jalan ceritanya. Mungkin aneh kali ya.

Selain pembagian resmi di atas, saya mau bikin jenis alur yang saya kumpulkan dari pengamatan saya.

1. Alur Datar
Alur datar itu menurut saya adalah alur yang membosankan. Jalan ceritanya itu datar, hampir tidak ada konflik (kalaupun ada, konflik itu selesai dalam beberapa halaman), dan terasa seperti cerita sehari-hari saja. Karena saya penggemar cerita dramatis, saya tidak begitu suka alur cerita seperti ini.

2. Alur Lambat
Saya termasuk pembaca yang sabar. Alur lambat masih bisa saya toleransi kalau memang konflik dan klimaksnya bagus. Kebanyakan pembaca hanya tergantung pada 1-2 bab awal, tapi saya masih bisa terus membaca buku yang perkenalan tokohnya berlangsung sampai bab 5. Tapi buku seperti itu tidak mungkin bisa dapat lima bintang dari saya.

3. Alur Cepat
Alur cepat biasanya penuh action. Konflik baru muncul setiap beberapa halaman, diikuti misteri yang terpecah perlahan-lahan. Apa ya? Jujur, saya tidak begitu suka buku yang kebanyakan aksi dibandingkan pendalaman tokoh serta suasana. Saya lebih suka buku yang bawaannya tegang, tapi tidak terburu-buru. Ketegangan konfliknya dibangun perlahan-lahan sampai menuju klimaks cerita. Saya juga suka action yang diselingi percakapan-percakapan santai untuk mengenal tiap karakternya. Percuma saja dar-der-dor dan mengeluarkan jurus keren kalau saya tidak bisa bersimpati dengan karakternya.

Oke, sekian post saya tentang alur cerita. Pada dasarnya, saya pasti suka buku apapun yang bisa mengejutkan saya dengan segala alur ceritanya yang aneh. Semuanya kembali lagi pada gaya bahasa serta kepiawaian penulis dalam menuturkan cerita. :)

Monday, 23 February 2015

Opini Bareng: Karakter Tokoh Utama


Tokoh utama merupakan salah satu bagian paling besar yang mempengaruhi saya dalam menilai suatu buku. Jelas, saya akan jauh lebih menyukai bukunya jika tokoh utamanya menyenangkan. Apalagi kalau sudut pandang yang dipakai adalah orang pertama karena setiap halaman akan dinarasikan dan didominasi oleh suaranya.

Jadi, tokoh utama seperti apa yang saya sukai?

1. Tokoh Sempurna vs Tokoh Tidak Sempurna
Dalam kasus pertama ini, saya sudah pasti memilih tokoh tidak sempurna. Toh, di dunia ini tidak ada satu orang pun yang sempurna. Saya suka jika kelemahan dan kelebihan tokoh utama dijelaskan dengan detail dan rinci, sampai-sampai saya merasa sangat mengenal tokoh itu bagaikan diri saya sendiri. Saya seakan mengenal seorang teman lama yang bisa diajak berpetualang bareng hingga buku berakhir. 

Selain itu, tokoh utama yang sempurna tidak bisa membuat saya simpati terhadap semua masalahnya. Jika dia kaya, cantik/tampan, baik hati, penuh keberuntungan, pintar, selalu disukai dan dilindungi orang lain, saya tidak akan peduli jika dia punya masalah apapun. Dibahas sampai satu novel penuh pula. Sudah bagus dia punya segalanya, tidak perlu mengeluh soal masalah yang tiba-tiba datang dalam hidupnya. Apalagi kalau masalahnya ecek-ecek seperti tidak punya pacar, kelebihan berat 2 kg, rambut susah diatur, ataupun merasa tidak diperhatikan. Errr... Maaf, saya kejam. Tapi beneran. No excuse. Tokoh sempurna itu tidak boleh mengeluh. Titik. 

Lah, kalau novel romance gimana? Kan biasanya si cowok selalu digambarkan sempurna bagaikan malaikat turun dari surga? Sama saja. Saya tidak bakal simpati dan suka sama cowok itu. 

2. Relatable vs Non Relatable
Kedua jenis tokoh ini bukan masalah besar buat saya. Persepsi saya akan tokoh yang relatable adalah saya bisa menemukan kesamaan antara si tokoh utama dengan diri saya sendiri dan orang yang saya kenal. Tapi bukan berarti saya tidak peduli pada tokoh yang tidak punya kesamaan dengan diri saya atau orang yang saya kenal. Selama kepribadiannya masuk akal, saya sih oke-oke saja. Saya pasti bisa simpati dengan tokoh itu. Yang saya tidak suka adalah tokoh yang jalan pikirannya terlalu aneh sampai saya tidak bisa connect dengan sifat serta keputusan-keputusan yang dibuat mereka.

3. Cerewet vs Pendiam
Agak sulit untuk memilih antara dua kategori ini. Jujur, saya lebih suka tokoh yang pendiam dan lebih banyak mengamati. Tapi kalau saya baca chic lit, saya banyak menemukan tokoh yang konyol dan cerewet. Dan saya suka-suka saja tuh. Tapi secara keseluruhan, saya lebih suka yang pendiam. Mungkin karena saya juga pendiam kali ya. Eaaaa...

4. Jahat vs Baik
Sejauh ini saya selalu menghindari tokoh utama yang jahat, seperti contohnya Dexter. Bukan apa-apa sih. Bagaimanapun juga orang jahat itu menyebalkan. Saya tidak mungkin bisa suka sama bukunya kalau orangnya jahat. Tapi jangan terlalu baik juga kayak malaikat. Agak bajingan sedikit, biar seru. Haha... 

Nah, kalau tokohnya anti-hero bagaimana? Boleh sih. Tapi saya lebih suka anti-hero sebagai pemeran sampingan saja, seperti Severus Snape. 

"After all this time?" 
"Always." (suka banget quote ini)

Tapi setelah mengamati tokoh utama favorit saya selama ini, saya punya satu kesimpulan. Karena saya suka cerita yang banyak dramanya, saya suka tokoh utama yang:

hidupnya susah, miskin, harus berjuang, sendirian, kesepian, sengsara, tetap tegar walau ditimpa banyak bencana, menghadapi banyak dilema dan harus membuat keputusan yang berat, tidak terlalu optimis, nggak murahan, pencemas dan selalu memikirkan setiap kemungkinan, berpendirian kuat, tidak munafik, kalau perempuan tidak boleh feminis berlebihan, setelah bersusah payah di akhir mendapatkan happy ending

Memang edan kamu, Sab... Nggak kurang banyak syaratnya? 

Begitulah opini tidak jelas saya mengenai karakter tokoh utama. Sebagai penutup, saya mau bikin daftar tokoh utama yang saya suka dan tidak suka.

Tokoh utama favorit versi saya:
1.   Jane Eyre, Jane Eyre oleh Charlotte Brontë (sangat berprinsip dan memenuhi syarat banyak di atas)
2.   Liberty Jones, Sugar Daddy oleh Lisa Kleypas (tak pernah putus asa, sayang banget sama adik tirinya)
3.   Colin Bridgerton, Romancing Mister Bridgerton oleh Julia Quinn (lucuuuuuuuu dan kurang ajar)
4.   Leo Hathaway, Married by Morning oleh Lisa Kleypas (pintar ngomong, komentarnya sinting)
5.   Robin "Puck" Goodfellow, Iron Fey series oleh Julie Kagawa (komentarnya lucu, kekuatannya keren)
6.   Grimalkin, Iron Fey series oleh Julie Kagawa (kucing bajingan yang sarkastis, haha...)
7.   June Iparis, Legend series oleh Marie Lu (kasihan nasibnya setelah kakaknya dibunuh *penting)
8.   Allison Sekemoto, Blood of Eden series oleh Julie Kagawa (mandiri, setia walau dikecewakan terus)
9.   Kanin, Blood of Eden series oleh Julie Kagawa (tortured, misterius, bijak, bisa diandalkan)
10. Katniss Everdeen, The Hunger Games series oleh Suzanne Collins (disiksa sampai agak gila *sayamemangsukayangsadis)

Tokoh utama yang paling saya benci:
1.   Isabella Swan, Twilight series oleh Stephenie Meyer (memilih cowok dibanding orang tuanya, hatinya mendua antara Edward dan Jacob)
2.   Emi, Pillow Talk oleh Christian Simamora (selingkuh dan suka one night stand) 
3.   Ai, Ai oleh Winna Efendi (terlalu lemah)
4.   Emma Corrigan, Can You Keep A Secret oleh Sophie Kinsella (udah bego, selingkuh pula)
5.   Rose Hathaway, Vampire Academy Series oleh Richelle Mead (nggak tahu batas, suka seenaknya karena merasa hebat, selingkuh again)
6.   Jace Wayland/Herondale, The Mortal Instruments series oleh Cassandra Clare (sok jago, tidak menghargai orang-orang yang sayang sama dia, suka bully dan menghina)
7.   Josie Cormier, Nineteen Minutes oleh Jodi Picoult (meninggalkan sahabat demi popularitas, pembohong) *dia ini tokoh utama bukan sih? Terlalu banyak tokoh di buku ini.
8.   Andrea, A Very Yuppy Wedding oleh Ika Natassa (ngeyel terus sepanjang buku)

Sekian dan terima kasih telah membaca. :D

Monday, 26 January 2015

Opini Bareng: Ekspektasi


Tema opini bareng bulan ini adalah tentang Ekspektasi. Topiknya sangat menarik karena saya jadi bisa menganalisis sedikit terhadap buku bacaan saya. Jadi, saya mau cuap-cuap sedikit soal hasil pemikiran (cieee... kayak filsuf saja) saya yang pastinya nggak penting banget.

Saya rasa setiap orang pasti punya ekspektasi berbeda terhadap buku yang ingin dibacanya. Tapi saya menemukan beberapa hal yang menjadi dasar saya memasang ekspektasi terhadap sebuah buku. Saya akan bahas satu-satu.

1. Cover buku
Ada kalimat terkenal yang bilang "don't judge a book by its cover". Kata saya sih itu bohong. Bagaimanapun manusia itu kan terkadang suka dangkal juga. Penampilan itu berpengaruh besar. Siapa sih yang nggak senang lihat cowok ganteng/cewek cantik? Saya juga yakin hal pertama yang dilihat pewawancara dari orang yang datang melamar kerja adalah penampilannya dulu.

Sama kasusnya dengan cover buku alias baju yang membungkus si buku (iya, saya info junk banget deh). Kalau saya lagi di toko buku dan sedang iseng browsing tanpa melihat wishlist, saya pasti langsung mengambil buku yang cover-nya paling menarik. Saya baca sinopsisnya dengan pikiran kalau bukunya kemungkinan isinya bagus. Padahal penampilan bisa menipu.

2. Sinopsis di belakang buku
Nah, ini yang paling penting. Sinopsis yang dimaksud bukannya spoiler ya. Memang, saya sih nggak keberatan sama spoiler. Apalagi untuk historical romance dan novel-novel Harlequin. Toh, saya tahu akhirnya pasti happy ending. Tapi sinopsis itu kadang bisa membuat saya berimajinasi dan menebak-nebak. Kira-kira ceritanya gimana ya? Eh, sepertinya tokoh utamanya menarik ya? Atau kalau dalam kasus buku misteri, siapa pembunuhnya?

Jadi, buku yang tidak punya sinopsis tidak bakal saya lirik. Kecuali kalau saya lagi rajin dan niat buka Goodreads. Saya tinggal baca review orang lain buat buku tak bersinopsis tersebut supaya saya dapat gambaran isinya tentang apa. Itulah kenapa saya suka melewati saja rak-rak buku yang memajang novel romance terbitan Gagasmedia, Gradien, Bukune, atau penerbit apapun yang saya tahu tidak pernah pasang sinopsis di belakang bukunya. Bukan berarti saya anti baca buku terbitan mereka. Kalau kebetulan saya baca review bagus soal salah satu bukunya, saya bakal cari kok. Hanya saja buku tanpa sinopsis tidak bisa membuat saya memasang ekspektasi. Tanpa ekspektasi, saya tidak mungkin membelinya.

3. Penulis buku
Ini hanya berlaku untuk penulis yang sudah saya kenal. Misalnya, Julie Kagawa. Karena dia penulis favorit saya, pasti saya memasang ekspektasi tinggi. Saya menganggap buku apapun yang dia tulis pasti bagus. Hal ini berlaku juga sebaliknya untuk penulis yang tidak saya sukai. Tapi kebetulan Julie Kagawa hanya menulis fantasi remaja. Kalau kasusnya seperti J.K. Rowling yang menulis buku bergenre lain setelah Harry Potter, saya malah tidak bisa memasang ekspektasi apa-apa. Saya akan membaca murni karena penasaran saja. Kira-kira si J.K. Rowling yang jago banget nulis fantasi, bisa nggak ya nulis genre lain?

4. Review
Buat saya, review berarti Goodreads. Dan Goodreads buat saya adalah racunnnnnnnn. Kalau orang lain suka buka Facebook, Twitter, Path, Instagram, atau media sosial lainnya, saya buka Goodreads. Inilah kenapa wishlist saya nambah terus dan nggak habis-habis. Biasanya saya baca recent updates dari teman saya dulu. Lalu mulai iseng browse lewat genre, sambung-menyambung hingga satu jam telah berlalu.

Goodreads berpengaruh besar buat ekspektasi membaca saya. Terutama rating dan review orang-orang (kalau lagi gila, saya bisa bacain semua review untuk satu buku). Saya punya beberapa teman Goodreads yang saya jadikan patokan menilai suatu buku walaupun selera saya nggak selalu sama dengan mereka. Biasanya sih kalau rating bukunya sudah di atas angka empat, sangat besar kemungkinannya buku itu ada di wishlist saya.

5. Judul buku
Sebenarnya sih judul buku tidak terlalu berpengaruh terhadap ekspektasi saya dalam membaca. Toh, judul hanyalah sekumpulan atau sebuah kata yang mungkin tidak menjelaskan apa isi buku itu. Kecuali kalau judulnya super mencolok seperti: The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared. Saya langsung penasaran karena sepertinya isinya unik.

6. Buku yang terkenal
Buku terkenal otomatis bikin saya penasaran. Yang terkenal bagus ya, kalau terkenal jelek sih nggak bakal saya baca karena membuang-buang waktu. Tapi saya paling penasaran sama buku yang kontroversial dan penuh perdebatan karena ada yang suka banget dan ada yang benci banget sama bukunya. Saya pasti terpancing ingin tahu bagaimana pendapat saya terhadap buku itu. Apakah selera saya mayoritas atau minoritas? Tapi karena status buku itu terkenal, saya biasanya memasang ekspektasi tinggi dan saya cukup yakin bakal suka sama bukunya. Kan saya nggak terlalu rewel, selama buku itu fiksi. Saya hanya rewel kalau sudah ngomongin buku seperti apa yang bakal saya kasih lima bintang. Tiga atau empat bintang sih makanan sehari-hari. Memangnya sejak kapan kamu makan bintang, Sab? Nangkepnya di mana? Terbang gitu? Tapi sejauh ini sih, kalau bukunya benar-benar booming, saya biasanya selalu masuk kaum minoritas. (Contoh: Twilight dan The Fault in Our Stars) Kecuali genre fantasi dan distopia. The Hunger Games? Epik!

7. Genre
Genre juga berpengaruh dalam membangun ekspektasi. Kalau genrenya disukai, pasti ekspektasinya tinggi. Begitu juga sebaliknya. Saya juga begitu. Saya pasti lebih memilih fiksi daripada nonfiksi, karena selama ini saya tidak pernah suka membaca buku nonfiksi. Saya sudah keburu pasang ekspektasi jelek setiap kali disodorkan bacaan nonfiksi.

8. Buku yang difilmkan
Kecepatan membaca saya sangat lambat. Saya terkadang belum sempat membaca bukunya dan malah sudah nonton filmnya. Dalam kasus begini, saya pasti akan mencari bukunya dan membacanya. Dan ekspektasi saya selalu sama: buku lebih bagus dari filmnya. Kebetulan ekspektasi itu nggak pernah salah, kecuali Stardust karya Neil Gaiman. Filmnya luar biasa, bukunya... meh.

Jadi, itulah kesimpulan dari renungan saya tentang ekspektasi terhadap bahan bacaan. :)