Showing posts with label Nonfiction. Show all posts
Showing posts with label Nonfiction. Show all posts

Saturday, 29 December 2018

Sapiens: A Brief History of Humankind


Judul : Sapiens (A Brief History of Humankind)
Penulis : Yuval Noah Harari
Tebal : 443 halaman
Penerbit : Harvill Secker

100,000 years ago, at least six human species inhabited the earth. Today there is just one. Us. Homo sapiens.

How did our species succeed in the battle for dominance? Why did our foraging ancestors come together to create cities and kingdoms? How did we come to believe in gods, nations and human rights; to trust money, books and laws; and to be enslaved by bureaucracy, timetables and consumerism? And what will our world be like in the millennia to come?

In Sapiens, Dr Yuval Noah Harari spans the whole of human history, from the very first humans to walk the earth to the radical – and sometimes devastating – breakthroughs of the Cognitive, Agricultural and Scientific Revolutions. Drawing on insights from biology, anthropology, paleontology and economics, he explores how the currents of history have shaped our human societies, the animals and plants around us, and even our personalities. Have we become happier as history has unfolded? Can we ever free our behaviour from the heritage of our ancestors? And what, if anything, can we do to influence the course of the centuries to come?

Bold, wide-ranging and provocative, Sapiens challenges everything we thought we knew about being human: our thoughts, our actions, our power ... and our future.
 

Wednesday, 28 December 2016

Absolutely on Music



Title: Absolutely on Music
Author: Haruki Murakami
Number of Page: 352
Publisher: Harvil Secker

Haruki Murakami's passions for music runs deep. Before turning his hand to writing, he ran a jazz club in Tokyo, and the aesthetic and emotional power of music permeates every one of his much-loved books.

Now, in Absolutely on Music, Murakami fulfils a personal dream, sitting down with his friend, acclaimed conductor Seiji Ozawa, to talk about their shared interest.

Transcribed from conversations about the nature of music and writing, here they discuss everything from Brahms to Beethoven, from Leonard Bernstein to Glenn Gould, from record-collecting to pop-up orchestras, and much more. Ultimately this book gives readers an unprecedented glimpse into the minds of two maestros.

Wednesday, 30 December 2015

Saga no Gabai Bachan


Judul : Saga no Gabai Bachan
Penulis : Yoshichi Shimada
Tebal : 264 halaman
Penerbit : Pustaka Inspira

Akihiro yang kehilangan ayahnya setelah Hiroshima dibom, terpaksa berpisah dari ibu untuk tinggal bersama neneknya di saga. Meskipun keluarganya hidup prihatin, namun kehidupan di saga satu peringkat lebih miskin. Tetapi sang nenek selalu punya ratusan akal untuk meneruskan kehidupan dan membesarkan cucunya.

Dengan ide-ide cemerlang sang nenek, kehidupan selalu mereka jalani penuh tawa. Sulit memang, tapi menarik dan mengasyikkan. Namun waktu terus berjalan dan tibalah hari ketika akihiro harus mengambil keputusan. Dia harus memilih antara nenek dan saga yang dia cintai atau mengejar mimpi-mimpinya. 

Wednesday, 25 February 2015

Masterpiece of Love


Judul : Masterpiece of Love
Penulis : Monica Petra
Tebal : 232 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Pada awalnya, aku tidak merasa berbeda dari orang lain. Sampai aku memasuki masa sekolah di TK dan berbaur dengan anak-anak lain. Aku menyadari ada yang salah dengan diriku, dari ejekan dan sikap teman-temanku yang menjauh. Hanya karena daging kecil yang sedikit lebih besar dari kulit jeruk di pipi kananku.

Aku berpikir, bagaimana jika mereka melihat telinga kananku? Mereka pasti akan semakin menggangguku. Aku pun melindungi diriku dari dunia. Aku tidak ingin orang-orang mengejek, apalagi mengasihaniku.

Saturday, 23 March 2013

Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu


Judul : Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu
Penulis : Winna Efendi 
Tebal : 356 halaman
Penerbit : Gagas Media

Menulis itu susah? Banget.

Terutama kalau kita nggak punya komitmen kuat dan disiplin untuk itu.
Truth to be told, menulis itu gampang-gampang susah. Terkadang terasa mudah dan menyenangkan, apalagi jika ide mengalir selancar air. Namun, menulis juga dapat terasa sulit karena tanpa teknik yang benar dan loyalitas untuk kembali ke halaman-halaman yang belum rampung, tulisan kita akan terus tidak selesai atau menjadi sebaik yang kita inginkan.

Selama ini, banyak sekali teman yang bertanya kepada saya:
- Gimana sih, caranya menulis fiksi yang enak dibaca?
- Bagaimana caranya menciptakan konflik yang nggak klise?
- Gimana caranya menulis cerita dari awal sampai akhir?
- Ceritaku mandek dan nggak kelar-kelar, gimana ya supaya aku bisa menyelesaikannya?
- Bagaimana cara mengirimkan naskah ke penerbit, dan apa yang bisa kita lakukan supaya naskah tersebut 'dilirik'?
- Lalu, prosedur penerbitannya bagaimana?

Bagi kalian yang ingin tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, well, this book might be the one for you.

Dan, mari bersama-sama menikmati proses menyenangkan menulis naskah fiksi pertamamu.

Review:
Menurut saya, buku ini ringan namun sangat berisi. Setiap lembarannya membuat kita belajar sesuatu yang lebih dalam mengenai dunia tulis-menulis. Ilustrasi gambarnya dan quote-quote-nya menarik dan membuat proses pembelajaran tidak bosan. Di setiap akhir bab juga ada bagian kesimpulan yang memudahkan kita mengingat apa yang telah dibaca.

Jujur, saya tidak pernah membaca buku panduan menulis. Saya menulis menurut insting, saya menulis berdasarkan pengalaman saya membaca. Membaca buku ini membuat saya semakin mendalami sisi lain dari sebuah fiksi. Luar biasa sekali Winna Efendi bisa merangkum semuanya dalam sebuah buku. Kebetulan saya sudah pernah membaca novel-novel Winna dan merasa sangat cocok dengan gaya bahasa dan diksinya. Di buku ini, saya suka sekali cara dia menjelaskan teknik penulisan dengan bahasa yang mudah dicerna. 

Buku ini sangat detail dalam pembahasan sebuah karya fiksi. Mulai dari motivasi menulis, memilih tema, mencari ide, jenis-jenis fiksi, POV, alur, setting, penokohan, pengembangan ide, prosedur penerbitan, hingga terpajangnya buku di rak-rak toko. Winna juga membagi pengalamannya saat dia down karena ditolak penerbit dan bagaimana dia bangkit hingga menjadi penulis terkenal sekarang. Buku ini tidak hanya membuat saya belajar sesuatu, tapi juga menginspirasi. 

Buat yang masih berjuang menjadi penulis, buku ini sangat cocok buatmu.

Catatan: Thanks for Bea, my secret Santa for this wonderful book :)

5/5

Thursday, 31 January 2013

Ibuk


Judul : Ibuk
Penulis : Iwan Setyawan
Tebal : 291 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

"Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat.”
-Ibuk-


Masih belia usia Tinah saat itu. Suatu pagi di pasar Batu telah mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot, seorang playboy pasar yang berambut selalu klimis dan bersandal jepit, hadir dalam hidup Tinah lewat sebuah tatapan mata. Keduanya menikah, mereka pun menjadi Ibuk dan Bapak.

Lima anak terlahir sebagai buah cinta. Hidup yang semakin meriah juga semakin penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor di kala hujan, biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan kehidupan dihadapi Ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah.

ibuk, novel karya penulis national best seller Iwan Setyawan, berkisah tentang sebuah pesta kehidupan yang dipimpin oleh seorang perempuan sederhana yang perkasa. Tentang sosok perempuan bening dan hijau seperti pepohonan yang menutupi kegersangan, yang memberi nafas bagi kehidupan.


Review : 
Buku ini agak tumpang tindih dengan karya Iwan Setyawan sebelumnya yang berjudul 9 Summers 10 Autumns. Namun akan dijelaskan lebih jauh mengenai masa kecil dan perjalanan hidup Bayek alias Iwan Setyawan. 

Kisah kesuksesan seorang Bayek tidak jauh-jauh dari sosok seorang ibu yang mengerti bahwa sekolah adalah keharusan. Dengan bersekolah, status seseorang akan terangkat dan bisa menempatkan diri di posisi yang sangat bagus dalam masyarakat. Ibu Bayek tidak lulus SD, tapi dia memiliki pikiran matang yang bahkan orang-orang pintar belum tentu punya. Ibu Bayek mengerti cara menghemat uang, menawar harga barang hingga semurah mungkin, mengurus keluarga, mendidik anak-anak dengan baik, melayani suami, membahagiakan seluruh anggota keluarga, dan berjuang menahan badai kemiskinan.

Saya selalu mengagumi sosok orang yang kuat secara mental. Dibanting, diguncang, dihantam nasib bagaimana pun, orang itu akan tetap bertahan dan berdiri tegak. Seperti tokoh Ibuk ini. Hidupnya bersahaja, siap berkorban demi keluarga, namun berpikiran maju walau tidak lulus sekolah. Saya bisa mengerti kenapa Bayek kerap kali rindu pulang ke kampung halaman dan menelpon ibunya hampir tiap hari. Seorang ibu yang bisa menciptakan keharmonisan dan kehangatan keluarga di dalam rumah akan selalu berhasil membuat anak-anaknya betah di rumah dan selalu ingin kembali. Saya suka dengan kerukunan 5 kakak beradik dalam keluarga Bayek. Bahkan sosok si Bapak juga membekas di hati saya. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan bisa mengenal tokoh-tokoh dalam keluarga Bayek.

Kekurangan novel ini hanyalah pada penjelasan kehidupan Bayek di Amerika. Menurut saya, penuturan cepat mengenai rekan-rekan kerja Bayek tidak begitu penting untuk diceritakan. Ada percakapan mendetail dengan Rachel yang sebetulnya agak aneh. Lalu kemunculan Victor tidak dijelaskan lebih lanjut. Mungkin maksud penulis ingin memunculkan setiap orang yang pernah menjadi teman terdekat di saat dia sendirian di New York. Lagipula memang tujuan awal penulis adalah ingin agar keluarganya tahu apa saja yang terjadi di hidupnya. Dan terutama penulis ingin membagikan kisah seorang ibu yang luar biasa.

Iwan Setyawan sungguh seorang penulis. Bahasanya yang mendayu-dayu dan puitis sangat apik sekali. Saya dibuat terkagum-kagum dengan kalimat-kalimat yang dia tulis. Seperti ini.

"Aku hanya bagian kecil dari cerita ini. Aku hanya seseorang yang berusaha mencatat sedikit kenangan agar tak hilang begitu saja ditelan zaman. Jika suatu peristiwa telah pergi, kau tahu, ia tak akan hilang begitu saja. Jika dulu ada tawa, gaungnya masih bisa kau dengar di sana. Jika dulu ada air mata, kau masih bisa membasuhnya dengan tanganmu di sana, sekarang, Jika aku mati, kenangan itu akan hidup.

Aku melintasi kehidupan dan kala. Aku berlayar menembus senja. Kuberanikan diri menulis untuk mengabadikan momen hidup dalam lembaran kertas..."  ~hal. 72-73

"... Aku tenggelam dalam keheningan. Aku ditarik-tarik sepi. Aku terbawa dalam kepingan-kepingan hidup Ibuk dan keluarganya. Lembar demi lembar kenangan menampar hidupku."  ~hal. 286-287

"Aku menulis untuk membaca kehidupan. Aku menulis untuk berkaca. Aku menulis untuk melepaskan air mata. Aku menulis untuk menjadikanku manusia. Aku menulis untuk membunuh malam. Aku menulis untuk memaknai hidup. Aku menulis untuk bersyukur. Aku menulis karena menulis menyembuhkan. Aku menulis untuk merapikan masa lalu. Aku menulis karena kata-kata bisa menguatkan. Aku menulis untuk menggali hati nurani. 

Menulis adalah meditasi.

Aku menulis untuk orang-orang yang telah menyentuh hatiku, kehangatan keluarga yang telah menghangatkan hidupku, serta alam sekitar yang menyegarkan perjalanan ini. Tulisanku mencoba menangkap kenangan agar mereka tidak menguap begitu saja. Aku menulis sebelum kenangan jatuh dari ingatan. Aku menulis untuk menangkap kenangan yang mungkin tak akan mampu tersimpan dalam memoriku. Sebelum diriku usang dan menghilang.

Tulisan membuatku semakin berani. Dan bukankah hidup ini terasa bermakna ketika ada keberanian untuk melalui badai kehidupan. Keberanian untuk menembus batas ketakutan. Keberanian untuk melalui malam yang panjang. Keberanian untuk bertanya, untuk apa kita di sini?"  ~hal 287-288

Hehe... Saya memang penggemar majas pengulangan. Saya suka penggambaran variatif Iwan Setyawan mengenai alasan dia menulis.

Rasanya damai sekali membaca buku ini. Kesan akhirnya benar-benar sejuk dan tenteram.

4/5

Catatan:
Buku ini saya dapat dari Secret Santa yang menjuluki dirinya Black Cat. Riddle-nya bisa dilihat lebih detail di post saya yang ini. Dan tanggal 31 Januari hari ini, saya harus menebak identitas rahasia si Secret Santa. 

Tebakan saya adalah...
Beatrice Cynthia

Errr... saya menebak dari foto goodreadsnya yang bergambar kucing hitam. Bener nggak ya?

Anyway, thanks for the books! I really love Ibuk :)

Friday, 14 December 2012

123 Kutipan Film OK


Judul : 123 Kutipan Film OK
Penulis : Hikmat Darmawan
Tebal : 112 halaman
Penerbit : Plotpoint 

"All the love in the world can't be gone. All the need to be loved can't wrong."  --Happy Feet (2006, George Miller & Warren Coleman)
 
Buku ini adalah salah satu dari seri 123 yang adalah kumpulan tips praktis dan lucu. Isinya sangat ringan seperti komik, bahkan ada ilustrasi gambarnya. Dan sesuai dengan judulnya, isi buku ini adalah kalimat-kalimat yang ada di dalam film. Semuanya tidak saling berkaitan dan bisa dibaca secara acak. Ada yang berkesan, lucu, dan bahkan ada pula yang konyol. Ada yang berasal dari film kartun, film komedi romantis, film fantasi, dan ada juga yang dari film horor.

"Remember... hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies."  --The Shawshank Redemption (1994, Frank Darabont)
 
"We're all worried; we're all in pain. That just comes with having eyes and having ears. But just remember one thing - it can't get any worse, it can only get better. High school is the bottom, being a teenager sucks, but that's the point, surviving it is the whole point. Quitting is not going to make you stronger, living will. So just hang on and hang in there."  --So Pump Up The Volume (1990, Allan Moyle)

Waktu saya dapat buku ini, saya langsung kaget begitu melihat tipisnya buku ini. Cuma 112 halaman. Covernya mencolok sekali karena warnanya hijau neon. Begitu saya buka sampulnya, ternyata kualitas kertasnya juga bagus. Saya langsung baca saat itu juga dan selesai dalam sekejap.

"Banyak sekali bagian dari hidup kita berhadapan dengan kutukan kita, kesialan kita. Bagaimana kita berhadapan dengan kartu yang nggak begitu bagus yang telah dibagikan pada kita. Apakah kutukan itu akan membuat kamu jadi monster, atau kamu bisa menjinakkannya entah bagaimana, atau kamu pasrah menerimanya serta pergi ke arah lain?"  --Wes Cravern (sutradara Nightmare on the Elm Street, Scream)

Buku ini cocok untuk dibaca bahkan oleh orang-orang yang tidak suka membaca karena buku ini tidak menyajikan banyak kata-kata, hurufnya besar-besar, dan gambarnya lebih besar lagi. Di bagian bawah setiap kutipan ada semacam meteran untuk mengukur seberapa penting kutipan itu untuk hidup kita. 

"Life will knock us down, but we can choose whether or not to stand back up."  --The Karate Kid (2010, Harold Zwart)

"Courage is not the absence of fear, but rather the judgment that something is more important than fear. The brave may not live forever, but the cautious do not live at all."  --The Princess Diaries (2001, Garry Marshall)

Bacaan santai di waktu liburan... Saya cukup suka dengan variasi kutipan yang ada di buku ini. Dan terutama saya paling suka sama kutipan di bawah ini :

"Watch your thoughts for they become words. Watch your words for they become actions. Watch your actions for they become... habits. Watch your habits, for they become your character. And watch your character, for it becomes your destiny! What we think we become."

Catatan : Thanks buat Mas Tanzil atas kiriman buku ini :)

2/5

Monday, 5 November 2012

Sebelas Patriot


Judul : Sebelas Patriot
Penulis : Andrea Hirata
Tebal : 112 halaman
Penerbit : Bentang Pustaka

Hal yang paling digemari di seluruh pelosok desa adalah sepakbola. Tidak peduli kamu beragama apa, rasnya apa, tua ataupun muda, semuanya suka sepakbola. Bahkan sepakbola juga pernah menjadi ajang melawan penjajah.

Ikal suatu hari tahu kalau ternyata di masa lalu ayahnya yang pincang dan pendiam itu pernah menjadi seorang bintang sepak bola. Demi membanggakan ayahnya, ia berlatih mati-matian. Ia bahkan ikut klub sepak bola dan mendaftar dalam seleksi pemain sepakbola nasional. Tapi apa boleh buat, bakatnya bukan di sana. 

Novela pendek ini menceritakan sepenggal kisah si Ikal yang sosoknya sudah sangat terkenal dalam kisah Laskar Pelangi. Sebelas pemain sepakbola, sebelas patriot.

Kesan:
Saya adalah penggemar seri Laskar Pelangi. Bukan karena ceritanya yang luar biasa, tapi karena gaya penulisan Andrea Hirata yang lucu dan sarkastik. Kadang kalima-kalimat yang disajikannya mampu membuat saya nyengir sendiri walau saya tidak tahu di mana letak kelucuannya.

Di buku ini saya masih menemukan kualitas tulisannya yang khas itu. Saya bahkan bertemu dengan si Ikal yang masih dengan tingkah anehnya yang berlebihan. Walaupun katanya Ikal itu Andrea Hirata sendiri, saya tidak begitu yakin semua yang dikarang di sini adalah nyata dan pernah terjadi.

Yah, ini hanya sebuah novela yang sangat pendek. Apa yang bisa diharapkan dari buku setipis ini? Cukup menghibur. Dan yang saya dapatkan dari buku ini adalah bahwa sepakbola ternyata bisa menyatukan seluruh manusia di dunia, apapun golongannya. 

Buku ini disertai CD lagu karangan Andrea Hirata sendiri. Saya belum mendengarnya, tapi mungkin nanti saya akan melakukannya.

3/5

Friday, 19 October 2012

Life Traveler


Judul : Life Traveler
Penulis : Windy Ariestanti
Tebal : 381 halaman
Penerbit : Gagasmedia

"Konon, bumi ini milik mereka yang mau berhenti sejenak untuk melihat-lihat, lalu meneruskan perjalanan. 

Dari Vietnam, Kamboja, Frankfurt, Praha, Heidelberg, Paris, Thailand...

Ini adalah sebuah buku perjalanan. Ada tips-tips yang akan kautemukan untuk bisa hidup sebentar di negeri asing. Bahkan ada banyak daftar objek pariwisata di kota-kota yang dikunjungi Windy. 

Namun buku ini juga sebuah petualangan dalam hidup. Ada perasaan yang terkait, ada renungan tentang makna perjalanan, dan ada quote-quote penting yang ditemukan dalam perjalanan.

"We just need to stay away for a moment to get back home."

Kesan: 
Buku ini ringan dan enak dibaca. Apalagi ada foto-foto yang diselipkan dalam lembarannya. Cetakan kertasnya bagus dan hurufnya nyaman untuk dilihat. Belum lagi perjalanan yang didapat saat membacanya. Sekalipun berada di dalam satu ruangan, pikiran seakan melayang mengikuti perjalanan Windy. 

Karena ini buku perjalanan, isinya pun tentang perjalanan. Kadang membosankan, kadang menyenangkan, kadang menggebu-gebu, kadang datar dan kosong. Menurut saya, buku ini hanya sekedar inspirasi agar saya punya ide jika nanti saya punya uang untuk berkelana. 

Saya menikmati membaca buku ini. Tapi saya memang tidak begitu suka non-fiksi karena sebentar saja saya sudah lupa isinya apa. Saya juga pasti lupa nama objek wisata apa saja yang dikunjungi Windy. *eaaaa pikun...

Tapi saya tetap menyukai buku ini. Apik banget.

"Kadang kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. And yes, wherever you feel peacefulness, you might call it home."

3/5

Tuesday, 4 September 2012

My Stupid Boss


Judul : My Stupid Boss
Penulis : Chaos@work
Tebal : 200 halaman
Penerbit : Gradien Mediatama

Ini kumpulan cerita kehidupan seorang pegawai TKI di Malaysia yang sangat sial karena menandatangani surat kontrak kerja di perusahaan milik bos paling rese dan menyebalkan. Saking gondoknya sama bosnya yang edan, si pegawai sampai menulis blog pribadi untuk melepaskan uneg-unegnya. Dan lalu diterbitkan sebagai buku ini.

Pertama saya mau komentar tentang cover-nya yang lucu sekali. Aduh, itu muka bosnya nggak nahan. Bahagia sekali. Hahahaha... 

Oh, tapi... Begitu membaca buku ini, kamu mungkin bakal kesal banget sama si bos. Bayangkan saja punya bos yang suka seenaknya begitu. Mending keluar saja deh. Tapi sayangnya kontrak kerja sudah ditandatangani. Kalau keluar, harus terpaksa bayar. Malas amat.

Lumayan sih buat bacaan santai. Walau saya bukan penggemar humor, dengan membaca buku ini saya bisa mengantisipasi hal terburuk yang mungkin terjadi dalam dunia kerja. Kebetulan saya kan belum kerja. Tapi amit-amit deh. Jangan sampai dapat bos model gini.

Kalau kalian suka tertawa, baca buku ini. Banyak yang bilang buku ini lucu sekali. Adik saya cekikikan melulu baca ini. Sampai-sampai saya yang tadinya nggak mau baca, jadi terpancing baca karena penasaran selucu apa sih. Nggak selucu itu sih, menurut saya (tampaknya urat humor saya sudah putus =.=). Tapi pendapat saya tidak masuk hitungan, lah. Soalnya saya rata-rata suka buku yang bikin depresi dan lonely.

Terakhir... Untuk Chaos@work, banyak orang yang terhibur dengan penderitaanmu ini. Termasuk saya. Maaf, seharusnya saya simpati tapi bosmu itu cacat dan gokil abissss.

3/5

Wednesday, 13 June 2012

Yakuza Moon


Judul : Yakuza Moon
Penulis : Shoko Tendo
Tebal : 245 halaman
Penerbit : Gagasmedia

Selama ini kalau saya mendengar kata "Yakuza", saya selalu berpikir itu adalah dunia lain. Dunia mafia di mana kekerasan mewarnai kegiatannya. Waktu saya lihat buku ini di rak buku, saya sempat terpikir untuk tidak membacanya. Soalnya saya paling males baca yang sadis dan sinting. Tapi karena buku ini sempat ditayangkan di salah satu episode National Geography, saya jadi penasaran.

Buku ini adalah sebuah autobiografi dari Shoko Tendo, anak perempuan termuda dari seorang Yakuza. Hidupnya serba mewah di awal, namun seiring waktu berjalan sang ayah bangkrut karena ditipu sana-sini. Keadaan keluarga yang kacau-balau dan dikejar hutang membuat Shoko melarikan diri ke dunia remaja bebas yang tidak benar. Tidak hanya berpesta malam, seks bebas, narkoba, Shoko bahkan juga terlibat dengan para yakuza beristri dan berduit yang sanggup membayar kecanduannya juga tubuhnya. 

Sebuah penuturan yang sangat jujur. Shoko yang sudah terjatuh menyesali jati dirinya yang rusak namun sekali jatuh, dia tidak bisa dengan mudah kembali lagi. Godaannya terlalu besar. 

Saya tidak tahu bagaimana kehidupan orang-orang di Jepang sana. Saya juga tidak tahu apakah kejadian seperti ini memang banyak terjadi. Tapi terus terang kehidupan Shoko benar-benar jauh di luar bayangan saya. Dia itu rusak, serusak-rusaknya. Apakah pergaulan remaja Jepang memang segila itu? Saya juga tidak bisa berkomentar selain : Kenapa orang tua Shoko membiarkan anaknya bebas begitu saja?  Sepanjang membaca buku ini, saya tidak melihat reaksi orang tua Shoko mengetahui anaknya yang rusak. Si Shoko ini bahkan tidur dengan teman ayahnya yang sudah tua (bulukan, jelek, gendut), dipukul banyak pasangan tidurnya yang sakit jiwa... Hoekkkkk... Sumpah, parah banget. Anehnya, setiap kali dia mau berubah Shoko kerap kali kembali ke kebiasaan lamanya. 

Belum lagi suami kakaknya yang tukang judi terus-menerus meminta Shoko membayar hutangnya. Si Shoko mau pula diminta-mintain duit sama kakaknya. Hayah... Keluarganya kok edan tenan. Gila semua isinya. 

Tapi saya sungguh terhibur dengan buku ini. Lebih tepatnya sih seperti mendapat pencerahan dan dibukakan matanya (bahasanya lebay graoooo). Cukup membuat saya kaget karena ternyata di dunia luar memang ada kehidupan separah itu.

4/5

Friday, 27 April 2012

Dewey: Kucing Perpustakaan Kota Kecil yang Bikin Dunia Jatuh Hati


 Judul : Dewey: Kucing Perpustakaan Kota Kecil yang Bikin Dunia Jatuh Hati
Penulis : Vicki Myron dan Brett Witter
Tebal : 400 halaman
Penerbit : Serambi

Berdasarkan kisah nyata...

Diawali dengan Vicki Myron yang menemukan seekor anak kucing kedinginan dan kelaparan di dalam kotak pengembalian buku perpustakaan. Ia menamakan kucing itu Dewey sesuai dengan sistem klasifikasi desimal yang digunakan di perpustakaan. Vicki berjuang mendapatkan izin untuk memelihara kucing itu di perpustakaan. Kebetulan dia adalah direktur utama perpustakaan itu.

Bagaimana seekor kucing bisa mempengaruhi banyak orang?

Dewey hanya kucing biasa. Namun dia sangat istimewa bagi Perpustakaan Kota Spencer. Bagi pengunjung anak-anak, dia adalah hiburan. Bagi pengunjung dewasa, dia adalah pengganggu yang sangat lucu. Bagi orang yang cacat, dia adalah teman yang tidak pilih kasih. Bagi Vicki, dia adalah penyemangat hidup di saat segalanya berubah sulit. 

Diberi nama Dewey Readmore Books, Vicki berharap bisa mengajak masyarakat untuk lebih suka membaca. Betul. Sejak keberadaan Dewey, jumlah pengunjung perpustakaan meningkat. Mungkin alasannya karena mereka ingin melihat Dewey. 

Sejauh mana kucing bisa mempengaruhi sebuah kota kecil bernama Spencer?

Spencer, Iowa mungkin salah satu kota yang terlupakan. Dia hanyalah sebuah kota pertanian kecil yang masih konservatif dan sering menolak kemajuan. Namun seekor kucing berhasil melambungkan namanya. Berbagai pembuat film dokumenter datang untuk membuat film tentang Dewey. Berbagai surat kabar meliput berita tentang kucing spesial ini. Bahkan ada orang yang datang jauh-jauh ke Spencer hanya demi melihat Dewey.

Dewey tidak sempurna. Dia rewel, susah makan, jahil, dan suka mengganggu orang lain. Namun dia bisa mengajarimu apa itu disiplin, penerimaan, dan kasih sayang. Dewey menerima perannya sebagai maskot dan alat promosi perpustakaan tanpa mengeluh. Dengan disiplin, ia selalu berdiri di depan pintu setiap jam 9 pagi untuk bersiap-siap menyambut pengunjung. Dan ia tidak pernah memilih kepada siapa ia memberikan perhatian dan cintanya. 

Buku ini membuat saya tersenyum karena kenakalan Dewey, membuat saya simpati dengan kehidupan Vicki yang ternyata banyak cobaannya, dan membuat saya menangis saat Dewey akhirnya berubah tua dan sakit-sakitan. Kasihan. (Itulah salah satu alasan saya nggak mau melihara kucing atau anjing, gimana kalau akhirnya mereka meninggal, saya pasti nangis darah...)

Kekurangan buku ini adalah di bagian typo dan terjemahan yang kurang enak dibaca. Selain itu, ada beberapa bagian yang agak membosankan, terutama di bagian penjelasan detail mengenai Kota Spencer. Terlalu banyak angka-angka penghasilan kota, jumlah penduduk, dan istilah geografi lainnya. Menurut saya, informasi seperti itu tidak terlalu penting.

Catatan: Review ini ditulis dalam rangka posting bareng BBI bulan April dengan tema penerbit Serambi. Diterbitkan bersama anggota lain pada tanggal 27 April 2012

4/5

Tuesday, 3 April 2012

Surat Kecil Untuk Tuhan


Judul : Surat Kecil Untuk Tuhan
Penulis : Agnes Davonar
Tebal : 228 halaman
Penerbit : Inandra Published

Buku ini diangkat dari kisah nyata seorang gadis yang menderita rhabdomyosarkoma. Penderitaan dan ketabahannya dalam menjalani penyakitnya itu telah membuat penulis rela menceritakan kisahnya.

Namanya Gita Sesa Wanda Cantika, dipanggil Keke. Dia hanyalah gadis remaja lain yang biasa saja. Namun suatu hari saat dokter memvonisnya dengan penyakit kanker langka yang sangat ganas, ia harus terpaksa kehilangan masa mudanya.

Kanker jaringan lunak ini muncul di bagian hidung dan menyebar cepat ke daerah mata. Opsi pertama adalah operasi, tapi operasi pengangkatan kanker itu harus membuat Keke kehilangan setengah bagian wajahnya. Karena tidak mau anaknya kehilangan kecantikannya, sang ayah mencoba mencari berbagai pengobatan alternatif sampai ke mana-mana. 

Oke. Ceritanya sederhana kan? Temanya tentang ketabahan menghadapi cobaan.

Saya tahu Agnes Davonar selalu saja mengecewakan saya dalam hal penulisan dan diksi. Tapi saya selalu tertarik membaca bukunya karena tema cerita yang diangkatnya selalu bagus. Saya sangat menyayangkan kisah nyata seperti ini harus disampaikan dengan bahasa yang buruk. Belum lagi typo yang tiada habisnya. POV juga tidak konsisten dan membuat saya kesal sendiri. Kisah sedih seperti ini malah jadi tak beremosi. Padahal cerita seperti ini sangat bisa memancing air mata dan menyentuh.

Di samping gaya bahasa, kelihatannya penyampaian juga kurang lengkap. Alurnya cepat sekalipun saya masih bisa melihat karakterisasi tokohnya. Saya sangat suka pada ayah Keke yang tidak pernah putus asa mencari pengobatan untuk anaknya. Saya selalu terharu melihat hubungan ayah dan anak perempuan seperti itu. Saat Keke mencoba kuat supaya ayahnya tidak menangis, saya bisa membayangkan betapa kejamnya cobaan yang mereka dapat. 

Selain itu, saya cukup suka dengan kehidupan Keke. Teman-teman, kakak, dan pacarnya baik semua. Betapa beruntung Keke bisa memiliki sekelumit kebahagiaan itu sebelum semuanya berakhir.

Buku ini telah difilmkan tahun lalu. Berikut saya pasang trailer-nya.


2/5

Friday, 30 March 2012

Disguised: A Wartime Memoir


Judul : Disguised: A Wartime Memoir
Penulis : Rita la Fontaine de Clerq Zubli
Tebal : 366 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Buku ini adalah autobiografi perempuan keturunan Belanda yang tinggal di Indonesia pada zaman penjajahan Jepang. Ditulis dengan kata-katanya sendiri, Rita la Fontaine berusaha menggambarkan apa yang terjadi padanya dan juga keluarganya sewaktu menjadi tawanan perang.

Setting dimulai pada akhir tahun 1941 setelah Jepang menghancurkan Pearl Harbour dan mencetuskan Perang Dunia II. Ayah Rita adalah seorang pekerja di bagian kepengurusan telegram. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi pada keluarganya begitu Jepang memutuskan untuk masuk ke Hindia Belanda. Rita, sebagai anak perempuan satu-satunya, diminta untuk menyamar menjadi anak laki-laki supaya tidak dijadikan budak seks untuk penjajah Jepang. Saat itu usia Rita dua belas tahun. 

Perjalanan dimulai. Rita, ibu, Tante, dan kedua adiknya harus tinggal di kamp tawanan perang bersama wanita-wanita dan anak kecil lain. Kamp pria terpisah sehingga ayah Rita harus ditempatkan di kamp yang berbeda dengan mereka. Tiga tahun lamanya mereka berjuang untuk tetap bertahan hidup di kamp yang kotor dan jelek.

Entah kenapa saya membandingkan memoir ini dengan Between Shades of Gray karya Ruta Sepetys. Keduanya sama-sama menceritakan kehidupan tawanan perang. Hanya saja, entah benar atau salah, kamp Jepang ini kok sangat manusiawi ya. Tidak seperti kamp Rusia di BSoG. Pemimpin kamp sangat baik hati pada Rita yang diubah namanya menjadi Rick. Kebetulan Rita bisa bahasa Jepang karena pernah belajar sewaktu menjadi asisten di sebuah kantor yang atasannya orang Jepang. Karena itulah, ia dipercaya untuk menjadi penerjemah. Dan para pemimpin kamp sayang banget sama si Rita. 

Baru pertama kali saya baca kehidupan perang seindah ini. Rita itu beruntung sekali karena disukai para atasan Jepang bahkan dipuji-puji pula. Dan saya jadi merasa buku ini dituturkan oleh orang yang narsis. Bayangkan saja. Pujian-pujian itu banyak sekali. Tidak hanya dari para atasan Jepang, tapi juga dari penghuni kamp tawanan. Semuanya selalu berterima kasih atas bantuan Rita walau saya pikir bantuan yang diberikan Rita tidak terlalu istimewa. Dan Rita baru berusia tiga belas tahun saat itu. Aneh saja rasanya membaca hal seperti itu. 

Kurang konflik, menurut saya. Atau mungkin kurangnya penjelasan dan deskripsi-lah yang membuat saya tidak menikmati buku ini. Rita tidak terlalu menjelaskan latar belakang ayah ibunya. Ia juga tidak menjelaskan kedua adiknya itu seperti apa. Seluruh cerita hanya berlangsung di sekitar Rita sendiri. Bahkan Rita tidak menjelaskan banyak soal kematian ibunya. Seakan kematian itu tidak ada artinya. Beneran. Saya merasa ada yang salah dari buku ini. Tidak ada emosinya sama sekali. Padahal sayang. Saya suka sekali tema perang begini.

Catatan akhir : Buku ini dibaca untuk mengikuti post bareng BBI bulan Maret, yaitu dengan tema perempuan. Diterbitkan bersama dengan anggota BBI yang lain pada tanggal 30 Maret 2012.

2/5  

Saturday, 24 March 2012

Letters To Sam


Judul : Letters To Sam
Penulis : Daniel Gottlieb
Tebal : 232 halaman
Penerbit : Gagasmedia

"Aku tak sanggup memikirkan hal ini, tetapi aku tahu, satu hari nanti, kau akan mendengar seseorang berkata, 'Dia autis.' Kalau hal itu terjadi, aku khawatir, kau akan menyadari bahwa ketika orang melihatmu, mereka tak melihat seorang Sam. Mereka melihat sebuah diagnosis. Sebuah masalah. Sebuah pengelompokan. Bukan seorang manusia."

Daniel Gottlieb, seorang psikolog dan terapis keluarga, begitu sedih saat mendapati cucunya yang bernama Sam menderita autis. Tapi dia sangat menyayangi Sam dan ingin cucunya tahu bahwa segalanya baik-baik saja. Dia menulis surat-surat dengan harapan suatu hari Sam akan membacanya dan mendapatkan banyak pelajaran tentang kehidupan yang mungkin tidak akan sempat diberikannya. 
 
Daniel mengalami kelumpuhan di usianya ke 29 tahun. Kecelakaan yang dialaminya membuat tulang belakangnya putus dan ia lumpuh setengah badan. Keadaan itu pernah membuatnya putus asa sebelum akhirnya ia menerima dan berdamai dengan kecacatannya itu. Karena merasa sama-sama merasa berbeda, ia ingin Sam tahu kalau memiliki kecacatan tidak berarti akhir dari segalanya.

"Sam, selama bertahun-tahun aku mendapati bahwa aku bukanlah seorang tunadaksa. Aku memang memiliki kelumpuhan. Kau bukan penderita autis. Kau memiliki autisme. Karena label yang dilekatkan pada kita, beberapa orang takut mendekati kita. Beberapa yang lain menjadi berhati-hati ketika bicara atau memberi kepercayaan kepada kita. Dengan cedera tulang belakangku dan autisme yang kau miliki, kita terlihat berbeda dan bertindak berbeda. Tapi, kita juga bisa mengajari orang lain... bahwa apa pun yang terjadi dengan tubuh atau pikiran kita, jiwa kita akan tetap utuh."

Banyak kekhawatiran dalam hati Daniel mengenai masa depan Sam. Ia takut cucunya itu kecewa dan marah pada hidupnya.

"Akar dari kekecewaan adalah keinginan."

"Sam, suatu hari nanti, segala yang memiliki keterikatan dengan kita akan lenyap: benda-benda milik kita, orang yang kita kasihi, bahkan kemudaan dan kesehatan kita. Ya, setiap kehilangan adalah pukulan. Tapi juga kesempatan. Ada sebuah pepatah kuno ala sufi: 'Ketika hati menangisi apa yang hilang, maka jiwa bersuka cita atas apa yang diperoleh."

Saya suka sekali dengan banyak kalimat di buku ini. Rasanya seperti ikutan kuliah dengan mata pelajaran kehidupan yang ringan dan mengena.

"Aku mengemukakan pendapatku--bahwa orang merasa kesepian karena ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan mereka."

"Apa yang selalu membuat kita merasa lapar? Rasa aman dan kebahagiaan, tentu saja. Namun, rasa aman yang kita dambakan adalah perasaan aman yang tak bisa diperoleh dengan kepemilikan atau penguasaan. Kalau kita bisa membeli rumah besar dan mobil bertenaga luar biasa, kita mungkin bisa mendapatkan ilusi rasa aman, tetapi semua itu tetap saja ilusi. Kalau kita bisa mengerjakan sesuatu dengan baik di sekolah atau kantor, kita mungkin telah melakukan pencapaian, tetapi selalu ada hal lain yang harus dicapai--kebahagiaan akan selalu ada di tikungan berikutnya. Rasa aman yang sebenarnya hanya datang saat kita merasa nyaman dengan diri kita sesungguhnya... Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah efek samping dari kehidupan yang kita jalani dengan baik."

"...ketika kita berhenti melawan kematian, kita akan sanggup bangkit untuk hidup."

Daniel tidak hanya mengajari soal penerimaan, tapi juga bagaimana berjuang dalam kehidupan. Beneran, sepertinya pendapat Daniel cocok untuk otak saya. Setuju banget, pokoknya.

"Satu hal yang dibutuhkan anak-anak adalah ketahanan, dan kebutuhanmu yang berkaitan dengan permasalahan sepele dalam hidup pun bisa tampak besar dan membuat tak berdaya. Cara terbaik untuk membentuk ketahanan pada masa dewasa adalah dengan menghadapi dan belajar dari kesulitan sejak dini. Hal yang paling penting bukanlah bagaimana menghindari masalah; tetapi belajar bagaimana mengatasi masalah yang muncul."

Yah, kesimpulannya... buku yang ditulis sebagai hadiah berharga dari seorang kakek pada cucunya ini benar-benar luar biasa. Isinya sangat manis dan mendamaikan hati. Sayang sekali, buku ini banyak typonya. Biasanya saya tidak terlalu peduli soal typo, tapi kalau terlalu banyak kan mengganggu juga.

"Banyak dari kita menderita karena mencoba menjalani kehidupan yang pernah kita miliki atau kehidupan yang kita dambakan. Kau mengingatkanku hari itu bahwa hidup terasa sangat manis ketika kita menjalani kehidupan yang kita miliki."

"Sam, aku ingin kau tahu bahwa menjadi berbeda bukanlah masalah. Ini sekadar menjadi berbeda. Tapi, merasa berbeda bisa menjadi masalah. Ketika kau merasa berbeda, perasaan ini bisa benar-benar mengubah caramu melihat dunia."

Definitely my favorite book. Haha...

4/5

Wednesday, 14 March 2012

Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran


Judul : Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran
Tebal : 385 halaman
Penerbit : Pustaka LP3S Indonesia

Buku jadul nih, diterbitkan pertama kali tahun 1981. Saya beli atas rekomendasi tukang buku di Palasari.

Ternyata sebuah diari. Baru saja saya baca diari Anne Frank dan sekarang saya baca diari si Soe Hok Gie. 

Siapa sih Soe Hok Gie ini? Seperti judulnya, dia adalah seorang demonstran. Lahir 17 Desember 1942, pemuda berketurunan Cina ini adalah nasionalis sejati. Dia mencintai Indonesia dengan amat sangat sampai rela mengorbankan kehidupan pribadinya untuk memperjuangkan sesuatu yang sia-sia. Dengan tulisannya, ia mengkritik para penguasa yang korupsi dan ketidakadilan di Indonesia. Mulai dari mengkritik kebiasaan mengoleksi wanita Presiden Soekarno, menghasut pembubaran PKI, memimpin berbagai macam demonstrasi, menghina para pejabat dan menteri, entah apa lagi.

"Is it a crime to be an idealist?"

Betul. Soe Hok Gie terlalu idealis. Dia juga seorang reformis yang menolak dibilang radikal. A bitter realist.

Membaca diari Soe Hoe Gie ini entah kenapa saya merasa sedih. Gie terlalu memaksakan diri membela apa yang ia anggap benar. Dia sangat jujur, lurus, dan berani menentang para petinggi negara. Saya mengacungkan jempol untuk keberanian dan sikap nekadnya, tapi saya jadi merasa makin sedih. Masalahnya, apa yang diperjuangkannya tidak berhasil-berhasil bahkan sampai sekarang juga Indonesia masih tetap penuh korupsi seperti dulu. Dengan kata lain, hidupnya dihabiskan untuk memperjuangkan sesuatu yang sia-sia. Ditambah lagi, dengan sikap terang-terangannya itu ia harus mengorbankan kehidupan pribadinya. Kehidupan cintanya tak sejalan dengan kemauannya. Orang tua wanita yang disukainya melarang anak gadisnya dekat-dekat Soe Hok Gie karena takut terlibat. Mereka mengagumi Gie, tapi untuk menjadi bagian keluarga... nanti dulu. Terlalu berbahaya.

Kesepian. Itulah yang dirasakan Gie sebagian besar waktu. Apa yang diperjuangkannya membuatnya dibenci dan dijauhi banyak orang. Dan dia sadar soal itu. Tapi tetap saja. Ia tidak mau mengorbankan pemikirannya dan terus ngotot berjuang. Dia bahkan menulis kalau dia harus belajar jatuh cinta pada kesepiannya.

Luar biasa sosok Soe Hok Gie ini. Bahkan dari muda dia sudah menyukai sastra berat. Leo Tolstoy dilalapnya waktu berusia 12 tahun. Tak heran ia menjadi sang intelektual yang kritis pemikirannya. Hanya sayang, dia meninggal di usia yang sangat muda (27 tahun) saat melakukan hobinya yaitu mendaki gunung. 

"Filsuf Yunani pernah menulis : Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua adalah dilahirkan tetapi mati muda. Dan yang tersial adalah mati di umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah, mereka yang mati muda."

Buku ini berisi kumpulan catatan harian Soe Hok Gie. Menarik untuk dibaca sekalipun banyak bagian yang membosankan karena mencakup kehidupan sehari-hari Gie. Banyak nama teman-teman Gie yang jelas saya tidak kenal. Mungkin diari ini akan lebih menyenangkan dibaca oleh orang terdekat Gie yang mengenal detail kehidupannya. Tapi saya tetap suka membaca narasi-narasi Gie yang rumit dan penuh analisis. Keren.

Sekarang tinggal nonton filmnya deh. Cihuy!

4/5

Friday, 2 March 2012

9 Summers 10 Autumns


Judul : 9 Summers 10 Autumns
Penulis : Iwan Setyawan
Tebal : 238 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Buku ini bertujuan untuk menginspirasi. Ceritanya mengenai perjalanan Iwan Setyawan, anak supir angkot asal Kota Batu untuk bisa sukses di New York. Semacam biografi yang sangat singkat dan cukup mengena.

Saya suka dengan kalimat-kalimat puitisnya. Penjelasan mendetail mengenai rumah masa kecil Iwan di Kota Batu, ayah-ibunya, dan juga keempat saudara perempuannya. Entah kenapa saya merasa nuansa novel ini agak bittersweet. Perjalanan hidup seorang Iwan ini tidak lebay sih. Keluarganya miskin tapi semua anak-anaknya masih bisa sekolah. Hanya saja Iwan sangat beruntung karena ditawarkan pekerjaan di Amerika.

Segalanya mulai dari bawah. Perlahan namun pasti kalau kita ulet, kesuksesan akan datang menghampiri. Pintar-pintar saja mencari kesempatan. 

Penyampaian cerita novel ini cukup oke. Tapi saya nggak suka sama kalimat Inggrisnya yang kebanyakan. Waduh, ini sih kayak baca buku Inggris nanggung. Dialognya sebagian besar dalam bahasa Inggris, mungkin itu dimaksudkan supaya nuansa New Yorknya lebih terasa kali ya. Tapi rasanya aneh. Sebentar Inggris, sebentar Indonesia. Kelihatannya nggak rapi gitu. 

Lalu saya agak bingung dengan hubungan Iwan dengan si anak kecil yang selalu mendengarkan cerita masa kecilnya. Hubungan yang sangat aneh sampai saya merasa apa si anak kecil ini adalah sosok yang tidak nyata, semacam pribadi ganda si Iwan. Tampaknya saya mikirnya kejauhan, padahal kayaknya ini bukan novel psikologi deh. Haha...

2/5

Friday, 24 February 2012

The Diary of A Young Girl-Anne Frank


Title : The Diary of A Young Girl-Anne Frank
Edited by : Otto H. Frank and Mirjam Pressler
Number of Page : 351
Publisher : Penguin Books

"... What's the point of the war? Why, oh, why can't people live together peacefully? Why all this destruction?... Why are millions spent on the war each day, while not a penny is available for medical science, artists or the poor? Why do people have to starve when mountains of food are rotting away in other parts of the world? Oh, why are people so crazy?"

Anne Frank is probably the youngest and the most complex individual I've ever known. Reading her diary is like reading adult's journal. The way she thinks is just too deep and I cannot even believe that she wrote this diary at the age of thirteen.

It was that time, in Hitler's and World War II era when Anne Frank and her family had to hide in the secret house. They tried to survive for almost three years in that little place because they were Jewish. Once German knew their location, they would surely be tortured and killed. 

Eight people in that house... They had to be quiet all the time, eat almost the same food everyday... I could imagine how boring that was. They tended to have bad mood all the time. And in that kind of situation, Anne Frank grew up as teenager.  

When I decided to read this book, I expected it to be full of historical informations. Well, of course I was wrong. This book is just a diary of a girl trying to understand the world around her. Sometimes it was quite boring when nothing happened. The contents were pretty much about daily activities, telling about what she ate, what she did during the day, the schedules of the other family members, and those usual stuffs. But, the strength of this book is Anne herself. She was strong, witty, and full of passion. She was never afraid and always positive. She grabbed her hopes and her dreams, waiting for the outside war to end. Everything she wrote about her feelings amazed me in the way that I could relate all of them with myself. I mean growing up is not easy, especially in time like that.  I could see that she changed throughout those three years become a wonderful person.

Anne liked to write. She wanted to be a journalist. I believed if she was still here, she would be a good writer. Her writing is good, the words are neat and full of meanings. 

Ironic. That's what I think about her life. Few months before German was defeated, someone betrayed her family and told the authorities about their location. Anne Frank died due to typhus epidemic in working camps. The only one who lived was her father. He edited all her diaries and tried to spread his daughter's words around the world. 

"To be honest, I can't imagine how anyone could say 'I'm weak' and then stay that way. If you know that about yourself, why not fight it, why not developed your character? Their answer has always been: 'Because it's much easier not to!' This reply leaves me feeling rather discouraged. Easy? Does that mean a life of deceit and laziness is easy too? Oh, no, that can't be true. It can't be true that people are so readily tempted by ease... and money."

"I've often imagined how nice it would be if someone were to confide everything to me. But now that it's reached that point, I realize how difficult it is to put yourself in someone else's shoes and find the right answer."

"We're all alive, but we don't know why or what for; we're all searching for happiness; we're all leading lives that are different and yet the same... We have many reasons to hope for great happiness, but... we have to earn it. And that's something you can't achieve by taking the easy way out. Earning happiness means doing good and working, not speculating and being lazy. Laziness may look inviting, but only work gives you true satisfaction." 

"People who are religious should be glad, since not everyone is blessed with the ability to believe in a higher order. You don't even have to live in fear of eternal punishment; the concepts of purgatory, heaven and hell are difficult for many people to accept, yet religion itself, any religion, keeps a person on the right path. Not the fear of God, but upholding you own sense of honour and obeying your own conscience. How noble and good everyone could be if, at the end of each day, they were to review their own behaviour and weigh up the rights and wrongs. They would automatically try to do better at the start of each new day and, after a while, would certainly accomplish a great deal. Everyone is welcome to this prescription; it costs nothing and is definitely useful. Those who don't know will have to find out by experience that 'a quiet conscience gives you strength'!"
   
 
The secret house of Frank's now becomes historical place worth to visit in Holland. Through her diaries, Anne Frank has taught us about humanity and freedom rights. And for me, she becomes one of the most favorite character I've read in a book.

4/5

Thursday, 10 November 2011

Nasional.is.me


Judul : Nasional.is.me
Pengarang : Pandji Pragiwaksono
Tebal : 330 halaman
Penerbit : Bentang Pustaka
Resensi :
Di tengah carut marutnya kehidupan di negara ini, di tengah krisis kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpin negara, dan di tengah ketidakpedean masyarakat Indonesia akan nasib negaranya,
buku ini hadir dengan optimisme kuat.

Pandji melalui Nasional.is.Me ingin mengembalikan kecintaan kita terhadap Indonesia, melahirkan optimisme untuk Indonesia, dan kelak memicu perubahan baik untuk Tanah Air kita.

Salah seorang pemuda Indonesia ini menceritakan situasi bangsanya dengan nada dinamis. Rasa bangga, bahagia, kecewa, sampai kekesalan tertumpah di dalamnya.


Saya baru saja menonton stand-up comedy di youtube oleh Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono. Lalu tiba-tiba saya ingat kalau saya baru beli buku baru yang pengarangnya bernama Pandji. Eh, nggak tahunya si pengarang sama dengan orang yang sedang saya tonton. Alamak!!

Saya harus akui ini buku bagus banget. Memang isinya sih nggak penting. Hanya ungkapan hati seorang nasionalis yang ingin mengajak sesamanya untuk mencintai Indonesia. Tapi dia jujur.

Buku ini menularkan optimisme dan juga alasan-alasan mengapa kita harus mencintai negeri kita sendiri. Suatu buku yang sangat subjektif dalam menilai Indonesia namun konsep nasionalismenya bagus kok. 

Kenali Indonesia-mu (maksudnya budaya dan sejarahnya)
Temukan passion-mu (maksudnya bakat dan minatmu)
Berkaryalah untuk masa depan bangsamu (maksudnya gunakan bakatmu untuk membangun bangsa)

Lima bintang.

Nasionalisme ya? Terus-terang masyarakat Indonesia itu punya rasa nasionalis yang rendah. Bukan apa-apa. Itu memang sudah terbentuk dari dulu. Pejabat korupsi, keamanan yang kurang, manusia-manusia yang mudah disuap... Karena makhluk-makhluk jahat itulah, orang-orang jadi berpendapat negatif tentang Indonesia. Memang harus diakui bangsa kita itu masih di bawah negara-negara lain. Tapi kalau saja masyarakatnya tidak malas dan punya rasa nasionalis yang tinggi, mereka pasti bakal mau berjuang memajukan negara ini. Jangan cuma bisa ngomel dan tidak berbuat sesuatu. Berusaha untuk mengubah, jangan apatis. Tapi susah juga lah. Begitu terjun ke politik, idealisme pasti hancur. Lalu jadilah pejabat yang korupsi. Apalagi dengan nasionalisme yang rendah, orang itu jadi egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Kesetiaan bisa dibeli dengan uang sehingga mudah sekali dihancurkan. 

Yah, penulis ini memang menunjukkan dalam bukunya bahwa dia mau melakukan sesuatu demi Indonesia dengan banyak berorganisasi. Kasih contoh buat pembaca bahwa untuk mengubah suatu bangsa harus dimulai dari diri sendiri. Memang terlalu idealis, tapi orang boleh bermimpi kan?

Saya merekomendasi buku ini untuk semua rakyat Indonesia. Bagus buat inspirasi.

Dreamer just ate buffet AGAIN, zzzz... how could she reduce weight now?


:)

Monday, 22 August 2011

Kambing Jantan (sebuah catatan harian pelajar bodoh)


Judul : Kambing Jantan
Penulis : Raditya Dika
Penerbit : Gagasmedia
Berawal dari blog, Raditya Dika berhasil membuat namanya melambung dengan tulisan kehidupannya yang sederhana namun kocak ini. Dia selalu menggambarkan dirinya sebagai kambing dan menghina dirinya sendiri. Mungkin itulah yang membuat kumpulan cerita blog ini begitu menarik.

Jujur, blak-blakan, dan menghibur.

Tapi seperti kata orang, buku dikatakan bagus karena dibaca di waktu yang tepat, tempat yang tepat, dan suasana hati yang tepat. Entah bagaimana saya tidak terlalu menikmati membaca buku ini. Padahal selera humor saya cukup mirip dengan penulis yang terkesan lebay.

Dua bintang karena ini bukan buku yang ditulis dengan usaha berlebihan. Dari gaya bahasa saja sudah terlihat asal-asalan seperti diari pribadi. Lagipula ini kan catatan perjalanan hidup sehari-hari. Pasti membosankan. Memang ada bagian yang sangat lucu. Tapi lucu dan kocak itu relatif. Tidak semua orang suka dengan gaya penulisan seperti ini.

Kesimpulannya buku ini adalah ungkapan jujur anak muda bernama Raditya Dika. Kehidupannya sih biasa saja seperti orang lain tapi dia mengemasnya dengan beberapa humor lucu.

It is time to start new project...


:)