Monday, 3 December 2018

The Light Between Oceans


Judul : The Light Between Oceans
Penulis : M. L. Stedman
Tebal : 345 halaman
Penerbit : Scribner

After four harrowing years on the Western Front, Tom Sherbourne returns to Australia and takes a job as the lighthouse keeper on Janus Rock, nearly half a day’s journey from the coast. To this isolated island, where the supply boat comes once a season, Tom brings a young, bold, and loving wife, Isabel. 

Years later, after two miscarriages and one stillbirth, the grieving Isabel hears a baby’s cries on the wind. A boat has washed up onshore carrying a dead man and a living baby. Tom, who keeps meticulous records and whose moral principles have withstood a horrific war, wants to report the man and infant immediately. But Isabel insists the baby is a “gift from God,” and against Tom’s judgment, they claim her as their own and name her Lucy. 

When she is two, Tom and Isabel return to the mainland and are reminded that there are other people in the world. Their choice has devastated one of them. 


Review:
Saya memutuskan untuk baca buku ini karena ternyata sudah difilmkan. Seperti biasa, saya selalu membaca buku yang diadaptasikan ke film sebelum bisa menontonnya.

Cerita ini punya lingkup karakter yang sangat kecil. Apalagi sebagian besar waktu dua tokoh utamanya menghabiskan waktu di pulau terpencil tanpa siapa pun. Settingnya juga unik. Australia, tahun 1930-an. Terus pekerjaan si Tom tidak pernah saya baca di buku manapun. Penjaga mercusuar. Menarik sih, tapi membosankan. Tiap hari pekerjaannya cuma mengurus cahaya.

Saya merasa keputusan Isabel dalam mengambil bayi yang ditemukannya cukup bisa dimaklumi. Dia pasti kesepian hanya tinggal berdua dengan Tom di pulau itu. Apalagi setelah keguguran berkali-kali. Tapi menurut saya, dia bodoh. Sikapnya tidak dewasa sama sekali. Buat apa dia bersikeras ingin menyembunyikan identitas asli bayi itu dari dunia? Logikanya di mana? Iya, kemungkinan besar orangtua bayi itu sudah mati. Tapi bayi itu masih mungkin punya kakek nenek dan keluarga yang lain. Egois banget. Si Tom juga terlalu lemah untuk mengalah demi keinginan istrinya itu. 

Dan saya tidak suka sikap Isabel terhadap Tom di akhir. Setidaknya Tom masih punya hati nurani untuk memikirkan ibu kandung bayi itu. Tapi Isabel sama sekali tidak punya empati. Dia sangat egois dan hanya memikirkan kebahagiannya saja.

Endingnya bagus dan saya sedih bacanya. Saya suka. 

Oh, ya. Saya baru sadar kalau blurb di belakang buku ini sangat spoiler. Sumpah, hahaha...

3/5

1 comment: