Monday, 3 December 2018

Queen of Shadows


Judul : Queen of Shadows (Throne of Glass #4)
Penulis : Sarah J. Maas
Tebal : 645 halaman
Penerbit : Bloomsbury UK

Everyone Celaena Sardothien loves has been taken from her. But she's at last returned to the empire—for vengeance, to rescue her once-glorious kingdom, and to confront the shadows of her past . . .

She will fight for her cousin, a warrior prepared to die just to see her again. She will fight for her friend, a young man trapped in an unspeakable prison. And she will fight for her people, enslaved to a brutal king and awaiting their lost queen's triumphant return.

Celaena’s epic journey has captured the hearts and imaginations of millions across the globe. This fourth volume will hold readers rapt as Celaena’s story builds to a passionate, agonizing crescendo that might just shatter her world.


Review:
Akhirnya saya mengerti kenapa banyak orang kecewa dengan buku ini. Bahkan saya banyak mengernyit selama membacanya. Bukan berarti saya tidak suka dengan ceritanya. Saya hanya merasa Sarah J. Maas adalah penulis kreatif yang problematic.

Warning: Spoiler!

Saya akan mulai dengan hal-hal yang saya suka dulu.

1. Manon Blackbeak
Sarah J. Maas selalu berhasil membuat saya jatuh cinta setengah mati sama karakter yang diciptakannya. Manon ini tokoh fenomenal. Dia penyihir jahat, kejam, dan dingin. Tapi hatinya lembek di hadapan naganya, Abraxos. Dia juga cukup baik hati untuk membantu Elide, pelayan cacat yang kelihatan lemah. Dia bukan orang yang menyenangkan. Dia juga sangat galak dalam menghadapi bawahan-bawahannya. Tapi entah kenapa saya menghormatinya. Mungkin karena sikap profesional dan kompetennya dalam pekerjaannya. Mungkin juga karena latar belakang Asterin dan betapa dia sangat berharap besar pada Manon.

2. Kesetiaan Chaol pada Dorian
Saya memang lemah sama konsep kesetiaan dalam persahabatan. Saya bisa melihat kenapa orang merasa Chaol dan Dorian sebaiknya menjadi pasangan. Hubungan mereka terlalu dalam. Tapi sepertinya Dorian sudah ditargetkan untuk jadi love interest Manon (Kyaaaaa!!!! Saya suka prospek hubungan ini).

3. Abraxos
Tidak mungkin ada yang tidak suka sama naga unyu ini. Adegan di mana dia melindungi Elide lucu amat.

Ya, sudah. Itu saja hal yang paling saya suka dari buku ini. Sekarang bagian yang saya tidak suka.

1. Perubahan Celaena menjadi Aelin
Saya tidak tahu kenapa Sarah J. Maas memutuskan bahwa Celaena dan Aelin adalah dua orang yang berbeda. Bagaimana mungkin seseorang yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya menjadi Celaena bisa melupakan sisi dirinya itu karena dia sekarang sudah menerima takdirnya sebagai Aelin, Ratu Terrasen? Tidak masuk akal sama sekali. Pada awalnya, saya tidak suka dengan sikap arogan Celaena di Throne of Glass. Tapi setelah empat buku, saya sudah lumayan attached dengan karakternya itu. Dan ternyata itu dihancurkan dengan buku ini. Saya jadi tidak suka sama Aelin. Dia jauh lebih arogan dari Celaena dan dia merasa dirinya pantas mendapatkan lebih. Dia memperlakukan orang-orang Adarlan sebagai musuh. Termasuk Chaol dan Dorian.

Saya suka sekali hubungan Celaena dan Chaol di Crown of Midnight. Memang, hubungan mereka rusak setelah kematian Nehemia. Tapi saya pikir hubungan itu masih ada harapan setelah apa yang dikatakan Celaena di akhir buku itu.

Sedangkan di buku ini... jelas sekali mereka tidak bakal balikan lagi. Tidak masalah sih. Orang berhak move on dari hubungan mereka sebelumnya. Apalagi Chaol itu karakter favorit saya. Setelah melihat betapa menyebalkannya Aelin, saya lebih suka Chaol mendapatkan orang yang lebih baik dan bisa menghargainya daripada Aelin. Lagipula saya mengerti kalau Aelin butuh orang yang memahami seluruh latar belakangnya yang sangat rumit dan tidak takut padanya. 

Sikap Aelin terhadap Chaol sangatlah jahat. Dia menyalahkan Chaol karena meninggalkan Dorian dan Aedion terjebak di istana. Apakah dia tidak sadar Chaol hanya satu orang yang tidak punya sihir untuk melawan Raja Adarlan? Dia tidak melihat usaha Chaol dan Nesryn untuk menyelamatkan orang-orang yang diburu Valg. Tidak mudah sama sekali. Hanya karena Chaol stres dan curhat soal kepergian Aelin yang terlalu lama, Aelin marah. Tidak suka dikritik gitu. Kok tidak sensitif sama sekali? Dia seakan membuang perasaan dan sejarahnya bersama Chaol. Padahal Sarah J. Maas bisa menambahkan renungan dan pikirannya akan Chaol. Betapa cowok itu pernah berarti baginya di masa lalu. Tapi karena Celaena dan Aelin berbeda orang, Chaol tidak ada di pikiran Aelin sama sekali.

Dan saya tidak tahu kenapa Aelin bersikeras ingin membunuh Dorian. Dia menganggap Dorian sudah tidak bisa diselamatkan dan Valg sudah mengambil alih tubuhnya sepenuhnya. Dingin sekali. Bukankah Dorian itu temannya? Tidak aneh kalau Chaol marah dan menyebutnya sebagai monster. Seriusan lah. Terus di akhir sewaktu dia menyelamatkan Dorian, dia bisa-bisanya take credit dan bilang ke Dorian bahwa dia kembali untuk menyelamatkan cowok itu. Luar biasa. Setelah menghabiskan sebagian besar buku mengabaikan Dorian dan ingin membunuhnya, dia malah bilang begitu. Zzzzzz... Tidak membantu saat orang-orang di sekitarnya menyayanginya dan memujanya sebagai Ratu Terrasen yang hebat. Ugh. Aelin jadi terkesan seperti Mary Sue.

2. Romance antara Rowan dan Aelin
Saya sangat suka hubungan persahabatan Rowan dan Aelin di buku ketiga. Bagus banget. Tapi saya tahu Rowan akan jadi love interest. Cuma bahkan setelah tahu itu, saya merasa perubahan perasaan itu terlalu mendadak. Kayak tidak ada transition sama sekali. Tahu-tahu Aelin hanya berpikir seberapa kangennya dia sama Rowan. Dia juga banyak menyebutkan otot dan badan bagus Rowan. Duh!

3. Rowan 
Dia sangat abusive di buku ketiga. Terutama di awal-awal. Tapi saya suka sama dia karena sebagai guru dan mentor Celaena, kegalakannya itu masuk akal. Dia kan jenderal, bukan guru anak TK. Sayangnya, dia berubah jadi sosok yang memuja Aelin seperti orang lain di buku ini. Padahal kalau dia tetap menjadi sosok keras dan suka mengkritik seperti sebelumnya, saya pasti tidak akan ada masalah. Malah dia akan jadi sangat menonjol. Cocok dengan statusnya sebagai Fae imortal yang sudah ancient.

4. Sikap teritorial kaum Fae
Saya mengerti ini adalah ciri khas Fae yang diciptakan oleh Sarah J. Maas. Seri A Court of Thorns and Roses juga sama seperti ini. Cuma saya lumayan terganggu. Aedion dan Rowan merasa posesif banget terhadap Aelin. Ugh. Bagaimanapun juga Fae bukan sepenuhnya binatang. Seharusnya bisa menahan diri dong.

5. Pengakuan Raja Adarlan di akhir
Saya agak merasa ini terlalu tiba-tiba dan aneh. Jadi, dia cuma dimanfaatkan oleh Valg selama ini. Dia sama sekali bukan orang jahat sebenarnya. Terus kenapa dia harus dibunuh setelah mengaku begitu? Saya tahu itu pembalasan Dorian. Tapi seharusnya mereka bisa menggunakan raja itu sebagai penyumbang informasi atau apalah. Dorian terlalu kejam di sini.

6. Penyiksaan tokoh Chaol
Sampai kapanpun, Chaol tetap akan menjadi karakter favorit saya. Banyak orang tidak suka Chaol karena sikapnya yang marah-marah di buku ini. Ada juga yang bilang kalau karakter dia dirusak oleh penulis. Saya tidak setuju sama sekali. Bayangkan saja. Dia kehilangan pekerjaan yang sudah dia bangun sejak dulu (percayalah, orang akan marah-marah kalau karier mereka hancur). Dia juga kehilangan Dorian yang seharusnya dilindunginya. Dia merasa gagal karena seberapa besar usahanya menyelamatkan penduduk-penduduk yang akan dibunuh oleh Valg, dia tetap saja tidak membuat perubahan apa-apa. Selain itu, dia selalu diajarkan bahwa sihir adalah sesuatu yang perlu dibasmi. Tapi ternyata anggapan itu salah karena dia mengenal Celaena yang ternyata bisa sihir dan tidak sejahat itu. Dan Aelin menyalahkannya pula. Padahal ia pasti berharap Aelin bisa memahaminya sedikit sebagai teman. Oh, dia juga pasti masih berharap Celaena kembali padanya. Jadi, dia pasti kecewa melihat Celaena berubah dan malah beralih ke pelukan Rowan. Harga dirinya pasti jatuh setelah banyaknya kegagalan itu. Saya bahkan mengerti kenapa dia menghabiskan waktu bersama Nesryn sekalipun dia tidak mencintai gadis itu. Dia butuh kedekatan dengan seseorang. Kasihan juga sih si Nesryn. Tapi lebih kasihan lagi si Chaol. Di akhir dia lumpuh. Demi apa? Kok nasibnya jelek banget.

Fiuhhh... panjang bener. Saya jadi lumayan suka sama Sarah J. Maas karena bukunya bikin saya terpengaruh banget secara emosi. Terus saya bisa bahas banyak tentang seluruh aspek bukunya. Kayaknya jarang saya nemu penulis yang bukunya bisa bikin saya nulis review sepanjang ini.

Memang kelihatannya saya tidak suka buku ini. Tapi saya masih suka dengan dunia ini dan penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Lagipula Manon dan Chaol terlalu fenomenal untuk bisa bikin saya tidak suka dengan buku ini.

4/5

1 comment: