Friday, 28 December 2018

Lady Midnight


Judul : Lady Midnight (The Dark Artifices #1)
Penulis : Cassandra Clare
Tebal : 669 halaman
Penerbit : Margaret K. McEldeberry Books

In a secret world where half-angel warriors called Shadowhunters are sworn to fight demons, parabatai is a sacred word. A parabatai is your best friend and battle partner. Parabatai can be everything to each other--but they can never fall in love.

Emma Carstairs ia a Shadowhunter, the best in her generation. Together with her parabatai, Julian Blackthorn, she patrols the streets of Loa Angeles, where faeries--the most powerful of supranatural creatures--teeter on the edge of open war with Shadowhunters. When bodies--both faerie and human-turn up, bearing marks that match those found on Emma's own murdered parents, an uneasy alliance is formed. This is Emma's chance for revenge--and Julian's chance to get back to his brother, a prisoner of the faerie Courts. All they have to do is solve the murders within two weeks... and before the murderer target them.


Review:
Buku ini sangat luar biasa. Saya tidak tahu bagaimana Cassandra Clare bisa menciptakan seluruh anggota keluarga Blackthorn yang sifatnya berbeda-beda dan membuat saya jatuh cinta pada mereka. Kekeluargaan dan rasa sayang di antara anggota-anggotanya membuat saya berharap bisa menjadi Emma Carstairs dan mengenal mereka satu per satu.

Tidak seperti seri Shadowhunters yang lain, cerita ini dimulai dengan sangat cepat tanpa penjelasan tentang perkenalan dunianya. Apakah plotnya super seru dan banyak aksinya? Tidak. Menurut saya, buku ini lebih membahas tentang keluarga. Dan karena ini Cassandra Clare, sudah pasti ada angsty romance-nya. 

Bagian terbaik buku ini adalah Julian Blackthorn. Tokoh seniman moody satu ini membuat saya sakit hati berkali-kali karena pengorbanan yang dilakukannya untuk adik-adiknya. Bayangkan saja. Dia hanya berusia 10 tahun saat ia harus menjadi orangtua bagi kelima adiknya. Padahal dia punya ambisi dan keinginan lain. Saya bisa merasakan beban yang dimilikinya. Satu-satunya orang yang membantunya hanyalan Emma, parabatai yang dicintainya. Tapi sesama parabatai dilarang saling berhubungan, jadi Julian menyembunyikan perasaannya mati-matian. Yasss!!! Angsty dan forbidden. Jiwa saya yang haus emosi suka banget sama trope ini. Hahaha...

Emma sendiri bukan jenis karakter unik. Dia terlalu biasa. Badass, kuat, dan berani seperti karakter buku fantasi remaja yang lain. Saya malah lebih suka sama Christina Rosales, Shadowhunter yang baru saja pindah ke Los Angeles. Saya memang suka sama tokoh yang quietly strong. Tapi Emma menjadi karakter yang menarik karena hubungannya dengan Julian. Saya beneran suka banget sama konsep parabatai. Dulu di seri The Infernal Devices, saya dibuat sakit hati gara-gara Will dan Jem. Sekarang Emma dan Julian membuat saya nangis hampir di sebagian besar buku ini. 

Selain Julian, ada Mark Blackthorn yang diculik di akhir seri The Mortal Instruments. Tokoh satu ini lumayan lucu. Sisi faery dalam dirinya bikin saya tertawa dengan kekonyolan sikapnya. Tessa dan Jem juga muncul. Pokoknya penggemar Shadowhunters akan merasa puas karena akan melihat banyak tokoh yang familiar, termasuk Magnus. Yah, kapan sih warlock satu itu tidak muncul setiap ada masalah?

Jujur saja, saya tidak terlalu peduli dengan misteri utamanya. Terlalu standar khas Cassandra Clare. Tapi kekuatan penulis terletak pada karakter-karakter yang diciptakannya. Saya suka membaca banter di antara mereka. 

Di akhir buku, Emma membuat sebuah keputusan yang sangat buruk dan membuat saya kesal. Tapi saya tahu keputusan itu akan membuat buku selanjutnya lebih angsty lagi, jadi saya tidak akan mengeluh. Saya penasaran apa yang akan terjadi pada Julian. Dia sudah menyebutkan hal-hal yang akan membuatnya hancur dan meledak. Dan semua itu akan terjadi. Apalagi soal rahasia parabatai yang sebenarnya itu. Apakah Julian akan jadi villain?

Kyaaaaa.... Tidak sabar baca buku selanjutnya.

5/5

1 comment: