Saturday, 1 December 2018

Never Fade


Judul : Never Fade (The Darkest Minds #2)
Penulis : Alexandra Bracken
Tebal : 624 halaman
Penerbit : Fantasious

Setelah menghapus jejak dirinya dalam benak Liam dan meninggalkan teman-temannya demi melindungi mereka, Ruby terjun dalam misi-misi berbahaya untuk Liga Anak. Walau tujuan Liga Anak adalah menyelamatkan anak-anak yang diculik dari keluarga mereka dan dikurung dalam kamp-kamp karena kekuatan yang nyaris tak sadar mereka miliki, Ruby menjadi mengerti bahwa orang-orang baik tak selamanya baik.

Dengan kemampuan yang dimilikinya, Ruby terlibat dalam misi untuk mencari flashdrive penting berisi rahasia mengenai penyakit yang menewaskan sebagian besar anak di Amerika. Namun, untuk itu ia harus melakukan hal yang paling tidak ia inginkan lagi di dunia: bertemu Liam.

Dalam perjalanannya melintasi negara putus asa dan tak kenal hukum untuk mencari Liam dan jawaban atas segala musibah yang telah mengoyak hidupnya, ia harus memilih antara sumpahnya pada Liga, teman-temannya, serta pemuda yang paling dicintainya. Ruby bersedia melakukan apa pun demi mereka.

Namun, bagaimana seandainya bertahan hidup bukanlah pilihan?


Review:
Hmm... saya agak tidak yakin dengan seri ini. Banyak yang bilang kalau semakin lama akan semakin bagus. Tapi saya belum melihat sisi awesome dari seri ini. 

Di buku kedua ini, Ruby bekerja untuk Liga Anak dalam mengumpulkan anak-anak yang mempunyai kekuatan. Tentu saja tidak sesederhana itu. Ada banyak sekali rahasia yang disembunyikan Liga Anak mengenai misi-misi itu. Ruby selalu merasa curiga dan tidak bisa memberikan kepercayaan kepada organisasi itu.

Sebenarnya saya tidak terlalu peduli dengan misi yang dilakukan Ruby. Saya lebih tertarik pada karakter-karakternya. Alexandra Bracken sangat pintar menciptakan tokoh sampingan yang memorable. Mudah sekali buat saya untuk suka sama Vida dan Jude, anggota grup Ruby di Liga Anak. Saya juga cukup penasaran dengan Cole, kakak Liam yang muncul di buku ini. Tapi jujur sih... saya cuma menunggu Ruby bertemu lagi dengan Liam. Saya ingin tahu bagaimana dia membereskan masalah itu. Menghapus ingatan seseorang bukanlah hal yang bagus untuk dilakukan. Kalau saya jadi Liam, saya bakal marah sekali. 

Dan tentu saja pertemuan mereka tidak mengecewakan. Saya merasakan emosi saya terpengaruh, terutama saat Liam mengungkapkan kebingungan dan rasa frustrasi soal perasaannya ke Ruby. Entah kenapa saya nangis di adegan itu. My poor Liam... Cuma saya pengennya adegan-adegan model begini lebih banyak lagi. Saya butuh angst!!

Saya masih penasaran dengan kelanjutan seri ini. Terutama soal Clancy. Tokoh jahat satu ini sangat tidak bisa diprediksi. Saya juga cukup suka sama Ruby dan betah baca narasinya. Dia badass, berkepala dingin, dan sangat praktikal. 

Dan mana Zu???

3/5

1 comment: