Friday, 27 June 2014

The Yearling: Jody dan Anak Rusa


Judul : The Yearling: Jody dan Anak Rusa
Penulis : Marjorie Kinna Rawlings
Tebal : 504 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
 
Jody Baxter dan keluarganya hidup di tanah pertanian mereka yang terpencil di Florida pada akhir tahun 1800-an. Sebagai anak tunggal, Jody sangat ingin mempunyai teman bermain. Ketika menemukan seekor anak rusa yatim-piatu di dalam hutan, Jody sangat ingin memeliharanya. Ayahnya setuju, meskipun anak rusa itu mesti diberi jatah makanan dan susu yang sangat berharga bagi mereka.

Kasih sayang Jody kepada Flag, si anak rusa sangat besar, dan ketika Flag semakin dewasa, mereka menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Namun kemudian keluarga Baxter megalami masalah berat ketika ayah Jody terluka parah dan Jody mesti menggantikannya bekerja di ladang. Pada saat-saat itulah Jody mesti menghadapi kenyataan dan mengambil keputusan yang sangat berat dalam hidupnya.

Review:
Buku ini memenangkan Pulitzer di tahun 1939. Tapi bukan itu yang membuat saya membeli buku ini. Saya menyukai warna cover-nya yang sederhana dan terlihat kuno.

Sesuai sinopsisnya, buku ini menceritakan keluarga Baxter yang tinggal di sebuah tanah pertanian terpencil. Jody adalah anak satu-satunya di keluarga itu. Ia seringkali merasa kesepian. Setiap hari ia membantu ayahnya berburu dan mengurus tanaman. Sampai suatu saat ia menemukan anak rusa di hutan. Anak rusa itu kehilangan induknya karena ayah Jody yang digigit ular derik membunuh induk rusa itu demi mendapatkan liver rusa yang bisa menghancurkan racun.

Jody kegirangan karena bisa memelihara si anak rusa. Seluruh waktunya dihabiskan untuk bermain dengan anak rusa yang bernama Flag itu. Tapi rusa bukanlah binatang peliharaan yang penurut seperti anjing. Saat rusa itu semakin besar, Jody tidak lagi bisa mengontrolnya. Tunas-tunas tanaman yang mereka tanam dimakan Flag dan banyak kerusakan ditimbulkan oleh rusa itu. Sampai akhirnya, Jody harus mengambil keputusan demi kehidupan keluarganya.

Inti dari buku ini sebenarnya adalah melihat proses Jody yang berubah menjadi lebih dewasa. Kejadian-kejadian kecil yang terjadi membuat dia mendapatkan banyak pengalaman berharga. Saya menyukai ayah Jody yang begitu sabar dan bijaksana dan juga Ma Baxter yang galak namun penuh kasih sayang. Penulis menggambarkan karakter ketiganya dengan sangat baik dan menciptakan suatu keluarga sederhana yang sangat heart warming. Saya senang menyaksikan datarnya dan monotonnya kehidupan mereka. 

Selain tiga anggota keluarga Baxter, hanya ada cerita tentang tetangga dan kenalan mereka yang tidak begitu banyak. Yah, mereka tinggal di desa terpencil sih. Tapi di sini saya bisa melihat kerja sama dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga. Karena siapa lagi yang bisa menolong selain mereka di tengah hutan seperti itu? Lucu sekali mengamati jalan pikiran Jody yang seperti anak kecil. Dia dengan jujur tidak menyukai tetangganya walaupun Penny Baxter selalu menasehatinya.
 
Yang paling mencolok dari buku ini adalah bahasanya. Indah sekali. Deskripsinya sangat sempurna. Saya bisa merasakan dengan jelas setting tempatnya. Hutan dengan pohon-pohon di sekitarnya, tanah pertanian yang penuh dengan kuncup-kuncup tanaman baru, rawa-rawa tempat serigala dan beruang sesekali bersembunyi, sungai yang meluap banjir dan menghancurkan tanah sekitarnya, suasana pesta di pusat desa, pasar-pasar yang ramai pengunjung, dsb. Cuma sayangnya saya kurang suka cerita binatang kali ya. Dan saya memang nggak suka rusa. Dari awal saya sudah tahu jadinya bakal kayak apa. Rusa kan memang nakal. Jadi, saya agak bosan bagian si Flag. Padahal perburuan beruang "Slewfoot Tua" dan penjelajahan lainnya lumayan seru.

3/5

No comments:

Post a Comment