Sunday, 18 May 2014

Menanti Cinta


Judul : Menanti Cinta
Penulis : Adam Aksara
Tebal : 210 halaman
Penerbit : Mozaik Indie Publisher

Cinta tak akan pernah membebani, baik bagi yang dicintai, maupun yang mencintai. Karena cinta adalah sebuah keagungan yang melembutkan hati dan mencerahkan kehidupan bagi yang memilikinya.

Alex berhasil memiliki kekayaan meski terlahir cacat. Ia sadar, seperti cacatnya, ada hal yang tidak pernah akan dimilikinya dalam hidup. Cinta adalah salah satunya. 

Namun, cinta menjeratnya dalam diam dan menawarkan sebuah hasrat terpendam. Kini, ia hanya dapat mencintai dan terus mencintai, tak berdaya menolak pesonanya.

Claire terlahir berlumur kemiskinan dan penderitaan. Semua yang diinginkannya hanyalah sebuah tempat untuk dapat berteduh dan lepas dari cengkraman orang tuanya.

Ia tahu, cinta dan kebahagiaan adalah sebuah kemewahan. Ia tidak berani menginginkan mereka. Ia tidak ditakdirkan untuk bahagia.
Cinta mempertemukan mereka. Menjerat mereka dalam mimpi kebahagiaan yang seolah tak pernah berakhir bagi kehidupan mereka. Bersama Alex, Claire berani mulai bermimpi dan mencoba mempercayai, kebahagiaan pantas untuknya.

Namun...

Alex menyimpan rahasia gelap demi mempertemukan mereka, Claire menyimpan rahasia yang membuat mereka tidak akan pernah bersatu. Takdir mendekatkan dan menjauhkan mereka. Cinta juga yang menghanyutkan dan menenggelamkan mereka dalam penantian, kehampaan dan kesakitan. Semuanya atas nama cinta dan kasih sayang.

Apakah cinta akan dapat mempersatukan mereka kembali?


Review:
Warning: Spoiler!

Saya mengenal penulis dari karya pertamanya, yaitu Blessed Heart. Saat penulis memberikan buku barunya ini, saya cukup penasaran. Sinopsisnya menarik walaupun agak terlalu detail. Kebetulan saya juga suka cerita dramatis dengan nasib tokohnya yang agak tragis. 

Begitu membuka halaman pertama saya langsung tidak bisa berhenti. Saya menyelesaikan buku ini hanya dalam tiga jam. Setelahnya, boleh dibilang buku ini cukup membuat saya terdiam lama dan merenung. Bukan karena ceritanya, lebih karena endingnya. Dulu memang saya suka cerita yang happy ending. Tapi sekarang saya lebih suka ending yang lebih sedih dan bittersweet karena jauh lebih menghantui dan tidak mudah dilupakan. 

Ceritanya sangat bagus. Saya suka tragedi yang menimpa Claire bertubi-tubi. Rasanya jleb banget apalagi sepuluh halaman terakhir endingnya itu. Namun sayang, cerita sebagus ini tidak disertai dengan gaya penulisan yang pas untuk saya. Sepanjang buku ini saya tidak bisa merasa dekat dengan kedua tokoh utamanya sekalipun saya merasa simpati dengan nasib mereka. Kurangnya pembentukan karakter yang tiga dimensional membuat saya hanya menganggap Claire dan Alex sambil lalu. Bahkan saya sudah lupa seperti apa bayangan saya akan tokoh-tokoh tersebut. Lalu sifat jahat ibu dan ayah Claire juga tidak dijelaskan lebih lanjut. Tidak ada alasan mengapa mereka begitu jahat pada anak mereka sendiri. Terus adik Claire juga tidak muncul setelah hidup Claire aman di bawah lindungan Alex, seakan dilupakan begitu saja setelah Claire bahagia. Ditambah lagi penulis tidak pernah memberi penjelasan setting dan hanya langsung masuk ke adegan sehingga suasana novel ini kurang hidup.

Saya cukup suka dengan gaya bahasa mendayu-dayu dari penulis sebenarnya. Tapi kalau kalimat seperti itu masuk dalam dialog, rasanya kurang cocok. Bikin geli. Apalagi penulis tampaknya lebih suka menggunakan gaya telling daripada showing. Saya memang pada dasarnya lebih suka gaya showing, terutama untuk cerita sedih seperti ini. Memang jadinya agak panjang dan menghabiskan halaman, tapi dengan begitu saya mungkin bisa menangis saat membacanya. 

Anyway, saya cukup puas membacanya. Memang saya kurang respek pada kedua karakter utama di sini karena sepertinya mereka kurang komunikasi sehingga bisa-bisanya Claire meragukan Alex sampai akhir. Masa harus baca buku hariannya dulu baru percaya akan ketulusan seorang Alex? Tapi ya sudahlah. Kalau tidak begitu, nggak bakal ada ending itu. 

Saya akan menunggu karya Adam Aksara selanjutnya, semoga akan lebih baik lagi. 

3/5

No comments:

Post a comment