Wednesday, 28 May 2014

Pulang


Judul : Pulang
Penulis : Leila S. Chudori
Tebal : 464 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Paris, Mei 1968. 

Ketika revolusi mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas Suryo seorang eksil politik Indonesia bertemu Vivienne Deveraux, seorang mahasiswa Prancis yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya, ditangkap tentara dan dinyatakan tewas. Dimas merasa cemas dan gamang. Bersama puluhan wartawan dan seniman lain, dia tak bisa kembali ke Jakarta karena paspornya dicabut oleh pemerintah Indonesia. Sejak itu mereka mengelana tanpa status yang jelas dari Santiago ke Havana, ke Peking dan akhirnya mendarat di tanah Eropa untuk mendapatkan suaka dan menetap di sana.

Di tengah kesibukan mengelola Restoran Tanah Air di Paris bersama tiga kawannya: Nug, Tjai, dan Risjaf—mereka berempat disebut Empat Pilar Tanah Air—Dimas, terus-menerus dikejar rasa bersalah karena kawan-kawannya di Indonesia satu persatu tumbang, dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan Peristiwa 30 September. Apalagi dia tak bisa melupakan Surti Anandari—isteri Hananto—yang bersama ketiga anaknya berbulan-bulan diinterogasi tentara.


Review:
Buku ini melibatkan tiga peristiwa sejarah: Paris Mei 1968, 30 September 1965, dan Mei 1998. Sangat ambisius sekali untuk membahas sebanyak itu. Tapi ternyata tiga peristiwa sejarah itu hanyalah latar cerita saja dan bukan inti dari buku ini. Buku ini lebih berpusat pada romansa 2 generasi.

Ada tiga bagian di buku ini. Yang pertama berpusat pada kehidupan Dimas Suryo. Karena harus menggantikan temannya ikut konferensi jurnalis di Santiago, ia tidak bisa pulang lagi ke Indonesia. Pada zaman itu, semua anggota PKI sedang diberantas dan mereka yang berada di luar negeri dilarang kembali ke Indonesia. Walaupun Dimas sama sekali tidak punya hubungan dengan PKI, ia tetap kena imbasnya. Dengan terpaksa, ia dan teman-temannya sesama jurnalis merantau hingga sampai di Paris, hidup luntang-lantung dengan memegang terus harapan untuk bisa pulang akhirnya ke tanah air. Puluhan tahun ia berharap, namun ia tetap terbuang. Ia memang akhirnya membangun keluarga di Paris, punya anak dari istri yang adalah orang Perancis, namun hatinya tidak pernah tertambat di negara itu. Dimas masih mencintai Indonesia dan juga Surti, cinta pertamanya yang telah menikah dengan temannya sendiri di Indonesia.

Saya suka sekali bagian Dimas. Saya tidak bisa berhenti membaca karena saya merasa dekat sekali dengan tokoh ini. Selain memang ada saudara saya yang juga mengalami nasib seperti Dimas, saya memang merasa kehidupan Dimas dibahas dengan sangat detail oleh penulis. Saya suka kehidupan kuliahnya, teman-teman segengnya yang gila dan dinamis, hobinya akan puisi dan perwayangan, dan kesetiaannya yang disimpan dalam diam. Kebetulan Dimas menyukai tokoh Bima dan Ekalaya dalam perwayangan. Ekalaya yang tidak diakui oleh gurunya namun kemampuan memanahnya melampaui Arjuna adalah lambang Dimas yang dibuang oleh Indonesia karena kesalahpahaman. Bima yang selalu siap melindungi Drupadi adalah lambang cinta Dimas pada Surti. Masih banyak simbol, metafora, dan puisi yang sangat bagus sekali ditempatkan di bagian Dimas. Indah, mengalir, sunyi, dan sedih. 

Bagian kedua menceritakan Lintang Utara, anak perempuan Dimas dengan Vivienne Deveraux. Karena lahir di Perancis, ia tidak mengenal setengah dirinya yang lain. Yang ia tahu tentang Indonesia adalah masakannya yang lezat karena kebetulan ayahnya memang jago memasak makanan Indonesia. Di tahun terakhir kuliahnya, ia disuruh dosennya untuk membuat skripsi mengenai Indonesia. Saat itu ayah ibunya sudah bercerai dan ia sudah lama tidak bicara dengan ayahnya gara-gara sikap ayahnya yang merendahkan pacarnya, Nara. Ia memulai penelitiannya saat datang ke kedutaan besar Indonesia di Perancis. Ia mendapati kalau nama ayahnya terkenal kotor karena memiliki hubungan dengan PKI. Ia baru tahu ada perintah yang mengharuskan orang-orang untuk tidak makan di Restoran Tanah Air punya ayah dan teman-teman "Pilar Tanah Air"-nya hanya karena anggapan kalau makanan PKI itu kotor. Dari situ, Lintang pun penasaran dan mulai menemui ayahnya yang sedang sakit. Hubungan mereka membaik dan Lintang mengungkapkan keinginannya untuk ke Indonesia demi skripsinya. Dengan bekal dan pesan dari Dimas juga paman-paman angkatnya, ia pun menjelajahi negara asing yang menjadi bagian darahnya.

Bagian tiga adalah Segara Alam, putra bungsu Hananto dan Surti Anandari. Ia sudah mengenal Dimas dan teman-teman ayahnya sejak kecil dari surat Dimas untuk ibunya. Dia adalah pria berdarah panas yang sangat lantang menyuarakan suaranya melawan ketidakadilan. Ia hidup di zaman Mei 1998, salah satu peristiwa berdarah lainnya yang terjadi saat banyak orang berdemo menginginkan turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan. Saat ia mendapat kabar kalau Lintang akan datang, ia merasa kesal karena ia sedang sibuk. Tapi ibunya memintanya untuk menemani gadis itu karena hutangnya akan kebaikan dan dukungan Dimas selama ini. 

Bagian tiga adalah bagian yang paling membosankan buat saya. Kisah cinta yang tertunda dan tak bersatu dari Dimas dan Surti dilanjutkan oleh kedua anak mereka. Cinta pada pandangan pertama, sama seperti cinta Dimas ke Surti juga cinta Vivienne ke Dimas. Lintang langsung tidur dengan Alam dan melupakan Nara yang menantinya di Paris. Karena saya ini paling benci sama perselingkuhan, saya jadi tidak suka pada Lintang. Belum lagi si Lintang jadi sering nangis di bagian ketiga ini, tidak sesuai dengan karakter kuatnya di bagian sebelumnya. Tapi saya harus akui, Alam memang tokoh pria romance banget. Sangat percaya diri, tidak basa-basi, tahu apa yang diinginkannya, tegas, dan cowok banget. Saya mengerti kenapa Lintang langsung jatuh. Nara yang gentleman pasti kalah di hadapan womanizer yang berkharisma begitu.

Sebenarnya kalau membuang setting sejarahnya, buku ini tidak menarik sama sekali. Unsur romansanya yang menjadi fokus utama saja tidak memiliki basis yang jelas. Semuanya cinta pada pandangan pertama, tidur sana sini... Terus tokoh cowoknya banyak yang womanizer, termasuk Dimas, Hananto, dan Alam. Semuanya digambarkan tampan dan cantik dengan fisik sempurna. Saya kan nggak suka tokoh sempurna untuk romance. Jadi, sebenarnya buku ini jadi bagus karena settingnya walau kurang detail.

Untuk bagian akhir, saya suka sekali dengan surat Dimas ke Lintang. Dimas menasehati Lintang untuk berani memilih. Maksudnya sih antara Nara (Perancis) atau Alam (Indonesia). Tapi saya merasa pilihan itu adalah mengenai Dimas sendiri. Dimas dulu terlalu apatis. Ia tidak berani memilih Surti karena takut dan belum siap akan komitmen. Ia bersikap netral dan tidak memilih kubu timur (PKI) ataupun barat, namun tetap ditangkap karena pergaulannya dengan teman-teman yang mendukung PKI. Ia tidak berani memilih nasibnya sendiri sehingga berakhir dengan penyesalan. 

"Aku ingin pulang ke rumahku, Lintang. Ke sebuah tempat yang paham bau, bangun tubuh, dan jiwaku. Aku ingin pulang ke Karet".

"John Keats akan menutup surat ini dengan sempurna. Mungkinkah mati itu tidur bila hidup itu mimpi. Kematian ini, Lintang, adalah tidur sejenak bagiku, karena pada saat aku bangun, aku bertemu denganmu."

("Can death be sleep, when life is but a dream." --John Keats)

Pulang adalah cerita yang cukup menyentuh. Tentang pencarian identitas, pengakuan, dan kesetiaan di saat rumah menolak keberadaannya. 

4/5

Catatan: Review ini ditulis dalam rangka baca bareng BBI bulan Mei 2014 dengan tema Khatulistiwa Literary Award.

12 comments:

  1. Review Pulang di sini sama dengan pendapatku. Bahwa buku ini sebenernya buku romens, setting politiknya cuma tempelan aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, setuju sama mbak alluna :) Kalau buku politik nggak mungkin saya bacanya ngalir begini, hehe... Pasti harus banyak dicerna gitu.

      Delete
    2. Sama!! Aku juga berpendapat gitu. Ternyata unsur politiknya nggak dibahas segitu dalamnya. Selain itu, romance-nya juga nanggung. Haha..

      Delete
    3. iya, kesannya nanggung. politiknya ga kena, romensnya juga. Tapi lumayan menghibur buat dibaca :)

      Delete
  2. Review yang bagus mbak. Memang bener unsur romansanya kental walaupun tetap ada sisi historis 3 peristiwa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks sudah baca reviewnya :)

      Delete
  3. uhuk, agak spoiler akhir reviewnya #tutupmuka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhh... ada spoilernya ya? :( Ga sadar saking asyik nulisnya.

      Delete
  4. bacaan kita sama sab :) aku pun merasa setting politik buku ini nanggung banget, kurang digali dalem saking asiknya dengan subplot romans hahah.. padahl tema tentang eksil politik ini keren lho.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener, aku suka tema eksil politik.. sedih banget ga bisa pulang gitu... Tapi yah, mungkin lebih disukai yg banyak romensnya biar ringan kali ya...

      Delete
  5. aku mengira buku ini akan 'macho' karena cerita tentang eksil dan covernya 'macho' :))
    dan aku lebih suka ceita Dimas dari pada Lintang yang terlalu melebar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama... aku lebih suka dimas, makin ke belakang malah turun gitu

      Delete