Tuesday, 12 July 2011

To Kill A Mockingbird


Title : To Kill A Mockingbird
Writer : Harper Lee
Publisher : HarperCollins
"Shoot all the bluejays you want, if you can hit 'em, but remember it's a sin to kill a mockingbird."

Buku ini dikatakan sebagai one of the best books in twentieth century. Karena itulah gue penasaran pengen baca. Gue nggak tau apa yang gue expect dari buku ini. Tapi yang jelas, gue rasa isinya pasti bagus dan keren.

Yah, memang. Gue kasih lima bintang untuk buku ini. Tapi ternyata isinya tidak sesuai dengan yang gue kira. Gue pikir isinya mengandung cerita rame dan penuh kekejaman. Apalagi di awal cerita sudah diberi tahu soal Boo Radley yang tidak pernah keluar rumah. Kesannya misterius begitu.

Tapi seperti yang gue bilang, anggapan awal gue salah besar. Karena buku ini membuat gue merenung banyak. Diceritakan dari sudut pandang utama, si kecil Jean Louise Finch (Scout) membuat gue tersenyum sendiri dan memahami pergulatan hati si tokoh.

Menceritakan keluarga Finch yang terdiri dari si ayah, Atticus dan dua anak kecilnya, Jem dan Scout. Atticus adalah ayah yang bijak dan selalu mendidik anak-anaknya dengan cara adil. Segala perbuatan pasti ada konsekuensi. Tidak ada perbedaan di antara semua orang. Hargai semua orang karena setiap orang punya sisi baik. 

"...Atticus, when they finally saw him, why he hadn't done any of those things... Atticus, he was real nice..."

"Most people are, Scout, when you finally see them." 

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya... hingga kau meyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.” (yang ini gue ambil dari review orang lain, gue lupa ada di mana kalimat ini. Tapi gue yakin pernah baca di bukunya)

Memang gaya penceritaan Harper Lee sangat lambat. Gue sendiri nggak yakin ini cerita mau dibawa ke mana sebenarnya pas awal-awal. Cuma di situlah Harper Lee ingin menjelaskan lebih banyak tentang tokoh-tokohnya. Dan memang keunggulan novel ini adalah narasi, gaya bercerita, dan penokohannya. Luar biasa. Gue angkat topi untuk pengarang ini. Sepanjang gue baca buku, gue belum pernah menemukan penulis yang menulis dengan penuh variasi kata-kata dan deskriptif sekali seperti Harper Lee ini.

Gue suka si Scout. Dengan gayanya sendiri yang tomboi dan selalu ingin bertanya, dia memperhatikan dunia di luarnya yang ternyata tidak seperti bayangannya. Bahwa dunia luar tidak selalu hitam putih seperti yang diajarkan ayahnya. Bahwa di dunia luar kita tidak bisa mengharapkan keadilan yang masuk akal. Lucu sekali membaca bagaimana dia memaksa tidak mau sekolah, berantem dengan teman sekelasnya, protes ini-itu, dan mengekori kakaknya, Jem terus-menerus. Gue sering tersenyum sendiri di setiap pertanyaan ingin tahu Scout. Anak kecil yang menggemaskan sekalipun narasi pikirannya tidak seperti anak berumur 8 tahun.

Jem digambarkan sebagai anak yang sedang beranjak dewasa. Penuh pertanyaan, intrik, kebingungan, namun yang gue suka adalah dia senantiasa melindungi Scout mati-matian. Ada satu masa sewaktu dia iri pada teman-temannya karena ayah mereka sering bermain bersama mereka sementara Atticus terlampau sibuk untuk bermain bersama dirinya. Atticus juga sudah tua dan tidak bisa diajak bermain bola. Namun dengan berjalannya waktu ia melihat ayahnya adalah sosok yang sangat keren. Atticus adalah penembak terbaik di kota mereka, Maycomb. The deadest shot in town. Di saat itulah Jem bertanya-tanya kenapa ayahnya tidak pernah memberitahunya. Kenapa Atticus terlalu rendah hati untuk memamerkan keahlian itu?
"... I wanted you to see what real courage is, instead of getting the idea that courage is a man with gun in his hand..."

Di saat Jem marah pada seorang tetangga yang menghina Atticus sebagai nigger lovers atau pecinta negro, ia merusak pekarangan rumah orang itu. Tapi Atticus malah menghukumnya padahal Jem telah membelanya. 
 
Di sinilah gue bisa melihat betapa Atticus adalah orang yang sangat bijak. Sebagai pengacara ia juga tidak membeda-bedakan kasus yang dijalankannya. Saat ia membela seorang negro yang dituduh memperkosa seorang wanita kulit putih, ia tidak mengeluh sekalipun dihina banyak orang di kotanya. Memang saat itu adalah zaman di mana orang negro sangat dibedakan dari orang kulit putih. Bahwa orang punya tingkatan mereka masing-masing.

"...Thomas Jefferson once said that all men are created equal, a phrase that the Yankees and the distaff side of the Executive branch in Washington are fond of hurling at us. There is tendency in this year of grace, 1935, for certain people to use this phrase out of context, to satisfy all conditions. The most ridiculous example I can think of is that the people who run public education promote the stupid and idle along with the industrious-because all men are created equal, educators will gravely tell you, the children left behind suffer terrible feelings of inferiority. We know all men are not created equal in the sense some people would have us believe-some people are smarter than others, some people have more opportunity because they're born with it, some men make more money than others, some ladies make better cakes than others-some people are born gifted beyond the normal scope of men.

"But there is one way in this country in which all men are created equal-there is one human institution that makes a pauper the equal of a Rockefeller, the stupid man the equal of an Einstein, and the ignorant man the equal of any college president. That institution, gentlemen, is a court. It can be the Supreme Court of the United States or the humblest J.P. court in the land, or this honorable court which you serve. Our courts have their faults, as does any human institution, but in this country our courts are the great levelers, and in our courts all men are created equal.

"I'm no idealist to believe firmly in the integrity of our courts and in the jury system-that is no ideal to me, it is a living, working reality. Gentlemen, a court is no better than each man of you sitting before me on this jury. A court is only as sound as its jury, and jury is only as sound as the men who make it up. I am confident that you gentlemen will review without passion the evidence you heard, come to a decision, and restore this defendant to his family. In the name of God, do your duty."

Kalo gue jadi jurinya, gue udah langsung milih nggak bersalah. Ya, ampun. Atticus ngomongnya mantep abis. Hahahaha...

Jadi, ternyata ceritanya bukan tipe rame yang ada klimaksnya. Ceritanya datar namun sarat akan makna. Gue rasa itulah yang membuat novel ini memenangkan penghargaan Pulitzer dan dikatakan sebagai a book adults should read before they die melebihi Bible.

Segalanya berupa prasangka. Orang mengikuti trend, gosip, dan apa kata orang. Pada akhirnya si negro tetap dijatuhi hukuman sekalipun jelas sekali dia tidak bersalah. Karena apa? Karena dia negro, tidak ada alasan lain. Orang kulit putih selalu menang, pokoknya. 

Prejudice.

Seperti Boo Radley yang dianggap jahat oleh Scout di awal-awal. Tapi ternyata Boo yang nanti menyelamatkan nyawanya dan kakaknya.

Judulnya sangat cocok sebenernya. To Kill A Mockingbird. Hanya saja kita perlu menelaahnya sendiri apa atau siapa Mockingbird ini. Mockingbird menggambarkan innocent people. Bisa saja yang dimaksud Harper Lee adalah anak-anak (Jem, Scout, dan Dill) atau orang negro yang tak bersalah itu.

“Mockingbirds don't do one thing but make music for us to enjoy . . . but sing their hearts out for us. That's why it's a sin to kill a mockingbird.”

Great job for Harper Lee! 

Dreamer wanna see a mockingbird... hmmm...


:)

1 comment:

  1. I liked this book too!
    Atticus Finch rocksss.

    ReplyDelete