Monday, 13 August 2018

A Court of Wings and Ruins


Judul : A Court of Wings and Ruins (A Court of Thorns and Roses #3)
Penulis : Sarah J. Maas
Tebal : 699 halaman
Penerbit : Bloomsbury Children Books

Feyre has returned to the Spring Court, determined to gather information on Tamlin's manoeuvrings and the invading king threatening to bring Prythian to its knees. But to do so she must play a deadly game of deceit – and one slip may spell doom not only for Feyre, but for her world as well.

As war bears down upon them all, Feyre must decide who to trust amongst the dazzling and lethal High Lords – and hunt for allies in unexpected places. 


Review:
Warning: Spoiler!

Karena saya suka banget dengan buku keduanya, saya langsung membaca buku ini. Saya ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Saya melahap sepuluh bab pertama buku ini dengan sangat cepat. Saya suka angst di antara Lucien dan Feyre. Lucien merasa Feyre berbohong dan sedang bersandiwara. Bahwa Feyre tidak mengalami amnesia sama sekali. Tapi Feyre bersikap seperti perempuan lemah tak berdaya yang masih jatuh cinta pada Tamlin. Padahal di dalam pikirannya ia sedang merencanakan pembalasan dendam. Ia ingin menghancurkan Tamlin.

Yang saya suka dari bagian pertama itu adalah kesan bahaya dan sembunyi-sembunyi di antara setiap tokohnya. Selain itu, saya juga suka Julian. Tokoh psikotik ini membuat semuanya jadi menarik. Apalagi setelah saya tahu apa tujuan yang diinginkannya. Sayangnya, karena buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Feyre, Tamlin terkesan sangat buruk. Padahal saya tahu pasti Tamlin punya sudut pandangnya sendiri. Tidak mungkin dia sepenuhnya berubah total menjadi jahat. Masa dia sebodoh itu dan tidak bisa melihat betapa manipulatifnya Ianthe? Oh, ya. Ianthe itu nyebelinnya bukan main. Rasanya saya pengen nyekek dia. Jijay banget, dah. Sok cantik, pintar bersandiwara, pura-pura lemah, dan senang mempermainkan cowok. Sikapnya ke Lucien bikin saya eneg.

Pokoknya Feyre nantinya berhasil kabur bersama Lucien. Saya suka bagian perjalanan antara dua orang ini. Soalnya mereka melewati Autumn dan Winter Court. Saya jadi bisa melihat deskripsi tempat lain di dunia Prythian yang keren itu. Satu-satunya yang mengganjal cuma bagian kekejaman Feyre kepada Ianthe. Agak tidak sesuai dengan karakter. Terlalu mengingatkan saya pada Celaena di Throne of Glass. Padahal sifat mereka berbeda.

Lalu Feyre kembali ke Night Court dan bertemu kembali dengan Rhysand. Semuanya baik-baik saja sekalipun perang mengancam di sekitar mereka. Selain itu, ada yang harus didiskusikan dengan para High Lord dari Court yang lain. Strategi, kerja sama, dan sebagainya. Dan saya harus jujur, bagian ini sangatlah membosankan dan kacau. Rasanya seperti karya yang belum diedit dan mentah. Banyak kalimat yang redundant, diulang-ulang sampai saya kesal sendiri. Terutama rasa memuja Feyre ke Rhysand. Saya tahu Rhysand keren, tapi saya rasa tidak perlu menyebutkan semua kehebatannya setiap kali Rhysand disebut. Bahkan dialog keren yang diucapkan Rhysand di buku kedua juga tidak perlu disebutkan berkali-kali. Justru itu menjatuhkan respek saya terhadap si Feyre. Fanatik amat sih ini orang sama si Rhysand. Mereka berdua terlalu cheesy di sini. Padahal saya suka dialog cheesy.

Terus bagian rapat seluruh High Lord di Dawn Court. Saya merasa bagian ini terlalu dramatis dan kekanak-kanakan untuk ukuran High Lord yang sudah berusia ratusan tahun. Rapatnya kebanyakan drama. Tamlin dan Feyre beradu mulut tanpa malu di depan semua High Lord. Ya, ampun. Tidak berkelas sama sekali. Rapat tersebut kan tentang perang. Kenapa ngomongin soal patah hati segala sih?

Masih ada soal Morrigan. Maaf saja. Sikapnya terhadap Azriel terlalu jahat. Mana ada orang menggantungkan perasaan seperti itu selama ratusan tahun? Tanpa penjelasan sama sekali. Malah, dia tidur sana sini di depan muka Azriel sebagai jawaban. Pasif agresif sekali ya. Umur berapa sih ini orang?

Dan yang terakhir bagian perang. Semua keren. Setiap pihak digambarkan dengan sangat baik. Sihir melayang, orang-orang mati, dan sebagainya. Tapi hebatnya, semua tokoh penting tidak ada yang mati. Tidak ada konsekuensi, bahagia selamanya. Apa gunanya membangun konflik perang yang bisa dimenangkan dengan mudah seperti itu? Dan ternyata tujuannya karena masih ada tiga buku tambahan. Seri ini bukan lagi trilogi. Tapi tetap saja. Setidaknya ada High Lord yang mati atuh.

Sayang sekali. Seri ini lumayan bagus, tapi dirusak di buku ini. Saya tidak ada masalah dengan penulis yang senang menambahkan ide di tengah jalan untuk memanjang-manjangkan ceritanya. Tapi setidaknya jangan asal seperti ini. Seharusnya lebih direncanakan supaya tidak kacau dan acak-acakan. Saya cuma suka bagian awal buku ini dan Lucien. Bagian Lucien dan Elaine cukup menarik. Saya juga masih suka sama Cassian dan Azriel. Cuma saya agak kecewa dengan Cassian yang ternyata suka sama Nesta yang sifatnya super aneh itu. Pemarah akut tanpa ada penjelasan. Setidaknya kalau ingin membuat cerita yang seluruh tokohnya berpasangan, tolong bikin hubungan yang lebih believable.

Ah, pokoknya saya kesal karena buku ini tidak sesuai dengan harapan. Saya masih akan baca lanjutannya karena saya tipe pembaca yang harus menamatkan seri apa pun yang sudah saya mulai. Tapi saya tidak akan berharap tinggi lagi. 

3/5

No comments:

Post a Comment