Saturday, 25 April 2015

The False Prince


Judul : The False Prince (The Ascendance Trilogy #1)
Penulis : Jennifer A. Nielsen
Tebal : 352 halaman
Penerbit : Scholastic

In this first book in a remarkable trilogy, an orphan is forced into a twisted game with deadly stakes.

Choose to lie...or choose to die.

In a discontent kingdom, civil war is brewing. To unify the divided people, Conner, a nobleman of the court, devises a cunning plan to find an impersonator of the king's long-lost son and install him as a puppet prince. Four orphans are recruited to compete for the role, including a defiant boy named Sage. Sage knows that Conner's motives are more than questionable, yet his life balances on a sword's point -- he must be chosen to play the prince or he will certainly be killed. But Sage's rivals have their own agendas as well.

As Sage moves from a rundown orphanage to Conner's sumptuous palace, layer upon layer of treachery and deceit unfold, until finally, a truth is revealed that, in the end, may very well prove more dangerous than all of the lies taken together.

An extraordinary adventure filled with danger and action, lies and deadly truths that will have readers clinging to the edge of their seats.

Review:
Wah, saya nemu lagi buku fantasi yang beneran saya suka. The False Prince boleh dibilang cerita yang sangat klasik buat saya karena saya selalu suka jenis cerita yang tokohnya menyamar. Entah itu perempuan menyamar jadi laki-laki, saudara kembar berganti peran, ataupun menyamar jadi seseorang yang katanya telah meninggal. 

Sage tinggal di panti asuhan yang sangat pelit terhadap anak-anaknya. Ibu panti asuhan tidak menyukainya karena kebandelan dan sifat pembangkangnya. Sage suka mencuri dan jago sekali dalam bidang itu. Ia juga suka berbohong dan bersikap seenaknya. 

Suatu hari, ia ditangkap oleh Connor. Connor adalah seorang bangsawan minor yang berada dalam jejeran penasehat kerajaan. Ia membeli Sage dari si ibu panti asuhan untuk tujuan terselubung. 

Sage tidak suka dibeli. Ia mengira akan dijadikan budak sehingga ia ingin kabur saja demi bisa bebas dari cengkeraman orang lain. Ia diikat, sementara ketiga anak lainnya tidak. Tapi saat salah satu anak itu dibunuh di depan matanya, ia pun mulai diam dan memperhatikan. Ia ingin tahu apa yang diinginkan Connor dari mereka bertiga. 

Tanpa sepengetahuan rakyat, raja, ratu, dan putra mahkota sudah meninggal karena dibunuh dengan racun. Demi mencegah keributan, para bangsawan ingin memastikan dulu kalau adik putra mahkota yang dikira meninggal empat tahun lalu itu benar-benar sudah meninggal. Connor sudah punya bukti kalau adik putra mahkota yang bernama Pangeran Jaron itu memang sudah meninggal. Tapi dia ingin bukti itu dipalsukan. Dia ingin mempersembahkan seorang pangeran palsu yang bisa dijadikan boneka. 

Sage dan dua anak lainnya berusia mirip dengan Pangeran Jaron. Mereka juga punya perawakan yang mirip. Tapi mereka butuh ajaran lebih dalam etiket kerajaan, bertarung, sejarah, membaca, serta menulis. Connor hanya akan memilih satu saja dan dua anak lainnya akan dibunuh.

Sebenarnya sih ceritanya sederhana. Bahkan twist-nya juga nggak hebat banget sampai bikin saya terkaget-kaget. Cuma saya ini memang pada dasarnya suka tokoh pencuri, apalagi yang bajingan kayak si Sage. Ampun, deh. Mulutnya itu pintar banget kalau ngomong. Bohongnya juga lancar banget. Anak kurang ajar, memang. Pokoknya saya tertawa terus tiap dia mengelak dari setiap tuduhan. Saya pikir dia beneran nggak melakukan semua hal yang dituduhkan, tapi ternyata dia memang melakukannya. Mencuri barang-barang penting milik Connor, tidak pernah memperhatikan pelajaran, keluyuran sesukanya, dan jago akting. Lengkap sudah. Tipe karakter favorit saya banget. Hahaha... Keren amat sih si Sage. 

Intinya, saya kasih buku ini lima bintang karena si Sage. Ceritanya juga bagus sih. Tapi lebih karena ada Sage-nya. Hihi... Saya mau fan-girling, tapi karena Sage umurnya 15 tahun... Nggak jadi, ah. Berondong, lol. 

5/5

2 comments:

  1. Sage emang annoying, tandingannya si jin Barty. Entah bagaimana kalau mereka ketemu secara mereka berdua mulutnya sama-sama "nyablak" tapi juga sama-sama cerdik.

    Tanggung nih tinggal buku ke-3nya yg belum ada terjemahannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, jadi penasaran baca si Jin Barty itu... Belum pernah baca, padahal udah lama punya bukunya...

      Hihi... seperti biasa, saya kalo kepepet langsung beli edisi aslinya...

      Delete