Sunday, 8 March 2015

One Hundred Years of Solitude


Judul : One Hundred Years of Solitude
Penulis : Gabriel Garcí­a Márquez
Tebal : 422 halaman
Penerbit : Penguin Books

'MANY YEARS LATER, AS HE FACED THE FIRING SQUAD, COLONEL AURELIANO BUENDÍA WAS TO REMEMBER THAT DISTANT AFTERNOON WHEN HIS FATHER TOOK HIM TO DISCOVER ICE'

Pipes and kettledrums herald the arrival of gypsies on their annual visit to Macondo, the newly founded village where José Arcadio Buendía and his strong-willed wife, Úrsula, have started their new life. As the mysterious Melquíades excites Aureliano Buendía and his father with new inventions and tales of adventure, neither can know the significance of the indecipherable manuscript that the old gypsy passes into their hands.

Through plagues of insomia, civil war, hauntings and vendettas, the many tribulations of the Buendía household push memories of the manuscript aside. Few remember its existence and only one will discover the hidden message that it holds...
 


Review:
Hal paling menarik dari buku ini adalah judulnya. Saya membayangkan kesepian dan kesendirian seperti apa yang bakal dialami tokohnya. Kebetulan saya suka nuansa buku yang lonely dan lost.

Tapi saya tidak menyangka kalau buku ini bertema magical realism. Saya memang tidak begitu pemilih dalam hal genre novel kalau menyangkut karya fiksi. Itu karena saya belum berpetualang dengan banyak genre di luar sana. Saya hanya tahu kalau saya tidak suka genre horor, weird fiction, dan tema alien. Saya baru baca satu buku bergenre magical realism, yaitu Of Bees and Mist karya Erick Setiawan. Saya tidak begitu suka sih walau masih oke. Tapi setelah saya baca One Hundred Years of Solitude ini, saya tahu kalau magical realism bukanlah bacaan saya. Fantasi bukan, realistik bukan, nanggung di tengah. 

Untuk ceritanya sendiri, saya suka sekali. Cerita tentang keluarga dari beberapa generasi memang salah satu jenis cerita favorit saya. Soalnya ada banyak tokoh dan semuanya pasti beda-beda sifatnya. Asyik saja melihat variasi manusia dalam satu keluarga. Di luar elemen magisnya yang aneh, ceritanya bagus. Banyak intrik dan drama. Yes, drama, Baby!

Setting cerita bertempat di Kota Macondo, kota fiksi bikinan si penulis. José Arcadio Buendía dan istrinya Úrsula merupakan salah satu warga perintis kota itu. José Arcadio Buendía terpesona dan terobsesi dengan segala hal mengenai pengetahuan kaum gipsi setelah berkenalan dengan Melquíades. Ia senang mengurung diri di tempat kerjanya demi mempelajari ilmu itu dan mengabaikan keluarganya. 

Úrsula kesal pada suaminya yang agak kurang waras itu. Ia terpaksa mengurus hal-hal di rumah sendirian. Mereka punya tiga anak: Aureliano Buendía, José Arcadio, dan Amaranta. Masing-masing anak ini akan tumbuh dengan sifat dan nasib yang berbeda-beda. Aureliano menjadi tentara, José Arcadio mengembara entah ke mana, dan si lembut Amaranta tumbuh menjadi wanita yang takut berkomitmen dengan pria manapun. 

Saya menikmati semua kejadian yang terjadi di keluarga ini. Saya bahkan ikut merasa sedih saat salah satu anggota keluarga meninggal. Memang, saya tidak menyukai sebagian besar tokohnya karena keanehan mereka. Atau mungkin juga karena elemen magis yang melekat pada mereka. Tapi saya menyukai Úrsula yang kuat dan mandiri walau ia buta perlahan-lahan. Saya kasihan melihat dia jengkel dan tak berdaya menghadapi kegilaan semua keturunannya. Saya juga cukup suka dengan Pilar Ternera, seorang pelacur yang sempat melahirkan anak dari Aureliano Buendía dan José Arcadio. Dia memang sinting karena berhubungan dengan dua kakak beradik, tapi hatinya baik dan tegar.

Keluarga Buendía semuanya adalah kaum yang ditakdirkan sendirian. Entah karena obsesi ilmu pengetahuan, takut berkomitmen, anak haram yang dikucilkan, mengembara sendirian, menjadi pastor, dll. Setiap tokoh terkadang membuat saya kesal karena keputusan mereka yang aneh dan tidak masuk akal. Mungkin yang paling menyebalkan buat saya adalah keturunan terakhir yang bernama Aureliano. Dia melakukan hubungan inses dengan bibinya sendiri. Ih, jijay! 

Endingnya membuat saya merinding. Perkamen yang ditulis Melquíades dan diterjemahkan oleh Aureliano terakhir itu beneran bikin saya kaget. Wow! 

"...because races condemned to one hundred years of solitude did not have a second opportunity on earth."

Nama-namanya agak bikin bingung karena pengulangan dari semua nama di atas. Tapi saya salut sama penulisnya. Memangnya dia nggak pusing ya bikin tokoh yang namanya mirip-mirip tanpa tertukar? 

Saya memang tidak suka dengan elemen magis di novel ini. Wabah insomnia, wujud arwah Melquíades yang bisa dilihat, kegemaran memakan tanah dan cat tembok putih, membiarkan orang gila hidup terikat di bawah pohon, pembunuhan ribuan orang yang tidak disadari siapapun kecuali satu orang... Pokoknya bagian itu terlalu aneh buat saya. Di luar itu semua, cerita ini bagus dan memang pantas dihadiahkan Nobel. Tapi bukan tipe bacaan favorit saya.

3/5

5 comments:

  1. Hallo kak,
    Magical realism emang nanggung banget sih, ibaratnya mau bikin fantasy tapi gagal (lol). Tapi aku suka sih, macam Midnight's Children-nya Salman Rushdie.

    Jadi pengen baca yang ini, sepertinya ceritanya seru. 0_0

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, fantasi gagal ya... Soalnya kalo aneh, mending aneh sekalian :) Kalo suka magical realism, harus coba baca ini. Seru sih sebenernya...

      Delete
  2. Semakin mantap ingin baca buku ini dalam waktu dekat.
    Salam kenal mbak Sabrina.
    @h23bc

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga, steven :) Yay, semangat bacanya

      Delete
  3. Wah ini salah satu buku terbagus yang pernah saya baca. Endingnya bikin melongo. saya sendiri masih merasa sedih karena Marquez sudah tiada :(

    Saya paling senang ketika Ursula mengamuk saat (cucunya? lupa ) sok-sok menjadi diktator lokal. Walaupun adegannya intens dan jauh dari lucu, mau nggak mau saya cekikan juga.

    Kebetulan saya suka sekali dgn magical realism. Kalo mau yang lebih ringan buat "snack", buku-buku karangan Sarah Addison Allen juga bagus :)

    Salam kenal ya mbak Sabrina!

    ReplyDelete