Wednesday, 12 November 2014

The Maze Runner


Judul : The Maze Runner (The Maze Runner #1)
Penulis : James Dashner
Tebal : 375 halaman
Penerbit : Delacorte Press

If you ain’t scared, you ain’t human.

When Thomas wakes up in the lift, the only thing he can remember is his name. He’s surrounded by strangers—boys whose memories are also gone.

Outside the towering stone walls that surround the Glade is a limitless, ever-changing maze. It’s the only way out—and no one’s ever made it through alive.

Then a girl arrives. The first girl ever. And the message she delivers is terrifying.

Remember. Survive. Run.


Review:
Saya pertama kali sadar soal seri ini sewaktu filmnya ditayangkan di bioskop. Pokoknya waktu saya dengar judulnya, saya langsung tahu ada bukunya. Pernah lihat gitu di toko buku.  Tapi saya memutuskan untuk nonton filmnya dulu. 

Ternyata filmnya rame dan ada Thomas Brodie Sangster, hihi... Tapi saya memiliki banyak pertanyaan sewaktu nonton dan saya pun langsung membeli bukunya demi tahu cerita selengkapnya.

Adegan buku dimulai persis seperti filmnya sewaktu Thomas berada di dalam lift yang sedang naik. Ia tidak ingat apa-apa selain namanya. Saat lift berhenti dan terbuka, ia bertemu dengan muka-muka asing yang tak dikenalnya. Mereka semua anak laki-laki dan mereka tinggal di sebuah tempat bernama Glade. 

Glade adalah area yang terletak tepat di tengah sebuah labirin besar. Di situlah semua anak melakukan kegiatannya sesuai profesi masing-masing. Mereka menanam makanan mereka sendiri, punya pejagalan binatang, memasak, membangun rumah mereka dari kayu-kayu yang dikumpulkan dari hutan, dan hidup terisolasi. Aturannya cuma satu. Tidak ada yang boleh masuk ke dalam labirin lewat gerbang yang terbuka di keempat sisi mata angin kalau tidak mau dibunuh Griever, semacam monster mekanik yang berbentuk seperti laba-laba berduri dan berjalan dengan menggelinding. 

Tidak seperti anggota Glade lainnya, Thomas sangat penasaran dengan apa yang ada di dalam labirin dan ingin mencari jalan keluar. Ia tidak ingin terjebak terus di dalam sana. Setiap kali ia bertanya, semua orang tidak mau menjawabnya dengan detail. Itu membuat Thomas kesal. Saya juga kesal karena merasa ikutan nggak diwaro. Satu-satunya kesempatan untuk menyelidiki adalah dengan menjelajahi labirin. Thomas pun memutuskan untuk menjadi pelari labirin atau Maze Runner. Namun menjadi Runner itu tidak gampang, ia harus menjadi yang terbaik dari yang terbaik. 

Di Glade, Thomas berteman dengan Chuck, si anak culun yang kerjanya menjadi pesuruh. Walaupun ia terkadang jengkel dengan kepasrahan Chuck, Thomas tetap menganggap Chuck anak yang baik. Ia juga berkenalan dengan ketua para anggota Glade, Alby dan wakilnya, Newt. Selain itu, ada Minho si ketua Runner yang bicaranya kasar dan blak-blakan. 

Thomas mulai diperhatikan para anggota Glade saat ia nekad menembus labirin tepat sebelum pintunya tertutup di malam hari. Ia tidak tega meninggalkan Minho dan Alby yang tidak sempat kembali ke tempat aman. Alby terluka oleh sengatan Griever dan tak sadarkan diri. Minho pun memarahi kebodohan Thomas yang tidak takut mati. Sementara Minho berlari mencari persembunyian, Thomas mencoba menarik Alby ke tempat aman. Ia pun dikejar-kejar oleh Griever di dalam labirin itu.

Thomas selamat padahal selama ini semua orang beranggapan tidak ada satu orang pun yang bisa hidup setelah satu malam di dalam labirin, terutama seorang anak baru seperti Thomas. Ia pun dipromosikan Minho menjadi seorang Runner sekalipun ada beberapa orang yang menentangnya. Salah satunya, Gally. Gally tidak menyukai Thomas sejak awal karena dia pernah disengat Griever dan disembuhkan dengan penawar racun. Semua orang yang pernah disengat Griever berarti menjalani proses menyakitkan yang disebut Changing. Mereka akan mengingat beberapa masa lalu mereka yang dulu. Dan menurut Gally, Thomas adalah salah satu orang yang menaruh mereka semua dalam labirin mengerikan itu. 

Di saat segalanya kacau itulah, seorang anggota baru didatangkan lewat lift. Seharusnya anggota baru hanya datang sebulan sekali. Dan ternyata yang datang itu adalah seorang anak perempuan. Di tangan anak perempuan itu ada sebuah catatan yang bertuliskan kalau dia adalah yang terakhir untuk selamanya. 

Saya bisa mengisahkan semuanya sampai akhir tapi itu akan merusak misterinya. Buku dan film sangat berbeda. Menurut saya, bukunya jauh lebih seram, lebih tegang, dan lebih kejam. Jalan keluar mereka di buku memang tidak sekeren di film, namun lebih tidak manusiawi. Intinya, mereka yang bisa keluar adalah yang terbaik dan terhebat.

Saya suka ceritanya. Tapi saya tidak suka Thomas karena kurang punya karakter dan memang terkesan agak seperti Gary Stu. Semua orang langsung suka sama dia dan mendukungnya tanpa alasan yang kuat. Saya juga tidak bisa merasakan bond persahabatan antara dia dengan Chuck, Minho, Newt, ataupun Teresa. Saya malah suka Minho dan Newt. Minho yang blak-blakan dan fair, Newt... karena yang main di film adalah Thomas Brodie Sangster dan karena dia baik. 

Cara penulisan James Dashner cukup sederhana dan tanpa basa-basi. Enak dibaca walaupun saya merasa emosinya kurang digali. Saya tidak menangis saat salah satu tokohnya mati. Mungkin karena tokoh utamanya cowok kali ya. Kurang emosinya gitu. Saya nggak bisa simpati sama tokoh-tokohnya. Dan yang bikin kesal adalah kemampuan telepati antara Thomas dan Teresa. Aneh banget.

Oh, ada satu hal yang lucu. Glade punya bahasa sendiri. "Fuck" jadi "shuck" dan kosa kata Minho penuh dengan kata ini. Tapi yang paling lucu adalah "klunk" yang artinya "shit". Coba saja dengarkan bunyi tahi kalau kecemplung ke air, bunyinya pasti klung klung klung. Haha... "Klunk" jadi kata favorit saya sekarang. (I'm weird, I know)
Saya penasaran sekali sama lanjutannya. Masih banyak yang belum terjawab di buku ini. 

4/5

No comments:

Post a Comment