Friday, 8 November 2013

Phantom of The Opera


Judul : Phantom of The Opera
Penulis : Gaston Leroux
Tebal : 376 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Erik, sang hantu Opera, meneror Opera Paris dengan ancaman pemerasan selama bertahun-tahun. Sosok jenius yang tersiksa dalam keburukrupaannya ini jatuh cinta pada Christine, penyanyi opera yang cantik dan bersuara emas. Kehadiran Raoul, sang viscount yang tampan, membuat Erik sadar bahwa Christine takkan pernah membalas cintanya dan membuat cinta Erik berubah menjadi obsesi yang mematikan.

The Phantom of the Opera adalah novel legendaris dalam sastra gotik dunia sepanjang abad ke-20. Kisah cinta segitiga antara Erik, Christine, dan Raoul sudah diadaptasi ke dalam berbagai bentuk seni teater dan seni visual. Namun karya aslinya yang pertama kali terbit dalam bentuk novel pada tahun 1910 ini jauh lebih gelap dan kompleks dibanding yang ditampilkan dalam film maupun teater musikalnya. 

Seratus tahun lebih sejak pertama kali terbit, The Phantom of The Opera yang ber-setting di salah satu gedung termegah dan terindah di Paris ini masih menggugah hati pembacanya dalam kisah yang menyayat hati tentang hasrat manusia, teror, dan cinta.


Review:
Saya lebih dulu menonton filmnya baru membaca bukunya. Terus-terang saya nggak ngerti sama filmnya (eaaaa), cuma tahu kalau lagunya bagus. Begitu saya baca buku ini, saya baru tahu jalan ceritanya. 

Cerita ini ditulis dari sudut pandang penulis. Dia menuliskan semua data dan informasi yang ia dapatkan berdasarkan penelitiannya tentang si hantu opera. Karena semuanya murni dari penelitian, kisah ini terkesan melompat-lompat sesuai dengan cerita dari para narasumber. 

Sebenarnya menurut saya cerita ini lucu. Saya bisa membayangkan betapa bodohnya orang-orang teater yang percaya akan keberadaan hantu opera. Saking takutnya, para manajer menuruti permintaan si hantu untuk menyumbangkan uang untuk si hantu setiap bulannya. Para aktris saling bergosip dan melebih-lebihkan kisah si hantu. Bagian paling heboh adalah saat manajer opera diganti. Dua manajer baru itu tidak mau percaya soal si hantu dan mulai melanggar semua peraturan si hantu (si hantu mengirimkan surat misterius berisi undang-undang peraturan yang harus ditepati sekalian berkenalan). Tentu saja si hantu marah dan mulai meneror para manajer itu. 

Kisah cintanya sendiri tidak terlalu penting sih. Obsesi Erik terhadap Christine yang sangat lugu memang cukup banyak dibahas. Tapi menurut saya obsesinya kurang memberikan sensasi mengerikan. Saya bacanya santai-santai saja, tuh. Soal hubungan Raoul dan Christine... saya nggak gitu peduli. Soalnya ini bagian yang "keju" dan sangat jadul. Bahasanya berbunga-bunga dan bikin saya mengernyit geli. Hahaha...

Boleh dibilang, saya tidak menyangka novelnya seringan ini. Sangat menghibur, jauh dari kesan horor. Bahkan ada agen Persia segala. Beneran lebay dan asyik ceritanya. Saya agak kasihan sih sama si hantu yang jenius namun kesepian karena parasnya yang buruk rupa. Sayang gaya penceritaannya lucu, jadi saya nggak bisa nangis. 

4/5

No comments:

Post a Comment