Sunday, 18 October 2015

Panic


Judul : Panic
Penulis : Lauren Oliver
Tebal : 343 halaman
Penerbit : Hodder& Stoughton Ltd

Panic began as so many things do in Carp, a poor town of twelve thousand people in the middle of nowhere: because it was summer, and there was nothing else to do.

Heather never thought she would compete in panic, a legendary game played by graduating seniors, where the stakes are high and the payoff is even higher. She'd never thought of herself as fearless, the kind of person who would fight to stand out. But when she finds something, and someone, to fight for, she will discover that she is braver than she ever thought.

Dodge has never been afraid of panic. His secret will fuel him, and get him all the way through the game; he's sure of it. But what he doesn't know is that he's not the only one with a secret. Everyone has something to play for.

For Heather and Dodge, the game will bring new alliances, unexpected revelations, and the possibility of first love for each of them-and the knowledge that sometimes the very things we fear are those we need the most.

Monday, 12 October 2015

All Our Yesterdays


Judul : All Our Yesterdays
Penulis : Cristin Terrill
Tebal : 362 halaman
Penerbit : Bloomsbury Childrens

Em is locked in a bare, cold cell with no comforts. Finn is in the cell next door. The Doctor is keeping them there until they tell him what he wants to know. Trouble is, what he wants to know hasn't happened yet. 

Em and Finn have a shared past, but no future unless they can find a way out. The present is torture - being kept apart, overhearing each other's anguish as the Doctor relentlessly seeks answers. There's no way back from here, to what they used to be, the world they used to know. Then Em finds a note in her cell which changes everything. It's from her future self and contains some simple but very clear instructions. Em must travel back in time to avert a tragedy that's about to unfold. Worse, she has to pursue and kill the boy she loves to change the future.

Tuesday, 6 October 2015

Where Dreams Begin


Judul : Where Dreams Begin
Penulis : Lisa Kleypas
Tebal : 468 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Zachary Bronson telah berhasil mendapatkan kekayaan dan kekuasaan yang luar biasa, namun seisi London tahu dia berasal dari kalangan rendah, bukan pria terhormat. Zahchary memerlukan istri untuk menaikkan derajatnya di masyarakat - dan menemaninya di hidupnya. Dan sebuah ciuman menarik serta tak terduga dari Lady Holly Taylor membangunkan kebutuhan kuat dalam dirinya.

Holly adalah wanita terhormat yang sangat mematuhi tata krama masyarakat, sangat berbeda dengan Zachary. Namun Zachary memberikan tawaran menarik baginya, yang bisa menolong masa depan putrinya. Sayangnya, tawaran itu membuat status Holly dalam masyarakat terancam. Haruskah ia mengabaikan masa tawaran yang berawal dari ciuman terlarang... atau mempertaruhkan segalanya untuk mengikuti hatinya ke tempat yang menjadi awal mula mimpi?
 

Saturday, 3 October 2015

The Elite


Judul : The Elite (The Selection #2)
Penulis : Kiera Cass
Tebal : 323 halaman
Penerbit : Harper Teen

The Selection began with thirty-five girls. Now, with the group narrowed down to the Elite, the competition to win Prince Maxon's heart is fiercer than ever--and America is still struggling to decide where her own heart truly lies. Is it with Maxon, who could make her life a fairy tale? Or with her first love, Aspen, who she always thought was the one?

America is desperate for more time. But the rest of the Elite know exactly what they want--and America's chance to choose is about to slip away.

Tuesday, 29 September 2015

Between


Judul : Between
Penulis : Jessica Warman
Tebal : 437 halaman
Penerbit : Egmont Books

Elizabeth Valchar wakes up after spending her eighteenth birthday party on her family's yacht to investigate a thumping noise. What she finds will change everything she thought she knew about her life, her friends, and everything in between. As Liz begins to unravel the circumstances surrounding her birthday night, she will find that no one around her, least of all Liz herself, was perfect--or innocent. 

Friday, 25 September 2015

Rendezvous


Judul : Rendezvous
Penulis : Herika Angie
Tebal : 238 halaman
Penerbit : Kosa Media Utama

Bumi berhasil dan sukses sebagai penyanyi terkenal. Ia kaya dan bisa mendapatkan apa saja yang diinginkannya. Namun di hatinya yang terdalam, ia merasa belum puas karena ia tidak bisa melupakan masa lalunya.

Sembilan tahun yang lalu Bumi hanyalah anak tukang susu miskin yang berhasil masuk ke sekolah bergengsi dengan beasiswa. Ia hanyalah orang biasa yang sederhana. Ia tidak punya mimpi untuk menjadi terkenal sama sekali. Tapi demi seorang Senja, Bumi mulai mengharapkan sesuatu yang lebih. 

Lalu Senja pergi tanpa pamit, tanpa penjelasan. Hati Bumi berubah dingin. Ia bertekad menjadi orang kaya dan membuat Senja memohon untuk kembali padanya. 

Tapi sebenarnya, kenapa Senja pergi?

Sunday, 20 September 2015

Paper Towns


Judul : Paper Towns
Penulis : John Green
Tebal : 305 halaman
Penerbit : Speak

Quentin Jacobsen has spent a lifetime loving the magnificently adventurous Margo Roth Spiegelman from afar. So when she cracks open a window and climbs into his life—dressed like a ninja and summoning him for an ingenious campaign of revenge—he follows. After their all-nighter ends, and a new day breaks, Q arrives at school to discover that Margo, always an enigma, has now become a mystery. But Q soon learns that there are clues—and they're for him. Urged down a disconnected path, the closer he gets, the less Q sees the girl he thought he knew...


Review:
Sepertinya saya tidak cocok dengan karya John Green. The Fault in Our Stars yang sangat terkenal itu masih oke karena saya bisa merasakan nuansa sedih dan putus asa yang dihadapi kedua tokoh utamanya. Tapi Paper Town tidak bisa membuat saya betah menghadapi setiap karakternya.


Quentin Jacobsen seorang nerd. Dia tidak populer dan bergaul dengan kalangan yang juga tidak populer seperti dirinya. Sejak kecil ia menyukai tetangganya yang bernama Margo Roth Spiegelman. Tapi Margo populer dan gaul di sekolah sehingga mereka tidak lagi bersahabat seperti dulu. 

Suatu malam Margo datang ke kamar Quentin dan memintanya untuk menjadi supir. Margo ingin melakukan beberapa hal dan butuh bantuan. Quentin pun setuju. Tapi ia tidak menyangka kalau apa yang dilakukan Margo sangat berani dan melanggar peraturan.

Lalu esok harinya Margo menghilang. Quentin berpikir kalau mereka berdua akhirnya punya semacam ikatan setelah kejadian malam sebelumnya. Tapi tindakan Margo yang pergi tanpa pamit itu membuatnya kecewa dan juga penasaran. Menurut orang tua Margo, cewek itu memang sering pergi seenaknya dan membuat mereka cemas. Liar, begitu kata mereka. Quentin pun bingung karena merasa tidak mengenal Margo sama sekali. 

Tapi ternyata Margo meninggalkan petunjuk mengenai keberadaannya dalam bentuk teka-teki. Quentin pun menjadi obsesif ingin menemukan cewek itu. Bersama kedua temannya, mereka memecahkan kepergian Margo beserta alasannya.

Sekilas cerita ini seperti cerita misteri hilangnya seseorang. Tapi bukan itu isinya. Sebagian besar buku menceritakan kehidupan sehari-hari Quentin diselingi pencariannya atas Margo. Saya cukup menikmati humor Quentin dan teman-temannya yang super aneh dan nerdy. Saya bahkan tertawa setiap kali Ben membuka mulut. Lucu banget teman Quentin yang satu itu. Cacat. Saya juga suka Radar yang terkesan lebih bijaksana dan dewasa dibandingkan Quentin ataupun Ben. 

Sayangnya, semakin ke belakang saya semakin bosan. Karena apa tujuan buku ini? Diskusi filosofikah? Cerdas memang, tapi saya tidak melihat intinya begitu saya menamatkan ceritanya. Ending-nya tidak menekankan kesimpulan apa-apa. Saat akhirnya Quentin menemukan Margo, saya pun kesal. Astaga. Si Margo ini cewek gila atau apa? Apa sih maksudnya kabur dan bikin cemas orang-orang? Sangat tidak bertanggung jawab. Minimal tetap kasih kabar ke teman atau keluarga. Saya tahu kalau remaja butuh pencarian jati diri. Tapi menurut saya, bukan seperti itu caranya. Apalagi Margo sengaja melibatkan Quentin di awal dengan alasan yang nggak penting.

Not my cup a tea. Buku ini terlalu aneh dan mengawang-awang buat saya. Penuturannya cukup menarik, beberapa filosofinya cukup mengena, tapi sampai akhir saya tetap tidak bisa bersimpati dengan kedua tokoh utamanya. 

Btw, saya sepertinya bakal suka dengan kota kecil nan sepi yang didatangi si Margo. Saya memang punya impian tinggal di daerah suburban seperti itu. Mungkin saya harus kabur kayak si Margo gitu? #abaikan

2/5