Judul : Satine
Penulis Ika Natassa
Tebal : 330 halamana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
“I just need a proper date.”
“Saya cuma butuh teman bicara.”
Ada yang bilang hidup yang tertata sempurna ibarat makanan yang dikemas rapi. Semuanya tersusun pada tempatnya, cantik. Lalu, tanpa disangka terjadilah satu peristiwa, kemasan itu tersenggol, dan isinya berserakan di lantai.
Hidup yang selama ini dikenal Satine runtuh saat ia menyadari dirinya tidak lebih dari sekadar perempuan kesepian. Dalam kenekatan seseorang yang selalu bisa menyelesaikan apa pun dalam hidupnya, Satine menemukan solusi yang mempertemukannya dengan lelaki asing, Ash. Hubungan yang mereka mulai dengan keterikatan kontrak di atas kertas dan harus tunduk pada aturan, ternyata tunduk pada gejolak perasaan mereka sendiri. Lalu terjadilah peristiwa demi peristiwa yang menghadirkan pertanyaan: “Jika semua hal di muka bumi ini diatur oleh takdir, apakah pertemuan dan perpisahan juga harus takluk pada takdir?”
“Saya cuma butuh teman bicara.”
Ada yang bilang hidup yang tertata sempurna ibarat makanan yang dikemas rapi. Semuanya tersusun pada tempatnya, cantik. Lalu, tanpa disangka terjadilah satu peristiwa, kemasan itu tersenggol, dan isinya berserakan di lantai.
Hidup yang selama ini dikenal Satine runtuh saat ia menyadari dirinya tidak lebih dari sekadar perempuan kesepian. Dalam kenekatan seseorang yang selalu bisa menyelesaikan apa pun dalam hidupnya, Satine menemukan solusi yang mempertemukannya dengan lelaki asing, Ash. Hubungan yang mereka mulai dengan keterikatan kontrak di atas kertas dan harus tunduk pada aturan, ternyata tunduk pada gejolak perasaan mereka sendiri. Lalu terjadilah peristiwa demi peristiwa yang menghadirkan pertanyaan: “Jika semua hal di muka bumi ini diatur oleh takdir, apakah pertemuan dan perpisahan juga harus takluk pada takdir?”
Review:
Jujur saja, saya tidak pernah menyukai karakter yang diciptakan penulis satu ini. Yang saya suka adalah narasi dan diksi yang dipilihnya dalam menceritakan konsep hubungan manusia yang sederhana. Ada banyak quotes yang selalu mengena di hati.
Saya sangat tertarik membaca buku ini karena temanya kesepian. Saya selalu suka mengikuti karakter yang mengalami itu dan cara mereka menghadapi pikiran negatif. Seringnya saya mendapati kekuatan dan ketegaran dari karakter-karakter hebat seperti itu.
Buku ini dibuka dengan konsep itu. Seorang Satine yang menghadapi hidup dalam kesendirian di Jakarta. Karier sukses namun hidup penuh rasa sepi. Karena itulah dia ikut program dating dan bertemu dengan seorang pria kesepian yang butuh teman bicara juga bernama Ash.
Padahal semuanya sudah bermula dengan baik. Tapi tingkah dan sifat kedua orang ini benar-benar membuat saya tidak habis pikir. Sangat tidak dewasa dalam komunikasinya. Sebenarnya masuk akal sih. Kenapa mereka bisa kesepian? Pasti ada masalah dari cara komunikasi dan cara mereka bergaul, bukan? Tapi tetap saja. Saya tidak membaca buku untuk menemukan kasus dunia nyata yang penuh dengan hubungan kekanak-kanakan di mana dua orang yang terlibat di dalamnya tidak bisa mengutarakan perasaan sama sekali. Mereka sudah hampir 40 tahun, astaga. Kan jadi malas bacanya. Belum lagi Satine dan Ash itu bukan karakter yang menarik untuk diikuti. Karakternya kurang kuat.
Yah, tampaknya buku ini tidak sebagus premis awalnya.
2/5

No comments:
Post a Comment