Sunday, 22 October 2017

King's Cage


Judul : King's Cage
Penulis : Victoria Aveyard
Tebal : 507 halaman
Penerbit : Orion

Mare Barrow is a prisoner, powerless without her lightning, tormented by her lethal mistakes. She lives at the mercy of a boy she once loved, a boy made of lies and betrayal. Now a king, Maven Calore continues weaving his dead mother's web in an attempt to maintain control over his country—and his prisoner.

As Mare bears the weight of Silent Stone in the palace, her once-ragtag band of newbloods and Reds continue organizing, training, and expanding. They prepare for war, no longer able to linger in the shadows. And Cal, the exiled prince with his own claim on Mare's heart, will stop at nothing to bring her back.

When blood turns on blood, and ability on ability, there may be no one left to put out the fire—leaving Norta as Mare knows it to burn all the way down.


Review:
Tuh, bener kan? Ceritanya jadi lebih kompleks. Sekarang bukan hanya Mare yang punya porsi jadi narator. Masih ada Evangeline dan Cameron. Jujur saja, Mare memang bukan narator yang paling menarik. Dia membosankan dan selalu muram sepanjang waktu. Jadi, saya lumayan senang dengan keberadaan sudut pandang tokoh lain di buku ini.

Di akhir buku kedua, Mare ditangkap dan dipenjara oleh Maven. Tepatnya, Mare dirantai dan diawasi terus oleh pengawal yang bisa menihilkan kekuatan listriknya. Seperti boneka, kehidupannya di istana sangatlah monoton. Tidak ada kejadian yang berarti selain sosok Maven. 

Nah, saya tidak menyangka Maven adalah sosok yang sangat menarik. Sejak kecil dia selalu dipengaruhi oleh ibunya yang kejam. Semua perasaan yang dia rasakan selalu dimanipulasi dan dimatikan oleh ibunya itu. Maven tidak tahu apa itu yang namanya cinta, kasih sayang, kebencian, dan segala emosi yang dirasakan manusia normal lainnya. Tapi, dia terobsesi pada Mare. Dia tidak menyiksa Mare secara fisik, tapi mematikan mental Mare dengan mengontrol kekuatan listrik gadis itu. Dark sekali.

Di sisi lain ada Cameron yang sedang berada di pusat militer para pemberontak. Misi para pemberontak itu adalah membebaskan Mare dan berperang melawan Maven. Tapi tentu saja tidak sesederhana itu. Masih ada pihak Evangeline dan bangsawan darah perak lainnya yang ternyata punya keinginan berbeda dengan Maven.

Memusingkan dan rumit. Saya sampai tidak bisa menebak apa-apa. Saya tidak tahu ceritanya akan berkembang ke mana dan apa yang diinginkan setiap tokohnya. Semuanya berubah menjadi permainan. Dan yang paling bikin saya syok adalah pengkhianatan salah satu tokoh baik di akhir. Saya tidak menyangka sama sekali, walaupun sejak awal tokoh itu memang sangat abu-abu dan tidak jelas berada di pihak yang mana. Wow. 

Saya penasaran sama lanjutannya!!!

Ah, kesal. Saya tertipu. Saya tidak tahu kalau seri Red Queen ini ada empat buku. Saya kira ini buku terakhir. Jadi, saya masih harus menunggu buku terakhirnya yang baru terbit bulan depan. Damn!

4/5

No comments:

Post a Comment