Friday, 31 March 2017

Everything, Everything


Judul : Everything, Everything
Penulis : Nicola Yoon
Tebal : 310 halaman
Penerbit : Corgi Children

Madeline Whittier is allergic to the outside world. So allergic, in fact, that she has never left the house in all of her seventeen years. But when Olly moves in next door, and wants to talk to Maddie, tiny holes start to appear in the protective bubble her mother has built around her. Olly writes his IM address on a piece of paper, shows it at her window, and suddenly, a door opens. But does Maddie dare to step outside her comfort zone?


Review:
Wah, buku ini ringan sekali. Ada ilustrasi-ilustrasi unik di dalamnya. Saya juga bacanya cepat sekali. 


Awalnya, saya tertarik membeli buku ini karena premis di belakang bukunya. Kisah tentang cewek yang alergi pada seluruh dunia. Saya tidak pernah membaca tokoh pengidap SCID (Severe Combined Immunodeficiency). Dulu sewaktu saya kuliah, penyakit ini juga hanya dibahas sekilas. 

Saya tahu kalau ini buku romance remaja. Saya tidak masalah dengan Madeline yang jatuh cinta dengan Oliver, tetangganya. Saya lumayan suka dengan proses perkenalan dan hubungan mereka. Apalagi dibantu dengan ilustrasi unik di dalam buku ini. Saya juga tidak mempermasalahkan kegilaan Madeline yang memaksa ingin kabur untuk menikmati dunia bersama Oliver. Lagipula dia tinggal di dalam gelembung sepanjang hidupnya. Saya mengerti kalau dia ingin mengambil risiko demi sebuah kebahagiaan yang bebas. Walaupun... saya agak mengernyit saat Madeline dan Oliver akhirnya tidur bersama. Terlalu cepat dan tidak natural. Mungkin karena saya menganggap buku ini ringan dan cute, adegan serius itu jadi terkesan tidak serius. Bukannya romantis, malah rasanya seperti dipaksakan.

Dan lalu plot twist-nya. Saya tidak tahu kenapa penulis memilih ide itu. Buku ini spesial karena temanya. Tapi plot twist itu malah merusak semuanya. Buku ini jadi masuk ke dalam kategori romance remaja biasa. Saya tetap tidak bisa memahami kenapa seorang ibu bisa segila itu. Saya juga tidak bisa menerima sikap Madeline yang akhirnya seakan membuang ibunya begitu saja. Saya suka happy ending, tapi menurut saya cerita seperti ini jauh lebih bagus dimainkan ke arah sad ending. Lebih drama dan bakal lebih berkesan.

Jujur, saya kecewa dengan ending-nya. Oliver sejak awal bukan tokoh yang menonjol. Madeline di akhir juga sama. Dua-duanya tidak spesial dan mudah dilupakan. Saya lebih suka membaca prosedur rumit dalam menjaga kesehatan Madeline. Kunjungan dokter, rutinitas membosankan Madeline, serta interaksi Madeline dengan ibu dan perawatnya jauh lebih menarik daripada romance-nya.

2/5

1 comment: