Tuesday, 14 February 2012

The Mysterious Benedict Society and The Perilous Journey


Title : The Mysterious Benedict Society And The Perilous Journey 
(Mysterious Benedict Society #2)
Writer : Trenton Lee Stewart
Number of Page : 440
Publisher : Little, Brown Company

More adventures and riddles again. I was so excited meeting the children again.

One year had passed since the last adventure, the four children would meet again in Mr. Benedict's house. However, something happened. Mr. Benedict was captured by the evil Mr. Curtain. And only The Mysterious Benedict Society who could save him.

This time, we would get clues and riddles from Mr. Benedict himself. He had prepared presents for the four of them. And to find the presents, they had to solve the riddles. These riddles brought them to interesting yet dangerous journey.

Another warm story with great friendship morals. The book taught us how to appreciate other despite of their weakness. Recommended to all creatures in the world, haha...

4/5

Monday, 13 February 2012

The Fifth Mountain


Judul : The Fifth Mountain
Penulis : Paulo Coelho
Tebal : 320 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

The Fifth Mountain adalah karya ke-7 Paulo Coelho yang saya baca setelah The Alchemist, The Winner Stands Alone, Eleven Minutes, The Pilgrimage, By The River Piedra I Sat Down And Wept, dan The Zahir. Saya memang penggemar karya-karya penulis Brasil ini. Biasanya buku-bukunya berisi filsafat sederhana yang mendamaikan hati (euh, bahasanya berlebihan).

Buku ini sebenarnya bertema sederhana. Paulo Coelho hanya memodifikasi cerita Nabi Elia yang ada di alkitab dengan tambahan karakter-karakter. Kisah yang biasanya saya baca sambil-lalu-asal-tahu di alkitab bisa jadi satu buku yang keren banget nih. Ceritanya lumayan seru dengan bumbu cinta dan perseteruan antar orang-orang penting di Kota Akbar.

Cerita dibuka dengan Nabi Elia yang dikejar-kejar utusan Ratu Izebel yang kebetulan memerintahkan agar seluruh nabi dibinasakan. Si Ratu ini mau menjadikan Baal sebagai dewa-dewa Israel dan dia menolak Tuhan.

Singkat cerita, Elia sampai ke kota kecil bernama Akbar. Di sini dia ketemu janda beranak satu yang sangat miskin. Seperti dalam alkitab, janda itu akan memberi makan Elia dengan sedikit makanan yang dimilikinya. Namun, persediaan makanan itu tidak akan pernah habis.

Selain itu, ada juga kejadian mukjizat yang dilakukan Elia. Ia membangkitkan anak si janda dari kematian. Tapi seperti cerita lainnya, orang-orang tetap menolak Tuhan dan membenci Elia. 

Yah, karena saya sudah tahu ceritanya jadi saya cuma memperhatikan bagian modifikasinya saja. Tapi saya suka banget jadi saya kasih bintang empat deh.

"Kalau engkau tidak puas dengan masa lalumu, lupakanlah sekarang. Bayangkan sebuah kisah baru tentang hidupmu, dan yakinlah. Pusatkan pikiranmu hanya pada saat-saat engkau memperoleh apa yang kauidamkan. Kekuatan ini akan membantumu meraih yang kauinginkan."

4/5

Wednesday, 8 February 2012

The Mysterious Benedict Society


Title : The Mysterious Benedict Society (Mysterious Benedict Society #1)
Writer : Trenton Lee Stewart
Number of Page : 492
Publisher : Little, Brown Company

I just don't realize how I miss children books until I read this. It was a long time ago since I read children adventures like The Famous Five Enid Blyton and Roald Dahl's books. Then suddenly I picked this book and read it. And, wow! It was a wonderful, funny, and cute adventure.

Mysterious Benedict Society will amaze you who like riddles and brainstorming clues. And for myself, I love the characters because they are so cute. They are children after all.

The story started with Reynie Muldoon wanted to take a test for special kids. The test was posted in the newspaper and he wanted to try it. Well, the tests were so challenging and interesting. This was the best part of the book when Reynie met the other students who also passed the test. They were George "Sticky" Washington, Kate Wetherall, and Constance Contraire.

Actually, the test was brought by Mr. Benedict, a genious who suffered from narcolepsy (sleep suddenly without warning <--how strange is that?). He had detected a problem that happened across the country without anyone notice it. People were missing and no one knew about it. Mr. Benedict needed the four children to act as secret agents to go inside an academy in which he believed the prisoners were.

Then, the adventures began.

This book is very engaging. I keep wanting to know what happen next. And I like Constance because she was just so cute with her clumsiness and grumpiness. She was short and always left behind. I also like Reynie for his thoughtfulness. Even I like Kate for her dexterity and Sticky for his sticky mind. Ah, I just love the children. I want to hug them all. Kyaaaaaa!

Nice reading.

4/5

Saturday, 4 February 2012

How's Life?


Sebenernya judul post ini terinspirasi sama lagu Back To December-nya Taylor Swift. Tapi nggak ada hubungannya sama isinya sih. Jadi, nggak penting.

Tujuan saya tulis post ini karena saya tiba-tiba sadar kalau saya sudah lama nggak nulis apa-apa di blog selain review buku. Kan daripada bosen, saya tambah-tambah yang aneh.

Jadi, how's life?

Pertama, saya ganti template blog. Lagi. Soalnya udah bosen sama yang lama. Terus kan saya udah beres baca buku tentang vampir, jadi blognya nggak boleh gelap-gelap lagi dong. Nah, temanya kali ini adalah kayu. Kembali ke alam yang soothing dan mendamaikan hati (eaaaa). Ahay!

Sekarang karena saya lagi mau bikin final dissertation, saya bakal nggak update blog dulu deh. Mau konsentrasi dulu. Paling saya update buat utang novel yang belum di-review. Ada beberapa yang udah beres baca tapi belum dibikin review-nya.

Terus apa lagi ya? Oh, saya sekarang lagi les IELTS buat daftar sekolah lagi. Rencananya sih mau ambil master, tapi harus cari-cari beasiswa dulu. Ada yang mau nyumbang? (Kalimat terakhir nggak usah dibaca)

Sekian dulu deh. Saya kalau nulis beginian suka nulis yang aneh-aneh. Jadi, mending stop aja.

Buku yang bakal di-review selanjutnya :
1. Mysterious Benedict Society - Trenton Lee Stewart
2. The Fifth Mountain - Paulo Coelho
3. Mysterious Benedict Society And The Perilous Journey - Trenton Lee Stewart
4. Secret Garden - Frances Hodgson Burnett

Thursday, 2 February 2012

Warna Langit


Judul : Warna Langit (Color Trilogy #3)
Penulis : Kim Dong Hwa
Tebal : 322 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

"Betapa anehnya bagaimana pohon yang gundul ini bisa tampak rimbun dan indah hanya dengan seekor kupu-kupu hinggap padanya."

"Itu karena makhluk-makhluk hidup ini menunjukkan kasih sayang mereka satu sama lain. Apa gunanya mendandani penjaja keliling dengan pakaian sutra? Padanya, pakaian itu hanya seperti seutas tali yang tergantung dari tiang. Sebaliknya kalaupun kau hanya mendandaninya dengan kain compang-camping, sepanjang kau melakukannya dengan sepenuh perasaan dan kehangatan, maka dia akan memperoleh kekuatan dan tampak hidup."

Buku terakhir dari seri ini bercerita tentang penantian. Ehwa menanti Duksam dan ibu Ehwa menantikan si tukang gambar keliling. 

Di sini banyak sekali interaksi antara ibu dan anaknya. Saya bisa merasakan betapa sayangnya ibu Ehwa terhadap Ehwa. Dengan sabar, ia mendidik dan menasehati Ehwa untuk bersabar dalam penantiannya. Ibu Ehwa ini bener-bener penyayang dan juga bijaksana. 

Pernikahan Duksam dan Ehwa dilakukan secara adat Korea. Kita bakal bisa melihat adat kebudayaan Korea zaman itu. Terutama saya cukup takjub dengan tradisi bebek mandarin yang dilempar bisa menentukan jenis kelamin anak pertama. Ada-ada saja.

Tak hanya Ehwa, ibu Ehwa pun mendapat happy ending-nya sendiri bersama si tukang gambar. 

Betapa sederhana kehidupan zaman dulu. Perempuan hanya begitu saja. Pencapaian terbesar seorang wanita hanyalah menikah dan punya anak. Namun pencapaian terakhir bagi wanita adalah menikahkan anaknya sendiri. 

"Kurasa sudah menjadi takdir perempuan untuk selalu menunggu... Tak pernah kusadari bahwa akan datang suatu waktu ketika aku akan memandangi gerbang desa, menantikan putriku."

Untuk trilogi ini saya beri tiga bintang karena buku ini adalah novel grafis. Saya tetap lebih suka prosa soalnya dibandingkan komik/manga/manhwa. Tapi ceritanya keren banget!   

Color Trilogy :
3. Warna Langit

3/5

Wednesday, 1 February 2012

Warna Air


Judul : Warna Air (Color Trilogy #2)
Penulis : Kim Dong Hwa
Tebal : 320 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cerita berlanjut masih di kota kecil yang sama, Namwon. Ehwa kini sudah menjadi gadis remaja yang mulai centil dan iseng. Petualangannya bersama sahabatnya, Bongsoon bener-bener lucu. Apalagi Bongsoon itu suka sok tahu dan sok pintar soal masalah-masalah orang dewasa.

Setelah patah hati oleh dua orang laki-laki dulu, kini Ehwa bertemu seorang pegulat dan juga petani bernama Duksam. Pertemuan awal mereka cukup unik karena terjadi saat Ehwa sedang mandi (Alamak!!). Mereka jatuh cinta namun Duksam lebih berkonsentrasi bekerja keras untuk mencari uang agar bisa menikahi Ehwa.

Namun, bos sekaligus tuan tanah Duksam yang bernama Master Cho naksir Ehwa dan ingin menjadikan gadis itu istrinya. Master Cho tua ini datang ke makcomblang dan meminta bantuannya untuk menjodohkan dirinya dengan Ehwa. Bener-bener cara zaman dulu banget. Si makcomblang datang menawarkan sejumlah harta pada ibu Ehwa agar mau menikahkan anaknya dengan si Master Cho. Tentu saja ditolak.

Duksam yang tahu soal itu sangat marah. Ia memberontak hingga akhirnya dikejar-kejar pesuruh Master Cho, mau dibunuh. Duksam kabur dan ia meminta Ehwa menunggunya sukses supaya mereka bisa menikah.

Masih dengan gaya bahasa puitis dan vulgarnya, Kim Dong Hwa menyihir saya untuk masuk ke dalam dunia zaman dulu yang digambarkannya. Saya suka sekali dengan gambarnya.

3/5

Warna Tanah


Judul : Warna Tanah (Color Trilogy #1)
Penulis : Kim Dong Hwa
Tebal : 320 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Buku pertama dari novel grafis Korea ini bercerita tentang kehidupan wanita Korea zaman dulu. Setting bertempat di sebuah kota kecil bernama Namwon.

Kita akan dibawa melalui perjalanan Ehwa menuju kedewasaan. Bagaimana keluguan anak perempuan zaman itu dalam menghadapi banyak pertanyaan mengenai cinta dan seksualitas. Kebetulan ibu Ehwa adalah seorang janda yang memiliki kedai minum. Tamu-tamu pria di situ suka bicara vulgar dan seringkali Ehwa mendengarnya. Di situlah dimulai pertanyaan-pertanyaan Ehwa.

Ini hanyalah kehidupan sehari-hari Ehwa di kota kecil. Cinta pertama Ehwa pada biksu muda dan seorang putra terpelajar juga penantian ibu Ehwa akan cinta dari seorang tukang gambar yang senang berkelana...

Ceritanya sangat indah. Bahasanya sangat puitis dan banyak menyangkut tentang bunga. Di sini memang wanita digambarkan sebagai berbagai macam bunga. Lembut dan juga kuat. Rasanya seperti membaca sebuah karya seni yang sangat mendamaikan hati.

Saya paling suka bunga tiger lily dan bunga kamelia.

"Tiger lily adalah satu-satunya bunga yang senang hati menghadap ke arah matahari dan mekar meskipun tidak ada siapa-siapa di dekatnya untuk menyaksikan."
(menggambarkan si biksu muda yang hanya bisa dikagumi dari jauh)

"Kamelia benar-benar bunga yang tahan cuaca... Itu sebabnya kamelia juga bunga yang konyol-kamelia satu-satunya bunga yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Tak peduli betapa indah bunga kamelia menghias dirinya, tak satu pun kupu-kupu akan mendarat di atas kelopaknya bahkan sampai kuntum bunga terakhir telah merekah. Ketika kupu-kupu keluar, bunga-bunga ini sudah terlelap. Sebab hanya ketika kupu-kupu tertidur bunga-bunga ini menjadi hidup."
(diucapkan saat di biksu memutuskan cinta Ehwa~~ hebat bener diputusin pake puisi =.=)

Gambarnya cantik sekali. Saya serasa dibawa ke tempat pedesaan itu. Pemandangannya bagus banget, banyak pohon dan bunga-bunga yang mekar di tengah hujan musim semi.

Kekasihku tiba, tapi bukan menyambutnya,
Aku hanya bisa menggigit ujung celemekku dengan ekspresi hampa--
Betapa kikuknya diriku.

Hatiku merindukannya, sebesar dan senyalang bulan yang purnama
Namun aku malah menyipitkan mata, tatapanku
setajam dan setipis bulan sabit.

Namun bukan aku melulu yang bertingkah begini.
Ibuku dan ibu dari ibuku sama konyol dan canggungnya saat masih gadis...

Tapi cinta yang datang dari hatiku meluap-luap,
Seterang dan semerah besi panas dalam tungku pandai besi. (Kim Dong Hwa)

3/5