Showing posts with label Gayle Forman. Show all posts
Showing posts with label Gayle Forman. Show all posts

Wednesday, 5 November 2014

Just One Year


Judul : Just One Year (Just One Day #2)
Penulis : Gayle Forman
Tebal : 323 halaman
Penerbit : Dutton Books

When he opens his eyes, Willem doesn’t know where in the world he is—Prague or Dubrovnik or back in Amsterdam. All he knows is that he is once again alone, and that he needs to find a girl named Lulu. They shared one magical day in Paris, and something about that day—that girl—makes Willem wonder if they aren’t fated to be together. He travels all over the world, from Mexico to India, hoping to reconnect with her. But as months go by and Lulu remains elusive, Willem starts to question if the hand of fate is as strong as he’d thought. . . .

Wednesday, 29 October 2014

Just One Day


Judul : Just One Day (Just One Day #1)
Penulis : Gayle Forman
Tebal : 369 halaman
Penerbit : Random House

When sheltered American good girl Allyson "LuLu" Healey first meets laid-back Dutch actor Willem De Ruiter at an underground performance of Twelfth Night in England, there’s an undeniable spark. After just one day together, that spark bursts into a flame, or so it seems to Allyson, until the following morning, when she wakes up after a whirlwind day in Paris to discover that Willem has left. Over the next year, Allyson embarks on a journey to come to terms with the narrow confines of her life, and through Shakespeare, travel, and a quest for her almost-true-love, to break free of those confines.

Monday, 20 February 2012

Where She Went


Judul : Where She Went (If I Stay #2)
Penulis : Gayle Forman
Tebal : 240 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cover-nya nggak kalah bagus sama buku pertamanya. Great job, Gramedia!

Karena saya suka banget sama buku pertamanya, saya langsung baca buku ini. Penasaran banget. Kali ini cerita ditulis dari sudut pandang Adam Wilde, pacar Mia.

"Jika kau tinggal, aku akan melakukan apa saja yang kauinginkan. Aku akan berhenti main band, pergi bersamamu ke New York. Tapi jika kau ingin aku menghilang, aku juga akan melakukan itu. Aku tadi bicara dengan Liz dan dia berkata mungkin kembali ke kehidupan lamamu akan menyakitkan, bahwa mungkin akan lebih mudah bagimu jika menghapus kami dari kehidupanmu. Dan itu akan sangat menyebalkan, tapi aku akan melakukannya. Aku sanggup kehilangan kau seperti itu asalkan aku tidak perlu kehilangan dirimu hari ini. Aku akan melepaskanmu. Jika kau tetap hidup."

Permohonan Adam di saat Mia koma itulah yang akhirnya membuat Mia kembali. Dia hidup sekalipun harus mengikuti berbagai terapi fisik dan juga mental untuk menghadapi kehilangannya.

Pada awalnya Adam begitu takut menyentuh Mia. Dia begitu hati-hati melindungi Mia dari segala hal. Namun saat akhirnya mereka berpisah karena Mia harus ke New York untuk kuliah, Mia memutuskan hubungan mereka dengan dingin. Tanpa penjelasan dan pemberitahuan.

Perlakuan Mia yang kejam itu membuat Adam terpuruk. Dia akhirnya mengarang lagu satu album penuh. Dan dengan lagu itu ia membuat bandnya, Shooting Star terkenal dengan sangat cepat.

Namun Adam tidak puas dengan hidupnya. Ia berubah jadi bajingan yang suka mainin cewek, minum obat-obatan, dan bahkan dia sampai bermusuhan dengan anggota bandnya sendiri.

Sampai suatu hari ia bertemu lagi dengan Mia yang sedang konser di New York. Tiga tahun sudah berlalu. Keduanya sudah sukses di dunianya masing-masing. Adam sebagai gitaris band rock yang digilai para remaja dan Mia sebagai pemain cello muda yang berbakat. Mereka saling mengobrol, membicarakan masa lalu sambil berjalan-jalan menelusuri Kota New York di waktu malam.

Oke, saya punya banyak komentar untuk buku ini. Hahaha... Pertama, saya suka sekali tokoh Adam. Dia lemah, romantis, dan penyayang sekali. Dia tidak sempurna sekalipun di mata orang lain ia nampak sebagai sosok selebritis yang cukup hebat. Saya mengerti kenapa para pembaca banyak yang jatuh cinta dengan Adam. Narasinya begitu jelas menunjukkan betapa sakit hatinya dia saat Mia memutuskannya.

Beberapa kalimat yang membuat saya ikut sedih bersama Adam.

Saat bertemu pertama kalinya setelah tiga tahun berlalu :
...dan tiba-tiba saja dia ada di sana. Benar-benar ada. Daging dan tulang, bukan hantu. 
Naluri pertamaku bukanlah memeluknya atau menciumnya atau meneriakinya. Aku hanya ingin menyentuh pipinya, yang masih merah setelah pertunjukan tadi. Aku ingin menembus ruang yang memisahkan kami, yang hanya beberapa meter--bukan berkilo-kilometer, bukan di seberang benua, bukan tahunan--dan mengusapkan jemariku yang kapalan ke wajahnya. Aku ingin menyentuhnya untuk memastikan ini benar-benar dirinya, bukan salah satu mimpi yang sering sekali menghantuiku setelah dia pergi, mimpi ketika aku melihatnya sejelas pada siang hari, siap menciumnya dan merengkuhnya, lalu aku terbangun dan menyadari bahwa Mia berada di luar jangkauanku. 

Saat Mia memberitahu kalau dia benci Adam karena sudah memaksanya tinggal dengan kalimat janji yang diucapkannya saat dia koma :
Tapi aku akan melakukannya lagi. Aku tahu itu sekarang. Aku akan mengucapkan janji itu seribu kali dan kehilang dirinya seribu kali lagi demi mendengarnya bermain tadi malam atau menatapnya dalam cahaya pagi. Atau bahkan tanpa itu sama sekali. Hanya tahu bahwa dia ada di luar sana. Hidup.

Saat Mia tidak ingin keluarganya menonton konser Adam :
"Apa? Apa sih masalahnya?" aku bertanya.
Dia menggeleng. Bibir terkatup rapat.

"Ceritakan saja. Pasti tidak lebih buruk daripada yang kupikirkan, bahwa kau malu karena Shooting Star begitu jelek sampai neraka pun menolak kami."
Dia menggeleng lagi. "Kau tahu itu tidak benar. Hanya saja," dia berhenti, seakan mempertimbangkan keputusan besar. "Band. Ketika kau bersama band, aku sudah  merasa perlu membagimu bersama semua orang. Aku tidak ingin menambahkan keluargaku juga ke sana." Kemudian dia kalah dalam pertempuran dan menangis.
Seluruh kejengkelanku lumer. "Dasar anak tolol," aku membujuknya, mencium dahinya. "Kau tidak membagiku. Kau memilikiku."

You don't share me. You own me... 

Saya langsung kelepek-kelepek di situ. Hahaha...

Tapi... saya lebih suka buku pertama dibandingkan ini. Aneh, memang. Semua orang kebanyakan lebih suka buku kedua karena Adam-nya. Hanya saja saya merasa ceritanya membosankan. Sebagian besar isinya adalah tentang perasaan mellow si Adam dan keluhan-keluhan patah hatinya. Ya, saya tahu dia sedih. Tapi sudahlah, just get to the point already. (Jahat ya saya? T.T)

Belum lagi alasan Mia memutuskan Adam secara tiba-tiba itu. Ampun, deh. Nyebelin banget. Ngomong dong kalau nggak suka atau apalah. Jangan mendiamkan orang sembarangan, apalagi Adam kan pacarnya. Saya langsung nggak suka sama si Mia yang aneh ini.    

Untuk gaya penulisan, saya salut deh. Kerasa banget bedanya sama If I Stay. Jelas sekali narasinya sangat cowok, sama sekali nggak seperti narasi Mia. Keren banget.

Anyway, saya tetap cukup suka dengan ceritanya. Selain tokoh Adam-nya yang karakternya kuat banget, saya juga suka dengan lirik-lirik lagu ciptaan Adam yang ditulis di awal beberapa bab. Kalau album Collateral Damage itu beneran ada, saya yakin pasti langsung terkenal. Liriknya bo! Rimanya bagus, artinya sangat jelas penuh kemarahan, jenius lah pokoknya. Ekstra bintang buat lirik-lirik lagunya itu!

Seri If I Stay :
1. If I Stay 
2. Where She Went

4/5

If I Stay


Judul : If I Stay (If I Stay #1)
Penulis : Gayle Forman
Tebal : 200 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Pertama saya mau komentar soal cover-nya. Bagus banget sampai menggoda saya buat beli, padahal kalau dilihat dari sinopsis di belakang buku saya pikir saya nggak bakal suka sama buku ini.

Tapi gara-gara baca banyak review bagus soal buku ini, saya pikir coba deh. Siapa tahu beneran bagus.

Dan ternyata betul, lho. Saya suka banget buku ini.

Suatu pagi di musim dingin, Mia Hall harus menghadapi kenyataan kalau kedua orang tuanya dan adik laki-laki satu-satunya meninggal. Mereka berempat sedang tamasya keluarga bersama dan sialnya kecelakaan mobil harus merenggut orang-orang yang paling disayangi Mia.

Kebingungan, Mia dalam bentuk arwah menatap tubuhnya sendiri yang terluka parah. Mia asli yang koma memang tidak bisa apa-apa, tapi Mia arwah bisa menyaksikan semuanya. 

Selama satu hari penuh di rumah sakit itu, Mia arwah kembali berkelana mengingat masa lalunya dan pada akhirnya ia harus memilih... Haruskah ia tinggal atau pergi untuk selama-lamanya?

Menurut saya, cerita ini sangat unik. Memang idenya biasa saja, apalagi saya sempat tahu drama Korea berjudul 49 days yang konsepnya cukup mirip dengan ini : arwah pasien koma yang berkelana. Hanya saja saya harus memuji cara penulisan penulis yang rapi dan kata-katanya yang menyesakkan. Perpindahan antara kenangan masa lalu dan kejadian masa kininya begitu lancar sehingga saya bisa tenggelam masuk ke dalam ceritanya. 

Entah kenapa, saya iri pada Mia yang punya segalanya. Saya iri dengan kedua orang tuanya yang begitu pengertian dan dinamis (Saya tetap memilih orang tua saya sendiri, tentunya). Saya ingin sekali punya sahabat seperti Kim, setia dalam banyak hal kepada Mia. Saya juga ingin bisa seperti Mia, berbakat dalam bidang musik. Mia yang pandai bermain cello diterima di universitas musik terkenal, Juilliard. Selain itu, Mia punya pacar yang sangat baik bernama Adam.

Dengan kata lain, hidup Mia sangat sempurna sampai akhirnya kebahagiaan itu direnggut di hari bersalju itu.

Ada beberapa bagian yang membuat saya menangis parah. Salah satunya adalah bagian si Grandpa yang berkata pada Mia di saat koma :

"Tidak apa-apa,” katanya. “Kalau kau mau pergi. Semua orang ingin kau tinggal. Aku ingin kau tinggal lebih daripada apa pun yang kuinginkan di dunia ini.” Suaranya tersekat emosi. Dia berhenti, berdeham, menarik napas, dan melanjutkan. “Tapi itu kemauanku dan aku bisa mengerti mungkin itu bukan kemauanmu. Maka aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku mengerti jika kau pergi. Tidak apa-apa kalau kau harus meninggalkan kami. Tidak apa-apa jika kau ingin berhenti berjuang.” 

Nyessss, dah...

Lalu di bagian Kim meminta Mia untuk tinggal sekalipun dia tahu berapa besar kehilangan yang dialami Mia. Dan beberapa bagian yang menjelaskan adik Mia, Teddy juga bikin saya merinding. Teddy ini lebih muda jauh dari Mia. Dia sayang banget sama kakaknya itu. Dan di saat Mia sadar kalau adiknya benar-benar sudah pergi... sakit rasanya (*lebay) membaca sewaktu narasinya berkata bahwa dia tidak bisa lagi membacakan Harry Potter untuk adiknya itu, ia tidak akan lagi bisa melihat sikap hiperaktif adiknya yang lucu... Rasanya saya mengerti betapa besar kesedihan yang akan dihadapi Mia jika ia tinggal.

Jadi, pada akhirnya apa yang harus dipilih Mia arwah? Pergi atau tinggal?

Buku yang sangat bagus sekali, padahal tipis banget nih. Keren lah pokoknya. Top!

5/5