Friday, 17 November 2017

Orange


Judul : Orange
Penulis : Windry Ramadhina
Tebal : 316 halaman
Penerbit : Gagasmedia

Faye ditunangkan. Tanpa dasar cinta dan murni karena alasan bisnis. Calon tunangannya, Diyan, adalah eligible bachelor yang paling diinginkan di Jakarta. Laki-laki yang tak bisa melepas kenangan masa lalunya dengan seorang model cantik blasteran Prancis.

Harusnya hubungan mereka hanya sebatas ikatan artifisial saja. Tapi cinta, ego, dan ambisi yang rumit mendorong mereka ke situasi yang lebih emosional. Situasi yang mengharuskan mereka memilih dan melepaskan.


Review:
Dari sinopsisnya sudah jelas ya. Ceritanya tentang dua orang anak orang kaya yang dijodohkan. Tanpa cinta, hanya demi alasan praktis. 

Ini adalah buku pertama penulis yang dicetak ulang. Saya tidak pernah membaca versi yang sebelumnya, tapi saya bisa melihat bagaimana penulis berkembang menjadi lebih baik di karya-karya selanjutnya. Buku ini mungkin karya Windry Ramadhina yang paling biasa saja. Saya merasa jauh dengan tokoh-tokohnya, terutama Diyan. Saya tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Bahkan saat Diyan mengobrol dengan Faye, saya tidak tahu apa-apa soal karakter satu itu. Pokoknya dia tampan, kaya, digandrungi banyak cewek, dan merupakan salah satu eligible bachelor yang paling diminati.

Di sisi lain, saya lumayan bisa bersimpati dengan Faye. Dia juga jarang bicara dan hampir tidak pernah bermonolog di buku ini, tapi saya cukup suka dengan sifatnya yang mandiri dan mudah beradaptasi. Alasan dia setuju bertunangan dengan Diyan juga karena janjinya pada ibunya. Dulu sewaktu dia memaksa ingin menjadi fotografer, Faye berjanji kalau apa pun yang diminta oleh ibunya nanti akan disetujuinya. Bagi Faye, fotografi adalah segalanya. Kebetulan saya selalu respek sama orang yang berpendirian kuat pada cita-citanya. Lalu saya juga suka sikap Faye dalam menghadapi pertunangannya. Dia mencoba menerima dan memperbaiki situasinya dengan sebaik mungkin. Dia mencoba berteman dengan Diyan dan mendekatkan diri dengan laki-laki itu. Sekalipun Diyan masih menyukai mantan pacarnya, Faye tidak cengeng dan menangisi nasibnya. Dia berkepala dingin dan logis. 

Kesimpulannya, saya suka Faye tapi nggak suka Diyan. Oh, ya. Surat Faye di akhir bagus kata-katanya. 

Bagi yang belum pernah membaca karya penulis, saya menyarankan untuk membaca karyanya yang lain dulu. Lebih bagus dan matang dibanding yang ini.

3/5

No comments:

Post a comment