Thursday, 27 March 2014

A Tale of Two Cities


Judul : A Tale of Two Cities 
Penulis : Charles Dickens
Tebal : 418 halaman
Penerbit : HarperCollins

Set before and during the French Revolution in the cities of Paris and London, A Tale of Two Cities tells the story of Dr Manette's release from imprisonment in the Bastille and his reunion with daughter, Lucie. A French aristocrat Darnay and English lawyer Carton compete in their love for Lucie and the ensuing tale plays out against the menacing backdrop of the French Revolution and the shadow of the guillotine.

Review:
Ini adalah kali kedua saya membaca karya Charles Dickens setelah Great Expectations. Terus-terang saya agak terintimidasi membaca Great Expectations dulu karena bahasa Inggrisnya susah. Harus konsentrasi penuh. Itulah sebabnya saya agak ragu bisa selesai membaca buku ini dalam sebulan.

Tapi ternyata saya sudah mulai terbiasa dengan gaya bahasa Charles Dickens sehingga saya bisa cukup cepat membaca buku ini. Masih termasuk lama sih, dua mingguan. Tapi dengan kecepatan baca yang lebih, saya jadi bisa menikmati seluruh kisah epik di dalam buku ini. 

“It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity, it was the season of light, it was the season of darkness, it was the spring of hope, it was the winter of despair.” 

Novel ini bersetting di masa Revolusi Perancis, masa di mana rakyat jelata memberontak terhadap pemerintahan raja dan bangsawan yang dianggap merugikan dan mengeksploitasi rakyat kecil seenaknya. Di waktu inilah, Dr. Manette dibebaskan dari penjara dan bertemu kembali dengan anak perempuannya yang bernama Lucie. Sang dokter mengalami trauma psikologi sehingga harus terus didampingi Lucie. Saya bertanya-tanya kenapa dokter sebaik dan sepolos itu bisa dipenjara. Tapi alasan itu baru dibuka di akhir-akhir. Alasan yang bikin saya syok! 

Buku ini dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama menceritakan pembebasan Dr. Manette dan perjalanan Lucie menemui ayahnya yang tinggal di rumah mantan pelayan ayahnya itu di Perancis. Bagian kedua adalah peristiwa lima tahun setelah bagian pertama. Saat itu, seorang guru keturunan Perancis bernama Charles Darnay sedang diadili karena dicurigai sebagai mata-mata Perancis yang ingin menjatuhkan Inggris. Kebetulan seorang pengacara pemula bernama Sydney Carton maju sebagai saksi yang berkata kalau dialah yang berada di lokasi pertemuan dan bukannya Charles. Sydney yang memiliki penampilan mirip dengan Charles adalah orang Inggris sehingga hakim tidak lagi mengusut perkara itu lebih lanjut. Nantinya dua orang penting ini jatuh cinta pada Lucie dan ingin menikahi gadis itu. Malang bagi Sydney, Lucie memilih Charles.

Tanpa sepengetahuan istrinya, Charles Darnay ternyata bukanlah orang biasa. Ia adalah bangsawan Perancis yang mewarisi gelar dari pamannya yang jahat. Namanya bukanlah Darnay, tapi Marquis EvrĂ©monde. Hal ini baru diketahui Lucie setelah pengurus rumah tangga Charles di Perancis menulis surat pada tuannya itu agar membebaskan dia dari penjara. Si pelayan dikira sebagai pemilik properti sehingga ditangkap. Tidak ingin membiarkan orang tak bersalah menanggung bebannya, Charles pun pergi ke Perancis untuk menggantikan pelayan itu dipenjara.

A Tale of Two Cities adalah kisah yang cukup menyedihkan karena orang-orang baik terpaksa dikorbankan karena tindakan jahat keluarga mereka. Sangat ironis. Saya bahkan tidak menyangka kalau semuanya berhubungan. Charles harus menerima hukuman mati dengan guilotin hanya karena apa yang diperbuat keluarganya dan juga bangsawan-bangsawan kejam lainnya. Dan yang lebih sedih lagi adalah nasib Sydney Carton yang sebenarnya tidak punya hubungan apa-apa dengan Perancis. Hanya cintanya pada Lucie yang membuatnya bisa melakukan semua itu. 

Saya lebih suka buku ini dibanding Great Expectations. Lebih menyentuh, entah kenapa. Mungkin karena semua kejadian di buku ini melibatkan semua tokoh di sekitarnya, sementara Great Expectations hanya fokus terhadap kehidupan seorang Pip saja. Saya selalu lebih suka novel yang memiliki banyak tokoh, hehe...

Sepertinya saya mulai suka dengan tema-tema yang diangkat Charles Dickens dalam bukunya. Saya akan membaca karyanya yang lain nanti. Tapi tidak dalam waktu dekat. Saya masih eneg sama bahasa Inggris klasik.

4/5

Catatan : Review ini ditulis dalam rangka baca bareng BBI bulan Maret dengan tema Oprah's Book Club.

6 comments:

  1. Aku juga masih ada beberapa Dickens yg belum terbaca, kadang tebalnya bikin minder duluan, haha. Tema2nya memang menarik, seputar kehidupan masa itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe emank bacaan klasik selalu bikin minder

      Delete
  2. aku pingin nih baca buku ini :) great expectations baru mau baca juga...so far suka sama old curiosity shop, lucu dan mengharukan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah aku malah belum baca old curiosity shop, boleh jg tuhh

      Delete
  3. Setebal ini dan membaca versi Inggrisnya? Keren !

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha... penasaran soalnya. Ternyata bisa, tapi mati-matian eaaa...

      Delete