Thursday, 2 June 2016

Transcendence


Judul : Transcendence
Penulis : Shay Savage
Tebal : 312 halaman
Penerbit : CreateSpace

It’s said that women and men are from two different planets when it comes to communication, but how can they overcome the obstacles of prehistoric times when one of them simply doesn’t have the ability to comprehend language?

Ehd’s a caveman living on his own in a harsh wilderness. He’s strong and intelligent, but completely alone. When he finds a beautiful young woman in his pit trap, it’s obvious to him that she is meant to be his mate. He doesn’t know where she came from; she’s wearing some pretty odd clothing, and she makes a lot of noises with her mouth that give him a headache. Still, he’s determined to fulfill his purpose in life – provide for her, protect her, and put a baby in her.

Elizabeth doesn’t know where she is or exactly how she got there. She’s confused and distressed by her predicament, and there’s a caveman hauling her back to his cavehome. She’s not at all interested in Ehd’s primitive advances, and she just can’t seem to get him to listen. No matter what she tries, getting her point across to this primitive, but beautiful, man is a constant – and often hilarious – struggle. 

With only each other for company, they must rely on one another to fight the dangers of the wild and prepare for the winter months. As they struggle to coexist, theirs becomes a love story that transcends language and time.

Review:
Saya membeli buku ini karena tertarik dengan premise-nya. Kisah romance di antara manusia gua primitif dengan gadis modern. Sepertinya sesuatu yang berbeda.

Dan saya tidak salah pilih bacaan.

Cerita dituturkan dari sudut pandang Ehd, seorang manusia gua yang hidup sendirian. Anggota sukunya sudah meninggal dilalap api dan dia terpaksa mengandalkan dirinya sendiri untuk bertahan hidup. Tapi dia depresi dan malas untuk cari makan. Dia kesepian.

Lalu dia menemukan seorang gadis berpakaian aneh di sebuah lubang perangkap yang dibuatnya. Gadis itu bisa berbicara dan Ehd sama sekali tidak mengerti apa maksudnya. Nama gadis itu adalah Elizabeth, tapi Ehd hanya bisa memanggilnya dengan "Beh".

Buku ini hampir tidak memiliki dialog, selain kata "kiss", "love", "Ehd", "Beh", dan "no". Karena Ehd adalah manusia purba yang otak bahasanya belum berkembang, setiap interaksi di antara kedua tokoh utama lebih banyak ditunjukkan lewat tindakan. Bahkan Ehd tidak suka kalau Beh bicara. Kepalanya pusing jika harus mendengar ocehan Beh.

Sejak awal Ehd sudah menentukan kalau Beh akan menjadi pasangannya. Dia berusaha membuat Beh terkesan dengan gua dan barang-barang yang dimilikinya. Tapi manusia modern seperti Beh malah merasa takut dan curiga. Namun seiring dengan waktu, Beh mulai melunak. Mereka saling berbagi ilmu. Cara orang purba dan cara manusia modern. Beh menunjukkan cara membuat keramik, gerobak dorong, dan bahkan mengajarkan Ehd untuk mandi serta sikat gigi. Ehd berburu, memancing, dan menjaga keselamatan Beh. Lucu dan cute. Boleh dibilang, buku ini menunjukkan cinta dalam bentuk yang paling sederhana. Tanpa kata, tanpa bahasa, tapi keduanya bisa saling mencintai sampai mereka tua dan meninggal.

Beautiful. Cerita yang sangat menyentuh. Memang, buku ini tidak bisa saya baca secara maraton karena minimnya dialog. Lumayan bosan membaca penjelasan dan deskripsi yang tiada habisnya. Tapi saya suka sekali dengan ceritanya. Apalagi epilognya yang bikin sedih. Bagian itu menjelaskan bagaimana Elizabeth bisa berakhir di zaman purba. Dan seakan kembali ke awal lagi, saya dibuat sedih karena saya tahu bagaimana kisah kehidupan mereka hingga akhir.

Unik. Buku yang sangat unik. Kapan lagi bisa nemu cerita romance yang beda kayak gini? Hehe...

4/5

No comments:

Post a Comment