Tuesday, 2 February 2016

Twice Loved


Judul : Twice Loved
Penulis : LaVyrle Spencer
Tebal : 620 halaman
Penerbit : Gagasmedia

Lima tahun lalu, Laura Dalton merelakan suaminya, Rye, diambil laut. Pelaut itu pamit untuk pergi pada suatu hari dan tak pernah kembali. Meskipun dengan susah payah, Laura belajar untuk membenahi hidupnya. Belajar mencintai lagi—dan pilihan itu jatuh pada teman almarhum suaminya yang begitu perhatian. Pada Dan jugalah dia memercayakan perlindungan dirinya dan anaknya. 

Namun, sesuatu yang tak disangka-sangka terjadi. Rye ternyata tidak ditelan oleh laut yang dia cintai. Laki-laki itu kembali ke darat, menjumpai keadaan yang tak lagi sama.

Review:
Saya mau komentar tidak penting dulu. Terjemahan judulnya tidak sesuai sih. Tapi masih nyambung sama ceritanya. Jadi, ya sudahlah.

LaVyrle Spencer adalah salah satu penulis romance yang cukup bikin kangen buat saya. Dia selalu membuat tokoh yang sangat membumi dan biasa saja. Dia tidak membuat tokoh idaman yang berkilau, tapi lebih sederhana dan banyak kelemahan. Novel-novelnya juga selalu tebal dan penuh dengan deskripsi setting yang memperkaya ceritanya. Untuk buku ini, dia menjelaskan banyak tentang bisnis pembuatan tong, perburuan ikan paus, dan suasana Kota Nantucket di zaman itu. 

Kisah dimulai dengan kepulangan Rye Dalton dari pelayarannya memburu ikan paus. Ia dengan tidak sabar kembali ke rumah untuk bertemu lagi dengan istrinya, Laura. Tapi ia harus kecewa saat menemukan kalau Laura sudah menikah dengan Dan, sahabat mereka berdua. Ternyata kabar yang didapat Laura lima tahun lalu adalah kematian Rye dalam kecelakaan kapal. Padahal Rye tidak berada di kapal itu.

Situasinya pelik. Sejak kecil Dan selalu mencintai Laura. Ia merasa bahagia saat akhirnya bisa memiliki Laura setelah Rye dikira meninggal. Ia bahkan mencintai anak Rye dan Laura sebagai anaknya sendiri. Sayangnya, kebahagiaan itu harus hancur di saat Rye pulang. Ia takut kehilangan Laura karena Laura tidak pernah mencintai orang lain selain Rye. Ketakutan itu membuatnya menjadi pria yang mabuk-mabukan. 

Laura memang hanya mencintai Rye. Sejak dulu ia mengikuti Rye ke mana-mana dan mereka berdua punya ikatan erat yang hanya dipahami mereka berdua. Rye tahu itu dan ia ingin istrinya kembali. Ia ingin merebut haknya: rumahnya, istrinya, anaknya, dan kehidupan lamanya. Tapi apakah bisa? Di saat dulu Laura memohon agar dirinya tidak pergi berlayar, ia pernah menolak dan meninggalkan wanita itu. Di saat Laura hamil dan membutuhkan orang lain untuk membantunya, Dan-lah yang ada di sampingnya. Laura tidak bisa mengikuti kata hati dan pergi meninggalkan Dan begitu saja. Apalagi anaknya hanya mengenal Dan sebagai ayahnya.

Sebenarnya ceritanya bagus. Bikin sakit hati. Ketiga tokoh utamanya orang baik dan sangat tidak adil kalau mereka harus menghadapi situasi seperti itu. Mungkin secara moral, Laura harus tetap memilih berada di samping Dan dengan mempertimbangkan perasaan anaknya dan juga balas budi. Tapi, hati tidak selalu sejalan dengan moral. Laura tetap saja menginginkan Rye. 

Terus terang... saya tidak begitu suka dengan eksekusi ceritanya. Walaupun Rye adalah suami Laura, kesannya tetap saja selingkuh. Laura kerap kali curi-curi ciuman dan pelukan. Bahkan berhubungan intim pula. Kasihan si Dan. Mau bagaimanapun, Laura tidak boleh mempermainkan dua lelaki sekaligus. Ugh. Saya ngerti sih. Susah kalau ngomong soal cinta. Batasan-batasan sering hilang begitu saja. -.-

Saya cukup suka bagian akhirnya. Di sini LaVyrle Spence membahas tentang dunia baru, kota baru yang akan dibuka. Di zaman modern seperti sekarang, dunia sudah maju dan penuh dengan manusia. Kota-kota juga sudah dibangun dan ramai oleh penduduk yang berkeliaran. Saya terkadang ingin mencoba seperti orang dulu, berpindah ke suatu kota yang kosong dan belum ada penduduk, ikut serta membangun kota itu dari nol. Kayaknya asyik. Seperti berpetualang mengubah sesuatu yang jelek jadi bagus. Sama seperti Rye. Dia akan menjadi perintis pembuat tong di kota yang baru. 

3/5

No comments:

Post a Comment