Monday, 5 November 2012

Sebelas Patriot


Judul : Sebelas Patriot
Penulis : Andrea Hirata
Tebal : 112 halaman
Penerbit : Bentang Pustaka

Hal yang paling digemari di seluruh pelosok desa adalah sepakbola. Tidak peduli kamu beragama apa, rasnya apa, tua ataupun muda, semuanya suka sepakbola. Bahkan sepakbola juga pernah menjadi ajang melawan penjajah.

Ikal suatu hari tahu kalau ternyata di masa lalu ayahnya yang pincang dan pendiam itu pernah menjadi seorang bintang sepak bola. Demi membanggakan ayahnya, ia berlatih mati-matian. Ia bahkan ikut klub sepak bola dan mendaftar dalam seleksi pemain sepakbola nasional. Tapi apa boleh buat, bakatnya bukan di sana. 

Novela pendek ini menceritakan sepenggal kisah si Ikal yang sosoknya sudah sangat terkenal dalam kisah Laskar Pelangi. Sebelas pemain sepakbola, sebelas patriot.

Kesan:
Saya adalah penggemar seri Laskar Pelangi. Bukan karena ceritanya yang luar biasa, tapi karena gaya penulisan Andrea Hirata yang lucu dan sarkastik. Kadang kalima-kalimat yang disajikannya mampu membuat saya nyengir sendiri walau saya tidak tahu di mana letak kelucuannya.

Di buku ini saya masih menemukan kualitas tulisannya yang khas itu. Saya bahkan bertemu dengan si Ikal yang masih dengan tingkah anehnya yang berlebihan. Walaupun katanya Ikal itu Andrea Hirata sendiri, saya tidak begitu yakin semua yang dikarang di sini adalah nyata dan pernah terjadi.

Yah, ini hanya sebuah novela yang sangat pendek. Apa yang bisa diharapkan dari buku setipis ini? Cukup menghibur. Dan yang saya dapatkan dari buku ini adalah bahwa sepakbola ternyata bisa menyatukan seluruh manusia di dunia, apapun golongannya. 

Buku ini disertai CD lagu karangan Andrea Hirata sendiri. Saya belum mendengarnya, tapi mungkin nanti saya akan melakukannya.

3/5

Friday, 2 November 2012

Lock & Key


Judul : Lock & Key 
Penulis : Sarah Dessen
Tebal : 421 halaman
Penerbit : Puffin Books

Bayangkan jika kau tinggal di tempat yang gelap, penuh binatang merayap, tanpa pemanas, dan juga kotor. Di tempat seperti itulah Ruby tinggal. Sejak ibunya pergi, ia tinggal sendiri di rumah itu sambil menunggu ulang tahunnya yang ke-18. Ia ingin hidup sendiri dan bisa memutuskan apapun sesukanya. Tapi sebelum umurnya 18 tahun, ia harus terus bersembunyi dari orang-orang yang ingin membawanya ke Social Service.

Sayangnya, ia ketahuan. Ia akhirnya disuruh tinggal bersama Cora, kakak kandungnya yang sudah lama tidak pernah ditemuinya. Cora dan suaminya, Jamie menampung Ruby di rumah besarnya yang mewah dan nyaman.

Awalnya, Ruby benci dengan situasi barunya. Ia tidak butuh orang lain. Ia marah walaupun Jamie dan Cora sangat baik padanya. Sampai akhirnya ia berkenalan dengan Nate, tetangganya yang keren dan juga populer di sekolahnya.

Pertemuan Nate dan Ruby terjadi dalam situasi yang memalukan. Saat itu Ruby sedang berusaha kabur dari rumah Jamie walaupun tidak berhasil. Sejak itu, Ruby menunjukkan rasa tidak suka pada Nate. Apalagi Nate itu tipe orang yang sangat baik dan sempurna di depan semua orang. Dan itu bikin Ruby semakin kesal dengan keramahan dan kebaikan cowok itu. Tapi lama-kelamaan ia mengenal Nate lebih jauh dan menemukan ada rahasia yang disembunyikan cowok itu.

Ini adalah kisah perubahan diri dari seorang Ruby. Dari anak pembangkang yang berteman dengan pecandu heroin menjadi anak remaja normal yang bisa menghargai keluarganya sendiri. 

Kesan:
Saya sudah lama ingin membaca karya Sarah Dessen. Penulis ini sudah sangat terkenal dengan buku-buku Young Adult-nya tapi saya belum pernah menyentuh bukunya sama sekali. Katanya buku Sarah Dessen adalah versi anak mudanya buku Jodi Picoult. Yah, saya juga nggak tahu itu benar atau tidak karena saya belum pernah baca Jodi Picoult kecuali nonton filmnya yang berjudul My Sister's Keeper. (*ketinggalan zaman)

Pertama kali saya lihat buku ini di rak sale Popular Singapore, saya langsung beli tanpa pikir panjang. Saya pikir kok tebal amat bukunya. Tulisannya rapat-rapat pula. 

Saya cukup menikmati buku ini, terutama di awal-awal saat Ruby sedang berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Rasanya aneh sekali melihat remaja yang lebih suka tinggal di sarang kecoak sendirian dibandingkan di rumah besar dengan segala fasilitas yang lengkap. 

Saya suka dengan semua tokoh di buku ini. Karakterisasi tiap tokohnya begitu jelas dan real, membuat saya yakin untuk membaca karya Sarah Dessen yang lain. Saya suka kalau penulis bisa menciptakan tokoh yang real dan memorable. Jamie dan Cora juga keren banget. Ah, saya mau punya kakak seperti Cora atau Jamie. (*pengakuan seorang anak sulung)

Buku ini tidak bisa dibilang buku romance. Saya selalu mengira Sarah Dessen itu bukunya berisi kisah cinta anak muda yang romantis atau apa gitu. Tapi ternyata nggak. Lebih banyak cerita tentang psikologisnya Ruby dan Nate. 

Yang membuat saya kecewa dengan buku ini adalah ending yang tidak selesai. Segalanya tampak dipaksakan. Kenapa Nate harus berakhir dengan ibunya? Padahal sejak awal ibunya tidak menginginkannya. Lalu kenapa tidak ada penjelasan lebih lanjut antara hubungan ibu Ruby, Ruby, dan Cora? Menurut saya, bagian itu kurang digali lagi. 

Oh, ya. Judulnya itu menggambarkan kunci rumah yang dijadikan bandul kalung Ruby. Kunci rumah bobroknya itu, lho. Dan ternyata kalung itu jadi trend dan banyak orang pengen punya kalung seperti si Ruby itu.

3/5

Wednesday, 31 October 2012

The Good Earth


Judul : The Good Earth (House of Earth #1)
Penulis : Pearl S. Buck
Tebal : 507 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

"Sebuah keluarga akan habis riwayatnya--kalau mereka sudah mulai menjual tanah-tanahnya. Kita berasal dari tanah dan kita mesti kembali lagi ke situ--dan kalau kalian masih mau mempertahankan tanah itu, kalian bisa hidup terus--tak ada orang yang bisa merampas tanah begitu saja." --hal. 506

Kisah ini bermulai di sebuah rumah petani yang memiliki sepetak tanah. Namanya Wang Lung dan dia tinggal berdua saja dengan ayahnya yang sudah tua. Tiap hari dia bekerja di ladangnya sekaligus mengurus ayahnya itu.

Tapi hari itu adalah hari yang sangat khusus. Ia akan menikah dengan seorang budak yang tersisa di rumah keluarga kaya bermarga Hwang. Ia pergi ke pasar dan membeli barang-barang sebagai modalnya untuk melamar sekaligus membeli sedikit daging untuk merayakan pernikahannya. 

"Dan apa yang bisa kita perbuat dengan perempuan cantik? Kita mesti dapat perempuan yang mau mengatur rumah, dapat memberi keturunan dan mau bekerja di sawah, dan apa perempuan cantik bisa begitu? Ia cuma memikirkan pakaian bagus dan merawat mukanya saja! Tidak, tak boleh ada perempuan cantik di rumah ini. Kita petani. Lagipula, mana ada budak cantik yang masih perawan di rumah orang kaya seperti itu? Anak-anak tuan tanah di situ pasti sudah pernah berbuat serong dengannya. Lebih baik menikah dengan perempuan jelek yang masih perawan daripada dengan perempuan cantik yang sudah tidak perawan lagi. Apa kaupikir perempuan cantik bisa menganggap tangan petanimu sama lembutnya dengan tangan anak orang kaya, dan apa kulit mukamu yang hitam kena matahari itu bisa sama halusnya dengan kulit laki-laki lain yang suka berbuat serong dengannya?" --hal. 14-15

Sesuai nasehat ayahnya itu, Wang Lung mencari istri yang bertubuh kekar, berkaki besar, berwajah jelek, dan pendiam. Namanya O Lan. Setiap hari O Lan bangun pagi-pagi, menyiapkan makanan untuk keluarga kecilnya, mengurus ayah Wang Lung, memasak, dan juga membantu Wang Lung di sawah. Wang Lung cukup senang dengan keberadaan istrinya itu karena akhirnya tugasnya bisa jauh lebih ringan. Bahkan hebatnya, O Lan melahirkan anak laki-laki baginya. Kebetulan anak laki-laki adalah kebanggaan orang Cina karena anak perempuan jika sudah dewasa hanya akan dinikahkan ke keluarga lain dan bukannya berguna bagi keluarga sendiri.

Wang Lung tidak terlalu sayang pada istrinya yang baru itu. Namun ia tidak pernah sadar bahwa nanti justru karena istrinya itulah ia akan menjadi orang kaya. Di tengah bencana kelaparan yang melanda dan orang-orang miskin menyerbu rumah orang kaya demi mendapat segenggam harta, O Lan dengan cerdiknya menemukan tempat persembunyian harta orang kaya. Perhiasan-perhiasan itulah yang akhirnya bisa menaikkan status Wang Lung menjadi tuan tanah. 

Dari sepetak tanah, Wang Lung terus-menerus membeli tanah yang lain. Ia percaya bahwa petani adalah panggilan hidupnya dan ia mencintai sawahnya itu. Dengan menyewa beberapa orang, ia sudah bisa meninggalkan bisnis pertaniannya untuk beroperasi sendiri. 

Wang Lung tetaplah Wang Lung si petani yang tidak berpendidikan dan tidak bisa baca tulis. Jadi begitu ia kaya, ia agak lupa daratan. Ia mengambil istri baru yang sangat cantik dan sangat manja bernama Lotus. Tiap hari kerjaan Wang Lung adalah menghibur istrinya itu dengan membeli barang-barang mahal dan makanan-makanan enak yang bahkan tidak pernah dimakan Wang Lung sendiri. Dan O Lan terlupakan. 

Dalam setiap keluarga besar selalu saja ada masalah. Dan masalah Wang Lung adalah keluarga pamannya yang cabul dan senang menjadi benalu. Tidak hanya itu. Anak laki-laki Wang Lung yang sulung dan kedua pun bermasalah. Terkadang Wang Lung terpaksa menerima kalau hidupnya tidak akan pernah damai. Sana-situ bertengkar. Sana-situ butuh duit. Sana-situ saling membenci. Pengkhianatan pun tak terelakkan.

Kesan:
Saya selalu merasa roman kehidupan itu sangat menarik untuk dibaca. Karena begitu saya menutup halaman terakhir, kisah itu akan terus melekat di kepala sampai waktu yang lama. Walaupun terkadang ada bagian-bagian tertentu dari penceritaan kehidupan itu yang membosankan.

Tapi saya tidak menemukan kebosanan dalam kisah Wang Lung ini. Mungkin karena deskripsi settingnya yang cukup detail, narasi Wang Lung yang terkesan lugu juga manusiawi, atau kehidupan petani miskinnya yang begitu hidup. Saya melahap tiap halaman seperti tidak bisa berhenti. Saya selalu ingin tahu bagaimana akhir dari kisah si Wang Lung ini.

Tokoh yang paling saya sukai tentu saja O Lan. Saya mengagumi kerajinannya dan juga mentalnya yang luar biasa kuat. Saya tidak bisa membayangkan melahirkan anak sendirian di dalam kamar tanpa bantuan siapapun. Dan beberapa menit setelah kelahiran itu, ia langsung bekerja lagi di sawah. Wow. Hebat sekali perempuan ini. Sayang, dia tidak cantik sehingga Wang Lung tidak mencintainya. Namun di akhir, Wang Lung tetaplah menghargai istrinya itu. Karena bagaimanapun juga O Lan telah berjasa banyak bagi hidup laki-laki itu.

Oh, saya benci sekali bagian saat Wang Lung terpesona pada Lotus. Aduh, wanita manja seperti itu kok diperhatikan sih? Saya sih dari awal sudah mau nampar perempuan itu. Pengen mutiaralah, pengen kain sutralah, entah apa lagi. Dikasih pula sama si Wang Lung! 

Dan saya juga ingin sekali menonjok keluarga paman Wang Lung yang seenaknya minta duit tanpa ikut kerja. Memang zaman dulu ada aturan kalau sesama keluarga harus saling menjaga dan melindungi. Tapi kalau saya sih bisa naik darah melihat kelakuan keluarga paman Wang Lung yang keterlaluan. Untung saja Wang Lung cukup pintar memberi mereka candu biar klenger dan lupa sama yang lain.

Sebenarnya masih banyak bagian menyebalkan dari kisah Wang Lung. Anak laki-lakinya, contohnya. Yang satu gengsinya tinggi dan juga boros. Yang satu pelitnya minta ampun. Tipikal anak orang kaya baru kali ya... Bahkan Wang Lung sampai merasa paling suka dengan anak perempuannya yang menderita penyakit idiot. 

Banyak dramanya. Tapi begitulah kehidupan orang-orang zaman dulu. Penuh intrik dan orang-orang licik yang hanya ingin mengincar harta orang lain. Cape, deh.

Tapi di luar itu, saya tetap merasa kisah ini sangat luar biasa. Dan tidak aneh buku ini mendapat hadiah Nobel. 

Sekilas tentang penulis:
Pearl Sydenstricker Buck lahir Amerika tanggal 26 Juni 1892. Ia menghabiskan sebagian besar masa mudanya di Cina. Ia seorang penulis yang sangat produktif, terutama di bidang hak-hak wanita juga hak rakyat.  The Good Earth adalah novel yang akhirnya melambungkan namanya. Terdiri dari tiga bagian: The Good Earth, Sons, dan House Divided, karya ini mendapatkan hadiah Nobel tahun 1938. The Good Earth pernah disebut-sebut dalam Oprah's Book Club dan bahkan telah diadaptasi ke dalam theater play di Broadway.

Catatan: Review ini dibuat dalam rangka posting bareng bulan Oktober dengan tema pemenang Nobel sastra. Diterbitkan bersama anggota BBI yang lain pada tanggal 31 Oktober 2012.

5/5

Sunday, 28 October 2012

That Camden Summer


Judul : That Camden Summer
Penulis : Lavyrle Spencer
Tebal : 448 halaman
Penerbit : Gagasmedia

Bersama tiga anak perempuannya, Roberta Jewett kembali ke kampung halamannya. Ia baru saja menceraikan suaminya yang tukang judi dan ia berharap bisa menemukan kehidupan baru di Camden.

Seorang wanita bercerai yang mandiri sangat ditentang oleh masyarakat pada waktu itu. Tapi Roberta tidak peduli. Ia membeli rumah dan mobil. Ia juga bekerja sebagai perawat keliling untuk menghidupi anak-anaknya.

Gabriel Farley awalnya tidak suka pada Roberta yang galak. Ia menerima pekerjaan sebagai tukang kayu di rumah Roberta dan dengan waktu-waktu yang dihabiskan di rumah itu, ia mulai berteman dengan wanita itu. 

Namun suami kakak Roberta, Elfred menganggap Roberta sebagai wanita gampangan. Ia mencoba mengganggu kehidupan wanita itu. 

Tanpa dukungan dari ibunya juga keluarganya yang lain, Roberta hanya sendirian. Bagaimana caranya dia bertahan saat seluruh kota membencinya?

Kesan:
Yang saya suka dari novel-novel Lavyrle Spencer adalah karakter wanita-wanitanya yang tangguh dan mandiri. Selain itu, tokoh-tokohnya selalu realistis. Tidak cantik, tidak tampan, tidak istimewa, hanyalah orang biasa yang punya kehidupan yang pantas diceritakan.

Buku ini sangat menarik di awal. Saya suka perdebatan di antara Roberta dan orang-orang di sekitarnya. Saya juga suka anak-anak Roberta yang riang dan cerewet, membuat suasana novel ini menjadi ringan dan menyenangkan.

Tapi sayangnya ada adegan perkosaan. Terus-terang itu topik yang paling nggak suka saya baca selain narkotika. Apalagi dalam buku romance begini. A big no no. Kasihan bener si Roberta ini.

Saya berharap buku lain dari Lavyrle Spencer akan lebih bagus dari ini.

3/5 

Wednesday, 24 October 2012

Oath Breaker


Judul : Oath Breaker (Chronicles of Ancient Darkness #5)
Penulis : Michelle Paver
Tebal : 224 halaman
Penerbit : Orion

Torak berlibur di daerah Seal Clan bersama Bane. Mereka berdua menjadi teman dekat sejak Bane menyelamatkan Torak dari Seshru di buku sebelumnya. 

Malam itu, Torak dan Bane sedang mendapat giliran jaga. Bane mengutarakan keinginannya untuk meminta Renn sebagai pasangannya nanti. Torak marah tiba-tiba dan pergi meninggalkan Bane.

Torak tidak pernah menyangka kalau ia akan menemukan Bane terbunuh saat ia kembali. Dan semua jejak menunjukkan kalau pelakunya adalah Thiazzi, Soul Eater dari Oak Clan.

Demi dendamnya, Torak nekad pergi ke Deep Forest demi mencari Thiazzi. Hanya saja di Deep Forest sedang terjadi perang antarklan yang disebabkan oleh Thiazzi yang menyamar. 

Bagaimana caranya agar Torak bisa mengalahkan Thiazzi yang adalah Soul Eater bertenaga paling kuat?

Kesan:
Wah, di buku ini saya mulai mendeteksi rasa suka Torak kepada Renn. Mungkin supaya Torak nggak kalah dari si Wolf yang juga sudah jatuh cinta dengan serigala lain bernama Darkfur. *eaaa

Menurut saya, Thiazzi agak menyeramkan di buku ini. Sebelumnya saya hanya menganggap dia sebagai penjahat kuat tak berotak. Tapi di sini... Penyamarannya oke banget. Saya sampai dibuat merinding sendiri saat Torak masuk ke sarang sang Soul Eater tanpa rasa curiga.

Di sini akhirnya Wolf sadar kalau Torak bukanlah seekor serigala seperti yang dikiranya selama ini. Wolf kecewa dan kabur meninggalkan Torak. Namun kesetiaan dan ikatan batin memang tidak pernah salah. Wolf akhirnya kembali untuk bersama Torak. Baik sekali kau, Wolf!

Dan Wolf punya anak, lho! Aih, lucunya!

4/5

Tuesday, 23 October 2012

Hanami


Judul : Hanami
Penulis : Fenny Wong
Tebal : 456 halaman
Penerbit : Gagasmedia

Nishikado Sakura, Kawaguchi Keigo, dan Sakamura Jin...

Ketiganya tanpa sadar memiliki masa lalu yang saling terkait. Semuanya disembunyikan demi melindungi perasaan masing-masing. 

Dimulai saat Sakura bertemu dengan seorang nenek yang ternyata mengenal ibunya di masa lalu. Selama ini Sakura selalu bertanya-tanya siapakah orang tuanya dan kenapa ia hanya tinggal berdua dengan Keigo. Di mata semua orang, kesan tinggal berdua dengan seorang laki-laki sangatlah buruk. Namun Sakura hanya menganggap Keigo sebagai kakaknya.

Keigo yang dulu memiliki reputasi yang bagus dalam kelompok Yakuza. Namun seorang Sakura mampu meluluhkan hatinya dan membuatnya ingin berubah demi melindungi gadis itu. Dialah yang selalu setia menunggu di rumah dan menyediakan kebutuhan untuk Sakura. Dia jugalah yang selalu siap menolong Sakura setiap kali masalah datang.

Jin memendam kebencian yang sangat dalam kepada ibu Sakura. Pertemuannya dengan Sakura membuatnya senang karena akhirnya ia bisa membalaskan dendamnya. Ia ingin menyakiti Sakura dan menyalahkannya atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Karena keberadaan Sakura, ia harus kehilangan ayahnya dan juga masa kecilnya yang bahagia.

Saat benang masa lalu itu mulai terjalin, apakah Sakura siap menghadapi kenyataannya? Dan di akhir... siapa yang akan dipilih Sakura, Keigo yang selalu setia melindunginya atau Jin yang membencinya?

Kesan:
Hal pertama yang menarik perhatian saya dari buku ini adalah sinopsis di belakang bukunya. Sinopsis itu hanya berupa ungkapan perasaan Keigo dan Jin kepada Sakura. Entah kenapa saya langsung tertarik membacanya begitu saya membelinya. Biasanya saya suka menyimpan buku yang baru dibeli di urutan bacaan terakhir.

Cerita ini sangat berbau Jepang. Saya harus memuji Fenny karena bisa menciptakan suasana dan menyajikan budaya Jepangnya dengan sangat baik. Bahkan tokoh-tokohnya pun sangat "komik Jepang".

Pada dasarnya, saya tidak suka dengan tipikal tokoh yang selalu menjadi pusat perhatian dan dilindungi terus-menerus oleh orang lain. Banyak tokoh cewek di komik Jepang sekarang yang begitu. Hampir setiap lembarannya dipenuhi air mata dan kalimat, "Tolong lindungi aku!" Ini sih masalah selera. Hanya saja Sakura dalam buku ini juga seperti itu walaupun tidak terlalu berlebihan seperti komik-komik itu. Dan karena ini novel berbau Jepang, saya terima saja karena mungkin memang begitulah cewek-cewek Jepang. Saya kan tidak tahu aslinya seperti apa.

Plot cerita ini rapi. Alurnya cepat namun saya tidak merasa kalau semuanya diburu-buru. Bahasanya ringan dan enak dibaca. Bahkan perpindahan antara masa lalu dan masa depannya cukup mengena dan tidak terasa aneh. 

Dan yang paling saya suka dari buku ini adalah ikatan masa lalu antara Sakura, Jin, dan Keigo. Jenius! Entah kenapa saya merasa sedih dan nyenyes sewaktu segalanya terbuka. Kasihan Jin, kasihan Sakura, kasihan Keigo... Ketiganya harus kehilangan orang tua masing-masing karena perbuatan orang yang sama.

Saya mengenal tulisan Fenny sudah cukup lama, mungkin ada kali 10 tahun. Jadi, saya bisa merasakan perubahan yang besar dari gaya penulisannya. Hanami ini menunjukkan kemajuan yang sangat luar biasa. Dibandingkan dengan Moonlight Waltz (karya pertamanya) dan beberapa karyanya yang lain, Hanami ini almost perfect sampai saya bingung mau komentar apa. Haha...

Yang jelas saya akan terus menunggu karya-karya Fenny yang lain.

4/5

Sunday, 21 October 2012

Outcast


Judul : Outcast (Chronicles of Ancient Darkness #4)
Penulis : Michelle Paver
Tebal : 274 halaman
Penerbit : Orion


Torak ketakutan. Ia menyimpan rahasia yang sangat besar dan tidak satu orang pun tahu. Sewaktu terakhir kali ia berhadapan dengan Soul Eater, ia telah diberi tanda dan ditato untuk menjadi bagian dari penyihir-penyihir jahat itu. Dengan paksaan, tentunya. 

Dalam suatu pertengkaran dengan Boar Clan, rahasia itu terungkap. Dan ia diusir, dikucilkan, dan diberi tanda sebagai Outcast. 

Torak harus berlari demi hidupnya. Sendirian tanpa siapapun. Namun banyak orang mengejarnya untuk membunuhnya. Hanya Renn yang setia berusaha melindungi Torak dari belakang.

Perlarian Torak membawanya ke sarang Seshru, Soul Eater dari Viper Clan. Tanpa disadarinya, sang Soul Eater sudah memanipulasi Torak. Memang Seshru sengaja memimpin jalan Torak ke sarangnya.

Hari berlalu dan pikiran Torak semakin buram. Ia lupa dengan kehidupannya sendiri dan mulai melupakan namanya sendiri. 

Tidak hanya dipojokkan oleh Seshru, Torak masih harus menghadapi para pemburu yang mengincar nyawanya. Bagaimana caranya Torak selamat dari cengkeraman Seshru dengan kondisinya yang seperti itu? 

Kesan:
Masih dengan ciri khasnya, Michelle Paver membawa saya ke dalam dunia gloomy dan kuno seorang Torak. Misteri perjalanan Torak dibungkus secara apik sampai akhirnya semua rahasia terbongkar di akhir. Itulah nilai plus penulis yang selalu bisa mengejutkan saya setiap kali petualangan Torak hampir mencapai akhir. Menegangkan dan membuat penasaran.

Kekurangan dari buku ini hanya satu. Saya merasa bosan dengan bagian tengahnya. Masalahnya, Torak hanya berpetualang sendirian. Sebagian besar, bagian tengah itu berupa narasi dan monolog Torak. Saya lebih suka banyak percakapan supaya tidak terlalu monoton. 

Saya masih suka Wolf yang sangat setia. Saya juga suka Renn yang tidak pernah menyerah. Sementara Torak... saya sungguh merasa kasihan pada tokoh itu. Tiap kali dapat sial melulu. Padahal dia baru 14 tahun. 

Lanjut ke buku kelima...

4/5