Showing posts with label Fenny Wong. Show all posts
Showing posts with label Fenny Wong. Show all posts

Tuesday, 14 April 2015

Fleur


Judul : Fleur
Penulis : Fenny Wong
Tebal : 324 halaman
Penerbit : Divapress

“…Walau hingga kehidupan yang keberapa pun kalian saling mencintai, hingga kehidupan yang keberapa pun juga aku akan mengalahkanmu, merebutnya darimu!”

Florence Ackerley sadar bahwa hidupnya ditentukan kehidupannya di masa lalu. Dua lelaki dalam hidupnya --- George, kakak angkatnya, dan Alford, tunangannya, terlibat di dalam untaian takdir itu. Keegoisan dan saling silang kepentingan membuat kutukan saling berbenturan. Hingga kehidupan yang keberapapun, tetap sama. 

Fleur memadukan latar Victorian dengan bumbu dongeng ala peri, menawarkan kecapan fantasi yang segar pada romansa penuh lika-liku.

Wednesday, 12 June 2013

Lapis Lazuli


Judul : Lapis Lazuli
Penulis : Fenny Wong
Tebal : 360 halaman
Penerbit : Diva Press

Belasan tahun lalu, Kerajaan Gondvana terpaksa menyerah di bawah pemerintahan Kerajaan Luraxia. Sang raja menyerahkan putrinya pada raja Luraxia untuk dijadikan selir dengan berat hati. Namun, sang putri meninggal dalam kesendiriannya di tempat asing.

Kini, Pangeran Aran sudah siap menyerang Kerajaan Luraxia demi balas dendamnya atas kematian kakaknya itu. Tapi sang ayah tidak mengizinkannya karena ia punya rencana lain.

Sementara Kerajaan Gondvana punya Pangeran Aran yang berdedikasi kuat terhadap kerajaannya, Kerajaan Luraxia dipenuhi oleh para pangeran yang ingin berebut kekuasaan. Sekalipun begitu, para pangeran itu sadar akan rencana penyerangan Pangeran Aran. Dan mereka pun mengajukan gencatan senjata dengan memberi banyak intan dan upeti yang jumlahnya sangat banyak.

Tapi Raja Gondvana hanya punya satu keinginan: Putri Lethia, putri tercantik di Kerajaan Luraxia. Ia hanya ingin mengulang apa yang terjadi dulu pada putri kesayangannya. Mata ganti mata, gigi ganti gigi.

Tanpa sepengetahuan kakak kandungnya, Lethia diculik oleh kakak-kakak tirinya dan dibawa ke istana Gondvana untuk dipersembahkan sebagai tahanan Aran. Perdamaian pun berhasil disepakati.

Hanya saja Pangeran Balvier, kakak kandung Lethia tidak mau menerima kenyataan kalau adiknya terjebak di istana Gondvana. Ia mempersiapkan perang untuk merebut Lethia kembali. Ia bahkan tidak peduli pada daerah kekuasaannya yang siap direbut oleh kakak-kakaknya yang lain. 

Saat Aran akhirnya mendapatkan perang yang diinginkannya, ia pun enggan meneruskan dendamnya. Karena ia tidak mungkin membunuh Balvier dan menghancurkan Luraxia... saat ia jatuh cinta pada putri kerajaan itu.

Review:
Sejak saya membaca cerita ini di blog Fenny, saya tidak pernah bisa lupa dengan kisahnya. Waktu itu, saya menganggap ceritanya terlalu diburu-buru dan karakternya kurang diperdalam. Saya memutuskan untuk membacanya lagi setelah diterbitkan karena saya ingin tahu apa yang diubah dalam ceritanya.

Ternyata jalan cerita dan plotnya banyak yang diubah. Tokoh pentingnya lebih mendapatkan porsi dialog dan narasi. Interaksi Aran dan Lethia juga lebih banyak. Namun pendapat saya tetap satu, Lapis Lazuli adalah cerita paling menarik yang pernah saya baca. Dan saya beneran serius. Dari entah berapa banyak novel dan buku cerita yang saya baca, saya paling suka Lapis Lazuli. Kenapa? Bukan karena teknik menulis, dialog, tokoh, adegan, atau segala tetek-bengek tentang cara menulis novel yang baik. Tapi murni karena ceritanya. Ini sangat subjektif ya. Saya suka fiksi. Kalau dibedah lagi, saya mengakui saya jauh lebih suka fantasi, drama, dan kisah tragedi. Dan kalau mau lebih spesifik lagi, saya suka fantasi yang melibatkan perang, kerajaan, putri, pangeran, pengkhianatan, tragedi, dan ending yang bittersweet (pengakuan: saya memang penggemar fanatik Putri Huan Zhu). Jadi, nggak aneh kalau saya suka banget sama Lapis Lazuli. Semua unsur yang saya sebutkan barusan ada di dalam buku ini. Saya sampai surprised sendiri. 

Sekarang soal detail... Novel ini memang kurang detail. Saya tahu kalau semuanya demi memadatkan isi cerita dalam satu buku. Padahal seharusnya kisah ini bisa diperpanjang sedikit menjadi dua buku supaya lebih terasa emosi dan ketegangannya. Saya masih tetap suka dengan gaya menulis Fenny yang super apik. Dan saya terkejut kalau dia menggunakan bahasa jadul yang sangat sastra dan puitis untuk dialog-dialognya. Mungkin tujuannya supaya menunjukkan sisi medieval dan kunonya. Saya tidak masalah dengan itu. Sedikit cheesy dan aneh, tapi kan memang begitu orang zaman dulu bicara. 

Saya suka dengan sedikit latar belakang masing-masing tokohnya yang disebutkan di dalam buku ini. Semuanya punya kisah tragedi sendiri yang mendorong mereka melakukan kejahatan dan juga balas budi. Jenderal Antares, Pangeran Balvier, Pangeran Aran, Putri Lethia, Pangeran Alderamin... Singkat namun membekas saking kerennya. 

Dan endingnya... Saya tidak tahu harus komentar apa. Perumpamaan anak petani dan gadis penjual bunga itu sukses bikin saya mewek dahhh. Terlalu bagus. Tidak perlu kata cinta sama sekali, cukup satu adegan itu. Jleb...

Perfecto magnifico!! Sayangnya kurang panjang dan kurang detail. Dan typo-nya, ugh...

4/5

Tuesday, 23 October 2012

Hanami


Judul : Hanami
Penulis : Fenny Wong
Tebal : 456 halaman
Penerbit : Gagasmedia

Nishikado Sakura, Kawaguchi Keigo, dan Sakamura Jin...

Ketiganya tanpa sadar memiliki masa lalu yang saling terkait. Semuanya disembunyikan demi melindungi perasaan masing-masing. 

Dimulai saat Sakura bertemu dengan seorang nenek yang ternyata mengenal ibunya di masa lalu. Selama ini Sakura selalu bertanya-tanya siapakah orang tuanya dan kenapa ia hanya tinggal berdua dengan Keigo. Di mata semua orang, kesan tinggal berdua dengan seorang laki-laki sangatlah buruk. Namun Sakura hanya menganggap Keigo sebagai kakaknya.

Keigo yang dulu memiliki reputasi yang bagus dalam kelompok Yakuza. Namun seorang Sakura mampu meluluhkan hatinya dan membuatnya ingin berubah demi melindungi gadis itu. Dialah yang selalu setia menunggu di rumah dan menyediakan kebutuhan untuk Sakura. Dia jugalah yang selalu siap menolong Sakura setiap kali masalah datang.

Jin memendam kebencian yang sangat dalam kepada ibu Sakura. Pertemuannya dengan Sakura membuatnya senang karena akhirnya ia bisa membalaskan dendamnya. Ia ingin menyakiti Sakura dan menyalahkannya atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Karena keberadaan Sakura, ia harus kehilangan ayahnya dan juga masa kecilnya yang bahagia.

Saat benang masa lalu itu mulai terjalin, apakah Sakura siap menghadapi kenyataannya? Dan di akhir... siapa yang akan dipilih Sakura, Keigo yang selalu setia melindunginya atau Jin yang membencinya?

Kesan:
Hal pertama yang menarik perhatian saya dari buku ini adalah sinopsis di belakang bukunya. Sinopsis itu hanya berupa ungkapan perasaan Keigo dan Jin kepada Sakura. Entah kenapa saya langsung tertarik membacanya begitu saya membelinya. Biasanya saya suka menyimpan buku yang baru dibeli di urutan bacaan terakhir.

Cerita ini sangat berbau Jepang. Saya harus memuji Fenny karena bisa menciptakan suasana dan menyajikan budaya Jepangnya dengan sangat baik. Bahkan tokoh-tokohnya pun sangat "komik Jepang".

Pada dasarnya, saya tidak suka dengan tipikal tokoh yang selalu menjadi pusat perhatian dan dilindungi terus-menerus oleh orang lain. Banyak tokoh cewek di komik Jepang sekarang yang begitu. Hampir setiap lembarannya dipenuhi air mata dan kalimat, "Tolong lindungi aku!" Ini sih masalah selera. Hanya saja Sakura dalam buku ini juga seperti itu walaupun tidak terlalu berlebihan seperti komik-komik itu. Dan karena ini novel berbau Jepang, saya terima saja karena mungkin memang begitulah cewek-cewek Jepang. Saya kan tidak tahu aslinya seperti apa.

Plot cerita ini rapi. Alurnya cepat namun saya tidak merasa kalau semuanya diburu-buru. Bahasanya ringan dan enak dibaca. Bahkan perpindahan antara masa lalu dan masa depannya cukup mengena dan tidak terasa aneh. 

Dan yang paling saya suka dari buku ini adalah ikatan masa lalu antara Sakura, Jin, dan Keigo. Jenius! Entah kenapa saya merasa sedih dan nyenyes sewaktu segalanya terbuka. Kasihan Jin, kasihan Sakura, kasihan Keigo... Ketiganya harus kehilangan orang tua masing-masing karena perbuatan orang yang sama.

Saya mengenal tulisan Fenny sudah cukup lama, mungkin ada kali 10 tahun. Jadi, saya bisa merasakan perubahan yang besar dari gaya penulisannya. Hanami ini menunjukkan kemajuan yang sangat luar biasa. Dibandingkan dengan Moonlight Waltz (karya pertamanya) dan beberapa karyanya yang lain, Hanami ini almost perfect sampai saya bingung mau komentar apa. Haha...

Yang jelas saya akan terus menunggu karya-karya Fenny yang lain.

4/5