Tuesday, 20 September 2011

By The River Piedra I Sat Down And Wept

 

Judul : By The River Piedra I Sat Down And Wept
Penulis : Paulo Coelho
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Resensi :
"Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya"

Begitulah yang semula dipercaya Pilar. Tapi apa yang terjadi ketika ia bertemu kembali dengan kekasihnya setelah sebelas tahun terpisah? Waktu menjadikan Pilar wanita yang tegar dan mandiri, sedang cinta pertamanya menjelma menjadi pemimpin spiritual yang tampan dan karismatik. Pilar telah belajar mengendalikan perasaan-perasaannya dengan sangat baik, sementara kekasihnya memilih religi sebagai pelarian bagi konflik-konflik batinnya. Kini mereka bertemu kembali dan memutuskan melakukan perjalanan bersama-sama. Perjalanan itu tidak mudah, sebab dipenuhi sikap menyalahkan dan penolakan yang muncul kembali setelah lebih dari sepuluh tahun terkubur dalam-dalam di hati mereka. Dan akhirnya, di tepi Sungai Piedra, cinta mereka sekali lagi dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan terpenting yang bisa disodorkan kehidupan.

Buku ini tipis sekali. Cuma 222 halaman. Tapi anehnya saya merasa seperti membaca sesuatu yang berat. Memang isinya lebih banyak menceritakan kepercayaan terhadap Tuhan dalam sisi feminin, bahwa Bunda Maria dianggap sebagai sisi feminin Tuhan.

Menurut saya, isinya bisa diperdebatkan. Yang saya tahu banyak orang menganggap Maria hanyalah manusia biasa yang penuh dosa. Terutama di agama Kristen selalu dibilang Maria tidak layak disembah karena hanya Yesus saja yang pantas.

Yah, terserahlah. Urusan begituan nggak pernah bisa beres diperdebatkan.

Namun setelah membaca ini, saya cukup percaya kalau Tuhan adalah wanita juga pria. Di dalam kitab suci dikatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia sesuai gambar dirinya dan itu jelas sekali kalau Tuhan mirip dengan manusia.

Selain menceritakan konsep Bunda Maria itu, di buku ini diceritakan Pilar dan pria yang menjadi cinta pertamanya. Si pria tidak pernah disebutkan namanya sampai akhir dan saya tidak tahu kenapa. Apa Paulo Coelho ingin para pembaca menebaknya? Tapi saya tidak punya ide sama sekali.

Tiga bintang untuk satu konsep kesukaan saya di dalam buku ini. Bahwa kita harus selalu mengambil resiko untuk mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidup, membiarkan sesuatu yang tidak terduga terjadi. Kita harus memperhatikan kehidupan supaya bisa menemukan saat-saat magis (saya rasa saat magis yang dimaksud adalah kesempatan) yang akan membawa kita pada mimpi-mimpi kita. Dalam perjalanan itu kita pasti akan mengalami banyak kekecewaan namun semua itu bersifat sementara saja. Dan di masa nanti kita menoleh ke belakang, kita akan merasa bangga. Kalau orang tidak suka mengambil resiko, memang dia tidak akan banyak mengalami kesulitan. Tapi di satu titik hidupnya nanti ia akan menoleh ke belakang dan bertanya-tanya apa yang sudah dilakukannya dengan mukjizat dan karunia yang diberikan Tuhan pada mereka. Dan pada saat itulah mereka baru sadar kalau mereka sudah menyia-nyiakan hidupnya, namun sayangnya saat-saat magis itu telah berlalu. (DIRINGKAS DARI : halaman 21-22)

Selain itu, konsep yang saya suka adalah tentang jiwa kanak-kanak yang selalu ada dalam diri kita. Kita harus selalu percaya dan bergantung pada jiwa kanak-kanak karena mereka percaya akan keluguan dan keajaiban. Jiwa kanak-kanak selalu berkhayal dan bercahaya (saya rasa jiwa kanak-kanak adalah suatu pikiran positif yang mempercayai keajaiban). Jangan pernah kehilangan kontak dengan jiwa kanak-kanak yang ada dalam diri kita.

Keren. Tapi terlalu tipis bukunya, hehehe...

Dreamer is in the mood for shopping,


:)  

Monday, 19 September 2011

A Little Princess


Judul : A Little Princess
Penulis : Frances Hodgson Burnett
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
 
Resensi :
Ketika baru datang ke London dan menjadi murid di sebuah sekolah asrama bergengsi, Sara Crewe memiliki segalanya----pakaian-pakaian indah, boneka-boneka cantik, dan ayah yang selalu memenuhi segala keinginannya. Hidupnya nyaris sempurna, sampai hari ulang tahunnya yang kesebelas. Sara mendapat kabar pahit bahwa ayahnya meninggal dan tidak mewariskan apa pun padanya. Gurunya, Miss Minchin, membencinya dan memperlakukannya dengan kejam, karena dia telah jatuh miskin. Kini Sara mesti menghadapi kesulitan-kesulitannya dan membuktikan bahwa dia tetap seorang "putri raja" yang bisa bertahan dalam menghadapi masa-masa berat itu.

Saya pertama kali mengetahui karya ini dari buku Princess Diaries-nya Meg Cabot. Di situ ada quote-quote dari buku ini, namun saya tidak pernah tertarik untuk membacanya karena mungkin nggak kepikiran.

Sampai saya lihat buku ini di Gramedia. Wow, saya langsung tanpa pikir panjang beli deh.

Buku ini adalah buku anak-anak. Rasanya seperti kembali ke masa lalu sewaktu saya membaca karya Enid Blyton seperti Lima Sekawan dan Murid-murid St Clair. Mungkin itu juga karena saya sudah lama tidak membaca genre ini.

Menurut saya, buku ini layak dibaca oleh semua orang. Sara Crewe, tokoh dalam cerita ini sangatlah patut ditiru. Dia suka sekali berimajinasi sehingga ia bisa terus berpikir positif sewaktu dalam kesusahan. Dia juga selalu berbuat baik. Sampai akhirnya kebaikannya itu membuahkan kebahagiaan dalam hidupnya.

Menceritakan gadis sebelas tahun yang kaya dan sangat dimanja ayahnya. Namun itu tidak membuat Sara tinggi hati. Dia selalu penuh kasih sampai akhirnya ayahnya meninggal dan tidak meninggalkan warisan satu senpun. Ia harus bekerja di sekolahnya karena gurunya sangat jahat. Dia harus tinggal di bilik bawah atap yang jelek. Tapi ia selalu berpikir kalau dia sedang berada di penjara Bastille seperti tahanan Napoleon. Lalu ia selalu beranggapan bilik jeleknya itu bagus karena ia bisa melihat pemandangan lewat jendelanya. Mungkin terkesan menghibur diri tapi memang berpikir positif adalah salah satu hal tersulit yang pernah dilakukan.

Seperti apa yang dikatakan Natalie Glebova, Miss Universe 2005 saat ditanya "What is the biggest challenge in your life?", dia menjawab, "The biggest challenge in my life is always trying to stay positive. I consider myself the kind of person who always looks at the glass half full instead of half empty. And even though sometimes in difficult times it's hard to look at life this way, I always try to maintain the positive look in life." Yah, dialah Miss Universe yang paling saya ingat gara-gara jawabannya itu.

Kembali ke Sara Crewe, dia selalu percaya dirinya seorang putri yang identitasnya tidak diketahui. Dia menganggap hidup sebagai cerita yang bisa dia karang sesukanya. 

"Apa pun yang terjadi,"katanya, "ada satu hal yang tidak akan berubah. Jika aku benar-benar seorang putri, walaupun dengan baju kumal dan compang-comping, aku tetap bisa menjadi seorang putri. Mudah bagiku untuk menjadi seorang putri jika aku berpakaian mewah, tapi lebih memuaskan jika aku bisa menjadi putri dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya."  

Empat bintang. Keren banget ceritanya. Bukan rame atau apa, tapi moralnya bagus. Buku yang sangat tepat dibaca untuk anak-anak. Biarkan mereka percaya akan keajaiban. 

Everyone can be a princess if they want to believe it :D Miracles do happen, folks!

Tambahan quote dari goodreads dalam bahasa aslinya :

“When you will not fly into a passion people know you are stronger than they are, because you are strong enough to hold in your rage, and they are not, and they say stupid things they wish they hadn't said afterward. There's nothing so strong as rage, except what makes you hold it in--that's stronger. It's a good thing not to answer your enemies.”

Makjang, mantap!!!

Dreamer has an addiction *quoting from Dexter, the serial killer without feelings, brrrr...


:) 

Saturday, 17 September 2011

Pleasure for Pleasure


Judul : Pleasure For Pleasure (Essex Sisters #4)
Penulis : Eloisa James
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Resensi :
Josie dijuluki Sosis Skotlandia! Dan korset yang Josie pikir dapat membuatnya tampak lebih ramping malah menyiksanya. Dengan bantuan Earl of Mayne, Josie cukup percaya diri untuk membuang korset itu, merayakan tubuhnya, dan menggoda pria-pria yang dulu mengabaikannya.

Perubahan Josie menimbulkan kegemparan, sampai-sampai seorang bangsawan brengsek memaksa mencium Josie, dan membuat gadis itu tampak tercemar parah. Josie tidak ingin menikah dengan bangsawan menyebalkan itu, namun pada siapa ia harus meminta pertolongan? Pendampingnya sering kali menghilang untuk pertemuan-pertemuan misterius. Walinya sedang berbulan madu. Sahabatnya, Earl of Mayne, terlalu sibuk memandangi tunangan Prancis-nya yang cantik.

Tapi nasib berputar arah, ketidakberuntungan Josie pada akhirnya membuat wanita itu berhasil "menjebak" seseorang untuk menjadi suaminya, pria yang selama ini memang ia idam-idamkan.

Ini adalah seri terakhir dari Essex Sisters dan menurut saya ini adalah karya Eloisa James terbaik yang sejauh ini saya baca. Dialog-dialognya lucu. Saya suka sama Josie yang cute dan blak-blakan. Dia suka bikin si Mayne tertawa dengan akal-akalannya. Naughty Josie, hehehe...

Saya memang sudah menanti-nanti membaca soal Mayne. Masalahnya dia playboy yang sudah bertobat dan saya selalu suka tokoh playboy dalam cerita manapun. Dan Mayne ini unik. Dia sudah lelah dengan percintaan tak berarti dan menginginkan perkawinan sejak buku pertama. Ada saja yang menghalangi sampai akhirnya ia berakhir dengan Josie.

Kelemahan Eloisa James masih sama. Terlalu banyak cerita sampingan yang tidak fokus. Tapi mungkin saya sudah terbiasa dengan gayanya itu jadi saya tidak terlalu peduli. Cerita sampingan kali ini tentang Griselda, pendamping kakak-beradik Essex dengan Darlington. Agak membosankan membaca percintaan dan afair mereka berdua. Saya cuma suka bagian Mayne dan Josie soalnya.

Di buku ini menceritakan isu perbedaan usia, saya rasa. Mayne dan Josie berbeda enam belas tahun. Bayangkan. Josie berusia delapan belas, Mayne itu hampir dua kali lipat umurnya. Tapi mereka berdua sangat cocok. Interaksi mereka berdua bagus sekali, Eloisa James sangat kreatif untuk bagian ini. Selain itu, Griselda lebih tua lima tahun dari Darlington. Agak aneh, tapi okelah. 

Dan ada masalah soal tunangan Mayne, Sylvie yang tidak bernafsu dicium Mayne sama sekali. Ternyata Sylvie lesbi dan saya baru tahu kalau zaman itu sudah ada lesbi. Hehehehe... nggak penting.

Empat bintang, interesting read...

Dreamer is in love with "What Can I Say" song by Carrie Underwood and Sons of Sylvia, such a heartbreaking song...


:)

Saturday, 10 September 2011

Mockingjay


Title : Mockingjay (Hunger Games #3)
Writer : Suzanne Collins
Publisher : Scholastic
Synopsis :
My name is Katniss Everdeen. Why am I not dead? I should be dead.

Katniss Everdeen, girl on fire, has survived, even though her home has been destroyed. Gale has escaped. Katniss's family is safe. Peeta has been captured by the Capitol. District 13 really does exist. There are rebels. There are new leaders. A revolution is unfolding.

It is by design that Katniss was rescued from the arena in the cruel and haunting Quarter Quell, and it is by design that she has long been part of the revolution without knowing it. District 13 has come out of the shadows and is plotting to overthrow the Capitol. Everyone, it seems, has had a hand in the carefully laid plans -- except Katniss.

The success of the rebellion hinges on Katniss's willingness to be a pawn, to accept responsibility for countless lives, and to change the course of the future of Panem. To do this, she must put aside her feelings of anger and distrust. She must become the rebels' Mockingjay -- no matter what the personal cost.


I like the story. I found this trilogy was a constant page-turner. Mockingjay was still awesome, the story was good, the plot also. And I think the writing had improved, the pace was not too fast although I felt the last part was not long enough, especially after Katniss killed President Coin. Bla bla bla... and then bam she came back home without punishment. 

In this book, I found that the characters became dull and somewhat strange. Like Gale. I thought he was the cool one, always in control, but also gentle. Here, I found him heartless and ignorant. He was also quite talkative and humorous like Peeta, I sometimes couldn't find the differences in the way those two talked. He seemed not understand Katniss anymore. Maybe that was because of Katniss herself whose mental was broken down. But I thought Gale as her bestfriend could always be dependable. I didn't like his eagerness in designing bombs and his coldness in deciding enemies' fate in District 2.
 

Furthermore, I found Katniss had changed. She was not that strong and cool girl in previous books. She became defensive, sad, and crazy wounded animals with a lot of nightmares. Well, I could not blame her to be such a person. I meant with all the things that happened to her, it was surprising she still had sanity. The Hunger Games were too much. And some more Peeta was abducted and abused inhumanly. However, I didn't like the way she treated Peeta after she found out he was not the same person anymore.
 

I hated how Finnick and Prim died. Those two characters were so lovable and it was cruel how they died. 

Well, at least Peeta was alive. I always liked him, although maybe it was because he was so unlucky and pathetic that it made me concern about him. I didn't know how he could still maintain his cheerful and easy-going style after what happened. The abuse, the lost of all his family, the feeling of being alone...
 

I think this kind of story is too unbearable, too bloody, too cruel for me. It made me awake at night replaying all the scenes in my head. How sad all the characters were. They were all damaged by the war and the rebellion.
 

“Now we're in that sweet period where everyone agrees that our recent horrors should never be repeated. But collective thinking is usually short-lived. We're fickle, stupid beings with poor memories and a great gift for self-destruction.” 

The ending was not enough for me. Gale left without words. Just like that. Katniss chose Peeta because he was the only choice. I knew she loved him but Suzanne Collins never described her feelings and with such short endings I couldn't help thinking that everything was forced. Or maybe Katniss was the solitary type, she didn't need boys at all. She was incapable in expressing love, the sullen and the bitter girl unable to trust the world surrounding her because it had tortured her in such a young age. As Gale said, Katniss would choose the one she could not survive without. And it was Peeta all along. Although she didn't deserve him. Such affection, dedicated love from Peeta was not exchanged in equal manner.
 

Four stars!!!

I'm glad the series are over. It was better than Twilight, of course. Can't wait for the movie :D  

"She loves you, you know," says Peeta. "She as good as told me after they whipped you."

"Don't believe it," Gale answers. "The way she kissed you in the Quarter Quell... well, she never kissed me like that."

"It was just part of the show," Peeta tells him, although there's an edge of doubt in his voice.

"No, you won her over. Gave up everything for her. Maybe that's the only way to convince her you love her." There's a long pause. "I shoud have volunteered to take your place in the first Games. Protected her then."

"You couldn't," says Peeta. "She'd never have forgiven you. You had to take care of her family. They matter more to her than her life."

"Well, it won't be an issue much longer. I think it's unlikely all three of us will be alive at the end of the war. And if we are, I guess it's Katniss' problem. Who to choose."

"Yeah. I wonder how she'll make up her mind."


"Oh, that I do know. Katniss will pick whoever she think she can't survive without."

...That what I need to survive is not Gale's fire, kindled with rage and hatred. I have plenty of fire myself. What I need is the dandelion in the spring. The bright yellow that means rebirth instead of destruction. The promise that life can go on, no matter how bad our losses. That it can be good again. And only Peeta can give me that. 

As always, dreamer is always sad when everything is over... No more Hunger Games...


:)

Friday, 9 September 2011

Catching Fire


Title : Catching Fire (Hunger Games #2)
Writer : Suzanne Collins
Publisher : Scholastic
Synopsis :
Against all odds, Katniss Everdeen has won the annual Hunger Games with fellow district tribute Peeta Mellark. But it was a victory won by defiance of the Capitol and their harsh rules. Katniss and Peeta should be happy. After all, they have just won for themselves and their families a life of safety and plenty. But there are rumors of rebellion among the subjects, and Katniss and Peeta, to their horror, are the faces of that rebellion. The Capitol is angry. The Capitol wants revenge. Suzanne Collins continues the amazing story of Katniss Everdeen in Catching Fire, the second novel of the phenomenal Hunger Games trilogy.

I think this is much better than the first book in terms of surprises and ending. But the style of writing didn't improve. It felt raw and strange sometimes especially with lack of descriptions. The plot was too fast, it was like watching action film not reading a book. However, this book was really a page-turner that I couldn't stop reading.

Actually I didn't peek on goodreads reviews as usual before reading this book. I wanted to guess what happened as I read the book. Maybe because of that, I was surprised with almost everything. The rebellion, the hidden motives, the conspiracy were unpredictable (or maybe I was just too dazzled with the story that I was lazy to predict anything).

I still like Katniss. Well, I knew she was ignorant and cruel to Peeta and Gale. But I understand why she was like that. Years of depending only on herself, she couldn't easily break off her strong personalities. Most of the times she had to use her brain and not emotions. That's why she didn't express love the same as normal people did.

Oh, I love Peeta. It is true that Gale understands Katniss better than anyone. But I don't care. Peeta deserved Katniss more since he put Katniss above anything else in his lives.


"Because I don't want you forgetting how different our circumstances are. If you die, and I live, there's no life for me at all back in District Twelve. You're my whole life. I would never be happy again. It's different for you. I'm not saying it wouldn't be hard. But there are other people who'd make your life  worth living."

Such dedication... I was speechless. Although I knew slowly Katniss falling in love with him, I wanted her to realize faster how perfect Peeta for her. Forget Gale. 
 
So sad for Peeta... He was captured at the end of the story and yet Katniss still hadn't realize that her sorrow and painful heart was because of her love for Peeta. I meant it was soooo obvious when she felt that their last kiss had been different.  

Four and half stars only because of her writing. *Sigh... The story itself is very perfect. 

Dreamer must change the sleeping habit... 


:)

Thursday, 8 September 2011

Bumi Manusia


Judul : Bumi Manusia (Tetralogi Buru #1)
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Resensi :
Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.

Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.

Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu .... Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.

"Kita kalah, Ma," bisikku.

"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."


Membaca buku ini membuat saya terkagum-kagum pada Pramoedya Ananta Toer sebagai penulis. Dia adalah penulis yang mampu memahami dan mengamati dengan baik kebudayaan dan kehidupan di sekitarnya. Ia menggambarkan dengan tajam dan tepat bagaimana karakter bangsa Eropa, Asia, dan Pribumi. Saya bisa melihat betapa tidak adilnya hukum zaman dulu, lebih mengutamakan kulit putih daripada kulit cokelat. Padahal sudah jelas kalau pemerintahan kolonial itu memang bersalah, sudah mengacak-acak negeri orang malah ditambah dengan menginjak-injak para manusianya.

Pada zaman penjajahan Belanda selama 350 tahun itu, memang dibutuhkan buku seperti ini. Pramoedya Ananta Toer adalah seorang pejuang, bukan dengan tombak dan senjata tajam, namun dengan tulisannya. Kata-katanya yang setajam pisau seharusnya bisa memompa semangat bangsa Indonesia untuk terus melawan dan berjuang demi kemerdekaan.

Saya suka bagian diskusi Minke, pemuda pribumi yang terpelajar itu. Ia terlahir sebagai Jawa namun disekolahkan di Sekolah Belanda. Saya mengerti pergulatan batinnya untuk memilih mengikuti adat feodal Jawa yang tidak masuk akal ataukah liberalisme bangsa Eropa. Saya bisa melihat betapa kritis pikiran seorang Minke ini dalam memahami kehidupan di sekitarnya. Dia banyak bertanya, berdiskusi, mengemukakan pendapatnya. Semua itu membuatnya berbeda dan unik dari teman-teman sebayanya yang masih memikirkan cara bersenang-senang.

Penokohan dalam buku ini sangatlah lengkap dan kuat. Saya terutama mengagumi sosok Nyai Ontosoroh yang mampu bangkit dari keterpurukan nasibnya menjadi orang yang luar biasa lewat otodidak. Berapa banyak orang yang bisa sukses lewat otodidak? Nyai Ontosoroh ini begitu tekun dan gigih memperjuangkan apa yang menjadi haknya sekalipun ia tidak bisa melupakan kepahitan nasibnya sendiri.

Bumi Manusia, menceritakan berbagai macam manusia dari berbagai ras yang tinggal di Indonesia pada zaman kolonial. Buku ini pernah dilarang untuk beredar dengan alasan isinya yang penuh doktrin komunisme sekalipun tidak ada hal seperti itu di dalam bukunya. Pramoedya Ananta Toer sendiri menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam penghargaan Nobel sastra. Karyanya ini menurut saya sangat berani dalam mencerca dan mengutarakan kejujuran. Diciptakan secara lisan pertama kali saat Pramoedya Ananta Toer dipenjara di Pulau Buru (karena itulah dinamakan Tetralogi Buru), saya bisa melihat betapa gigihnya sang penulis karena bahkan dalam keadaan seperti itupun ia tidak pernah berhenti mengekspresikan buah-buah pikirannya.
 

Yang membuat buku ini sangat "menendang" bagi saya adalah percakapan-percakapan Minke dengan tokoh-tokoh lainnya juga pikirannya yang penuh analisis.

Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.

Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.  

Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput. 

Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya , tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini.  (Betul sekali, makanya saya lebih suka cerita orang miskin dibandingkan cerita orang kaya model Gossip Girl itu)

Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas.

Suatu bangsa yang telah mempertaruhkan jiwa-raga dan harta benda untuk segumpal pengertian abstrak bernama kehormatan. 
 
Melawan pada yang berilmu dan berpengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.

Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai. 

Tak pernah ada perang untuk perang. Ada banyak bangsa yang berperang bukan hendak keluar sebagai pemenang. Mereka turun ke medan perang dan berguguran berkeping-keping seperti bangsa Aceh sekarang ini...ada sesuatu yang dibela, sesuatu yang lebih berharga daripada hanya mati, hidup atau kalah-menang. 

Surat-surat Miriam de la Croix dan Sarah de la Croix pada Minke juga luar biasa. Bisa saya lihat betapa jahat bangsa Eropa dan betapa menyedihkan bangsa Indonesia. Betul, katanya. Tombak melawan peluru, bagaimana bisa menang? Belanda itu begitu tidak adil. 

"Tidak, sayang. Di Nederland ada segalanya. Semua saja yang Juffrouw inginkan bisa diperoleh."

"Kalau di Nederland sana ada segalanya, untuk apa orang Eropa datang kemari?"

Memang betul. Orang Eropa hanya bisa merampok milik bangsa lain. Dan karena bangsa Indonesia masih bodoh dan tidak sekolah, jadilah mereka dijajah begitu lama. 

Di akhir cerita, Minke tak bisa melawan hukum Belanda. Ia yang tadinya memuja ilmu Eropa karena disekolahkan di sekolah Belanda jadi membenci ilmu-ilmu yang dipelajarinya. Dia pikir dengan darah pribumi ningrat (ayahnya bupati) dan latar belakang pendidikannya, ia bisa diperlakukan adil secara hukum. Punya privilege begitu. Tapi ia salah. Selamanya pribumi tetaplah di bawah.

Humanisme, feminisme, dan pembelaan terhadap HAM sangat kuat dalam buku ini. Luar biasa bagaimana Pramoedya Ananta Toer bisa menuliskan itu semua dalam sebuah buku.

Lima bintang!!!

Dreamer is going crazy... Eight months left zzzz....


:)  

Sunday, 4 September 2011

First Love Forever Love


Judul : First Love Forever Love
Penulis : Shu Yi
Penerbit : Serambi
Resensi :
Jika saat itu aku punya keberanian, cinta kita pasti tak akan berakhir seperti ini. Jika saat itu kamu gigih, kisah kita pasti tak akan menjadi begini.

Cinta pertama telah menorehkan luka di hatiku. Menyisakan malam-malam penuh derai air mata, mengingatkanku selalu kepadamu, pada cinta kita …

Kita sering tak mengerti apakah yang dinamakan cinta. Dulu aku selalu berpikir cinta bisa melampaui segalanya. Saat itu aku tak tahu bahwa ternyata ada kekuatan lain yang disebut takdir … Kita tak bisa melakukan apa pun untuk mengubahnya dan hanya bisa menerimanya.

Novel indah yang berkisah tentang kenangan cinta pertama yang sangat romantis ini dipersembahkan kepada mereka yang meyakini kekuatan cinta.


Saya awalnya tidak tertarik sama buku ini. Tapi karena ada yang merekomendasikan, jadi deh penasaran.

Setelah membaca buku ini, terus terang saya tidak bisa berkomentar lain selain LUAR BIASA. Saya adalah penggemar cerita dramatis dan penuh tragedi. Dan novel ini bisa dibilang menyajikan semuanya dalam porsi yang cukup berlebihan.


Akhirnya tragis namun sangat mengena. After-tastenya terbayang-bayang terus sampai saya nggak bisa tidur. 


Dulu saya tidak suka sama cerita sad ending. Tapi semakin ke sini, saya tidak keberatan karena justru cerita sad ending itulah yang lebih diingat.

Cerita dimulai saat Zhao Mei atau Meimei kuliah di Odessa, sebuah desa kecil di Ukraina. Dia tinggal bersama temannya, Peng Wei Wei. Di awal saya bisa melihat betapa polos dan bodohnya Zhao Mei. Tipikal cewek Asia kali ya. Lemah dan sering menangis.


Sampai suatu hari ia diselamatkan oleh seorang pria yang hanya dikenalnya lewat suaranya. Dan pria itu, Sun Jiayu adalah seorang playboy mata keranjang yang bekerja sebagai penyelundup barang-barang impor gelap. 

Cinta tak bisa memilih...


Zhao Mei tidak pernah ingin mencintai Jiayu yang adalah pacar Wei Wei, sahabatnya. Hanya saja saat hubungan kedua orang itu putus, Jiayu terus mendekatinya. Saya saja langsung suka dengan Jiayu yang tengil dan terlalu pede dalam meluluhkan hati Zhao Mei. Apalagi si Zhao Mei.


Jiayu tidak pernah ingin berhubungan dengan Zhao Mei. Namun saat suatu hari dia mengambil "kepolosan" Zhao Mei, dia mungkin jadi merasa bersalah. Tapi semakin lama, Zhao Mei berhasil menimbulkan rasa sayangnya melalui keceriaan dan kemurniannya. 


Gadis bodoh... begitu menurut Jiayu. Mulut Jiayu memang kasar dan kurang ajar. Bahkan tak jarang Zhao Mei marah karena Jiayu begitu tidak berperasaan setelah mengambil "miliknya".


"Aku ini mata keranjang dan tidak punya tanggung jawab, juga tak bisa merayu dengan romantis, tapi mengapa kau masih ingin hidup denganku ?”


Saya bisa merasakan perlahan-lahan cinta tumbuh di hati Jiayu, dilihat dari ekspresi dan sikap sehari-harinya pada Zhao Mei. Saya sendiri tersentuh dengan pengorbanannya pada Zhao Mei. Ia rela mati-matian menjaga dan melindungi Zhao Mei sekalipun mulutnya memang jahat dan suka menghina.


Zhao Mei tidak pernah benar-benar mengenal Jiayu. Dia mencintai pria itu tanpa syarat dan dengan cinta yang buta. Tapi sesungguhnya kalau dia tahu masa lalu Jiayu, dia pasti bisa jauh lebih memahami pria itu.


Bercerita tentang kesalahan-kesalahan. Seandainya Zhao Mei tidak pernah jatuh cinta pada Sun Jiayu, semua tragedi hidupnya tidak akan pernah terjadi. Ini sih parah. Jiayu digambarkan sebagai pembawa sial terhadap semua perempuan yang dicintainya. Perempuan pertama kabur dengan uangnya, perempuan kedua yang adalah sahabat Zhao Mei mati bunuh diri, dan yang terakhir... Saya speechless. Zhao Mei rela mengorbankan semuanya demi cintanya pada Jiayu. Bahkan ia rela tidur dengan mantan rekan bisnis Jiayu hanya demi uang supaya bisa membebaskan pria itu dari penjara. Tapi semua tindakannya malah membuat dirinya kehilangan pria itu. Kejam sekali. Hanya gara-gara kebodohan dan kepolosannya, Zhao Mei membahayakan nyawa dan kekayaan Jiayu. Tapi tetap saja. Jiayu masih terus melindungi dan mengutamakan Zhao Mei. 

"Perempuan tak bisa melupakan lelaki yang mampu membuat mereka meneteskan air mata. Begitu juga halnya dengan lelaki. Mereka hanya ingat pada perempuan yang pernah membuat mereka sakit hati"

Itu adalah perkataan Luo Qian, salah satu kenalan Jiayu setelah Jiayu berhasil keluar dari penjara dari uang yang dikumpulkan Zhao Mei. Hanya saja Jiayu tidak mau bertemu Zhao Mei lagi karena merasa telah menghancurkan gadis itu. 

Begini lengkapnya.


"Duh, Nona. Aku beri tahu kau sesuatu hal yang menyenangkan. Kemarin sore Lao Qian (mantan rekan bisnis Jiayu) datang ke tempatku. Dia membawa kaset rekaman video dan mencari Jiayu. Dia membawa benda ini untuk ditukarkan dengan jaringan kerja yang dikumpulkan Jiayu di Ukraina selama tujuh tahun ini. Jika tidak, dia akan menyebarkan isi rekaman video ini di internet. Jiayu tak punya pilihan dan terpaksa menuruti kemauannya. Jerih payah selama tujuh tahun, kau tahu apa artinya? Selain itu, kau ingin tahu apa isi rekaman video itu?" (Sumpah saya sudah tahu apa kelanjutannya setelah membaca kalimat ini. Saya sampai syok sendiri karena sebelumnya tidak terlalu dijelaskan dengan jelas apa yang dilakukan si Zhao Mei dengan Lao Qian)

"Apa maksud ucapanmu ini?"


"Menurutmu apa maksudku? Kau tidur dengan lelaki demi dua puluh ribu dolar AS, pelacur paling mahal di Odessa pun takkan semahal itu. Kaupikir siapa dirimu? Kau ingin tahu apa yang telah dilakukan Lao Qian? Ya. Lao Qian menggunakan kamera tersembunyi. Dengar, Zhao Mei. Kenapa kau tak berpikir dengan otakmu? Apa tindakan ini masuk di akal? Apa kaupikir semua lelaki itu bodoh? 


"Uang untuk menyelamatkan nyawa seorang lelaki didapat dari kekasihnya dengan menukarkan tubuhnya. Ini ibarat belati yang ditusukkan pada dirinya secara hidup-hidup! Kau mengerti? Kau membuat dia tak lagi punya harga diri untuk menemuimu.


"Zhao Mei, saat aku seumurmu, aku bahkan lebih bodoh darimu. Aku beri kau sebuah saran. Kau harus ingat baik-baik. Jangan sekali-kali kau memandang terlalu tinggi pengaruhmu terhadap lelaki. Mereka punya dunia dan prinsipnya sendiri. Juga jangan korbankan dirimu demi mereka. Mereka akan berterima kasih kepadamu, tapi takkan membuat mereka lebih mencintaimu." 

Saya kaget-sekagetnya. Kasihan sekali keduanya. Cinta yang tak sejalan dengan takdir... 

"Lupakan semua ini. Teruskan impianmu. Berjalanlah terus dan pasti ada orang lain yang mencintaimu dibandingkan aku."

Itulah pesan terakhir Jiayu disertai uang puluhan ribu dolar untuk biaya kuliah Zhao Mei di Austria.

Epilognya adalah satu setengah tahun kemudian di mana Zhao Mei sedang kuliah di Austria melanjutkan studinya belajar piano. Suatu hari ia melihat pengumuman pencarian dirinya oleh seorang bernama Cheng Ruimin, sahabat Jiayu. Tapi pengumuman itu sudah lima bulan berlalu. Dari Ruimin, Zhao Mei baru tahu kalau Jiayu sudah meninggal dua bulan lalu (terlambat!!) karena kanker lambung. Memang Jiayu selalu terkena keram lambung kalau sedang tegang. Tapi saat Zhao Mei dulu menyuruhnya ke dokter, Jiayu tidak mau menurut. Jadi saat terakhir diperiksa, semua sudah terlambat.

Jiayu meninggalkan sebuah alkitab yang selalu dibacanya saat menunggu Zhao Mei les piano dulu. Memang Jiayu sempat membayarkan guru les piano untuk Zhao Mei. Kata Ruimin, Jiayu selalu membawa alkitab itu ke mana-mana sampai ajal menjemputnya. Di alkitab itu Zhao Mei menemukan sebuah foto dirinya sedang tertawa gembira di depan piano. Di belakangnya bertuliskan : Perempuanku, kudoakan kau berbahagia seumur hidupmu!


Namun di dalam hari-harimu yang sunyi dan sedih,
Kumohon sebutkan namamu dengan lirih
Katakan bahwa ada yang sedang merindukanku
Di dunia ini aku hidup di dalam hati seseorang yang merindukanku


Puisi di atas itu penggalan dari karya Pushkin, sang penulis Rusia yang berjudul "Namaku". Puisi itu sebenarnya dibisikkan kepada Jiayu oleh seorang gipsi peramal. Ternyata si gipsi sudah tahu akhir dari nasib si Jiayu. Kepada Zhao Mei, si gipsi memberitahu kalau tubuhmu akan berada di satu tempat namun hatimu di tempat lain dan atas paksaan para dewa hatimu akan terus berkelana. 

Tragis gila. Zhao Mei yang polos baru tahu di akhir kalau selama ini Jiayu benar-benar mencintainya dan bukan hanya sebagai pengganti pacar pertamanya yang dulu mirip dengan si Zhao Mei. Dan parahnya Zhao Mei nggak pernah sekalipun mengucapkan "I Love You" pada si Jiayu. Teganya, teganya, teganya...

...Ternyata dia ingin menggunakan cara-cara itu untuk berterus-terang kepadaku bahwa apa yang dia lakukan untukku memang hanya sejauh itu saja. 

Sayangnya, saat itu aku mengira sudah berhasil memahami betapa kejamnya cinta. Pikirku, aku telah berhasil membuka kedok seorang pria yang sebenarnya. Namun, ternyata saat itu aku masih terlalu muda. Aku masih belum mengerti apa-apa. 


Hari ini akhirnya aku paham, tetapi semuanya sudah terlambat, sangat terlambat.

Dan yang paling parah...


Aku mengulurkan tangan untuk melihat telapak tanganku. Di sana seolah mengalir masa lalu yang perlahan-lahan pergi. Cintaku yang pernah hilang di Odessa, dalam tempo 10 bulan kini telah menjadi jalinan cinta yang sehidup dan semati. Ternyata mencintai seseorang bergantung pada takdir dari langit dan tak bisa ditentukan oleh diri sendiri. 

Masa-masa yang paling indah dalam hidup, saat itu justru terasa biasa-biasa saja. Namun kini, ketika aku menolehkan kepala, barulah aku sadar, ternyata masa-masa yang paling kemilau justru telah lama berlalu. 


Musim dingin di Austria juga diwarnai salju lebat. Namun, aku tak pernah lagi hujan salju sebesar yang kualami di Gunung Carpathian saat itu. Aku juga tak pernah bertemu  lagi dengan seseorang yang seperti dia. Seseorang yang mencintaiku layaknya dia mencintai nyawanya sendiri.

Oh, my God...


Romantis? Lumayan sih. Saya suka sekali pada tokoh Jiayu yang cerewet dan narsis. Dia sangat tegas dan blak-blakan. Namun di balik semua sikap itu dia menyimpan kelembutan dan dia selalu melindungi orang-orang yang disayanginya sampai titik penghabisan.
 
Empat bintang. Sayang sekali saya tidak bisa menangis sekalipun ceritanya begitu sedih. Terjemahannya buruk dan banyak sekali kesalahan ketik. Lalu gaya bahasa penulisan Mandarin memang kurang cocok mungkin di otak saya. Banyak sekali majas dan peribahasa yang cukup aneh walaupun bisa dimengerti.


Tapi saya sangat menyukai ceritanya. Buku favorit saya menggeser kedudukan Jane Eyre. 


Dreamer is sad because my family went back to Indonesia,


:)