Showing posts with label Eloisa James. Show all posts
Showing posts with label Eloisa James. Show all posts

Sunday, 29 January 2012

Enchanting Pleasures


Judul : Enchanting Pleasures (Pleasure #3)
Penulis : Eloisa James
Tebal : 520 halaman
Penerbit : Dastanbooks
My rating : 4/5

Akhirnya bisa baca seri terakhir juga. Memang biasanya karya Eloisa James sedikit membosankan karena terlalu banyak tokoh dan porsi cerita main character-nya yang terganggu. Tapi saya sudah terbiasa dengan style writing dia, jadi ya sudah deh.

Yah... untungnya yang ini bener-bener bagus. (Rating empat bintang berarti bagus, yah... saya mah pelit, kasih lima bintang cuma buat buku yang bikin saya amazed parah sampai nggak bisa tidur...)

Oke, lanjut.

Ceritanya tentang Gabrielle Jenningham yang dibesarkan di India oleh ayahnya yang seorang misionaris. Dia punya maskawin yang besar dan akhirnya dia dijodohkan dengan seorang Viscount Dewland. Dia harus menempuh perjalanan ke Inggris untuk bertemu dengan calon suaminya.

Pewaris gelar Viscount Dewland adalah Erskine "Quill" Dewland. Si Quill ini pernah cedera kepala jadi dia itu selalu migrain kalau melakukan pekerjaan berirama seperti berkuda (jangan tanya pekerjaan yang lain itu apa). Dan dia dipercaya nggak bisa punya keturunan. Nah, makanya dia nggak mau nikah. Dan Peter, adiknya akhirnya menggantikan posisinya sebagai calon suami Gabrielle.

Bertemulah si Quill ini dengan Gaby waktu jemput Gaby di dermaga. Dia pun terpesona. Dengan gaya acak-acakannya dan tidak tahu sopan santun Inggris, Gaby mampu membuat si serius Quill terhibur.

Sementara itu, Peter orang yang sangat rapi dan memperhatikan kesopanan sebel banget sama Gaby. Udah ceroboh, konyol, cerewet pula. Peter stres sendiri, dia nggak mau nikah sama si Gaby.

Tapi Quill mau. Terjadilah kesepakatan. Quill akan melamar Gaby dengan memanfaatkan sifat romantis Gaby. Dia melamar pakai puisi menjijikkan yang bikin saya geli sendiri.

"Aku membara, aku binasa."

"Matamu bagai kelap-kelip bintang."

What???? Sumpah. Quill kan kaku dan dingin. Terus dia melamar pakai macam-macam puisi lebay. Lucu gila...

Cerita setelah mereka menikah cukup rumit. Ada membahas soal putra mahkota India yang dicari-cari pemerintah Inggris, lalu membahas obat migrain supaya Quill nggak sakit lagi setiap kali mereka gituan, belum ditambah secondary character (yang terakhir sih nggak penting +.+). Pokoknya, saya harus mengacungkan jempol buat Eloisa James yang sudah sangat kreatif memanfaatkan sejarah penemuan obat, sejarah India, dan sejarah migrain untuk membumbui cerita ini.

Great story. Favorit dari seluruh buku Eloisa James yang saya baca. Dan seri Pleasure ini juga seri terbaik EJ, menurut saya yah...

Pleasure Series :
1. Potent Pleasures
2. Midnight Pleasures
3. Enchanting Pleasures

Tuesday, 6 December 2011

Your Wicked Ways


Judul : Your Wicked Ways (Duchess Quartet #4)
Penulis : Eloisa James
Tebal : 440 halaman
Penerbit : Dastanbooks
My rating : 1/5

Seri terakhir Duchess Quartet ini paling saya tunggu-tunggu. Kenapa? Soalnya saya penasaran sama Helene, Countess Godwin yang kaku dan sangat alim. Bagaimana caranya dia berbaikan lagi dengan suaminya, Rees yang suka selingkuh? Bagaimana caranya Rees menebus semua perbuatan bejatnya?

Yah, menarik sih. Kan kapan lagi dapat cerita tentang istri yang telah disakiti memaafkan suaminya? Apalagi si Rees ini bahkan mengusir Helene agar tidak tinggal di rumahnya. Yang tinggal di rumahnya malah gadis opera simpanannya. Jahat, memang.

Tapi saya kecewa, sangat sangat sangat kecewa dengan buku ini. Saya tidak tahu kenapa buku ini diterbitkan di Amerika sana. Plotnya kacau, penokohannya yang aneh, dan bahkan terlalu banyak dialog yang nggak nyambung. Nggak masuk akal sama sekali. Ditambah lagi cerita Rees-Helene ini dirusak dengan secondary characters yang tidak jelas. Secondary characters-nya itu adik Rees yang seorang pendeta dan gadis opera bekas selingkuhan Rees. Astaga. Pendeta dan si gadis opera saling berdialog tentang alkitab. Who cares? Cukup dialog pintar saja, tidak perlu menjelaskan secara detail soal alkitab. Rees dan Helene juga sama saja. Dasar maniak musik! Setiap dialognya bicara soal partitur dan lirik lagu yang bahkan nggak ada hubungannya dengan cerita utama. Ini kan buku historical romance bukan alkitab dan panduan musik opera. 

Emosi bacanya.

*Tarik napas...

Edisi terjemahan Dastanbooks juga tidak kalah buruk. Banyak typo dan terjemahan aneh yang sangat mengganggu. Mungkin penerjemahnya juga sudah kesal sama ceritanya sampai nggak peduli lagi. (*sotoy narik-narik kesimpulan).

Saya pengennya nggak kasih bintang. Cuma, saya tahu Eloisa James sudah susah-susah research soal opera dan liriknya itu. Walaupun dia gagal menarik minat baca saya.

Seri Duchess Quartet :
1. Duchess In Love
4. Your Wicked Ways

Wrong choice of book devastated dreamer's mood,



:)

Friday, 7 October 2011

A Wild Pursuit


Judul : A Wild Pursuit (Duchess Quartet #3)
Penulis : Eloisa James
Penerbit : Dastanbooks
Resensi :
Lady Beatrix Lennox bukan seperti wanita kebanyakan. Akibat skandal pada debut pertamanya, reputasi Bea hancur dan ia tidak lagi diakui oleh keluarganya. Bea menjadi seorang wanita bebas yang mengejar apa pun dan siapa pun yang diinginkannya. Kesukaannya untuk bersenang-senang, memakai gaun berpotongan dada rendah, dan menyombongkan pengalamannya dengan banyak pria membuatnya jadi bahan celaan masyarakat kalangan atas.

Lord Stephen Fairfax-Lacy, Earl of Spades, jenuh dengan kesibukannya sebagai anggota Parlemen. Ia menghadiri jamuan makan malam di kediaman keluarga Rawlings saat Parlemen sedang reses dengan harapan bisa mendapat wanita cantik yang bisa dijadikan simpanan untuk melampiaskan hasratnya. Namun, tanpa disadarinya, Stephen justru terperangkap dalam intrik dan terjebak di antara tiga wanita, termasuk Bea si pembuat skandal.

Stephen pada awalnya merasa heran dengan tindakan Bea yang berusaha menjodohkannya dengan Helene, karena ia bisa melihat ketidakbahagiaan di balik topeng yang ditampilkan Bea. Di sisi lain, Bea yang menganggap Stephen sebagai lelaki kolot malah semakin tertantang untuk menaklukkan pria itu. Mampukah Stephen menundukkan keliaran Bea? Akankah Bea menyadari bahwa Stephen merupakan belahan jiwa yang dicarinya selama ini? Bagaimana Bea menghadapi para saingannya dalam memperebutkan Stephen?


Sepertinya saya membaca banyak buku Eloisa James tahun ini. Masalahnya, karangan dia yang saya beli itu berseri semua. Kalau nggak baca semua, rasanya aneh.

Buku ini adalah lanjutan dari Duchess in Love dan Fool For Love. Masih ada buku keempatnya sih, tapi itu cerita lain. 

Seri ketiga ini membosankan di bagian awal. Dan yang jelas jangan berharap cerita fokus dua tokoh utama. Seperti buku Eloisa James yang lain, ada tokoh sekunder di sini. Dulu saya mungkin nggak tahan baca model beginian, seperti contohnya waktu saya baca Duchess in Love itu. Tapi makin lama saya semakin terbiasa dengan karangan Eloisa James saking banyaknya baca buku dia.

Nah, di sini tokoh sekundernya bahkan porsinya lebih besar dari si tokoh utama. Stephen si bujangan tua berusia 43 tahun diperebutkan tiga wanita. Pertama si Esme yang butuh dia sebagai tunangan gadungan supaya bisa menghindar dari Sebastian yang terus-menerus melamarnya. Sebastian itu punya reputasi yang kacau setelah skandal di buku ke satu. Lalu wanita kedua yang memperebutkan si Stephen adalah Helene yang punya suami tukang selingkuh. Dia butuh Stephen sebagai kekasih gadungan di hadapan sang suami yang jahat. Dan wanita terakhir adalah Beatrix.

Wow. Eloisa James memang agak berani selera humornya. Karena tokoh wanitanya agak nakal semua, jadi banyak skandal gitu. Cemburu-cemburuan antara Beatrix dan Sebastian itu yang paling seru. Kayak sinetron saja. Dialog-dialognya sangat terasa kunonya sehingga agak aneh tapi cukup menghibur.

Empat bintang untuk skandalnya yang heboh. Walaupun sebenarnya ceritanya membosankan, saya mau bermurah hati untuk pengarang. Nggak gampang buat cerita dengan tokoh berseliweran seperti itu.

Dreamer will be having break for three weeks, all for assignment purposes,


:)  

Saturday, 17 September 2011

Pleasure for Pleasure


Judul : Pleasure For Pleasure (Essex Sisters #4)
Penulis : Eloisa James
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Resensi :
Josie dijuluki Sosis Skotlandia! Dan korset yang Josie pikir dapat membuatnya tampak lebih ramping malah menyiksanya. Dengan bantuan Earl of Mayne, Josie cukup percaya diri untuk membuang korset itu, merayakan tubuhnya, dan menggoda pria-pria yang dulu mengabaikannya.

Perubahan Josie menimbulkan kegemparan, sampai-sampai seorang bangsawan brengsek memaksa mencium Josie, dan membuat gadis itu tampak tercemar parah. Josie tidak ingin menikah dengan bangsawan menyebalkan itu, namun pada siapa ia harus meminta pertolongan? Pendampingnya sering kali menghilang untuk pertemuan-pertemuan misterius. Walinya sedang berbulan madu. Sahabatnya, Earl of Mayne, terlalu sibuk memandangi tunangan Prancis-nya yang cantik.

Tapi nasib berputar arah, ketidakberuntungan Josie pada akhirnya membuat wanita itu berhasil "menjebak" seseorang untuk menjadi suaminya, pria yang selama ini memang ia idam-idamkan.

Ini adalah seri terakhir dari Essex Sisters dan menurut saya ini adalah karya Eloisa James terbaik yang sejauh ini saya baca. Dialog-dialognya lucu. Saya suka sama Josie yang cute dan blak-blakan. Dia suka bikin si Mayne tertawa dengan akal-akalannya. Naughty Josie, hehehe...

Saya memang sudah menanti-nanti membaca soal Mayne. Masalahnya dia playboy yang sudah bertobat dan saya selalu suka tokoh playboy dalam cerita manapun. Dan Mayne ini unik. Dia sudah lelah dengan percintaan tak berarti dan menginginkan perkawinan sejak buku pertama. Ada saja yang menghalangi sampai akhirnya ia berakhir dengan Josie.

Kelemahan Eloisa James masih sama. Terlalu banyak cerita sampingan yang tidak fokus. Tapi mungkin saya sudah terbiasa dengan gayanya itu jadi saya tidak terlalu peduli. Cerita sampingan kali ini tentang Griselda, pendamping kakak-beradik Essex dengan Darlington. Agak membosankan membaca percintaan dan afair mereka berdua. Saya cuma suka bagian Mayne dan Josie soalnya.

Di buku ini menceritakan isu perbedaan usia, saya rasa. Mayne dan Josie berbeda enam belas tahun. Bayangkan. Josie berusia delapan belas, Mayne itu hampir dua kali lipat umurnya. Tapi mereka berdua sangat cocok. Interaksi mereka berdua bagus sekali, Eloisa James sangat kreatif untuk bagian ini. Selain itu, Griselda lebih tua lima tahun dari Darlington. Agak aneh, tapi okelah. 

Dan ada masalah soal tunangan Mayne, Sylvie yang tidak bernafsu dicium Mayne sama sekali. Ternyata Sylvie lesbi dan saya baru tahu kalau zaman itu sudah ada lesbi. Hehehehe... nggak penting.

Empat bintang, interesting read...

Dreamer is in love with "What Can I Say" song by Carrie Underwood and Sons of Sylvia, such a heartbreaking song...


:)

Sunday, 31 July 2011

Fool For Love


Judul : Fool For Love (Duchess Quartet #2)
Penulis : Eloisa James
Penerbit : Dastanbooks
Resensi :
Lady Henrietta Maclellan adalah wanita cantik, cerdas, dan mewarisi kekayaan berlimpah. Gadis romantis ini sangat mendambakan pernikahan dan anak-anak, tapi kondisi kesehatannya menjadi penghalang untuk mendapatkan keduanya. Ia lalu menyalurkan hasratnya dengan mempelajari cara-cara membesarkan anak dan mempraktikkannya dengan mengajar di sekolah. Namun, saat ia bertemu dengan Simon Darby, Henrietta bersumpah untuk mengejar keinginannya, tidak peduli jika ia harus membuat skandal sekalipun.

Simon Darby adalah pria tampan calon pewaris gelar earl yang suka berpakaian bagus dan dilabeli sebagai bujangan paling diminati. Diserahi tanggung jawab untuk mengurus dua adik tirinya yang masih kecil dan merepotkan, membuat Simon tidak berminat untuk menikah apalagi mempunyai anak. Segalanya berubah setelah ia jatuh hati pada pesona, kecantikan, dan sikap blak-blakan Henrietta. Tapi ketika ia menyadari apa diderita Henrietta, Simon tahu bahwa ia tidak bisa menikahi wanita itu.

Henrietta kemudian menulis surat palsu yang menyatakan bahwa Simon telah merenggut kesuciannya. Dengan berat hati, Simon kemudian menikahi Henrietta. Meskipun keduanya mulai saling jatuh cinta, tapi mereka tidak pernah memercayai satu sama lain. Dan masalah mereka tidak berhenti sampai di situ. Siapkah Henrietta menerima konsekuensi atas ketidakjujurannya? Lalu, bagaimana cara Simon menyempurnakan pernikahan mereka tanpa melukai Henrietta yang perlahan mulai mengisi relung hatinya?


Hmm... sebenernya gue nggak nyangka buku ini cukup menarik buat dibaca. Waktu gue baca sekuelnya dulu, Duchess In Love, gue ampe stres karena bosannya minta ampun. Gue habisin berminggu-minggu buat baca buku itu sampe eneg sendiri. 

Tapi yang ini lumayan. Masih sama dengan sudut pandang nggak fokus, tapi lebih bagus karena gue udah kenal semua tokohnya dari buku satu. Contohnya, Esme. Dia mengambil porsi cukup besar di buku satu di mana sebenernya nggak terlalu penting. Tapi di sini okelah. Dia ada peran menyatukan kedua tokoh utama.

Kedua tokoh utamanya perfect banget. Gue suka karena mereka nggak sempurna. Ceweknya agak pincang karena pinggulnya ada masalah sehingga nggak bisa punya anak. Cowoknya terlalu modis dan suka pake baju berenda-renda. Lucu deh.

Percakapan di antara keduanya juga sangat lucu dan enak dibaca. Gue suka banget tuh. Dan gue sangat suka si Simon Darby karena dia dengan tegas bilang kalau dia nggak serendah itu buat selingkuh sewaktu istrinya nyuruh dia punya simpanan. Bermartabat banget si Simon. Mantap.

Empat bintang. Interesting read.

Dreamer is gonna watch Captain America today...


:)
 

Saturday, 23 July 2011

The Taming of The Duke


Judul : The Taming Of The Duke (Essex Sisters #3)
Penulis : Eloisa James
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Resensi :
Setelah setahun berlalu, Imogen memutuskan masa berkabungnya sudah berakhir. Saatnya memanfaatkan statusnya sebagai janda muda sebaik-baiknya. Bagaimanapun, status baru itu memberinya kesempatan untuk memiliki cicisbeo---kekasih gelap. Maka Imogen pun mulai memilih targetnya.

Rafe merasa geli dengan ulah Imogen, dan sangat senang mendengar Imogen gagal mendekati Mayne. Tapi ketika bekas anak perwaliannya itu mulai menggoda Gabe, adik haram Rafe, rasa geli Rafe berubah jadi cemburu.

Tidak, kali ini Rafe memutuskan tidak akan kehilangan Imogen lagi. Ia bertekad mendapatkan Imogen. Rafe pun menyamar sebagai Gabe, dan mengalami saat-saat menyenangkan bersama Imogen. Tapi penyamarannya berbalik menjadi senjata makan tuan. Karena ketika Imogen berkata, "Aku mencintaimu", Rafe jadi tidak yakin siapa yang dimaksud wanita itu, Gabe atau Rafe?


Seperti yang pernah gue bilang, gue sangat menanti-nantikan baca buku ini setelah membaca dua buku sebelumnya : Much Ado About You dan Kiss Me, Annabel. 

Menurut gue, ceritanya sih lebih bagus dari dua buku sebelumnya. Kenapa? Karena dari awal gue tertarik membaca soal Imogen yang keras kepala, menyebalkan, dan penuh dengki. Lagipula prianya itu tukang mabok dan digambarkan berperut gendut.

Ini satu-satunya buku yang bisa bikin dua orang kurang menarik menjadi tokoh utama yang sangat gue suka. Imogen di buku satu adalah si keras kepala dan penuh dengki. Di buku kedua dia marah karena suaminya meninggal jadi dia ingin membuat skandal dan jadi liar. Di buku ketiga ini dia bertambah dewasa dan ternyata dia sadar kalau dirinya bukan tipe orang yang ingin tidur sembarangan dan membuat afair.

Rafe pemabuk dari awal sudah gue suka. Dia cukup lucu karena sangat berantakan dan canggung dalam menjadi wali. Dia digambarkan tidak cocok sebagai duke tapi juga punya aura kasar.

Nah, di buku ini dia berhenti minum. Berubahlah jadi ganteng karena perutnya ga buncit lagi dan jadi lebih kurus.

Rafe sudah tertarik pada Imogen sejak buku satu di mana ditunjukkan kalo dia benci sama Draven Maitland yang merupakan sasaran cinta Imogen. Di buku ini gue suka banget sama dia yang bisa memahami perasaan Imogen dan menerima gadis itu sepenuh hati. Sayangnya dia tidak terlalu punya percaya diri karena selama ini Imogen selalu mengejeknya sebagai pemabuk tak bertanggung jawab. Jadi, dia menggunakan penyamaran sebagai adik haramnya yang cukup mirip dengannya.

Sepanjang buku terlihat kalau Imogen jatuh cinta pada sosok tersembunyi si Gabe, adik Rafe. Sayangnya Imogen nggak tau kalau itu Rafe.

Sumpah. Rafe di sini digambarkan jadi terlalu hot menurut gue. Imogen memang sejak awal digambarkan sangat cantik dan sensual.

Kekurangan buku ini adalah bagian akhirnya. Tiba-tiba saja Imogen sudah tahu kalau yang selama ini bercinta dengannya itu adalah si Rafe dan bukannya Gabe. Bagian penjelasan di situ kurang.

Seperti biasa, Eloisa James selalu tidak fokus dalam sudut pandang karakternya dan banyak loncat-loncat. Tapi sudahlah. Kebetulan gue cukup penasaran dengan si Gillian sih jadi bisa ditolerir. Walau menurut pendapat gue, cerita sampingan itu agak merusak hubungan tokoh utama sih.

Empat bintang.

Dreamer is planning to stay at home next week despite of the class... Lazy...


:)

Thursday, 21 April 2011

Kiss Me, Annabel


Judul : Kiss Me, Annabel
Penulis : Eloisa James
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Buku ini adalah buku kedua dari seri Essex Sisters. Gue kemarin udah baca buku pertamanya, Much Ado About You. Tapi entah kenapa buku ini nggak sebagus buku pertamanya.

Resensi :
Bagi Annabel Essex, seorang suami harus memenuhi kriteria kaya, memiliki gelar, dan berkewarganegaraan Inggris. Ia sudah bosan hidup dalam kemiskinan sehingga menginginkan pria kaya raya yang akan memanjakannya dalam kemewahan. Tak perlu ada cinta di antara mereka, selama Annabel tak perlu banting tulang demi bisa bertahan hidup. Untuk mendapatkan pernikahan impian itu, Annabel pun rela menempuh segala cara.

Betapa beruntungnya Annabel ketika akhirnya menemukan calon suami yang sesuai. Dan calon potensial itu sama sekali tidak seperti Earl of Ardmore, pria miskin asal Skotlandia yang hanya dikaruniai mata menawan, otak cerdas, dan ciuman yang memabukkan. Lantas, kenapa nasib malah menakdirkan Annabel bersama Ardmore dalam perjalanan ke Skotlandia untuk melangsungkan pernikahan? Tak disangka permainan kata berhadiah ciuman yang mereka lakukan selama perjalanan menyingkap jati diri masing-masing. Akankah Annabel bersedia menerima Ardmore apa adanya?


Gimana ya? Gue sih agak bosen baca buku ini. Gue suka sih sama dua tokoh utamanya. Annabel sangat logis dan apa adanya. Tipe yang pengen gue jadiin temen di dunia nyata. Lalu Ewan, Lord of Ardmore juga lucu.

Jadi masalahnya bukan pada karakternya. Gue rasa karena adegan-adegannya tidak ada yang klimaks. Semuanya datar dan membosankan. Bahkan permainan ciuman di antara kedua tokohnya tidak menarik, menurut gue. Terus adegan memanah dan perbincangan di antara kedua tokoh terlalu datar dan realistis sehingga tidak ada gregetnya. 

Love scene-nya juga biasa aja, nggak ada hot-hot-nya. Yah, nggak apa-apa sih. Itu nggak terlalu penting.

Buku ini nggak bakal bisa berkesan buat gue. Tapi gue masih kasih tiga bintang karena hubungan adik-kakaknya Annabel. Terus tokoh yang akan muncul di buku selanjutnya juga diceritakan. Dan gue suka banget sama mereka. Contohnya, Imogen. Dia itu nyebelin banget, tapi menurut gue dia sangat unik. Kapan lagi bisa baca tokoh utama cewek yang nyebelin (sering sih, cuma yang ini bikin penasaran)?

Gue nggak sabar baca lanjutannya. Masalahnya gue nggak nyangka Imogen bakal jadian sama cowok itu (tebak sendiri, lagian gue bakal bikin review-nya nanti kalau udah baca). Astaga pasti bagus banget. Terus Josephine, si bungsu bakal jadian sama cowok satunya lagi yang sangat, sangat, sangat gue suka. HOT gila itu cowok. Hahahaha...

Ih, kayaknya gue bakal jauh lebih suka buku ketiga dan keempat deh.

Sampai nanti lagi...

Dreamer thinks today is really beautiful (my mother and my brother are coming)


:)

Tuesday, 5 April 2011

Much Ado About You


Judul : Much Ado About You (Essex Sisters #1)
Penulis : Eloisa James
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Judulnya itu lho... mirip banget karya Shakespeare, Much Ado About Nothing. Yah, sebenernya nggak aneh mengingat pengarangnya, Eloisa James adalah professor yang mengajar sastra Shakespeare.

Resensi :
Tess Essex yang pintar dan yatim piatu harus melaksanakan kewajibannya: menikah dengan pantas dan segera, agar ia bisa mengatur pernikahan untuk ketiga adiknya?Annabel yang cantik, Imogen yang romantis, dan Josie yang praktis. Sepeninggal ayah mereka, gadis-gadis itu menjadi anak perwalian Duke of Holbrook yang pemabuk. Tak disangka, pada hari kedatangan kakak-beradik Essex di rumah sang duke, Earl of Mayne dan Lucius Felton sedang berkunjung, Menurut pendamping Tess, pria-pria itu "tangkapan" yang baik bagi para gadis Essex, mengingat gelar, kekayaan, dan reputasi mereka.

Tepat ketika Tess mulai mengira semuanya akan berjalan dengan baik, salah seorang adiknya kabur bersama lord muda yang gila kuda, sementara tunangan Tess pergi begitu saja, meninggalkannya di altar! Reputasi Tess diselamatkan oleh salah satu tamu sang duke, yang bersedia menggantikan posisi tunangan Tess. Ia tahu ini tak bisa dipercaya, tetapi ia mungkin telah jatuh cinta...


Awalnya gue nggak tertarik beli buku ini. Cuma karena gue mau coba karangan historical romance yang lain, gue coba karangan dia. Apalagi pengarang favorit gue, Julia Quinn adalah salah satu temannya. Gue asal beli buku berjudul Kiss Me, Annabel. Eh, ternyata buku itu adalah sekuel dari buku ini. Jadi, gue beli juga ini buku.

Gue nggak suka Eloisa James. Gaya bahasa dia acak-acakan dan perpindahan POV yang terlalu sering membuat pembaca jadi pusing. Apalagi dia menyediakan terlalu banyak secondary character yang malah membuat cerita tokoh utama jadi nggak fokus. 

Tapi itu dulu, waktu gue baca novelnya yang berjudul Duchess In Love. Sumpah, itu buku bosenin banget.

Gue males banget baca buku dia jadinya. Tapi begitu gue baca buku ini, gue langsung kaget. Kok kesannya beda banget sama buku yang gue baca dulu. Apa mungkin ini cuma perasaan gue aja? Soalnya buku yang gue baca dulu terjemahan Dastan Books, sedangkan ini terjemahan Gramedia. Rasanya enak banget bacanya, ngalir gitu.

Hanya saja gue rasa emang buku ini bagus. Memang bukan jenis yang fokusnya romance seperti historical romance biasanya. Buku ini lebih banyak menceritakan hubungan di antara kakak dan adik. Mulai dari Tess yang sarkastik dan kakak yang baik, Annabel (gue suka banget sama ini orang) yang realistik dan matre (lucu banget kalau dia lagi ngomong, kesannya polos dan bajingan), Imogen yang mengesalkan dengan perasaan cinta matinya pada cowok tolol (tapi gue suka di bagian dia iri sama Tess, rasanya manusiawi banget), dan Josie yang keliatannya polos dan penurut. Gue suka percakapan di antara adik kakak itu. Makanya gue jadi jatuh cinta sama novel ini.

Untuk tokoh utama prianya, masalahnya terletak pada namanya yang agak ganjil. Lucius Felton. Serasa membayangkan Tom Felton dan Lucius Malfoy. Apalagi Eloisa mendeskripsikannya sebagai cowok yang nggak terlalu tampan dan pirang dengan rambut disisir ke belakang. Astaga, mirip banget. Hahahaha...

Dua tokoh utamanya sangat menyenangkan. Cowoknya sopan dan gentleman banget. Terus dia sangat kaya walaupun nggak punya gelar. Sikapnya kaku dan praktis tapi dia berbuat baik secara diam-diam dari belakang. Yah, bukan tipe cowok gue sih (gue sukanya yang nakal dan jahil), tapi boleh lah jadi tokoh utama. Tessnya sih nggak usah ditanya. Baik banget deh. 

Jadi, sebagai kesimpulan buku ini gue kasih empat dari lima bintang. Mengejutkan kan? Biasanya gue kasih karangan Eloisa James maksimal tiga bintang. Tapi yang ini cukup beda dan fresh dibanding bukunya yang lain.

Ya, sudah. Gue harus kembali belajar.

Dreamer hopes that these torturing exams will be over SOON,


:)