Sunday, 28 July 2019

Spinning Silver


Judul : Spinning Silver
Penulis : Naomi Novik
Tebal : 466 halaman
Penerbit : Macmillan

Miryem is the daughter and granddaughter of moneylenders... but her father isn't a very good one. Free to lend and reluctant to collect, he has loaned out most of his wife's dowry and left the family on the edge of poverty--until Miryem steps in. Hardening her heart against her fellow villagers' pleas, she sets out to collect what is owed--and finds herself more than up to the task. When her grandfather loans her a pouch of silver pennies, she brings it back full of gold.

But having the reputation of being able to change silver to gold can be more trouble than it's worth--especially when her fate becomes tangled with the cold creatures that haunt the wood, and whose king has learned of her reputation and wants to exploit it for reasons Miryem cannot understand.


Review:
Premis buku ini sangat menarik karena ada retelling dongeng Rumpelstiltskin. Saya pertama kali tahu soal dongeng itu dari TV show Once Upon A Time dan si Rumpelstiltskin di film itu sangat memorable dengan quote: Magic comes with a price. Jadi, saya sangat penasaran dengan buku ini. Apalagi saya lumayan suka dengan buku Naomi Novik sebelumnya Uprooted yang menceritakan mengandung unsur Beauty and the Beast yang sangat dark.


Tokoh pertama yang muncul di buku ini adalah Miryem. Dia adalah cucu dari lintah darat yang sangat sukses. Sayangnya, harta si kakek habis di tangan ayah Miryem yang berhati lembut. Ayah Miryem tidak pernah tega menagih hutang tetangga ataupun penduduk desanya. 

Kemiskinan membuat Miryem mengambil alih tugas ayahnya. Dalam sekejap, ia bisa mengumpulkan uang dan membuat keluarganya hidup enak. Namun kehebatan Miryem itu menarik perhatian Raja Staryk. Si Raja Staryk ini hanyalah semacam legenda sihir yang membuat para rakyat takut untuk masuk ke wilayah hutan musim dingin karena mereka akan dibunuh kaum Staryk. Sampai sang raja mengunjungi Miryem dan memberikan kepingan perak untuk dijadikan emas. 

Selain Miryem, tokoh lain yang muncul adalah Wanda. Dia adalah anak petani miskin yang pendiam dan suka bekerja keras. Ayah Wanda adalah pemabuk yang suka memukuli Wanda serta kedua adiknya.

Ada satu hari, Miryem mendatangi rumah Wanda untuk menagih hutang. Tentu saja ayah Wanda tidak bisa bayar. Miryem pun meminta Wanda untuk bekerja di rumahnya tanpa dibayar untuk membayar hutang ayahnya. 

Tokoh ketiga yang muncul adalah Irina. Dia adalah anak perempuan seorang duke yang tidak cantik dan dianggap sebuah kegagalan. Sang duke ingin sekali membuat Irina bisa dilirik oleh pangeran supaya keluarga mereka bisa naik kelas. Itu sebabnya ia membeli perhiasan dari perak Staryk yang dijual oleh Miryem. 

Tiga perempuan yang memiliki kepahitan terhadap ayah mereka masing-masing. Kehidupan mereka akhirnya saling berkaitan di tengah negara dengan musim dingin yang menghancurkan seluruh sumber makanan. Selain itu, ada sihir dan kegelapan yang sepertinya merupakan ciri khas penulis. 

Apakah ceritanya sangat magical? Iya. Atmosfernya, deskripsi settingnya sangat keren. Tapi apakah saya puas dengan ceritanya? Sayangnya, tidak.

Tiga tokoh utama di sini sangat datar dan tidak ada kedalaman emosinya. Semua narasi mereka terkesan sama saja. Belum lagi ada tambahan sudut pandang lain yang tidak penting seperti adiknya Wanda. Ceritanya terkesan tidak fokus dan belepotan ke mana-mana. Penjahatnya juga konyol dan dikalahkan dengan sangat aneh. Saya tidak suka penyelesaiannya sama sekali. 

Jujur saja. Kalau settingnya tidak magical, saya mungkin tidak akan tahan membaca buku ini. Detail-detail menariknya terkubur di hadapan semua kekacauan sudut pandang dan tokoh-tokoh yang kurang berkarakter.

3/5

No comments:

Post a comment