Sunday, 26 August 2018

Golden Son


Judul : Golden Son (Red Rising Saga #2)
Penulis : Pierce Brown
Tebal : 444 halaman
Penerbit : Del Rey

As a Red, Darrow grew up working the mines deep beneath the surface of Mars, enduring backbreaking labor while dreaming of the better future he was building for his descendants. But the Society he faithfully served was built on lies. Darrow’s kind have been betrayed and denied by their elitist masters, the Golds—and their only path to liberation is revolution. And so Darrow sacrifices himself in the name of the greater good for which Eo, his true love and inspiration, laid down her own life. He becomes a Gold, infiltrating their privileged realm so that he can destroy it from within.

A lamb among wolves in a cruel world, Darrow finds friendship, respect, and even love—but also the wrath of powerful rivals. To wage and win the war that will change humankind’s destiny, Darrow must confront the treachery arrayed against him, overcome his all-too-human desire for retribution—and strive not for violent revolt but a hopeful rebirth. Though the road ahead is fraught with danger and deceit, Darrow must choose to follow Eo’s principles of love and justice to free his people.

He must live for more.


Review:
Saya akhirnya mengerti hype seri Red Rising ini. Buku kedua ini jauh lebih bagus dari buku pertamanya. Terutama dari sisi perubahan Darrow. Dia akhirnya mematikan seluruh perasaannya dan memulai civil war di antara para kaum Emas. 

Bagian favorit buku ini adalah sosok Darrow yang sangat kesepian di antara musuh-musuhnya. Ia juga merasa kehilangan arah karena Ares yang harusnya memberi petunjuk dan perintah tidak muncul sama sekali. Ia bertahan sendirian tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Dan itu bikin saya simpatik. Saya bahkan menangis di bagian-bagian saat ia terpaksa mengkhianati teman-temannya demi membela kaum Merah. Saya juga menangis melihat bagaimana Darrow mencoba mengusir Mustang yang jelas-jelas suka padanya hanya karena Mustang adalah kaum Emas yang akan dikhianatinya.

Dan tentu saja bagian Darrow kembali ke tempat tinggalnya yang dulu. Saya selalu lemah sama hal-hal beginian. Sang tokoh utama pergi bertualang dan kembali untuk menemukan kalau segalanya jauh berbeda dibandingkan saat ia dulu tinggal di sana. Saya harus memuji penulis yang mempertemukan kembali Darrow dengan ibu dan anggota keluarganya yang lain. Jarang-jarang buku fantasi atau fiksi fantasi yang saya baca yang menceritakan hubungan keluarga. Kebanyakan anggota keluarga tokoh utama antara sudah meninggal, menghilang, atau absen sama sekali dalam kehidupan si tokoh utama.

Bagian pengkhianatan dan aksi di buku ini cukup bikin syok. Karena plotnya cepat, saya seringkali tidak sempat menganalisis sehingga segalanya terasa seperti kejutan. Satu-satunya hal yang kurang saya suka dari buku ini adalah aspek luar angkasanya. Saya masih tidak bisa suka dengan hal-hal berbau luar angkasa. Semua adegan perang, tembak-tembakan, dan kapal luar angkasa membuat saya bosan. Saya lebih suka dialog dibandingkan adegan aksinya. Apalagi kalau sudah menyangkut Sevro. Semua kalimat yang keluar dari mulutnya selalu menarik dan bikin saya ketawa.

Yah, Darrow masih saja terasa seperti Gary Stu. One man hero gitu. Ada satu bagian saat dia pidato dan saya mengernyit saking cheesy dan bikin geli. Tapi semua orang kayak langsung patuh dan merasa termotivasi. Aneh saja. 

Tapi, endingnya sialan. Buku ketiga! Endingnya menggantung banget, hahaha... 

4/5

1 comment: