Monday, 28 November 2011

New Template And Other Stuff

Err... Yah, saya baru ganti template blog. Lebih dark, katanya terpengaruh sama buku bacaan saya yang banyak tentang vampir. Tapi alasannya karena teman saya bikinin saya desain judul blog. Baiknya...

*Nangis terharu dulu...

Nah, karena itulah saya memutuskan mengubah desain blog walau saya tidak punya sense of art sama sekali. Biasanya saya cuma asal ambil blog skin dari website apa gitu. Dan karena desain judul blog teman saya itu sangat cling-cling kayak warna lampu neon, saya jadi pilih tema yang dark. Bukan karena vampir, atau karena baru nonton Breaking Dawn. Yap, film Breaking Dawn yang itu. Astaga, romance excessive banget. Sebentar-sebentar ciuman, sampai saya jadi geli sendiri. Untuk film adaptasi dari buku sih bagus, tapi saya merasa film itu boring. Bukan jenis film yang saya suka. Saya pengen yang banyak tembak-tembakannya biar lebih menegangkan gitu. Tapi saya tetap merekomendasi film itu buat para Twilight fans dan manusia penggemar romantisme berlebihan. Saya harus memuji adegan wedding ceremony dan honey moon-nya yang fantastique.

Oke, nggak penting...

Minggu ini adalah study week. It means next week is the exam week. Saya masih punya final dissertation selain harus belajar ujian. Jadi, sibuk deh. Nggak sempat bikin book review lagi. Hopefully, minggu depan bisa diupdate lagi.

Books to be reviewed next :
  • Your Wicked Ways (Duchess Quartet #4) - Eloisa James
  • Frostbite (Vampire Academy #2) - Richelle Mead
  • Kisah-Kisah Tengah Malam - Edgar Allan Poe
  • Dan Hujan Pun Berhenti - Farida Susanti
Segini saja post tidak penting ini. Just wanna write something in this chaotic time :(

Exam!!! Dreamer is freaking out now, GRAOOO...


:)

Thursday, 24 November 2011

Vampire Academy


Title : Vampire Academy (Vampire Academy #1)
Writer : Richelle Mead
Number of pages : 332
Publisher : Razorbill
My rating : 4/5

I picked this book because my friend kept telling me how good the story is. I'm curious. The first time I saw this book in the bookstore, I was not even interested. The synopsis at the back of the book is ridiculuous some more. But, still I bought it.

Once I started, I could not put it down. The story was interesting and unique. I like the concept of three creatures : Moroi, Dhampir, and Strigoi, how they are related, why the Guardian system are made, and the academy itself. Oh, wow.

Moroi : good mortal vampire, can master one of the elements (water, air, fire, earth --> legend of Ang, lol), can withstand under a little sunlight.

Dhampir : half human, half vampire, faster and stronger than Moroi, the guardian of Moroi.

Strigoi : bad immortal vampire, very strong and very fast, cannot withstand sunlight, predator instinct 

Errr, I don't like the name of Moroi. Seriously. Doesn't it sound like moron? =.=

Continue...

The story was about Rose Hathaway a dhampir who ran away from academy with her Moroi best friend, Lissa. They were caught by the academy staff after two years and brought back. I was very curious at first because I wanted to know the reasons why they had run away.

After that, mostly the book was centered around the teenage life of Rose and Lissa. School, guys, popularity, and stuff. But slowly the secrets were revealed from many flashbacks in Rose's memory.

In the beginning, I like Rose because she was tough and independent. But as the story went, I couldn't find her interesting anymore. She liked to flirt (A LOT), she was reckless and irresponsible, and her confidence with her looks was just annoying. She kept saying how sexy and pretty she was that no Moroi could even compare with her. Okay, I got it. You could not always get likable heroine, even I still read Twilight although I hate Bella. But the problem is the reason Rose falling in love with Dimitri. Rose kept saying about how god-like and handsome he was. And just that. Love based on looks. Seriously, is that supposed to be lust?

In the end, I like Lissa more than Rose. She may be weak, but she was persistent and full of compassion. There was something genuine in her that made me relieved. At least, there was likable character in this book. Furthermore, I like Christian Ozera more than Dimitri. Ozera was sardonic bad boy whereas Dimitri was very bland like Edward Cullen plus pony tail. Iuhhh... I don't like long-haired man.

Anyway, like I said the story was interesting, The suspense was good although I could guess the villain from the beginning. Sigh* I was getting good at guessing, I think. And I hate that since it ruins the surprise. But, I enjoyed the story very much. Nice read.

Dreaming was drowning in the world of skin stem cells...


:)

Wednesday, 23 November 2011

Tirai Menurun


Judul : Tirai Menurun
Penulis : Nh. Dini
Tebal : 464 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
My rating : 3/5

Ini karya Nh. Dini pertama yang saya baca. Ternyata isinya sangat sastra sampai kadang-kadang saya masih kesulitan dengan bahasanya. 

Menceritakan empat tokoh utama yang awalnya tak saling mengenal tapi akhirnya bertemu di sebuah panggung pewayangan Kridopangangarso. Empat orang itu adalah Kedasih, Kintel, Sumirat, dan Wardoyo.

Kedasih punya sifat ceria, terbuka, dan cerewet. Hidupnya cukup bahagia dengan orang tua yang berkecukupan dan bisa membelikannya barang yang diinginkan. Nantinya ia bakal jadi penari tetap di panggung pewayangan. 

Kintel pemuda sederhana berhati lapang yang giat bekerja. Mungkin dia tidak terlalu berpendidikan tapi kesetiaan tampak jelas dari kelakuannya. Dia berawal dari pekerja kasar dan nantinya jadi pengusaha becak.

Sumirat gadis pendiam yang sangat feminin. Dia penurut dan sangat berbakti pada ibunya. Tapi ia lebih memilih menari daripada sekolah. 

Wardoyo adalah salah satu pemain kawakan di panggung Kridopangarso. Sifatnya penyabar dan tenang. Ia mengabdikan hidupnya untuk seni pewayangan.

Cerita berlatar waktu di waktu Indonesia baru merdeka. Saya sangat suka deskripsi Nh. Dini tentang keadaan kampung zaman itu. Bagaimana interaksi antartetangga dan antarsaudara, betapa sederhananya masalah kehidupan, dan yang paling lengkap adalah penjelasan seni pewayangannya.

Buku ini menunjukkan betapa panggung pewayangan bisa menjadi sebuah pelarian. Hidup boleh susah dan tidak bahagia, tapi saat pentas dimulai para artis panggung itu menjelma menjadi dewa dewi atau pangeran dan putri. Kridopangarso bagai organisasi di mana para pemainnya saling senasib sepenanggungan dan menemukan  keluarga di dalamnya. 

Entah kenapa sewaktu membaca buku ini saya merasa plotnya acak-acakan. Mungkin pembagian babnya kurang pas atau bagaimana. Karena sebentar saya baru selesai satu bagian, di bagian selanjutnya ternyata sudah beberapa tahun kemudian. Kok rasanya ada yang dilewat. Dan itu sering banget. Saya pikir sastra roman seharusnya lebih lambat kecepatan plotnya. Yah, itu pendapat saya sih.

Selain itu tokoh utamanya kan empat orang menurut sinopsis di belakang buku, tapi rasanya kurang pas juga. Ceritanya lebih berpusat di seni pewayangannya yang perlahan hancur dengan berkembangnya dunia teknologi. Siapa sih yang mau nonton wayang wong lagi kalau ada televisi? Dan epilognya bahkan bukan tentang empat orang itu tapi tentang salah satu tetua Kridopangarso. Itulah jebakan sebuah sinopsis belakang buku, menipu hahaha...

Seperti semua roman, akhirnya tragis. Cuma saya kesal sama nasib Kintel, nggak dijelasain gimana, lalu tiba-tiba sudah meninggal. Aneh, ah. Beneran, dasar manusia. Sudah menikah, lupa sama diri sendiri. Judi melulu. 

Tambahan, untuk baca buku ini harus setidaknya mengerti sedikit tokoh-tokoh wayang. Untung saya pernah baca Mahabharata dan Ramayana. Di sekolah juga dulu diajarkan. Karena kalau nggak, saya bisa bingung. Sebentar-bentar nyebut tokoh ini, tokoh itu, Prabu sana, dewa situ. Alamak!

Dreamer only has one more assignment to do, lalala...


:)

Saturday, 19 November 2011

Rainwater


Judul : Rainwater
Penulis : Sandra Brown
Tebal : 336 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
My rating : 4/5

Saya sudah menjadi penggemar Sandra Brown (SB) sejak SMP sebenarnya. Waktu zaman-zamannya saya seharusnya suka teenlit karena saya remaja, saya malah demen buku-buku Sandra Brown, Sydney Sheldon, dan Marga T. Jangan tanya kenapa selera saya aneh.

Kenapa saya suka SB? Karena dia itu pengarang yang konstan menghasilkan karya yang bagus. Ide-ide ceritanya bervariasi padahal dia sudah mengarang sekitar 70 buku dan saya mungkin sudah baca sekitar 60 karyanya. Sinting? Boleh dibilang begitu. Dulu tiap bulan saya ngumpulin uang jajan buat bisa beli novelnya. Koleksi gitu. 

Sampai tiap kali Mama saya tanya : "Mau kado apa buat ulang tahun?" 
Saya : "Beliin novel Sandra Brown saja yang belum punya." 
Mama : "Beli baju baru saja. Sudah butut yang kemarin. Atau hape saja?"
Saya : "Nggak mau. Mau novel. Tapi kalau hape 9500 communicator boleh juga." (Jiahhhh, madut) 

Oke, ini resensi ya? Kok isinya diari? Zzzz...

Rainwater. Bukan air hujan ya. Ini nama tokoh di buku ini yaitu David Rainwater. Saking hebatnya tokoh ini sampai dijadikan judul buku. Kenapa? Kita lihat.

Seperti yang sudah saya bilang, saya sudah baca hampir semua karya SB dan saya harus bilang yang ini paling paling paling beda. Saya ingatkan dulu kalau saya suka menjadi seorang spoilerer. Pertama, karya SB selalu happy ending. Kedua, karya SB mengambil setting masa sekarang. Tapi kedua unsur itu tidak ada di buku ini.

Cerita dimulai dengan prolog. Sepasang suami istri datang ke sebuah toko antik bernama Solly's. Mereka tertarik membeli jam saku kuno milik si pemilik toko. Tapi sayangnya jam itu tidak dijual dengan harga berapapun. Di jam saku itu terukir tanggal 11 Agustus 1934. Suami istri itu bertanya apa arti tanggal itu?

Dan kita akan diterbangkan ke masa lalu.

Ella Baron adalah  janda beranak satu yang mengelola pondok sewa. Dia punya anak aneh bernama Solly. Zaman dulu anak itu dianggap gila dan berbahaya karena istilah autis belum dikenal sama sekali. Ella berusaha melindungi anak itu mati-matian sekalipun ia juga suka kesal karena anak itu seakan tidak mengenal dirinya. Dan keanehan Solly itulah yang membuat Ella ditinggal suaminya tanpa penjelasan.

Hari itu, Ella kedatangan seorang tamu bernama Dr. Kincaid. Dia membawa saudaranya yang butuh tempat tinggal. Nama saudaranya itu adalah David Rainwater. Ella sih setuju saja karena dia punya kamar kosong. Tapi Dr. Kincaid memperingati Ella bahwa David Rainwater sedang menjemput ajal.

1934, zaman perekonomian susah atau disebut era Great Depression juga saat-saat di mana rasialisme sangat kental di antara orang kulit putih dan hitam. Saat itu ada kebijakan pemerintah yang sangat aneh, menurut saya. Peternak-peternak yang merasa sudah hampir bangkrut boleh menjual ternaknya pada pemerintah dengan harga murah, tapi pemerintah hanya akan mengambil ternak sehat saja. Yang tidak sehat atau kurus akan ditembak sampai mati. Sadis gila. Maksudnya itu kan makhluk hidup. Saya ngerti mungkin maksudnya supaya tidak perlu menambah pengeluaran untuk mengurus sapi sakit-sakitan dan nggak punya banyak daging. Tapi tetap saja. Iuhhhhh...

Banyak orang kelaparan dan mereka berusaha memburu sapi kurus itu agar bisa makan sekalipun sapi itu sudah mati ditembak dan siap dikubur. Mereka nggak peduli. Tapi Conrad Ellis, orang terkaya dan paling suka membuat onar itu nggak suka. Dia bersama antek-anteknya sengaja memukuli orang-orang miskin itu supaya nggak bisa ambil daging bangkai sapi itu. Alasannya karena pemerintah tidak mengizinkan. Padahal itu BS banget.

Kembali ke tokoh utama. Saya suka dengan karakter Ella yang bitter, kaku, dan suka rutinitas. Memang sifatnya nggak gitu bagus. Tapi dia manusia, senyata-nyatanya yang membangun dinding di sekitarnya karena takut tersakiti dan ingin mandiri. Dia membangun dinding itu untuk melindungi anaknya juga. Strong banget deh. Sementara David Rainwater adalah tipikal gentleman baik hati yang tidak peduli apapun karena umurnya sudah tidak panjang lagi. Davidlah yang menemukan kejeniusan Solly dalam memahami angka. Sesuatu yang tidak pernah diketahui Ella sendiri. Dan itu memberi Ella harapan, harapan kalau mungkin saja Solly bisa kembali normal.

Sifat David yang penuh kasih sayang inilah yang mampu meluluhkan hati keras seorang Ella. Mereka jatuh cinta di saat tidak ada waktu lagi. 

"Jangan meminta satu-satunya hal yang tidak bisa kuberikan padamu, Ella. Andai bisa, pasti kuberikan. Tapi satu-satunya yang tidak bisa kuberikan padamu adalah waktu."
 
Kebanyakan bagian menceritakan kejahatan dan juga kekacauan di kotanya akibat Conrad Ellis juga pemberontakan kaum yang tidak mendapat keadilan.

Di saat akhir, Conrad hampir memperkosa Ella karena dendamnya ditolak mentah-mentah waktu Ella muda dulu. David menyelamatkannya dan yang tak terduga adalah Solly yang saat itu juga ada di tempat kejadian membunuh Conrad. Dan tidak ada jalan lain. David mengorbankan diri agar Solly tidak dipenjara. Itulah terakhir kali Ella melihat David Rainwater.

David selalu menolak bertemu Ella di penjara karena ia tidak mau Ella melihatnya dalam keadaan tak berdaya seperti itu. Ia tidak mau Ella punya kenangan buruk. Biar saja.

David meninggal sebelum dieksekusi. Ia mewariskan seluruh kekayaan dan kebun kapasnya pada Ella.

David memberikan buku "A Farewell To Arms" pada Ella. "Itu hadiah untukmu, Ella."

"Apa akhir kisahnya sedih?"

"Sangat," kata David Rainwater. "Walaupun tahu akhir ceritanya sedih, itu tidak akan menghalangi keinginanku untuk menikmati keindahan ceritanya. Kau bagaimana?"

11 Agustus 1934... David meminta Dr. Kincaid mengukir tanggal itu pada jam sakunya, tanggal saat pertama kalinya David menginjakkan kaki di pemondokan Ella, pertama kalinya David bertemu dengan wanita itu.

Di epilog, suami istri di prolog memuji sosok David Rainwater itu. Mereka mengagumi orang masa lalu yang telah berkorban untuk si pemilik toko.

"Dia berkorban untuk Solly."

"Tapi... bukankah Anda...?" 

Lelaki tua pemilik toko itu menggeleng.

Sang istri membaca kartu nama yang tadi diberikannya. "Saya pikir... Nama toko Anda..."

"Itu untuk meenghormati kakak lelaki saya. Nama saya David. David Rainwater Barron."

"...Apakah Mr. Rainwater tahu tentang Anda?"

Laki-laki tua itu tersenyum. "Dr. Kincaid memberitahunya beberapa jam sebelum dia meninggal. Meski kondisinya sangat lemah, dia menulis sepucuk surat untuk ibu saya. Ibu selalu membawa-bawa surat itu. Dia tak pernah mau berpisah dari surat itu. Tak mau berpisah dari Mr. Rainwater."

Bittersweet and heartwrenching. Sandra Brown never failed me. Kekurangannya cuma di bagian tidak dikasih tahu penyakit David itu apa dan surat David untuk Ella itu isinya apa. Kan penasaran saya.

Dreamer just ate Cadburry Dairy Milk Chocolate, heaven in a little box...


:)

Thursday, 17 November 2011

Life of Pi


Judul : Life of Pi
Penulis : Yann Martel
Tebal : 446 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
My rating : 5/5

Resensi :
Pada tanggal 21 Juni 1977, kapal barang Tsimtsum berlayar dari Madras menuju Canada. Pada tanggal 2 Juli, kapal itu tenggelam di Samudra Pasifik. Hanya satu sekoci berhasil diturunkan, membawa penumpang seekor hyena, seekor zebra yang kakinya patah, seekor orang-utan betina, seekor harimau Royal Bengal seberat 225 kg, dan Pi--anak lelaki India berusia 16 tahun.

Selama lebih dari tujuh bulan sekoci itu terombang-ambing di Samudra Pasifik yang biru dan ganas. Di Samudra inilah sebagian Kisah Pi berlangsung. Kisah yang luar biasa, penuh keajaiban, dan seperti ucapan salah satu tokoh di dalamnya, kisah ini akan membuat orang percaya pada Tuhan.
 

Saya mau komentar gaya tulisan Yann Martel dulu. Lucu banget. Saya suka dengan deskripsi-deskripsinya yang lebay. Ditambah analogi-analoginya yang asyik. Saya ketawa terus tanpa sadar apa yang lucu. Pokoknya itu pasti karena keajaiban tulisan penulis yang menyembunyikan anekdotnya.

Ceritanya sendiri tidak bisa ditebak. Saya pikir kisah seseorang terdampar berhari-hari itu pasti biasa saja. Paling-paling juga membahas bagaimana Pi berjuang bertahan hidup.

Eh, tapi nanti dulu. Bagaimana caranya bertahan hidup bersama empat binatang random yang tidak ada hubungannya satu sama lain? Pi terdampar di laut bersama orang utan betina, hyena, zebra yang kakinya patah, dan harimau Royal Bengal dengan berat 225 kg. Wih, seru amat.

Buku ini dibagi tiga bagian. Bagian pertama menceritakan masa kecil Pi yang konyol, kegemarannya bermain di kebun binatang ayahnya, keisengannya menjadi pemeluk tiga agama sekaligus (Islam, Kristen, dan Hindu) karena alasan suka sama Tuhan-nya. Bagian kedua bertempat di Samudra Pasifik di mana Pi terdampar setelah kapal yang mengangkut seluruh keluarganya tenggelam. Bagian ketiga saat Pi selamat sampai ke tujuan.

Menarik sekali membaca bagaimana Pi berteman dengan si Richard Parker, harimau di sekocinya itu. Dia menggunakan cara-cara pelatih singa di sirkus untuk menjinakkan harimaunya itu. Mereka bukan teman tapi saling bersimbiosis. Selama ratusan hari di tengah laut itulah, Pi berubah menjadi pemburu yang hebat karena didesak dengan keadaan. Saya suka melihat semangatnya untuk tetap hidup hanya supaya bisa terus mencari makan buat si Richard Parker. Cuma sayang si harimau kabur di akhir. Dasar nggak tahu terima kasih!

Pengalaman yang dialami Pi sangat menakjubkan sampai-sampai nggak ada yang mau percaya. Kita mungkin juga nggak bakal percaya karena tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Dan itulah kenapa konsep Tuhan susah dipercayai. Toh Tuhan nggak bisa dilihat, cerita tentang Tuhan juga punya banyak versi. Kita mau percaya yang mana juga bingung.

Tapi di situlah kita mengenal kata iman. Seperti yang diceritakan dalam kisah Pi ini.


Dreamer hates breast cancer now because she was bored researching about that the whole term...


:) 

Again The Magic


 Title : Again The Magic (Wallflowers #0.5)
Writer : Lisa Kleypas
Number of pages : 391
Publisher : Avon
My rating : 4/5

Synopsis :
She gave him her innocence . . .Lady Aline Marsden was brought up for one reason: to make an advantageous marriage to a member of her own class. Instead, she willingly gave her innocence to John McKenna, a servant on her father's estate. Their passionate transgression was unforgivable -- John was sent away, and Aline was left to live in the countryside . . . an exile from London society . . .and he took her love.
Now McKenna has made his fortune, and he has returned -- more boldly handsome and more mesmerizing than before. His ruthless plan is to take revenge on the woman who shattered his dreams of love. But the magic between them burns as bright as ever. And now he must decide whether to let vengeance take its toll . . . or risk everything for his first, and only, love.

Wow, I met Marcus Westcliff again from It Happened One Autumn. When I bought this book, I did'nt know that it was the prequel of Wallflowers series.

Anyway, this book is amazing. As always I was spell-bounded with Lisa Kleypas' writing. She has the most perfect style of describing emotions, expressions, and subjects that suits me well. I don't know, I just love the way she tells stories.

The story was quite common, about childhood friends who then became lovers and separated because of social status differences. Lady Aline Marsden had to protect John McKenna from her cold-hearted father. She sent him away by telling him that she had never even once loved him and she just considered him as a toy, an experience before she married gentleman from the same class with her. McKenna was hurt badly and her betray changed him into a man full of hatred.

Twelve years later, they met again. McKenna had been living in America and he came back, rich and more striking than before. He had sworn to himself that he would take revenge to Aline. He wanted her to feel the hardships and the destructions she had caused him. Aline knew that, but stil she could not refuse McKenna because she still loved him.

The story was nice although somehow I found the plots were quite boring. And there were too much love scenes, not only from Aline and McKenna but also the secondary characters which were Aline's sister, Livia and Gideon Shaw, McKenna's American partner. Well, I didn't mind with the side characters since I really liked Shaw. He was cynical, sweet, full of flaws, and gentleman from head to toe despite of his reputation. But still too much love scenes really bored me to tears although they were hot and full of tension whatsoever.

But the ending was perfect for both couples. I really like it.

"...I didn't want to get better. I wanted to die. Then Mrs. Faircloth showed me the letter... Mrs. Faircloth read the letter to me... and hearing the words you had written made me realize... that as long as there was a chance that you were in this world, I wanted to go on living in it."

I like Marcus although I never gave a damn about him when I read It Happened One Autumn a long time ago. The way he protected his sisters, Aline and Livia was just so cute. Especially when he growled in frustration because he couldn't do anything to prevent his sisters from loving the two notorious Americans.


Book rating rules
one star : It's just garbage. Why in the world could it be published?
two star : I don't like it. There's something wrong in this book. But, it's just my opinion.
three star : It was okay. Nothing special but it can refresh your day.
four star : It was good and entertaining. 
five star : Fantastic! Amazing! Satisfying! Genious! Should I say more?

Tuesday, 15 November 2011

Book Review?

Jadi, begini. Saya itu keranjingan nulis review buku yang saya baca. Kenapa? Karena kadang-kadang saya pengen mengumbar emosi apapun setelah saya baca buku. Entah itu marah, kesal, sedih, senang, dsb.

Nah, masalahnya saya kan tinggal di dalam ruangan 3x4 sendirian. Memang ada landlady di luar kamar sewa saya. Tapi kan nggak lucu dong kalau saya cerita ke dia. Dia mana ngerti. Saya juga nggak mungkin kan ngomong ke tembok kamar saya. Jadinya saya bikin review.

Eits, tunggu dulu. Bukan review lho yang saya tulis. Lebih tepatnya spoiler. Hahaha...

Review buku saya itu bukan review buku yang seharusnya. Sebenarnya saya tidak bermaksud nulis review. Saya cuma mau membahas isi buku yang sudah saya baca, beserta embel-embel pujian dan emosinya. Jadi, kalau ditanya blog saya berisi book review atau nggak. Saya mungkin jawab nggak. Lebih tepat jika dikatakan kalau blog saya itu berisi curhat buku yang saya baca. Jujur, apa adanya. Kalau sedikit jahat, ya terima saja. Kalau sedikit cheesy, ya sudahlah. Kalau sedikit lebay, memang saya dasarnya begitu. Kalau sedikit nggak masuk akal, itu berarti saya nggak nangkap maksud bukunya.

Balik ke awal. Kenapa saya nulis blog? Mau nulis apa saja. Uneg-uneg, pamer-pamer, gado-gado, tahu gejrot (lho?).

Pokoknya begitulah. Nggak jelas kan isi blognya seperti post saya yang satu ini. =.=

Eh, saya lupa kalau saya punya berita yang sangat mengejutkan. Ternyata ya... saya itu masuk daftar blog buku Indonesia di goodreads. *Plok, plok, plok...

Huhuhu... Nangis terharu...

Apaan sih? Nggak penting. Gitu aja nangis.


Lucu ya logonya? Cute-cute gimana gitu. Rambutnya kayak cacing cacat (kayak saya >.>). Hahaha... Makanya langsung saya pasang di blog.

Dreamer is probably going crazy...


:)