Sunday, 31 July 2011

Fool For Love


Judul : Fool For Love (Duchess Quartet #2)
Penulis : Eloisa James
Penerbit : Dastanbooks
Resensi :
Lady Henrietta Maclellan adalah wanita cantik, cerdas, dan mewarisi kekayaan berlimpah. Gadis romantis ini sangat mendambakan pernikahan dan anak-anak, tapi kondisi kesehatannya menjadi penghalang untuk mendapatkan keduanya. Ia lalu menyalurkan hasratnya dengan mempelajari cara-cara membesarkan anak dan mempraktikkannya dengan mengajar di sekolah. Namun, saat ia bertemu dengan Simon Darby, Henrietta bersumpah untuk mengejar keinginannya, tidak peduli jika ia harus membuat skandal sekalipun.

Simon Darby adalah pria tampan calon pewaris gelar earl yang suka berpakaian bagus dan dilabeli sebagai bujangan paling diminati. Diserahi tanggung jawab untuk mengurus dua adik tirinya yang masih kecil dan merepotkan, membuat Simon tidak berminat untuk menikah apalagi mempunyai anak. Segalanya berubah setelah ia jatuh hati pada pesona, kecantikan, dan sikap blak-blakan Henrietta. Tapi ketika ia menyadari apa diderita Henrietta, Simon tahu bahwa ia tidak bisa menikahi wanita itu.

Henrietta kemudian menulis surat palsu yang menyatakan bahwa Simon telah merenggut kesuciannya. Dengan berat hati, Simon kemudian menikahi Henrietta. Meskipun keduanya mulai saling jatuh cinta, tapi mereka tidak pernah memercayai satu sama lain. Dan masalah mereka tidak berhenti sampai di situ. Siapkah Henrietta menerima konsekuensi atas ketidakjujurannya? Lalu, bagaimana cara Simon menyempurnakan pernikahan mereka tanpa melukai Henrietta yang perlahan mulai mengisi relung hatinya?


Hmm... sebenernya gue nggak nyangka buku ini cukup menarik buat dibaca. Waktu gue baca sekuelnya dulu, Duchess In Love, gue ampe stres karena bosannya minta ampun. Gue habisin berminggu-minggu buat baca buku itu sampe eneg sendiri. 

Tapi yang ini lumayan. Masih sama dengan sudut pandang nggak fokus, tapi lebih bagus karena gue udah kenal semua tokohnya dari buku satu. Contohnya, Esme. Dia mengambil porsi cukup besar di buku satu di mana sebenernya nggak terlalu penting. Tapi di sini okelah. Dia ada peran menyatukan kedua tokoh utama.

Kedua tokoh utamanya perfect banget. Gue suka karena mereka nggak sempurna. Ceweknya agak pincang karena pinggulnya ada masalah sehingga nggak bisa punya anak. Cowoknya terlalu modis dan suka pake baju berenda-renda. Lucu deh.

Percakapan di antara keduanya juga sangat lucu dan enak dibaca. Gue suka banget tuh. Dan gue sangat suka si Simon Darby karena dia dengan tegas bilang kalau dia nggak serendah itu buat selingkuh sewaktu istrinya nyuruh dia punya simpanan. Bermartabat banget si Simon. Mantap.

Empat bintang. Interesting read.

Dreamer is gonna watch Captain America today...


:)
 

Friday, 29 July 2011

Kisah Tragis Oei Hui Lan (Putri Orang Terkaya di Indonesia)


Judul : Kisah Tragis Oei Hui Lan
Penulis : Agnes Davonar
Penerbit : NTI book
Resensi :
Oei Hui Lan yang terlahir dengan kemewahan dan kehidupan yang sempurna. Ayahnya Oei Tiong Ham adalah seorang pria terkaya di Asia Tenggara yang disebut sebagai raja gula asal Semarang. Suaminya Wellington Koo adalah seorang politikus handal, ia menjabat sebagai menteri luar negri China yang ikut serta dalam pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sang ibu yang ambisius, berhasil membawanya bergabung dengan kalangan jet-set di Eropa yang sejajar dengan keluarga kerajaan Eropa.

Perjalanan hidup Hui Lan bagaikan sebuah kisah telenovela yang tidak pernah berhenti dengan konflik, perselingkuhan dan tragedi kehidupan. Sang ayah, tiba-tiba meninggal dan menyisakan warisan yang menjadikan petaka diantara 8 istri dan 42 anak-anak yang dilahirkan. Warisan yang sejatinya membawa berkah berubah menjadi pertikaian yang tidak pernah berhenti sampai detik ini.

Sebuah sejarah kehidupan yang benar-benar membuat kita bertanya apakah kekayaan dan kehormatan dapat memberikan kita rasa bahagia sesungguhnya.


Gue kebetulan liat buku ini dipajang di Gramedia Istana Plaza dengan begitu mencolok. Tapi anehnya tidak ada di Gramedia PVJ. 

Ah, tidak penting. Anyway, ini kan semacam biografi gitu. Gue nggak bisa komentar soal cerita dong yah. Cuma gue nggak suka cara penulisannya.

Agnes Davonar adalah penulis adik-kakak yang memulai kariernya di blog. Blog mereka mendapat juara, katanya. 

Karya mereka yang pertama gue baca apa ya judulnya? Gue lupa. Pokoknya tentang cewek buta dan cowok aids. Gue beli buku yang itu karena sinopsisnya menarik. Tapi begitu gue baca halaman pertama... Astaga, bukan gue jahat. Tolong diksinya diperbaiki dulu ya. Gaya penceritaannya kok kayak anak kecil dan agak konyol. Jadi, yang seharusnya jadi cerita dramatic romance sedih malah jadi cerita tak beremosi. Padahal gue kan penggemar tema dramatic romance.

Oke, itu tentang buku yang pertama gue baca. Tapi pas gue mau baca buku ini, gue agak waswas juga sih. Dan ternyata nggak berubah. Gaya penceritaannya sama. Cuma untungnya ini biografi, jadi nggak perlu banyak emosi juga. Hanya saja sayang sekali karena kehidupan Oei Hui Lan ini sangat dramatis padahal.

Yah, gue dari dulu punya pikiran kalau gue mau jadi orang pas-pasan saja. Pas mau apa, pas duitnya ada. Gue nggak mau jadi orang kaya, apalagi yang berlebihan. Alasannya apa? Karena orang kaya hidupnya nggak tenang. Dan salah satu alasannya adalah gue penggemar ajaran Budha sekalipun gue itu Kristen (KTP, sayangnya). Budha mengajarkan kesederhanaan. Coba liat biksu-biksu. Mereka pake baju compang-camping, bawa tas isinya cuma sedikit. Gila, gue selalu berpikir hebat bener ya mereka. Coba semua orang tidak matre kayak gitu, dunia bakal aman dan damai.

Terbukti sekali dengan melihat kehidupan Oei Hui Lan yang sarat dengan kesedihan. Kekayaan ayahnya, Oei Tiong Ham yang luar biasa bukan menjadikan keluarga menjadi bahagia malah hancur lebur. Rebutan harta lah, iri-irian, sampe gara-gara gundiknya banyak si istri juga benci sama suaminya.

Cape, deh.

Oei Tiong Ham memang salah satu orang terkenal di zamannya. Dia adalah raja gula Asia Tenggara. Ia bergabung di politik, perdagangan, dan juga perekonomian Indonesia yang waktu itu masih dijajah Belanda. Yang gue nggak ngerti, kenapa orang ini tidak ada dalam sejarah Indonesia manapun yang dipelajari di sekolah. Bahkan peninggalannya pun hanya sedikit di Kota Semarang, tempat mereka semua tinggal dulu. Hanya dibilang istana rumahnya yang luar biasa besar dijadikan universitas. Yah, gue nggak akan komen lebih jauh. Tarik kesimpulan saja sendiri.

Oei Hui Lan adalah anak kesayangan ayahnya. Dia dimanja sejak kecil sehingga sampe dewasa pun hidupnya royal sekali. Bahkan dia tidak tanggung-tanggung kalau mau habisin duit. Hidupnya bagai putri, di mana dia juga diakui sebagai anggota bangsawan Eropa dan bahkan menikah dengan Wellington Koo, salah satu duta besar Cina. Wah, ini cewek udah kaya, berpengaruh pula. 

Cuma sayang. Hubungannya dengan keluarga itu nggak bagus. Suami juga punya gundik lagi padahal dia benci gundik karena melihat aksi ayahnya dulu. Bahkan anaknya pun mengikuti jejak yang seperti itu pula. 

Jadi, pada akhirnya dia hanya sendirian. Dia berteman dengan banyak anjing peliharaannya tapi sebenernya dia itu kesepian. 

Di akhir, perusahaan ayahnya diambil pemerintah. Mereka semua bangkrut dan tidak terdengar lagi namanya. Walaupun aset mereka masih banyak, tapi perusahaan sudah bukan milik mereka lagi. 

Di saat tua Oei Hui Lan hanya mau tinggal di tempat sederhana. Dia menyadari kalau orang kalau sudah melewati puncak umur, tidak akan terlalu peduli pada kekayaan. Inilah yang bikin gue jadi suka sama orang ini. Tadinya kesel juga liat dia seenaknya pake uang ayahnya tanpa mikir. Yah, sudahlah. Kesimpulannya, jangan jadi berlebihan. Cukup-cukup saja lah.


Empat bintang. Bukan lima karena diksinya yang sangat aneh. Tapi secara keseluruhan gue menikmati ceritanya. Oei Hui Lan ini begitu hebatnya sampe lukisannya pun terpajang di museum-museum Inggris. Orang Indonesia yang sangat dihargai dan dihormati di negara luar namun tidak di negara sendiri.

Exams give dreamer a headache...


:)

Thursday, 28 July 2011

Why Do I Rate A Book Five Stars?

Gue mau bikin patokan aja di sini. Biar gue kalau ngasi rate nggak berlebihan atau melenceng. Biar gue tau mana buku yang layak dibaca ulang nantinya.

Oke, dimulai dari satu bintang terus berurutan sampe lima bintang.

Satu bintang
Buku yang gue kasih rating segini berarti udah payah banget. Gaya bahasa kacau, nggak enak dibaca, ceritanya nggak jelas, ide ceritanya aneh, bikin kesel bacanya, dan yang pasti kerasa sekali betapa ngasal si penulis dalam membuat ceritanya. Istilahnya, gue rela nyumbang buku ini kalau ada yang mau.

Dua bintang
Buku dua bintang bisa bermacam-macam. Bisa saja gaya bahasanya jelek, ceritanya lumayan, diksinya aneh, dan ide ceritanya oke tapi standar. Bisa juga gaya bahasa bagus, enak dibaca, cerita super nggak jelas, tapi gue ngerti maksud si pengarang, agak ngasal si pengarang waktu nulisnya. Atau cerita lumayan tapi penyelesaian ceritanya aneh dan terkesan nggak niat. Dua bintang itu biasanya nasib buku Harlequin dan Metropop yang pas gue baca membosankan. Teenlit standar juga biasanya masuk ke sini. Dan banyak juga bacaan membosankan walaupun ceritanya bagus masuk kategori ini.

Tiga bintang
Ugh. Setiap buku yang ditulis dengan hati pasti dengan mudah dapet tiga bintang dari gue. Untuk dapet dua bintang dan empat bintang itu susah dari gue mah. Tapi tiga bintang pasti dapet. Buku tiga bintang menurut gue, ceritanya standar, idenya oke, enak dibaca, bisa bikin gue nangis, sederhana, dan nggak mungkin dibaca ulang. Nah, untuk cerita romansa yah gue rating berdasarkan itu. Tapi fantasi dan cerita lain nggak bisa pake standar gitu karena gue tau menulis fantasi jauh lebih susah daripada menulis genre romance. Selalu ada satu bintang ekstra dari fantasi, thriller, suspense, sejarah, dan non-fiksi. Jadi jenis cerita itu yang dapat tiga bintang berarti ceritanya masih kurang oke. Tapi ekstra satu bintang itu buat effort si penulis. Harlequin, metropop, teenlit, buku tipis, dan cerita ringan yang lumayan pasti masuk kategori ini.

Empat bintang
Wih, kalau sudah dapet empat bintang sih kemungkinan gue pasti baca ulang. Yang menentukan buku dapet empat bintang dari gue adalah aftertaste dari buku itu. Bagaimana perasaan gue pas selesai baca buku itu? Ada beberapa buku yang bikin gue terbengong-bengong saking bagusnya walaupun ide ceritanya standar. Atau bikin gue mewek padahal ceritanya biasa saja. Empat bintang lebih pada emosi gue yang bisa diaduk-aduk atau nggak. Itu kalau romance. Kalau fantasi empat bintang berarti memang bagus. Non-fiksi empat bintang berarti cukup menambah pengetahuan walau ada kurang sedikit. Ada juga buku standar mendapat empat bintang dari gue. Alasannya karena effort penulis dalam menulis bukunya keliatan banget, ada satu tokoh dalam buku yang bikin gue terkesan, ketebalan buku yang melampaui 700 halaman, dan banyaknya kalimat bagus di dalam buku tersebut. Atau bisa juga buku yang ceritanya luar biasa bagus tapi diksi, ending, atau satu bagian kecil dari bukunya bikin gue ngerasa aneh. 

Lima bintang
Baca ulang pasti. Bagus ceritanya pasti. Enak dibaca yah pasti juga. Tapi lima bintang sama empat bintang itu agak mirip. Hanya satu yang membedakan. Buku lima bintang bikin gue nggak mau makan, nggak mau tidur, nggak mau ngapa-ngapain sampe bukunya beres. Aftertaste-nya terbayang-bayang sampe berminggu-minggu, tokohnya sangat mengesankan, pesan moralnya luar biasa, gaya bahasanya sempurna, dan dibaca di saat yang sangat tepat dengan mood. Buku-buku yang tebalnya di atas 800 halaman biasanya masuk ke kategori bintang lima sih. Tapi tergantung aftertaste-nya.

Yah, itulah alasan gue kasih bintang lima ke hampir semua buku Harry Potter. Ceritanya bagus dan fantasi. Itulah kenapa romance dapet rating yang lebih rendah dari non-fiksi, kenapa classic literature selalu dapet bintang yang banyak (karena ketebalannya), dan kenapa buku yang diksinya jelek juga bisa dapet rating yang bagus (tergantung ceritanya).

Sumpah... ada apa dengan gue yang bisa menulis post kayak gini??? NGGAK JELAS BANGET.

Dreamer craves for KFC. Strange, isn't it?


:)

Wednesday, 27 July 2011

Promises, Promises (Mencintaimu Sekali Lagi)


Judul : Promises, Promises
Penulis : Dahlian
Penerbit : Gagasmedia
Resensi :
Setelah bertahun-tahun lamanya, takdir mempertemukan kau dan aku lagi. Berdiri, berhadap-hadapan, dan sama-sama bingung memulai percakapan. Harusnya “Apa kabar?” dan “Aku selalu memikirkanmu” bisa dengan mudah meluncur dari bibir kita. Tapi, kau bergeming di tempatmu berdiri dan aku tak akan mengizinkan kau melihatku meneteskan air mata rindu. Aku menutup rapat-rapat hati dan menyembunyikan kuncinya sejauh mungkin darimu. Tak ingin kau menyentuhku semudah itu. Tak akan membiarkanmu memelukku seerat dulu.

Kulawan semua godaan yang menghampiriku dan ingin pergi jauh-jauh darimu... meskipun yang kulakukan justru berusaha menahanmu di sisiku lebih lama lagi. Kukatakan sudah berhenti memikirkanmu—tetapi aku sendiri ragu akan hal itu.

Aku benci tak jujur kepadamu. Namun, lebih khawatir kau akan membuatku jatuh cinta lagi untuk kedua kali.

Membuatku jatuh dan terluka lagi....


Apa ya? Gue jadwalin baca buku ini nanti setelah gue baca A Thousand Splendid Suns sebenernya. Cuma gue pinjemin buku ini ke temen dan dia suka banget sama buku ini terutama gara-gara cowok tokoh utamanya yang super baik. Nah, gue kan jadi penasaran gitu.

Genre buku ini boleh dibilang metropop. Tapi menurut gue, buku ini adalah Harlequin Indonesia. 

Bukan gue jahat ya. Tapi apa iya di Indonesia sekarang jatuh cinta sama dengan nafsu? Rasanya aneh. Banyak banget gambaran si cowok merasa darahnya memanas melihat bibir dan tubuh ceweknya. Ceweknya juga. Kalau disentuh cowoknya merasa seperti tersetrum. 

Ugh. Gue pembaca Harlequin juga. Tapi itu kan negara barat sana. Normal bagi mereka. Sedangkan Indonesia? EGH...

Jadi ceritanya si cewek pernah gituan sama cowoknya pas SMA. Terus si cewek hamil tapi disuruh aborsi sama cowoknya. Nah, sejak saat itu si cewek benci banget sama si cowok.

Cerita dimulai tiga belas tahun kemudian dengan beberapa kalimat flashback tentang kebencian ceweknya untuk cowok itu. Bener-bener Harlequin banget di mana masa lalu selalu digambarkan secara singkat.

Tiga bintang karena gue rata-rata ngasih rating segitu buat Harlequin. Ringan, tak ada isinya, dan gaya bahasa enak dibaca. Standar dan tidak mungkin dibaca ulang.

Emang sih cowoknya baik banget. Super sempurna. Dan seperti biasa, gue nggak suka cowok sempurna berlebihan. Nggak nyata. Bayangin. Cowoknya bisa masak, ngurusin ceweknya mulu, bla bla bla. Terlalu baik sampai gue merasa baca sesuatu yang aneh.

Dan ada adegan uhuk-uhuk di luar nikahnya. Nggak cocok buat Indonesia. Atau emang gue yang pikirannya kolot ya. 

Ah, sudahlah.
 
Dreamer wanna try to write something, seriously...


:)

Tuesday, 26 July 2011

Perhaps You


Judul : Perhaps You
Penulis : Stephanie Zen
Penerbit : Gagasmedia
Resensi :
Tak tahukah kau seperih apa perasaan hati yang tak berbalas? Menanti sesuatu yang tak kunjung datang?

Hari berganti hari, tapi arah hatiku tak pernah berubah—selalu tertuju padamu. Aku tak pernah jenuh menunggu... menunggu untuk kau cintai. Tapi kau hanya menganggapku lalu. Seperti tak kasat mata aku di matamu.

Terkadang lelah menyuruhku menyerah, memintaku berhenti melakukan perbuatan sia-sia dan mulai mencari cinta baru. Tapi bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya, kalau semua tentangmu mengikuti seperti bayangan menempel di bawah kakiku? Dan bagaimana pula caranya membakar habis semua rindu yang bertahun-tahun mengendap di hatiku?

Aku berharap mendapatkan jawaban darimu. Tapi kau tetap membisu, membuatku lebih lama menunggu.


Gue bisa beli buku ini karena di goodreads ada pilihan buku ini buat baca bareng bulan Juni. Memang sih nggak kepilih (baca barengnya buku Twenties Girl by Sophie Kinsella), tapi gue penasaran. Kebetulan gue udah lama nggak baca genre metropop. Pengen tau aja gitu.

Yah, seperti biasa. Gue selalu kecewa dengan bacaan metropop yang nggak menggigit. Alasannya mungkin karena tokoh ceweknya selalu dalam jajaran kaya atau menengah ke atas. Gue selalu suka cerita yang dramatis dan biasanya cerita dramatis berarti ceweknya miskin atau menengah ke bawah lah. 

Begitu baca kalau tokoh ceweknya anak orang kaya, gue langsung nggak tertarik lanjutin sih. Gimana ya? Abis dia kan kaya, kalaupun mereka ada masalah juga ya udahlah. Hidup mereka udah enak, ngapain sih diributin? Nggak layak dibikin cerita sebenernya.

Apalagi tokoh cewek di sini, Abrielle Estefania Jusuf sangatlah cengeng dan kekanak-kanakan. Jangan tanya gue seberapa bencinya gue sama tokoh utama cengeng dan nggak strong. Paling anti gue baca romance yang tokohnya ceweknya banyak nangis dan lemah. 

Dan Abby ini lemah banget. Nangis mulu dan bodoh. Dia suka cowok yang udah punya pacar. Udah resiko bakal ditendang kan? Tapi ini nangis-nangis minta balik. Oh, so typical.

Akhirnya dia jadian sama cowok lain yang baik dan cuma pajangan di buku ini. Maksud gue pajangan tuh karena cowok ini nggak dideskripsikan lebih jauh. Cuma lewat sebentar doang. 

Yang bikin gue kasih tiga bintang untuk buku ini bukanlah gara-gara tokoh. Gue suka gaya penulisan Stephanie Zen yang enak dibaca dan... ceritanya yang sangat (SANGAT) menggambarkan kehidupan cinta anak zaman sekarang. Kenalan, tuker PIN BB, BBM-an, jadi deket, jatuh cinta padahal belum ketemu orangnya, ketauan ada belangnya, tetep aja lanjutin acara selingkuhnya, ketauan, pisah, nangis, nggak mau lepas, dll.

Beneran. Baca buku ini serasa membaca kehidupan cinta salah satu temen gue. Gue masih inget banget karena kasusnya sama persis. Urutan kejadiannya juga persissssssss banget. Sangat menohok banget, hahahaha...  

Yah, gue suka sih pas bagian cowok hidung belangnya dapet ganjaran setelah nyakitin dua ceweknya. Mantap banget kalimat terakhirnya. There's no way back! Makan tuh cowok tukang selingkuh!! (Kok gue jadi jahat gini?)

Oke, lanjut baca lagi.

Dreamer is happy when all assignments are done... but now waiting for exams in two weeks time...


:)

Monday, 25 July 2011

Reconnected Kids


Title : Reconnected Kids
Writer : Dr. Robert Melillo
Publisher : Perigee Trade
Resensi :
Finally, a lasting solution to behavior problems-for every child.

Reconnected Kids is a groundbreaking guide to help parents resolve their child's behavioral problems-without medication, strife, or drama. This empowering method shows parents how to first identify their own role in their child's behavior, and then how to guide the child to focus on goals, practice lifelong good habits, and stay motivated.

This insightful and whole-family approach will help parents and kids reach their full potential.


Yah, sebenernya gue beli buku ini mendadak. Gue pergi ke Kinokuniya dan melihat buku ini berhubungan dengan kelakuan anak-anak. Kebetulan gue inget saudara gue ambil psikologi anak jadi gue beli buat hadiah.

Tapi seperti biasa. Keusilan tangan gue tidak tahan untuk tidak membacanya. Hahahaha...

Yah, alasannya adalah gue pengen mengerti sesuatu tentang autistik karena kebetulan juga ada saudara gue yang autis. Memang gue nggak menemukan solusi apapun di buku ini, tapi gue menemukan teori yang sesuai dengan prinsip gue.

Gue nggak pernah suka mengobati dengan cara pakai obat. Gue lebih percaya natural healing. Buku ini mengatakan teori bahwa setiap orang normal mempunyai porsi otak kanan dan kiri yang seimbang. Kalau salah satunya lebih besar atau lebih kecil, maka terjadilah autis, Asperger, ADHD (attention deficit hyperactive disorder), dyslexia, dan kekurangan lainnya.

Itu secara ilmiah.

Robert Mellilo percaya bahwa sikap anak yang buruk dipengaruhi oleh orang tuanya. Selama ini pengobatan selalu berusaha menargetkan anak-anak sedangkan seharusnya pengobatan dimulai dari orang tua anak bermasalahnya dulu. 

Dengan menggunakan law of attraction-nya Rhonda Byrne (baca buku the Secret kalo nggak tau), Robert Mellilo meminta orang tua selalu berpikir positif tentang anak-anaknya. Bagaimana anak bisa bahagia dan tenang kalo orang tuanya saja tidak bahagia? Begitulah, kira-kira. 

Lalu tips yang diberikan penulis adalah mengembalikan kita ke keluarga zaman dulu. Orang tua harus banyak menghabiskan waktu dengan anak-anak, membuat peraturan disertai sedikit hadiah jika anak berhasil melakukannya, mengadakan pertemuan keluarga wajib seminggu sekali, dan membangun komunikasi dengan seluruh anggota keluarga. Dan tradisi seperti itu memang sudah hilang di keluarga zaman sekarang di mana kedua orang tua sibuk bekerja, menitipkan anak di tempat penitipan atau suster, dan sebagainya. Bahkan orang tua sekarang tidak pernah mau mendidik anak dengan benar. Mereka percaya kalau anak mereka itu tidak pernah salah. Coba ya, di sekolah kalau anak dimarahi guru karena melakukan kesalahan, besoknya orang tuanya datang marahin gurunya. Gawat nggak sih?

Empat bintang buat teori penyembuhan baru yang tidak menggunakan obat, melainkan stimulasi otak yang kurang berkembang. Hanya saja buku ini terlalu banyak mempromosikan Brain Balance Program yang memang perusahaan milik si penulis. Seperti yang kita tahu, tempat perawatan seperti itu harganya selangit dan sebenernya tidak diperlukan kalau saja kita sebagai orang tua bisa mendidik anak dengan baik.

Dreamer in busy state...


:)

Saturday, 23 July 2011

The Taming of The Duke


Judul : The Taming Of The Duke (Essex Sisters #3)
Penulis : Eloisa James
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Resensi :
Setelah setahun berlalu, Imogen memutuskan masa berkabungnya sudah berakhir. Saatnya memanfaatkan statusnya sebagai janda muda sebaik-baiknya. Bagaimanapun, status baru itu memberinya kesempatan untuk memiliki cicisbeo---kekasih gelap. Maka Imogen pun mulai memilih targetnya.

Rafe merasa geli dengan ulah Imogen, dan sangat senang mendengar Imogen gagal mendekati Mayne. Tapi ketika bekas anak perwaliannya itu mulai menggoda Gabe, adik haram Rafe, rasa geli Rafe berubah jadi cemburu.

Tidak, kali ini Rafe memutuskan tidak akan kehilangan Imogen lagi. Ia bertekad mendapatkan Imogen. Rafe pun menyamar sebagai Gabe, dan mengalami saat-saat menyenangkan bersama Imogen. Tapi penyamarannya berbalik menjadi senjata makan tuan. Karena ketika Imogen berkata, "Aku mencintaimu", Rafe jadi tidak yakin siapa yang dimaksud wanita itu, Gabe atau Rafe?


Seperti yang pernah gue bilang, gue sangat menanti-nantikan baca buku ini setelah membaca dua buku sebelumnya : Much Ado About You dan Kiss Me, Annabel. 

Menurut gue, ceritanya sih lebih bagus dari dua buku sebelumnya. Kenapa? Karena dari awal gue tertarik membaca soal Imogen yang keras kepala, menyebalkan, dan penuh dengki. Lagipula prianya itu tukang mabok dan digambarkan berperut gendut.

Ini satu-satunya buku yang bisa bikin dua orang kurang menarik menjadi tokoh utama yang sangat gue suka. Imogen di buku satu adalah si keras kepala dan penuh dengki. Di buku kedua dia marah karena suaminya meninggal jadi dia ingin membuat skandal dan jadi liar. Di buku ketiga ini dia bertambah dewasa dan ternyata dia sadar kalau dirinya bukan tipe orang yang ingin tidur sembarangan dan membuat afair.

Rafe pemabuk dari awal sudah gue suka. Dia cukup lucu karena sangat berantakan dan canggung dalam menjadi wali. Dia digambarkan tidak cocok sebagai duke tapi juga punya aura kasar.

Nah, di buku ini dia berhenti minum. Berubahlah jadi ganteng karena perutnya ga buncit lagi dan jadi lebih kurus.

Rafe sudah tertarik pada Imogen sejak buku satu di mana ditunjukkan kalo dia benci sama Draven Maitland yang merupakan sasaran cinta Imogen. Di buku ini gue suka banget sama dia yang bisa memahami perasaan Imogen dan menerima gadis itu sepenuh hati. Sayangnya dia tidak terlalu punya percaya diri karena selama ini Imogen selalu mengejeknya sebagai pemabuk tak bertanggung jawab. Jadi, dia menggunakan penyamaran sebagai adik haramnya yang cukup mirip dengannya.

Sepanjang buku terlihat kalau Imogen jatuh cinta pada sosok tersembunyi si Gabe, adik Rafe. Sayangnya Imogen nggak tau kalau itu Rafe.

Sumpah. Rafe di sini digambarkan jadi terlalu hot menurut gue. Imogen memang sejak awal digambarkan sangat cantik dan sensual.

Kekurangan buku ini adalah bagian akhirnya. Tiba-tiba saja Imogen sudah tahu kalau yang selama ini bercinta dengannya itu adalah si Rafe dan bukannya Gabe. Bagian penjelasan di situ kurang.

Seperti biasa, Eloisa James selalu tidak fokus dalam sudut pandang karakternya dan banyak loncat-loncat. Tapi sudahlah. Kebetulan gue cukup penasaran dengan si Gillian sih jadi bisa ditolerir. Walau menurut pendapat gue, cerita sampingan itu agak merusak hubungan tokoh utama sih.

Empat bintang.

Dreamer is planning to stay at home next week despite of the class... Lazy...


:)