Tuesday, 15 May 2018

Our Dark Duet


Judul : Our Dark Duet (Monsters of Verity #2)
Penulis : Victoria Schwab
Tebal : 518 halaman
Penerbit : Greenwillow Books

Nearly six months after Kate and August were first thrown together, the war between the monsters and the humans is a terrifying reality. In Verity, August has become the leader he never wished to be, and in Prosperity, Kate has become the ruthless hunter she knew she could be. When a new monster emerges from the shadows—one who feeds on chaos and brings out its victim’s inner demons—it lures Kate home, where she finds more than she bargained for. She’ll face a monster she thought she killed, a boy she thought she knew, and a demon all her own.


Review:
Setelah membaca seri Shades of Magic dan Monsters of Verity ini, saya merasa Victoria Schwab punya ide yang kreatif tapi eksekusinya kurang maksimal. Di seri Shades of Magic, saya tidak suka dan tidak bisa connect sama tokoh utamanya. Sementara di seri ini, saya merasa karakternya lumayan tapi plotnya kacau. 

Saya suka dengan This Savage Song. Buku itu mengawali kisah Kate dan August dengan sangat bagus. Ada banyak halangan dan pelajaran yang harus mereka pelajari selain apa yang tadinya mereka kira. Saya suka bagaimana persahabatan mereka terbentuk sekalipun mereka adalah dua spesies yang berbeda.

Di akhir buku pertama, Kate pergi meninggalkan August karena ia merasa tidak ada apa pun yang berarti baginya di Kota Verity. Saya langsung membaca buku kedua ini karena saya penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah mereka berdua akan bertemu lagi?

Saya suka sekali kehidupan Kate dan August saat mereka terpisah. Saya merasa bersimpati dengan Kate yang hidup dalam penyamaran di kota lain. Dia menjauh dari orang-orang di dalam grup barunya. Setiap malam ia akan keluar dan memburu monster. Keren banget. Super badass.

Sampai akhirnya Kate menemukan spesies monster yang baru. Monster spesial ini bisa merasuki pikiran manusia dan membuat mereka saling membunuh satu sama lain. Monster itu merasuki Kate dan ia tahu kalau si monster sedang menargetkan Kota Verity. Jadi, Kate harus kembali ke kota kelahirannya.

Di sisi lain, August yang di buku pertama adalah monster berhati lembut kini menjadi jauh lebih keras dan kejam. Kota Verity dipenuhi para Malchai jahat yang merajalela dan August adalah salah satu dari tiga Sunai yang bisa melawan mereka. Saya suka perubahan karakternya. Dia berjuang demi kotanya dan melindungi manusia-manusia yang masih hidup.

Nah, bingung kan? Saya dari tadi memuji-muji cerita dan karakternya. Tapi memang kekuatan novel ini ada di bagian awal hingga tengah. Semakin ke akhir, saya malah merasa tidak bisa connect dengan ceritanya. Mungkin karena penulis memaksa supaya ceritanya berakhir di buku ini. Karakter-karakter yang lain muncul, lewat, dan mati. Bahkan teman-teman Kate di kota lain juga tidak disebutkan lagi. Semuanya terjadi terlalu cepat dan lalu cerita sudah selesai. Saya suka adegan terakhir Kate dan August. Heartbreaking dan sedih banget. Tapi adegan berlalu begitu saja dan malah berpindah ke tipe epilog yang  paling saya tidak suka. Terlalu optimis, padahal nuansa buku ini dari awal lebih dark.

"People were messy. They were defined not only by what they’d done, but by what they would have done, under different circumstances, molded as much by their regrets as their actions, choices they stood by and those they wished they could undo. Of course, there was no going back—time only moved forward—but people could change.
For worse.
And for better." (Saya suka banget quote ini)


Saya tetap merasa ide cerita di seri ini bagus. Tapi saya kurang suka dengan ending dan penyelesaian masalahnya yang terlalu cepat.

3/5

1 comment: