Monday, 19 March 2018

The Nightingale


Judul : The Nightingale
Penulis : Kristin Hannah
Tebal : 438 halaman
Penerbit : Pan Macmillan

Bravery, courage, fear and love in a time of war.

Despite their differences, Vianne and Isabelle have always been close. Younger, bolder Isabelle lives in Paris while Vianne is content with life in the French countryside with her husband Antoine and their child. But when the Second World War breaks out and Antoine is conscripted to fight, Isabelle is sent to the country by her father to help Vianne.

As the war develops, the strength of the sisters' relationship is put to the test. With life changing, and confronted by unbelievable horros, Vianne and Isabelle find themselves responding in ways they never thought possible, as bravery and resistance take differing forms for each of the two sisters.


Review:
Buku ini tidak biasa. Saya sudah banyak membaca soal Nazi dan Perang Dunia 2 dari sisi kaum Yahudi. Saya juga sudah pernah membaca dari sisi orang Jerman sendiri. Yang saya tidak pernah tahu adalah kaum perempuan biasa yang ditinggal perang oleh suami atau keluarga mereka yang pergi berperang. Karena ternyata mereka juga mendapatkan kesengsaraan sendiri dari para Nazi yang menginap di rumah mereka.

Tokoh utamanya ada dua. Yang pertama adalah Vianne, si kakak tertua yang sudah menikah dan punya anak perempuan. Dia ini boleh dibilang orang biasa. Dia bukan pemberani ataupun punya kehebatan dalam ilmu bela diri. Dia hanyalah seorang ibu rumah tangga. Saking normalnya Vianne, saya jadi mudah sekali relate dengan karakter ini.

Di sisi lain, ada Isabelle. Dia adik Vianne yang lebih muda delapan tahun. Sejak ibu mereka meninggal dan ayah mereka tidak lagi memedulikan mereka, Isabelle selalu ditelantarkan. Vianne yang lebih dewasa cenderung lebih suka mencari hiburan di luar rumah, pacaran, dan bahkan akhirnya menikah untuk meninggalkan rumah. Isabelle tumbuh menjadi orang yang suka memberontak, berani, dan sangat nekad. 

Dua orang yang berbeda di zaman perang. Masing-masing punya tantangan yang harus dihadapi, musuh yang harus dilawan, dan orang-orang yang harus dilindungi. Dua sisi berbeda inilah yang membuat novel ini sangat menarik untuk dibaca. Kasihan banget. Tema perang selalu bisa bikin saya nggak tega. Nyebelin banget si Nazi. Memang nggak semuanya jahat. Ada yang baik juga. Tapi tetap saja. Yang jahatnya itu... Ampun, dah. Bikin saya marah dan kesal sendiri.

Novel ini tidak sempurna. Ada beberapa hal yang kurang cocok dengan selera saya. Romance antara Isabelle dan Gaetan sangat aneh. Saya tidak bisa percaya kalau mereka bisa jatuh cinta secepat itu. Mereka bertemu, ganti bab ke sudut pandang Vianne, dan begitu kembali ke sudut pandang si Isabelle, mereka sudah jatuh cinta. Nggak penting amat. Saya lebih suka tidak usah ada romance-nya daripada setengah jadi begitu. Mungkin Gaetan ada supaya Isabelle tidak terlalu sendirian kali ya. Soalnya Vianne kan punya anak perempuan dan juga tetangga yang bisa menemani. Tapi tetap saja. Mending nggak usah ada romance.

Ending buku ini bikin saya nangis. Salah satu ending terbaik yang pernah saya baca untuk genre fiksi sejarah. Bagian pidatonya itu... Dan saya nggak nyangka kalau identitas di narator yang ada di prolog itu ternyata dia. 

Ada dua quote bagus di buku ini. 

“If I have learned anything in this long life of mine, it is this: in love we find out who we want to be; in war we find out who we are.”  (Bener banget. Perang membuka seluruh aspek sifat-sifat terdalam dari diri kita. Bahkan yang terburuk sekalipun)

“Men tell stories. Women get on with it. For us it was a shadow war. There were no parades for us when it was over, no medals or mentions in history books. We did what we had to during the war, and when it was over, we picked up the pieces and started our lives over.” (Ini juga sangat tepat. Perempuan memang cenderung menyimpan rahasia demi melindungi orang-orang di sekitarnya. Pantas saja pahlawan perang cuma ada di medan perang. Karena pahlawan di dalam rumah semuanya perempuan, haha...)

Bacaan yang lumayan dalam dan sedih. Recommended bagi yang suka tema Perang Dunia 2.

4/5

1 comment: