Sunday, 24 July 2016

The Indigo Spell


Judul : The Indigo Spell (Bloodlines #3)
Penulis : Richelle Mead
Tebal : 401 halaman
Penerbit : Razorbill

In the aftermath of a forbidden moment that rocked Sydney to her core, she finds herself struggling to draw the line between her Alchemist teachings and what her heart is urging her to do. Then she meets alluring, rebellious Marcus Finch—a former Alchemist who escaped against all odds, and is now on the run. Marcus wants to teach Sydney the secrets he claims the Alchemists are hiding from her. But as he pushes her to rebel against the people who raised her, Sydney finds that breaking free is harder than she thought. There is an old and mysterious magic rooted deeply within her. And as she searches for an evil magic user targeting powerful young witches, she realizes that her only hope is to embrace her magical blood—or else she might be next. 


Review:
Buku ketiga ini lebih bagus dari buku sebelumnya. Misterinya lebih asyik. Dan tentu saja masih ada Adrian Ivashkov. Hihi...

Kasus di buku ini dimulai dari hilangnya gadis-gadis remaja secara misterius. Mrs. Terwilliger, guru sihir Sydney memintanya untuk menyelidiki kasus itu secara diam-diam. Kebetulan semua gadis remaja yang hilang adalah penyihir dan Mrs. Terwilliger curiga kalau itu ada hubungannya dengan saudarinya yang bernama Victoria. Remaja-remaja itu kemungkinan dibunuh untuk memperpanjang umur dan kecantikan Victoria.

Sydney menolak Adrian di akhir buku kedua, tapi tentu saja Adrian tidak semudah itu menyerah. Adrian terang-terangan menyatakan ingin tetap mencintai Sydney dari jauh walau perasaannya tidak berbalas. #swooooon Tapi Adrian tidak bodoh. Dia bisa membaca aura Sydney saat berada dekat dengannya dan itu jelas menunjukkan perasaan lebih. Lagipula Sydney selalu menghubungi Adrian jika butuh bantuan.

Selain kasus itu, Sydney juga menyelidiki keberadaan Marcus Finch tanpa sepengetahuan atasan Alchemist-nya. Marcus membelot dari Alchemist dan menganut aliran kebebasan. Ia mengajak Sydney masuk dalam grupnya dan itu membuat Sydney tergoda. Seumur hidupnya Sydney tidak pernah mempertanyakan apa-apa. Tapi kini saat berhadapan dengan Marcus, ia merasa ada yang salah dari hukum-hukum yang diciptakan Alchemist. Jiwa pemberontaknya muncul, apalagi saat itu ia juga masih bingung dengan perasaannya pada Adrian. Vampir dan manusia itu terlarang, tapi kenapa hatinya terus berkata lain?

Sementara itu, Sydney masih harus terus sekolah. Jill sedang galau karena rasa sukanya pada Eddie, dhampir yang menjaganya. Eddie sendiri memiliki masalah dalam hubungannya dengan Angelie. Bagian ini agak ketebak sih, jadi saya tidak terlalu peduli pada bagian drama Angelie ini. Saya  tetap paling suka interaksi antara Adrian dan Sydney. Lucu dan chemistry-nya kuat banget. Bisaan si Richelle Mead bikin dialognya.

"Because I've got a lot more terms of endearment to use. Honey pie. Sugarplum. Bread pudding."
"Why are they all high-calorie foods?"
"Do you want me to call you Celery Stick instead of Cupcake or Honey-Pie? It just doesn't inspire the same warm and fuzzy feelings." (sumpah, Adrian lol)

Dan di akhir buku kita dapat kejutan. Richelle Mead memang jagonya bikin cliffhanger.

4/5




No comments:

Post a comment