Thursday, 31 May 2012

Sunshine Becomes You


Judul : Sunshine Becomes You
Penulis : Ilana Tan
Tebal : 432 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Buku ini cukup heboh waktu pertama terbit. Soalnya si penulis pernah sangat terkenal dengan seri empat musim (Summer in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo, Spring in London) dan pasti banyak penggemar yang penasaran dengan karyanya yang selanjutnya. Kalau saya sih pasti penasaran karena saya sih penasaran sama segala buku, hehehe...

Tiga orang... di bawah naungan langit New York...

Alex Hirano, sang pianis yang lebih suka mengurung diri di kamar tidak pernah menyangka akan bertemu dan mengenal Mia Clark. Ia terpesona pada kopi buatan gadis itu.

Mia Clark, sang penari kontemporer bernasib sial dan jatuh dari tangga. Namun ia selamat karena ia jatuh tepat di atas Alex. Namun sayang, ia mematahkan tangan pria itu. Sebagai ganti rugi, ia memutuskan untuk menjadi "tangan kiri" Alex.

Ray Hirano, adik Alex sudah lama jatuh cinta pada Mia Clark. Dialah yang pertama mengenalkan Alex pada Mia. 

Pada awalnya, Alex memarahi Mia terus-menerus. Ia terpaksa membatalkan konsernya karena tangannya yang patah. Semuanya gara-gara Mia. Ia dengan sengaja memperbudak Mia untuk membersihkan apartemennya, menyiapkan makanan untuknya, dan juga mengantarnya ke mana-mana.

Namun perlahan perasaan itu berubah. Alex mengagumi tarian Mia. Ia penasaran kenapa penari berbakat seperti Mia tidak ingin bergabung dalam kelompok tari besar Amerika. Ia pun sedikit demi sedikit mulai bergantung pada kehadiran gadis itu.

Mia yang baik, Mia yang sabar, Mia yang sempurna... Ternyata gadis itu punya masalah sendiri. Saat Alex jatuh cinta setengah mati pada gadis itu, ia tidak hanya bersaing dengan adiknya sendiri, ia juga harus menghadapi ketakutan lain.

Terus terang, saya bukan penggemar Ilana Tan. Dari keempat seri musimnya yang dulu, saya cuma suka Winter in Tokyo. Itu juga biasa saja. Sedangkan untuk Sunshine Becomes You, saya rasa cukup lumayan. Tapi tetap biasa saja.

Menurut saya, buku ini terlalu dipanjang-panjangkan. Bagian tengahnya membosankan karena hanya menceritakan sepenggal kegiatan dan percakapan unik antara Alex dan Mia. Awalnya saya merasa interaksi keduanya sangat lucu dan menggemaskan. Tapi karena plotnya begitu-begitu saja dan tidak maju-maju ke konflik utamanya, saya jadi jenuh sendiri. Cerita ini sebenarnya bisa sangat memancing emosi, tapi sayangnya kurang digali lebih dalam. Kurang pol, menurut saya sih. Saya lebih suka kalau ceritanya agak dramatis sedikit, misalnya sakit hati Ray lebih ditunjukkan atau bagaimanalah.

Namun saya harus memuji gaya bahasanya. Sangat rapi dan enak dibaca. Perpindahan sudut pandangnya juga sangat halus. Keren sekali. Walaupun deskripsi Kota New York-nya kurang terasa, itu bukan masalah. Eh, tapi rasanya untuk orang New York agak aneh sih. Pergaulan New York itu jauh lebih bebas, sedangkan Alex dan Mia terlalu Asia hubungannya.Tapi itu nggak penting juga sih (ga jelas ngomong apa sih ini orang).

Ah, sudahlah. Yang jelas buku ini sangat bagus untuk mereka yang suka cerita romantis.

Catatan akhir : Review ini diterbitkan dalam rangka baca bareng BBI bulan Mei dengan tema penerbit Gramedia. Review diterbitkan secara bersamaan dengan anggota lain pada hari Kamis, 31 Mei 2012.

3/5

Tuesday, 29 May 2012

Dreaming of You


Title : Dreaming of You (Gamblers #2)
Writer : Lisa Kleypas
Number of Page : 373
Publisher : Avon Books

It's all about fate and timing...

Sara Fielding was wandering around dark alley when Derek Craven was attacked and almost killed. She saved him and shot the attacker. After that, she took him to his gambling club. 

Sara was happy to meet Derek because she was a writer and she wanted to research about gambling world. However, Derek didn't want her to endanger herself in the wicked place like gambling club. Sara persisted and Derek couldn't refuse.

Derek was an unbelievably tortured individual. He came from the lowest, a bastard and a chimney boy who cheated and struggled to be rich and accepted. He tried to be like gentleman, although the nobles never truly accepted him. He slept with many married noblewomen because he thought that he didn't deserve to get a better woman. He drove all people away. He was too afraid to love someone.

But, shy and lovely Sara took all his attention. She walked around his club, questioned all his employees, and people liked her. He didn't want to admit that he cared for her. He sent her away and tried to forget her. 

Love never lies...

Since the first time, Sara was already attracted to that mysterious and dark man. She liked him, but she couldn't do anything when Derek kept rejecting her. 

This is a story about forgetting and accepting. Slowly love changed Derek from a bitter man to a loving man. Sara patiently waited until he was ready to love her. It was so beautiful. The sweet and painful process for Derek to understand and accept what he was...

I honestly like reading tortured and complicated persons. I like to read their strange and yet understandable feelings. A character like Derek definitely caught my attention since the first book, Then Came You. In that book, he let the woman he loved go to another man's arms. I was already curious how Lisa Kleypas could wrote about this particular man. And I was really amazed. I couldn't even describe what I think about this book. The story was so amazing and touching. I cried a lot, especially when Derek told Sara about his past and even when she said it was okay, he still drove her away. I could feel the frustration and sadness that Sara felt when she had to leave.

Speechless... Definitely my favorite book all the time and the best from Lisa Kleypas.

Gamblers series : 
2. Dreaming of You

5/5

Friday, 25 May 2012

Ai


Judul : Ai
Penulis : Winna Efendi
Tebal : 288 halaman
Penerbit : Gagasmedia

Cerita yang sangat klasik. Cinta dalam persahabatan. 

Bersetting di Jepang...

Sei dan Ai saling menyembunyikan perasaan karena takut merusak hubungan persahabatan mereka. Namun saat Shin datang ke dalam lingkaran persahabatan mereka, Sei mulai bertanya-tanya. Apakah ia akan terus bersembunyi dan membiarkan Shin mengejar Ai? Dan siapakah yang dipilih Ai?

Buku ini dibagi dua. Bagian pertama diceritakan dari sudut pandang Sei. Dan bagian kedua dari sudut pandang Ai. Kedua bagian itu seakan terpisah namun menjadi satu kesatuan. Saya suka dengan pemisahan bagian itu karena saya bisa mengenal kedua tokoh utama masing-masing dengan lebih baik.

Saya sudah membaca dua karya Winna Efendi, yaitu Refrain dan Remember When. Yang paling saya sukai dari karyanya adalah bahasanya. Rapi, enak dibaca, sederhana, namun mengena. Dan dia tidak bermain-main dengan deskripsinya. Penggambarannya tentang Jepang dan bahasa perasaannya patut diacungi jempol. Saya belum pernah membaca karya lokal yang bahasanya sebagus ini.

Namun saya tidak suka dengan ceritanya. Bukan tipe saya karena terlalu datar. Lalu di saat ada adegan kematian, saya tidak bisa ikut merasa sedih ataupun simpati. Entah kenapa bagian itu serasa dipaksakan. Seakan bagian itu lewat dan terlupakan. Lalu, alurnya yang melompat-lompat terlalu banyak. Memang terasa manis dan menyenangkan. Tapi agak merusak alur majunya.

Saya hanya bisa menikmati novel ini di bagian pertama. Saat Sei bercerita tentang kehidupannya dan rasa sayangnya pada Ai, saya merasa terpukau dengan sosoknya yang tenang, pandai, dan bisa diandalkan. Bahkan saya sangat sedih saat melihat dia kecewa waktu menyadari Ai memilih Shin. Tapi untuk bagian kedua... Yah, mungkin karena saya tidak suka tokoh Ai kali ya. Saya tidak pernah suka tokoh yang lemah dan hanya bisa bergantung pada orang lain. Saya tidak bisa bersimpati pada tokoh yang memilih universitas dan jurusan sekolah dengan asal-asalan. Ai hanya kuliah demi terus bisa bersama Shin dan Sei. Sosoknya yang tidak mandiri membuat saya bertanya-tanya apakah Sei dan Shin menyukai Ai hanya karena penampilan gadis itu saja. Karena terus-terang deskripsi Ai yang saya tangkap hanyalah sebagai gadis yang dikejar banyak cowok dan juga egois.

Tapi itu sih hanya masalah selera. Saya yakin untuk orang yang suka cerita romantis dan berlatar belakang budaya cantik Jepang pasti akan menyukai novel ini.

2/5

Tuesday, 22 May 2012

Angel Creek


Judul : Angel Creek (Western Ladies #2)
Penulis : Linda Howard
Tebal : 400 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Ada tiga pasangan di buku ini. Semuanya saling terkait dalam memperebutkan lembah Angel Creek, lembah subur yang dialiri air. Bagi pemilik peternakan, lembah itu sangat menarik apalagi di musim kering saat para ternak dan rumput kekurangan air.

Tapi Angel Creek adalah milik Dee Swann. Dee adalah wanita keras yang senang berjuang sendiri dan hidup tanpa siapapun. Ia mengurus peternakan kecilnya sendiri, menjual hasil kebunnya, dan hidup tenang di lembah surganya itu.

Hanya saja saat Lucas Cochran datang untuk membeli tanah itu, Dee mulai goyah. Pria itu menyadarkannya kalau sedikit banyak ia butuh orang lain untuk merawatnya. Apalagi setelah kejadian ia jatuh dari tangga dan tubuhnya sakit selama berhari-hari. Lucas-lah yang menolongnya mengurus peternakan.

Pada awalnya Lucas hanya menginginkan peternakan itu. Namun seiring waktu berjalan ia juga menginginkan Dee dalam hidupnya. Hanya saja dia terlalu arogan untuk mengakuinya.

Sampai Kyle, salah satu pemilik peternakan lain memutuskan untuk mendapatkan Angel Creek dengan satu atau lain cara. Kyle sudah putus asa dan hampir menyerah karena peternakannya rugi besar. Ia mengancam Dee dan bahkan melakukan aksi tembak-menembak untuk membunuh Dee. Di saat genting seperti itu, Lucas mulai menyadari kalau Dee jauh lebih penting daripada Angel Creek.

Ceritanya sederhana. Cukup ringan dan menyenangkan untuk dibaca. Saya suka Dee yang keras hati, pantang menyerah, dan tidak mudah dipengaruhi orang lain. Saya sangat memahami sikap posesifnya terhadap rumah dan tanah Angel Creek. Ia menolak tawaran uang ataupun pernikahan dari para lelaki yang hanya menginginkan Angel Creek. Padahal kalau dipikir-pikir, akan lebih mudah baginya untuk menjual dan pergi ke tempat lain. Tapi rumah adalah rumah. Saya sangat setuju kalau tidak ada tempat di dunia ini yang lebih damai dan nyaman dibandingkan rumah sendiri.

Itu sebabnya saya agak marah dengan tindakan Lucas yang meledakkan gunung tempat aliran air Angel Creek. Pria itu membuat tanah Dee jadi kering dan tidak lagi dialiri air. Walau akhirnya dibalas oleh Dee, tetap saja saya tidak bisa memaafkan Lucas karena menghancurkan kebun Dee (ih, saya kok pendendam banget sih =.=). Tapi Dee memaafkan Lucas dengan mudahnya. Yah, kekuatan cinta memang beda kali ya, hihi...

Lumayan menghibur.

3/5

Sunday, 20 May 2012

Charlie Bone And The Hidden King


Title : Charlie Bone And The Hidden King (The Children of The Red King #5)
Writer : Jenny Nimmo
Number of Page : 366
Publisher : Egmont Books

The story was getting complicated. Now that almost all ancestors of the children were mentioned, the story told about the past and the connection between all children.

Charlie Bone woke up and found that all animals in the city were lost. He was blamed for the disappearance but Charlie believed that it was the deed of Ezekiel Bloor.

He was wrong. 

Someone had released the shadow behind the picture of the Red King. He was an enchanter, Count Harken. This ancient man had once manipulated the original ten children of Red King and now he targeted Charlie's mother, Amy. With the mirror of Amoret (Charlie's ancestor), Count Harken wanted to bring Amy to the past. But if this happen, Amy would forget all about Charlie.

Charlie was frustrated seeing his mother forgetting him day by day. He also had to find the missing animals. Fortunately, he met Bartholomew Bloor who was supposed to be dead. From him, Charlie learnt about the presence of Red King as an immortal tree. Charlie knew that he should find this tree to ask for a help from his ancestor. However, he needed at least ten descendants of the Red King to make everything good again and it was almost impossible because more children were at Ezekiel Bloor's side (thanks to Joshua Tilpin's magnetic ability).

I like this book, I don't know why. It was heartwarming to read the connections between all descendants of the Red King. It was a friendship built from the same bloodline. I could feel the deep feeling between all of them although they just met each other. I felt sad when they were fighting and hating each other. I think I have already loved all the characters.   

At last, Charlie met his father in this book. And I was right all along. Charlie's father was... Find it yourself in this book.

Four stars. I think I have tendency to give better ratings to the latter book of the series. Haha...

4/5

Wednesday, 16 May 2012

It Had To Be You


Judul : It Had To Be You (Chicago Stars #1)
Penulis : Susan Elizabeth Phillips
Tebal : 504 halaman
Penerbit : Gagasmedia

Phoebe Somerville kembali pulang ke Chicago untuk menghadiri pemakaman ayahnya. Ia sudah lama tidak berhubungan dengan keluarganya itu karena suatu alasan di masa lalu. Namun ternyata ayahnya mewariskan perusahaan manajemen football Chicago Stars kepadanya. Selama hidupnya, sang ayah selalu kecewa akan profesi Phoebe sebagai model lukisan telanjang. Kini Phoebe harus mengurus tim football padahal dia tidak tahu aturan olahraga itu sama sekali. Belum lagi ia harus mengurus adik tirinya yang masih remaja, Molly.

Di dalam dunia laki-laki seperti football, jelas sekali seorang perempuan yang pernah dilukis telanjang adalah bulan-bulanan lelaki. Apalagi Phoebe adalah ketua manajemen mereka. Marahlah para pria itu. Terutama Dan Calebow, pelatih utama tim Chicago Stars. Bagaimana mungkin Dan bisa menerima wanita tidak berpengalaman seperti Phoebe menghancurkan timnya? Masalahnya kesan pertama Phoebe sangat hancur di mata Dan. Wanita itu datang ke pemakaman ayahnya dengan pakaian warna emas dengan belahan paha yang tinggi, membawa seekor anjing pudel bernama Pooh yang mengencingi peti mati ayahnya, dan menggandeng seorang model laki-laki tampan dari Hungaria.

Dimulailah "petualangan" Phoebe di perusahaan itu. Berbagai celaan dan tantangan harus dihadapinya. Namun seiring berjalannya waktu, Phoebe yang tadinya membenci football mulai mencintai tim Chicago Stars beserta seluruh anggota-anggotanya. Ia pun jatuh cinta pada Dan sekalipun pria itu sangat keras kepala dan sering menyakiti hatinya. 

Tapi ada yang tidak senang dengan keberhasilan Phoebe dan bahkan ingin mencelakainya.

Kesan pertama saya untuk buku ini adalah : Ya, ampun! Kok tebal amat. Tapi berhubung novel tebal biasanya bagus, saya sudah yakin kalau saya bakal suka sama novel ini. Cuma saya agak waswas juga. Buku ini jenis chicklit dan saya nggak suka sama chicklit.

Dua puluh halaman pertama... Gila, ini cewek lebay amat. Si Phoebe ini suka menggoda cowok seenaknya dan memamerkan tubuhnya yang memang sangat seksi. 

Seratus halaman pertama... Kasihan amat ini cewek. Phoebe ini ternyata masa lalunya amit-amit deh. 

Selanjutnya... Edan, seru amat ini novel. Saya suka banget kalau Dan sama Phoebe bertengkar. Mereka berdua ini konyol dan aneh. Sama-sama suka tapi pura-pura benci. Maunya apa sih? Hahaha...

Saya suka semua tokohnya. Mereka punya banyak kelemahan dan masalah sendiri-sendiri. Saya sudah bosan membaca buku yang tokohnya digambarkan satu paket hebat : cantik/tampan, kaya, berkuasa, beruntung, dan pintar. Saya lebih suka kalau tokohnya sedikit menyebalkan karena rasanya realistis. Selama baca buku ini saya gemas sekali dengan sikap pemarah Dan yang ampun-ampunan.

Untuk Phoebe, saya nggak bisa komentar. Kalau ada orang seperti dia di dunia nyata, saya kasih empat jempol deh. Perjuangan hidupnya nggak gampang sama sekali dan dia tetap bisa menjadi yang terbaik. Ih, saya benci banget sama masa lalunya! Terutama sama Reed... (adegan akhir-akhir bikin emosi)

Kelemahan novel ini mungkin di bagian pembicaraan soal football. Saya bener-bener nggak ngerti semua istilah football dan aturannya. Jadi, saya kurang bisa menikmati penjelasan pertandingannya. Selain itu, ceritanya sangat sistematis dan sehari-hari. Tidak ada kejadian yang sangat dramatis sehingga urutan peristiwanya agak blur dan terlupakan.

Tapi saya tetap suka dengan ceritanya.

 4/5

Monday, 14 May 2012

Silence


Judul : Silence (Hush, Hush #3)
Penulis : Becca Fitzpatrick
Tebal : 405 halaman
Penerbit : Simon and Schuster Children's Publishing

Saya sebenernya sih nggak begitu tertarik baca lanjutan seri Hush, Hush ini. Nggak jelek sih. Saya cuma nggak suka tema malaikat terbuang. Pokoknya saya agak anti baca iblis sama malaikat. Rasanya aneh.

Berlanjut dari akhir buku kedua. Nora diculik oleh ayah kandungnya sendiri, Hank Millar. Patch, pacar Nora yang adalah malaikat terbuang merasa bertanggung jawab. Dia membuat perjanjian dengan Hank agar melepaskan Nora dan sebagai bayarannya Patch mengizinkan anak buah Hank untuk mencabut sayapnya (agak geli uy, mencabut sayap... uhuk, uhukk).

Nora dibebaskan tiga bulan kemudian. Dia bangun di sebuah lahan kuburan dalam keadaan tidak ingat apapun. Bahkan ia tidak ingat pada Patch dan perihal malaikat terbuang. Ia diselamatkan. 

Karena bingung, pertama-tama ia mencari Vee dan memaksa sahabatnya itu untuk menceritakan semuanya. Sayangnya, Vee sedikit berbohong di beberapa bagian sehingga Nora semakin paranoid sendiri. Apalagi ia menemukan catatan di kamarnya yang bertuliskan : Just because you're home, doesn't mean you're safe. Nora ketakutan dan ia bahkan tidak ingat wajah pelakunya.

Suatu hari ia bertemu dengan sekelompok malaikat terbuang yang sedang menyiksa Nephilim. Ia tidak sadar siapa mereka tapi segalanya terasa aneh. Ilusi-ilusi yang dibuat para malaikat itu membuat Nora bertanya-tanya apakah dulu ia tahu soal hal-hal ganjil itu. Saat sedang terancam, seorang malaikat bernama Jev datang menolong. 

Jev adalah Patch. Tentu saja Nora nggak kenal dia. Tapi Nora mencurigai sosok itu (kepo banget sih ini anak).

Semuanya baru terbuka sewaktu Nora bertemu Scott, teman lamanya yang adalah seorang Nephilim. Nora mulai diingatkan kembali pada masa lalunya. 

Namun bahaya tetap ada. Di saat Nora tahu kalau Hank adalah ayah kandung dan juga penculiknya, ia harus semakin berhati-hati. Masalahnya, ibunya berkencan dengan pria itu.

Menurut saya, kalau kamu belum baca buku kesatu dan keduanya, kamu pasti mengerti baca buku ketiga ini. Silence ini seperti pengulangan. Kebetulan saya memang sudah agak lupa cerita dua buku sebelumnya. Jadi, saya sih senang-senang saja baca buku ini. Rasanya seperti diingatkan kembali.

Di buku ketiga ini, saya mulai bisa membaca masalah utamanya. Ternyata Hank sedang mengusahakan perang dengan malaikat terbuang. Dan Nora adalah pewarisnya. Ia ingin mengubah Nora jadi Nephilim juga kayak dia. 

Terus terang kalau bukan karena ceritanya penuh misteri dan tidak bisa terbaca, saya mungkin tidak bakal suka buku ini. Nora dan Patch sebagai tokoh utama sangat, sangat, sangat, sangat ANNOYING. Aduh, gimana bisa ada orang seperti Nora? Dia itu pintar (katanya) tapi kok tingkah lakunya mengesankan kalau dia itu bodoh tingkat akut. Keponya bukan main. Senangnya menyelidiki dan menantang bahaya. Kalau nggak ada Patch atau Scott yang menolong, dia sih sudah R.I.P pasti. 

Dan masalah terbesar adalah sikapnya terhadap ibu kandungnya sendiri. Ampun, deh. Jadi anak kok kurang ajar sekali. Nora ini suka melawan dan mengeluh sama ibunya. Dia juga suka komplain ke Patch. Dan parahnya, begitu dia tahu Hank itu jahat, dia langsung pengen ngebunuh ayahnya itu. Oke, saya juga mungkin akan begitu. Saya pasti siap bunuh orang jahat sekalipun dia orang tua saya, tapi orang kan pasti punya hati nurani. Ada keraguan, kesedihan, dilema. Tapi si Nora mah malah semangat mau ngebunuh orang jahat. Sakit jiwa!

Si Patch juga nggak kalah sinting. Mesum, sok tahu, sok keren, sok bad boy, sok baik. Mana ada pacar yang mau melindungi pakai cara menghapus ingatan? Dia nggak berhak meminta Hank menghapus ingatan Nora. Saya kalau jadi Nora sudah mencak-mencak. Dihapus ingatannya? Ingatan itu precious, Tuan Patch. Jangan seenaknya dong. Sekalipun tujuannya melindungi Nora dari kenangan siksaan selama tiga bulan, tetap saja itu salah. (Ini kenapa saya malah marah-marah sama si Patch)

Kacau, ah. 

Di luar tokoh utamanya yang menyebalkan, sebenernya ceritanya sih cukup unik lah. Saya cukup bisa menikmatinya. 

4/5

Monday, 7 May 2012

Captain Jack's Woman


Judul : Captain Jack's Woman (Bastion Club #0.5)
Penulis : Stephanie Laurens
Tebal : 555 halaman
Penerbit : Dastanbooks

Kathryn "Kit" Cranmer pulang dari London ke kampung halamannya untuk tinggal dengan kakeknya. Ia sudah bosan dengan kehidupan glamor di London dan menginginkan sebuah tantangan dalam hidupnya. Kebetulan di suatu malam saat ia sedang menjelajah pantai dengan kudanya, ia bertemu dengan sekawanan penyelundup. Ia pun menjadi pemimpin kawanan itu karena ia sangat hafal daerah pantai itu.

Lord Hendon mendapat tugas negara untuk memberantas penyelundup sekaligus menjalankan sebuah misi rahasia. Ia menyamar sebagai Kapten Jack, pemimpin geng penyelundup Hunstanton untuk menyelidiki.

Keduanya bertemu. Kapten Jack merasa aneh karena ia tertarik pada Kit yang saat itu berpenampilan sebagai laki-laki. Ia penasaran dengan sosok Kit sampai akhirnya ia tahu kalau Kit adalah perempuan. 

Di sisi lain, Kit sendiri suka pada Jack. Ia sudah memutuskan untuk tidak menikah karena pengkhianatan seorang pria di masa lalu, jadi dia melupakan status bangsawannya dan mulai merayu Jack. Yah, si Jack menerima. Dia bahkan memutuskan untuk menjadikan Kit sebagai wanita simpanannya begitu misinya selesai. Saat itu, ia belum tahu kalau Kit putri bangsawan.

Di tengah petualangan berbahaya dan juga permainan rahasia-rahasiaan, Kit mulai jatuh cinta pada Jack. Namun ia tahu kalau dirinya tidak boleh menikah dengan seorang pemimpin penyelundup. Jadi, bagaimana Jack dan Kit akan menyelesaikan salah paham di antara mereka?

Ini pertama kalinya saya baca karangan Stephanie Laurens. Tapi sayangnya saya kurang menikmati ceritanya. Terlalu banyak penjelasan soal rute penyelundupan yang sebenarnya nggak penting. Selain itu, saya juga tidak tahu letak tempat-tempat yang disebutkan di dalam cerita. Jadi, mau dijelasin bagaimana juga saya nggak ngerti. Hahaha...

Kesan cerita ini datar dan membosankan. Memang untuk bagian romance-nya bagus. Chemistry Kit dan Jack jelas sangat terasa. Ditambah banyak "main"-nya. Selain itu, kedua tokoh utama cukup menyenangkan sih. Kit tomboy, liar, dan mandiri. Dia selalu mengikuti kata hatinya sekalipun saya tetap tidak begitu suka tipe orang seperti itu. Saya kan menomorsatukan reputasi keluarga, jadi tindakan Kit merayu Jack tanpa peduli statusnya itu agak sinting. Dia mau saja dirusak sama pria nggak jelas seperti itu. Untung saja ini cerita. Si Jack juga ternyata bangsawan yang sangat bertanggung jawab.

Bagi pecinta historical romance, buku ini mungkin cukup menarik. Apalagi kalau suka tipe cowok alfa yang super arogan dan hot. Kalau saya sih nggak suka. Bukan selera saya pokoknya.

2/5

Sunday, 6 May 2012

Busy



Sorry for the lazy update...

Saya sibuk akhir-akhir ini. Errr... sebenarnya sih nggak sibuk, cuma banyak distraction. Sekarang setelah kuliah saya beres, saya cuma tinggal nunggu nilai saja. Jadi, sekarang saya sudah di Bandung dan tidak bakal balik ke Singapur lagi sampai waktu yang tidak jelas (saya merasa kalimat ini sangat aneh).

Nah, seharusnya saya lebih banyak waktu dan santai kan? Tapi ternyata nggak. Saya harus beres-beres barang pindahan dari Singapur, menyampul buku-buku, dan distraction terbesar adalah keluarga dan teman-teman. Saya main melulu jadinya dan progress membaca pun menjadi lambat. Aiyoooo...

Sambil menanti hasil nilai dan pengumuman dari universitas tempat saya daftar buat master, rencana saya di Bandung adalah belajar bahasa. Dari dulu saya memang suka bahasa dan saya lagi mau memanfaatkan waktu buat hobi saya ini (jangan tanya bahasa apa karena beneran aneh). Beginilah makhluk yang nggak pernah serius dan suka mencoba hal baru... Saya paling senang belajar aneh-aneh (baca: nggak guna) tapi nggak pernah diterusin sampai jago.

Seperti biasa, posting nggak penting. Cerocos nggak jelas dari sang penulis galau =.=

Saturday, 5 May 2012

The Castle of Mirrors


Title : Charlie Bone And The Castle of Mirrors (Children of The Red King #4)
Writer : Jenny Nimmo
Number of Page : 354
Publisher : Egmont Books 

The synopsis at the back of the book is quite funny : In a dark laboratory deep within Bloor's Academy, Manfred and Ezekiel are brewing up a very nasty kind of trouble for Charlie Bone. Hehehe...

Ezekiel wanted to resurrect his cruel ancestor, Borlath to defeat his enemies, including Charlie Bone. He prepared all the ingredients in his laboratory. But, Borlath ran away.

Meanwhile, Charlie had another problem. His friend, Olivia acted strange. He also had to rescue Billy who was trapped in his new parents' house, evil parents that Ezekiel asked to guard Billy. Furthermore, there was Joshua Tilpin, the new student who had magnetic ability. He helped Ezekiel controlling Charlie's friend, Tancred. It meant Tancred was on Ezekiel side now.

Losing friends one by one, the balance was lost. Charlie only had Emma, Lysander, and Fidelio to help him. 

This fourth book was full of unique things. The barrier in Billy's new house, the invisible ancestor wandering around the academy, and Olivia's talent. Seriously, her talent was so cool. She just needed to imagine things and everything would materialize. 

It's always interesting to read adventures. As the story continues, I get to know more about the characters and I like them all. There are things that make me laugh: Charlie's witty comments, Billy's conversation with animals, even the mean and annoying grandmother. 

Four more books... *sigh (so many...)

3/5